imagesDua tahun yang lalu, saat menjadi pengguna android level pemula. Saya melakukan uji coba untuk menginstal aplikasi berekstensi windows di smartphone android, dan tentu saja gagal meski dengan 4-10 kali try and error, Tetap failed. Setelah browsing dengan beberapa search engine, jawabannya tentu mudah ditebak; karena bahasa pemrograman yang berbeda, sofware android gagal memahami bahasa aplikasi windows.

Dalam kehidupan kita seimageshari-hari, hal yang sama juga kerap kali terjadi. Beberapa ibu muda sering kewalahan memahami keinginan seorang anak bayi yang baru belajar bicara. Seorang kekasih tak jarang tertimpa kegundahan yang luar biasa saat pasangannya diam seribu kata secara tiba-tiba. Seorang anak yang telah dewasa terkadang tidak responsif dalam memahami bahasa kasih sayang orang tua yang tertuang tidak dengan kata-kata layaknya seorang ABG yang berucap: “aku sayang kamu”.

Bahasa verbal seperti kata-kata dan tulisan memang sangat menunjang dalam efektifitas komunikasi. Namun dalam beberapa kasus, hal itu tak mungkin atau tak mesti dilakukan. Seperti seorang bayi yang memang belum bisa bicara dan tak bisa memaksakannya. Begitu pula alam yang tak bisa mengucapkan sepatah kata pun seperti layaknya manusia, bukan berarti mereka tidak berbicara, tapi mereka memiliki bahasa tersendiri untuk menyampaikan pesan-pesan yang hendak diwangsitkan.

Meski demikian, memahami bahasa mereka bukanlah hal yang mustahil. Jika meminjam ungkapan seorang bijak, Rumi; “kata-kata mengantarkan seseorang pada pemahaman, namun apa gunanya kata-kata jika ia mampu memahami tanpa melalui perantara kata-kata”. Sebagai opsi dalam memahami bahasa tangisan seorang bayi, pasangan yang tengah merajuk tanpa kata, abnormalisasi suhu alam, atau belaian seorang ibu. Karena lain halnya dengan mesin digital seperti komputer, manusia begitu unik; mampu memahami bahasa-bahasa asing yang sebelumnya tak ia kenali, manusia mampu memprogram dirinya sendiri untuk beradaptasi dengan bahasa yang baru. Tak hanya bahasa manusia, tapi juga bahasa alam. Tak hanya bahasa verbal, namun juga bahasa psikologis. Seperti seorang WNI yang mampu mempelajari bahasa Inggris, seorang anak saat pertama kali mengenal berbagai warna sebagai bahasa simbol.

Akan tetapi itu semua bukan tanpa kendala. Sebagaimana yang saya rasakan, betapa usahunduhan (1)a yang keras harus dikerahkan untuk memahami seorang teman yang tiba-tiba menjaga jarak seperti tanpa sebab, tanpa mau bicara, tak menegur, dan tidak menjawab panggilan ponsel.  Salah satu yang bisa dilakukan sebagaimana sugesti para analis bahasa: melarutkan diri dalam dunia mereka dengan bahasa yang mereka gunakan. meluangkan waktu sejenak untuk merasakan apa yang mereka rasakan, dan memahami segala kejanggalan, layaknya seorang penikmat seni yang sedang merasakan keindahan panorama alam atau kemurkaannya. Seperti ungkapan Ebiet, “bertanyalah pada rumput yang bergoyang”,