Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Besok, kita akan memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Menurut catatan sejarah Indonesia, hari tersebut mengingatkan kita akan peristiwa pembuktian bahwa Indonesia merdeka dari segala bentuk penjajahan. Namun, cukup ironi jika hari yang memiliki makna yang begitu luar biasa hanya kerap dilalui dengan sekedar mengenang, memperingati dan menghiasinya dengan berbagai kegiatan seremonial yang cenderung melupakan akan makna dan tujuan kemerdekaan.

Seyogyianya, sebagai rakyat Indonesia, kita harus melihat bagaimana ‘rekaman’ perjalanan kemerdekaan ini secara utuh, bukan hanya hasil akhirnya. Tujuannya, agar kita bisa menuruskan cita-cita para pejuang. Mereka berjuang bukan untuk dirinya sendiri, tapi lebih terfokus untuk generasi selanjutnya yang akan menjadi pemegang amanah negeri ini. Karena itu, semangat kepahlwanan mereka, seharusnya, telah meresap dalam diri kita sejak mendengar, membaca dan mengetauhi sejarah kemerdekaan bangsa ini.

Jika kita membaca kembali sejarah Indonesia merdeka, minimal ada tiga pesan yang dititipkan para pejuang untuk generasi setelah mereka. Ketiga pesan tersebut bermuatan nilai untuk menjadi orang sukses, apapun profesi yang dijalani dan ditekuni. Karena, pesan-pesan tersebut telah diuji mampu membawa Indonesia sukses meraih kemerdekaan, tanpa ada pertumpahan darah sedikit pun.

Pesan pertama, selalu berpikir positif. Di dalam literatur sejarah diterangkan, bahwa pengumandangan proklamasi Indonesia, ternyata, didahului oleh perdebatan ‘hebat’ antara golongan muda dengan golongan tua. Tujuan yang ingin dicapai sebenarnya sama. Sama-sama mengingingkan secepatnya dikumandangkan proklamasi kemerdekaan. Hanya saja, cara berfikir yang membedakan. Kaum tua menginginkan proklamasi terjadi tanpa ada pertumpahan darah, sedangkan kaum muda menginginkan proklamasi secepatnya, sekalipun harus terjadi pertumpahan darah.

Perbedaan pandangan ini selayaknya menjadi acuan bagi kita sebagai generasi penerus perjuangan para pahlawan. Dalam menyelesaikan masalah, seharusnya kita tidak menggunakan cara instan yang dapat menyebabkan adanya pihak yang dirugikan. Itulah yang dikatakan sebagai orang senantiasa berpikir positif.

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT. telah mengingatkan bahwa tujuan kita diciptakan di dunia hanya menjadi khalifah, yang tugasnya senantiasa melakukan perbuatan yang paling baik. “Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Mulk [67]: 2).

Ayat ini cukup jelas menuntun kita senantiasa berpikiran positif, karena memang sudah takdir bahwa tugas kita dibumi ini untuk selalu berbuat yang lebih baik. Bahkan Rasulullah SAW. menganjurkan agar hidup kita pada hari ini senantiasa lebih baik dari kemarin dan menyongsong hari esok yang lebih baik dari hari ini. Tak pelak lagi, orang yang berpikiran positif yang dapat melakukan perbuatan yang kian hari kian baik.  

Oleh karena itu, apa pun status kita sangat dituntut untuk selalu berpikit positif yang dapat melahirkan perbuatan yang baik. Jika kita seorang pelajar, kita harus membuktikan bagaimana pelajaran yang diberikan hari ini harus benar-benar bermanfaat untuk kita. Jika kita seorang pengusaha, maka kita harus berpikir bagaimana cara berdagang kita hari ini lebih baik dari kemarin. Jika kita seorang leader (pimpinan) kita sangat dituntut untuk selalu bekerjasama dengan bawahan, agar perusahaan yang dibina makin bagus.

Intinya, hanya orang pikiran positif yang mampu mencapai kesuksesan. Tanamkanlah, bahwa kita ada karena adanya orang lain. Kita memiliki status sebagai pimpinan karena orang lain sebagai bawahan kita, Dan akuilah bahwa hidup kita memang untuk membantu orang lain. Bukankah Rasulullah SAW. pernah bertutur, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.” ?

Pesan kedua, Sabar dan Syukur. Sifat sabar dan syukur adalah pondasi utama kemerdekaan Indonesia. Tepatnya, saat kaum muda memaksa Soekarno untuk melakukan revolusi, ia dengan santai menyatakan bahwa ada hari yang lebih tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan. Ia sengaja memilih 17 Agustus sebagai hari untuk memproklamasikan Indonesia, karenaterinspirasi dengan tanggal turunnya al-Qur’an. Karena saat itu, seluruh umat Islam sedang menjalankan puasa Ramadhan. Selain itu, tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan jatuh pada hari Jumat. Sehingga, Soekarno berpikiran bahwa inilah saat yang tepat. Ia sabar dengan tidak menuruti keinginan kaum muda untuk segera mengumandangkan proklamasi, dan bersyukur karena hari yang dipilihnya sebagai hari proklamator sesuai dengan hari yang istimewa untuk umat Islam.

Maka, pesan yang diambil dari keputusan Soekarno, kita harus bersabar dan bersyukur dalam menentukan pilihan. Karena hidup memang pilihan. Jika kita ingin sukses, maka kita harus bisa melihat kesempatan yang ada. Bukankah dalam menemukan kesempatan dibutuhkan sabar dan syukur? Apapun status kita, sangat diharuskan mampu melihat kesempatan yang ada.

Jika seluruh rakyat Indonesia mampu meniru alur perjuangan Soekarno dalam menentukan pilihan, mungkin saat ini Indonesia bisa menjadi negara kian maju dan lepas dari ‘himpitan’ kesulitan yang berkepanjangan. Tapi, tak perlu untuk disesali yang telah berlalu. Dengan bertambah umur bangsa ini, sudah saat kita sebagai rakyat Indonesia untuk juga berubah. Berubah menjadikan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Pilihlah yang memang kita butuhkan dan sesuai dengan kesempatan yang ada. Tanamkan sifat sabar dan syukur dalam menentukan pilihan. Bukankah Allah berjanji, jika hambanya bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat hamba-Nya? (QS. Ibarahim [14]: 7)

Pesan ketiga,jangan sombong. Dalam sejarah Indonesia dimaktubkan, bahwa Soekarno tidak mau membaca naskah proklamasi jika tidak didampingi oleh M. Hatta. Dapat dipahami, Soekarno ingin menunjukkan kepada masyarakat Indonesia saat itu bahwa kemerdekaan Indonesia bukan di tangan satu orang, tapi ditangan bersama. Padahal, jika ia ingin memproklamasikan Indonesia dengan sendiri kemungkinan besar tidak ada seorang pun yang menyalahkan.

Sikap Soekarno seperti ini layak dijadikan teladan. Teladan karena meyakini bahwa hidup ini akan indah jika ada kebersamaan. Kebersamaan baru akan tercipta kita tidak ada ego antara satu dengan lainnya. Sikap seperti ini yang kurang menjamur di masyarakat kita. Sikap tidak sombong dan selalu merasa ada karena orang lain. Padahal Allah telah mensitir di dalam al-Qur’an, “Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan janganlah kamu bertolong-tolangan dalam kebatilan”. (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Karena itu, sudah saatnya menjalankan pesan semangat kemerdekaan yang dititipkan para pejuang. Harapannya, agar kita mampu membangun bangsa ini menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Karena perjuangan harus dilanjutkan, bukan hanya dijadikan kenangan sepanjang masa. Tak pelak lagi, yang harus kita lakukan saat ini adalah merdeka dari pikiran negatif, merdeka dari ketidaksabaran dan ketidaksyukuran, merdeka dari kesombongan.