Sign In

Remember Me

Shobirin dan Syakirin itu Wajib

Shobirin dan Syakirin itu Wajib

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution
Setiap orang yang menjalankan puasa layak disebut dengan shobirin dan syakirin. Dikatakan shobirin, karena mampu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Sedangkan disebut sebagai syakirin karena merasa bahagia saat berbuka puasa. Bahkan, untuk menjelaskan bahwa orang yang berpuasa itu selalu masuk kategori syakirin, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua kegembiraan yang dirasakan oleh orang yang berpuasa: gembira saat berbuka puasa dan gembira saat bertemu dengan Tuhannya”.

Sekalipun semua orang yang berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari dikatakan syakirin, tapi tidak semua dikatakan shobirin. Karena untuk tingkat shobirin itu bermacam-macam. Ada yang dikategorikan sebagai shobirin dikarena mampu menahan diri dari segala yang membatalkan puasa saja. Ada disebut shobirin lantaran mampu menahan diri dari yang membatalkan serta menjaga anggota tubuhnya untuk berpuasa dari berbuat zhalim. Ada yang disebut shobirin disebabkan mampu menahan diri yang membatalkan puasa, membatalkan pahala puasa serta tak luput mengajak hatinya juga untuk berpuasa.

Manakah yang bisa meraih sukses puasa yang gemilang? Sudah tentu, orang yang menjalankan puasa dengan menahan diri dari yang membatalkan ibadah puasa, membatalkan pahala puasa dan mengajak hatinya juga untuk berpuasa. Inilah yang diterangkan Allah di dalam surat al-Baqarah ayat 183,” Hai orang- orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa seperti orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Terungkaplah bahwa orang-orang sebelum kita menjadi manusia bertakwa dikarena mampu menjalankan puasa bukan hanya sekedar melakukan ritual tapi juga untuk meraih kesuksesan. Ya, kesuksesan meraih predikat taqwa. Taqwa adalah melaksanakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Konkritnya, jika ingin menjadi orang yang berpuasa dengan memiliki gelar taqwa, kita harus bisa menahan diri dari segala yang dapat menghilangkan derajat takwa.

Jika telah sukses meraih takwa, Allah pun mengkategorikannya sebagai orang yang bersyukur. Karena tidak mungkin orang yang bertakwa tidak mampu bersyukur. Hal ini terekam dalam surat al-Baqarah 184, “…agar kamu bersyukur”. Karena syukur adalah salah syarat agar menjadi manusia yang bertakwa, manusia yang meraih sukses gemilang di sisi Allah.

Jika dilakukan analisis, untuk menjadi orang yang sukses juga harus bersabar dan bersyukur. Dengan kesabaran apa yang dicita-citakan akan tercapai. Dengan kesyukuran kita mampu mengekspresikan bahwa inilah karunia Allah yang harus dinikmati. Bukankah Allah telah berjanji, “Jika kamu bersyukur maka akan aku tambah dan jika kamu kufur maka azab-Ku sangat pedih”.

Bagaimanakah caranya bersyukur kepada Allah agar meraih kesuksesan yang gemilang? Dengan mengutip ungkapan Jamil Azzaini dalam bukunya “Menyemai Impian, Meraih Sukses Mulia”. Jamil menulis bahwa dalam kehidupan di dunia, kita memiliki dua “lingkaran”. “Lingkaran pertama” adalah lingkaran yang menguasai kita. Pada lingkaran ini kita tidak punya andil atau peran sedikit pun. Semua sudah “given” (diberi). Contohnya, kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita, bentuk wajah kita, buta sejak lahir, warna kulit juga rambut kita.

“Lingkaran kedua” adalah lingkaran yang kita kuasai. Kitalah yang menentukan ke mana kita pergi atau memilih makanan yang kita senangi. “lingkaran” ini juga, tulis Jamil, menjaga kita untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan milik kita. Dengan “lingkaran” ini kita bisa memilih pekerjaan yang sesuai dengan hati nurani kita, atau sebaliknya.

Jika diperhatikan, pada “lingkaran pertama” kita dituntuk memiliki sifat sabar dan pada “lingkaran kedua” kita dituntut untuk bersikap syukur. Yaitu dengan cara mengoptimalkan semua potensi yang kita miliki untuk menebar kebaikan dan manfaat kepada orang lain. Artinya, kita harus mampu mengubah hidup menjadi makin baik dengan apa yang diberikan Allah.

Seperti kisah He Ah Lee yang mampu memanfaatkan potensi dirinya sekalipun dari segi fisik ia tidak seperti manusia biasa. Namun, kesyukurannya itu mampu menghantarkannya menjadi pianis terkenal dan memberikan kebaikan kepada orang lain dengan keindahan petikan piano yang dimainkannya.

Dapat dikatakan, kita tidak boleh mengeluh dengan apa yang diberikan Allah tapi kita harus merubahnya menjadi salah satu cara meraih kesuksesan. Catat fisik bukanlah jadi penghalang membuat kita harus menjadi orang yang tangannya berada dibawah. Karena sudah dapat dipastikan bahwa kita juga masih memiliki fisik-fisik yang lain mampu menghantarkan kita menjadi sukses. Inilah yang dikatakan syukur.

Karena itu, sangat tepat Allah menjadikan puasa sebagai refleksi untuk meraih sukses gemilang. Kita dituntut untuk bersabar dan bersyukur dalam menjalankan ibadah puasa. Ingin sukses di dunia, kita juga dituntut bersabar dan bersyukur dengan memanfaatkan potensi yang kita miliki. Mari kita bangun pondasi sukses dengan sabar dan syukur!

Penulis buku "Mereka Bicara Ustad Nizar", penulis buku ajar "Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi", aktif menulis di surat kabar Analisa Medan dan penulis konten beberapa website.

Leave a Reply