Pernah terjadi kasus pembunuhan di daerah Jawa Timur, korbannya ialah dua gadis remaja. Pelakunya adalah kekasih dari salah satu gadis korban pembunuhan tersebut. Motifnya adalah pencurian kendaraan bermotor. Ibu dari salah satu korban menuturkan: “saya tak pernah menyangka Ani (nama samaran) akan meninggal dengan cara seperti ini”. Betapa tidak, dua gadis tersebut lahir pada hari, tanggal dan tahun yang sama. Kemudian harus meninggal juga pada waktu yang sama. Tragis sekaligus dramatis, namun apa yang hendak dikata, semua telah terjadi. Begitu tega, demi sebuah motor pelaku rela menghilangkan nyawa kekasihnya sendiri. Lain halnya dengan drama yang dialami sahabat pribadi, ia meminjaman uang pada kekasihnya (menggunakan bahasa diplomatis. Dalam arti sebenarnya sama dengan memberi ) di akhir bulan. Nominalnya tak seberapa, hanya setengah juta, namun dampaknya cukup untuk menahan perut lapar selama 2-3 hari. Dan saya pun memiliki kisah pribadi. Meski berbeda, namun secara esensial berasal dari sebab yang sama. Terlalu dominannya perasaan hingga menutup ketajaman logika.

unduhan (5)Baik rasa dan logika merupakan dua alat, tepatnya dimensi ruang yang inhern di dalam diri manusia. Dalam pandangan Dr Mimi Guarneri, keduanya terdapat pada jantung (heart), disamping dimensi mental dan spiritual. Logika  sebagai bagian dari pusat intelektual yang lazim kita sebut akal, sedangkan rasa ada di pusat emosional. Meski kontroversial, karena beberapa ilmuwan lain maupun agamawan lebih meyakini bahwa hati dan akal bersifat batiniah. Namun pendapat ini juga perlu diperhitungkan, mengingat keterangan agama maupun sains juga mendukung pendapat tersebut, diantaranya adalah sebutan segumpal daging (mudzghah) sebagai penentu baik dan buruknya jasad, terbentuk pada waktu yang sama dengan terbentuknya jantung, yakni pada fase 25-40 hari dalam rahim seorang ibu.

Sejauh yang pernah saya alami, rasa (emosi) memang diluar kendali manusia secara sadar. Sebagaimana kegalauan yang sering dialami, kegundahan hati yang sulit distabilkan, ketenangan amat sulit digapai. Padahal, hati adalah pusat kehendak yang sangat signifikan dalam menentukan tindakan seseorang. Contoh paling sederhana, ketika perasaan seseorang tengah bahagia, maka duniapun menjadi lebar, langkahnya meyakinkan disertai dengan rona wajah yang senantiasa berseri. Namun selalu ada obat untuk setiap penyakit dan setiap permasalahan mesti diselesaikan meskipun tidak begitu memuaskan.

Kembali pada persoalan tumpang tindihnya porsi rasa dan logika, dan entah bagaimana, emosi dan logika diciptakan dalam kadar tertentu, layaknya dalam persentase yang berbagi angka fifty-fifty, dan dengan kadar tersebut mesti digunakan secara proporsional dan tidak boleh melampaui batas masing-masing. Dengan menggunakan metode positivisme yang dikembangkan Auguste Comte, bahwa setiap gejala psikis maupun sosiologis selalu bisa dijelaskan secara mekanis melalui hukum alam. Angka 100 % diatas mengikuti kadar tubuh yang juga berlaku hukum demikian, seperti kadar darah yang tidak boleh belebihi batas normal.

Perasaan pada dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Namun dalam pemenuhannya mesti memperhatikan besaran jumlah yang dibutuhkan. Sebagai analogi, ketika seseorang lapar ataupun haus, meski kebutuhan tersebut harus dipenuhi, tapi jika berlebihan maka akan menimbulkan over dosis. Begitupun sebaliknya jika tidak dipenuhi.  

Jika ditinjau secara biologis, batasan kebutuhan dapat dibedakan dari keinginan. Apa yang disebut kebutuhan, merupakan reaksi biologis yang berasal dari dalam diri manusia, seperti rasa lapar, haus, reproduksi dan sebagainya. Sedangkan keinginan berasal dari efek eksternal, seperti saat kita merasakan lapar akibat metabolisme tubuh yang kemudian kita sebut  kebutuhan, maka yang disebut keinginan adalah aneka makanan yang menggoda selera. Demikian pula halnya dengan perasaan. Dan keinginan inilah yang berpotensi menimbulkan peningkatan persentase emosi sekaligus menumpulkan ketajaman tingkat rasionalitas.

Oleh karenannya, memberikan porsi yang seimbang dalam pemenuhan kebutuhan tersebut adalah keharusan. Dalam ungkapan yang masyur disebutkan: “nikmatilah hijaunya dan tinggalkan rasanya”. Dalam arti, makan dan minumlah sesuai kebutuhan bukan berdasarkan nikmatnya makanan. Mencintalah sesuai kebutuhan lalu imbangi dengan perhitungan logis. ungkapkanlah kemarahan sesuai kadar kesalahannya. Jika tidak demikian,  darah tinggi adalah sebuah kewajaran, dan kegalauan adalah sebuah keniscayaan.

Sebagai catatan akhir, ini hanya pendapat pribadi. Hanya berbagi pengalaman dan pemahaman.