Apa yang ada dalam benak kamu saat mendengar permainan monopoli? Seru? Membuat kamu menjadi orang kaya imaginer? Uang-uangan dollar palsu berwarna-warni? Mungkin disebagian benak kamu, permainan ini mengajarkan para pemainnya untuk menjadi pelaku ekonomi yang baik karena menjadikannya orang kaya dengan harta berlimpah (ket: jika menang). Tapi, jika ditilik dari segi pengertiannya saja, monopoli bukanlah hal yang baik untuk dicontoh dalam kehidupan berekonomi sekalipun.

Monopoli adalah menguasai dan mengeksploitasi secara berlebihan pada benda-benda atau sesuatu yang dianggap sangat berharga sehingga dapat memperkaya diri sendiri. Sikap memperkaya diri sendiri adalah sifat dari individualisme, secara kasar sering dikaitkan dengan sifat egois. Lihatlah contoh yang pernah terjadi pada bangsa kita sendiri saat dijajah pertama kali oleh VOC (bukan Belanda secara keseluruhan) pada abad 16. VOC telah mempraktekkan kegiatan monopoli pada rempah-rempah bahkan jasa manusia Indonesia. Ada dua sisi berlainan yang terjadi pada hal tersebut.

Pertama, sisi dimana VOC meraih keuntungan berlipat dengan menjual kembali rempah-rempah yang diambil dari Indonesia ke pasar internasional saat itu, kebanyakannya dijual didaerah sendiri yaitu benua Eropa. Kedua, sisi dimana orang-orang yang sudah menanam rempah-rempah tersebut malah menjadi sengsara secara ekonomi, karena VOC membeli rempah tersebut dengan harga sangat murah. Cara berekonomi seperti itu adalah ekonomi yang bersifat kapitalis, sangat tidak cocok dengan identitas negara kita yang ke semuanya berlandaskan Pancasila. Lalu, apakah Pancasila itu hanya sebuah teori klasik yang diajarkan di sekolah formal? Lalu, benarkah semuanya hanya omong kosong belaka ketika membicarakan Pancasila? Lalu yang terakhir, buat apa Pancasila diciptakan kalau begitu?

Dalam praktek ekonomi yang berlandaskan Pancasila (sebut saja koperasi), disebutkan bahwa kegiatan ekonomi yang dilakukan dengan hasil untuk keuntungan bersama dan kesejahteraan bersama. Sementara dalam permainan monopoli tersebut bukanlah untuk keuntungan bersama, melainkan keuntungan sendiri dengan jalan memiskinkan yang lain.

Dari sini, mungkin kamu mengerti bahwa monopoli akan mengakibatkan anak menjadi tidak perasa dan egois. Mereka juga akan menabrak aturan yang ada dalam permainan monopoli. Aturannya yang terasa membuat kepala sakit dan pusing karena tidak dimengerti, akhirnya mereka membuat aturan sendiri dengan seenaknya. Yang jelas, aturannya mampu menguntungkan satu pihak disaat yang tepat. Dan saat aturan yang mereka buat akhirnya merugikan mereka sendiri, maka mereka akan mengelak aturan tersebut dan melanggarnya.

Monopoli juga membuat pemainnya menjadi stress? Permainan diciptakan lalu dimainkan dengan tujuan untuk menghibur, dan bukan malah membuat stress. Dalam bulan Ramadhan seperti sekarang ini, banyak cara untuk menghabiskan waktu sampai berbuka alias ngabuburit. Salah satunya dengan bermain monopoli. Tapi, bagaimana puasanya mau berjalan mulus, kalau kita saja sudah marah ketika tahu ada yang membeli negara Afrika yang menjadi incaran? Dalam permainan monopoli internasional, Afrika berada dalam komplek H, berharga jual 36 ribu dollar dengan harga sewa selangit bila ada yang berhenti di negara tersebut. Atau, saking terlalu waspadanya pada pemain lain, kita menjadi curiga berlebihan, lantas marah-marah adalah solusi pamungkasnya.

Dari stress menjadi marah. Dari curiga pun menjadi marah. Kalau tahu akan pailit (bangkrut) juga akan marah-marah. Mendapat kartu kesempatan yang membuat kita dipenjara juga akan marah-marah, karena itu artinya tidak bisa bermain selama satu putaran dan tidak mendapat gaji 20 ribu dollar setiap kali melewati petak start. Bila anak-anak yang memainkannya, secara tidak langsung akan berdampak pada psikologi anak. Berlebihankah? Tidak juga. Anak-anak selalu berkeinginan menjadi pemenangnya, itu manusiawi bahkan pada kita yang sudah dewasa. Tapi saat keinginan untuk menjadi pemenang tidak terpenuhi, segala cara pun akan ditempuh untuk menjadi pemenang dipermainan selanjutnya, bahkan cara yang tidak halal sekalipun. Alias curang. Astagfirullaalah ‘adziim.

Permainan monopoli jelas bukanlah ditujukan untuk anak-anak. Dari penjabaran diatas, dampak negatif lebih terlihat dan jumlahnya lebih banyak dibanding dampak positif yang ada. Saya hanya menghimbau, bila memang tidak bisa menghindari permainan ini atau kamu (ket: anak-anak) merasa ketagihan bermain, mintalah orang dewasa disekitarmu untuk mendampingi dan mengawasi. Jadikan mereka petugas bank kalau bisa, setidaknya mereka mampu menghindarkan para pemainnya dari sikap curang dan juga mampu menjelaskan manfaat dari permainan ini, walau kenyataannya sedikit sekali.

Sebaik-baiknya kita adalah memilih sesuatu yang bermanfaat banyak dan memiliki kemudharatan yang sedikit. Begitu pun dengan permainan. Dengan tujuan utama sebagai sarana hiburan dan untuk menghindari stress dari kesibukan sehari-hari, pilihlah yang bukan malah sebaliknya, membuat stress dan akhirnya tak menghibur sama sekali.