Sign In

Remember Me

Berbuka Puasa Bagaikan Mendapat Rapot

Berbuka Puasa Bagaikan Mendapat Rapot

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution
Berbuka puasa adalah tanda bahwa puasa yang diujikan telah selesai. Kita jadi bebas menikmati kesenangan hingga ujian esoknya datang lagi. Selain itu, berbuka puasa adalah masa yang ditunggu-tunggu orang yang berpuasa. Kalau bukan tanda keceriaan tidak mungkin Rasulullah mengatakan, “Ada dua kebahagian yang dimiliki orang yang berpuasa: ketika berbuka puasa dan ketika bertemu dengan Tuhannya”. Berbuka puasa adalah tanda bahwa puasa yang diujikan telah selesai. Kita jadi bebas menikmati kesenangan hingga ujian esoknya datang lagi. Selain itu, berbuka puasa adalah masa yang ditunggu-tunggu orang yang berpuasa. Kalau bukan tanda keceriaan tidak mungkin Rasulullah mengatakan, “Ada dua kebahagian yang dimiliki orang yang berpuasa: ketika berbuka puasa dan ketika bertemu dengan Tuhannya”. Kenapa orang yang berpuasa gembira? Karena ia mampu menjalankan puasanya dengan baik. Ia percaya bahwa geteran-getaran yang ada di dalam puasa telah sukses dilalui dengan baik. Ia optimis bahwa lapar, haus, cibiran lantaran bau mulut, gosip dan lain-lain yang bisa membatalkan puasa atau pahala puasa adalah geteran tanda sedang berpuasa. Kalau sudah berbuka, ia tidak takut lagi lapar, tidak takut kehausan, mulutnya pun sudah wangi dengan aroma pasta gigi dan gosip pun sudah lenyap. Ia mendapatkan rapor kesuksesan dengan melewati getaran-getaran yang bakal menggagalkannya. Karena itu, berbuka puasa mirip bagaikan anak-anak yang sedang bahagia nerima rapot. Ada nilai-nilai lebih dari ibadah puasanya. Siapa yang bisa menilai ibadah tersebut? Hanya kita sendiri. Lho, kok bisa? Iya, karena yang tahu bahwa puasa kita sempurna atau tidak, hanya kita dan Allah. Di dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Tiap-tiap amal Adam untuknya sendiri! Selain dari puasa itu untuk-Ku dan Aku yang memberikan pembalasan kepadanya”. Kalau Allah yang tahu, sudah tentu kita juga tahu. Karenanya puasa dinamakan perisai, “Puasa itu perisai”. Kita semua pahamkan perisai itu apa? Perisai adalah tameng atau alat penangkis. Apa yang ditangkis? Hal-hal yang menghambat kesuskesan puasa. Makanya, orang puasa itu kayak tentara perang. Dia yang bisa menentukan hidup atau matinya. Ketika dia pintar menggunakan tamengnya sudah pasti dia bisa hidup. Kalau tidak bisa menggunakan tameng sebagai penangkis, sudah pasti ada luka kena goresan pedang. Kalau dihubungkan dengan kesukesan. Berbuka itu adalah hasil dari usaha kita meraih kesuksesan. Kalau kita mampu menangkis segala hal yang menghalangi puasa sudah pasti kita bisa menentukan hidup. Sukses atau gagal. Pernah baca cerita kesukesan He Ah Lee? Di buku Jamil Azzaini ”Menyemai Sukses Meraih Impian”, ada cerita sekilas tentang He Ah Lee. Ia warga Korea Selatan. Di kedua telapak tangannya hanya ada 4 jari. Dua jari di kanan, dua jari di kiri. Menurut ilmu kedokteran, gadis istimewa ini menderita penyakit lobster claw syndrome. Kakinya pun hanya sampai lutut. Bukan hanya itu, gadis ini juga menderita keterbelakangan mental. Apa yang teristimewa dari He Ah lee? Dalam usia muda ia sudah menjadi pianis hebat kelas dunia. Konsisten dengan arti namanya “suka cita yang terus tumbuh”, Lee tetap bersukacita dengan segala keterbatasannya hingga akhirnya menjadi pianis top. Anak seorang perawat ini telah mengeluarkan album bertitel “Hee-ah a pianist with four finger”. Ia juga sudah melakukan konser di berbagai negara: Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Kanada, China, Singapura dan Tentu saja indonesia. Lee selalu didampingi ibunya. Yang dapat kita petik dari kehidupan He Ah Lee, bahwa ia berjuang keras melawan “getaran-getaran” yang selalu menyatakah bahwa ia tidak akan sukses. Untungnya dia punya “perisai” yang kokoh dan mampu menahan segala serangan orang yang selalu ingin mempatahkan semangatnya. Perisainya adalah ibu kandungnya. Dengan ketabahan, semangat dan keyakinan ibunya, ia mampu meraih kesuksesan menjadi pianis hebat kelas dunia. Jika kita ingin memiliki rapor bagus, kita harus kuat menahan segala ujian. Hanya orang yang berbuka dan mampu menahan diri dari segala tantangan yang berhak mendapatkan rapot dengan nilai istimewa. Bagaimana dengan kita? Akankah bisa memiliki rapor istimewa?

Penulis buku "Mereka Bicara Ustad Nizar", penulis buku ajar "Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi", aktif menulis di surat kabar Analisa Medan dan penulis konten beberapa website.

Leave a Reply