Perdimages (5)ebatan mengenai “apakah Tuhan memiliki andil dalam penciptaan benda-benda yang dibuat oleh manusia?” Semisal, apakah Tuhan memiliki andil dalam pembuatan pesawat yang dibuat oleh Wright bersaudara? Kini tak lagi istimewa, bahkan menjemukan dan cenderung membuang-buang waktu. Namun dalam zona pemikiran, hal tersebut merupakan salah satu diskursus awal  yang mendasari pemikiran-pemikiran lain sesudahnya, termasuk modernisme dan liberalisme.

Dalam pemahaman yang sederhana dan terbatas tentang realitas, faktanya seseorang yang telah membuat sebuah barang atau benda apa pun, maka dikatakan ialah penciptanya, hingga dalam dunia kekinian ada istilah hak cipta sebagai bentuk apresiasi dan untuk melindungi hasil karya seseorang. Tanpa harus mempertanyakan apakah ada andil Tuhan didalamnya atau tidak? Karena barangkali Tuhan tidak butuh pengakuan secara tertulis dan bersertifikat untuk melindungi hak cipta Tuhan. dan faktanya Tuhan tidak menulis di kaki langit; Tuhan, All Right Reserve. Tidak diizinkan mencopy karya ini tanpa seizin pencipta. Yang tepenting dan lebih memuaskan untuk diketengahkan di masa sekarang adalah mengambil setetes air dari pemikiran yang telah lalu sebagai sumber kehidupan dan inspirasi di tengah masyarat yang tengah terisolasi.

Ada banyak penemuan penting umat manusia yang disebut-sebut telah menjadi variabel penting kehidupan modern. Kapal uap oleh Robert Fulton, sepeda oleh James Stanley, kapal selam oleh Simon Lake, stetoskop oleh Rene Laennec, penesilin oleh Fleming, mesin diesel oleh Rudolf Diesel, helikopter oleh Igor Sirkorsky dan banyak lagi beragam, berjuta penemuan lain yang tak mungkin dijabarkan dalam tulisan ini.

Keistimewaan, dan keunggulan yang dimiliki oleh manusia dan segala penemuan yang mengubah wajah dunia tersebut memunculkan sebuah credo dari seorang pemikir barat; “manusia telah mendapatkan segala kekuatan Tuhan”. meski terdengar hiperbolis, namun dengan pencapaian yang juga saksikan, decak kagum demikian amatlah wajar. Yang perlu diberikan tanda petik dan garis bawah untuk tetap mewarnai dunia pemikiran adalah. Seberapa besar kadar keunggulan dan potensi seorang manusia dibanndingkan mahluk hidup lain di bumi ini, dan kadarnya dibandingkan dengan Tuhan.

-Aku telah mendengar auman singa, kokok ayam, ringkikan kuda, dan dengusan Herder. Aku juga juga telah mendengar manusia meniru suara mereka, meski tak sesempurna aslinya, tapi manusia bisa merekam suara mereka sebagai backsound untuk efek suara. Namun aku tak pernah mendengar hewan menirukan bahasa manusia, seperti ”ini Budi” sebagaimana yang dieja oleh anak-anak PAUD. Kecuali hanya sedikit jumlahnya atau difilm-film animasi yang itu pun dilakukan oleh manusia.-

imagesNarasi singkat di atas hanya untuk menggambarkan bahwa manusia memiliki kemampuan lebih dibandingkan mahluk lain dalam satu sisi. Manusia mampu mencitrakan apa yang ditangkap panca indera dan memplagiasinya dan menciptakan citraannya kembali. Meniru apa-apa yang didengarnya sebagaimana seorang bayi yang baru belajar berkata.meniru apa-apa yang dilihatnya sebagaimana pelukis yang mencitrakan gambaran pemandangan yang dilihatnya. Meniru segala ciptaan Tuhan sebagaimana Wright bersaudara yang terinspirasi dari burung yang bisa terbang dan Ibnu Firnas dan Francis Bacon yang menghayal manusia terbang. Dan itupun tak sia-sia, dengan kesungguhan itu bukan sekedar angan semata, tapi mengantarkan kita dalam kehidupan waktu yang lebih singkat. Hari ini jarak Jambi-Jakarta ditempuh dalam waktu yang amat singkat jika dibandingkan beberapa abad yang lalu.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan apa yang telah diciptakan oleh Tuhan tentu tidakunduhan (2)lah sebanding. Terutama dalam satu hal; KEHIDUPAN. Manusia mungkin menduplikasi sebatang pohon, tapi tak bisa menghidupkannya. Manusia mungkin bisa menciptakan robot, tapi tak bisa memberikan jiwa padanya. Manusia mungkin mentlanplantasi jantung, tapi tak mungkin hidup jika berdiri sendiri tanpa organ lain yang telah hidup sebelumnya. Bagaimanapun itulah kadar manusia dan Tuhan Maha Menghidupkan dan memberikan kehidupan. Dan tak mungkin dipungkiri, bahwa Tuhan menciptakan alam ini dengan kehidupan, sebagaimana diciptakannya setetes mani hingga dalam beberapa tahap ia menjadi mahluk yang sempurna.

Itu hanya sebuah perbandingan. Lain dari pada itu, dan yang ditekankan dalam bagian ini adalah. Potensi manusia untuk menciptakan hal baru, berkarya sebagaimana mereka yang telah berkarya, meniru kegeniusan Sang Maha Pencipta adalah kemampuan alamiah yang telah dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia,  dan potensi yang terus diwariskan secara turun temurun. Muhammad Iqbal menyebutnya dengan satu ungkapan. I’M ACT, THEREFORE I’M EXIST. Atau dalam bahasa Rene Descartes: COGITO ERGO SUM. Aku berkarya maka aku ada, aku berpikir maka aku ada. Oleh karenanya, maka Berkaryalah!