Memasuki paruh kedua abad ke-20 hingga awa l abad ke-21, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami akselerasi yang sangat pesat. Menciptakan peradaban yang tak pernah ditemui sepanjang sejarah kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Era digital dan satelit menggantikan batu tulis dan kurir pengantar surat dalam bidang informasi dan komunikasi. Industrialisasi yang memproduksi barang dalam jumlah masal dengan bantuan mesin-mesin canggih telah menggantikan tenaga manual dalam bidang ekonomi. Berbagai varian kendaraan bermotor hingga roket telah menggantikan gerobak kuda sebagai alat transportasi. Penggunaan mata uang dan kartu kredit telah menggantikan transaksi barter. Mesin pembangkit listrik bertenaga uap hingga nuklir juga telah menggantikan kerosin sebagai alat penerangan masal. Yang kesemuanya relatif memberikan kemudahan bagi manusia dalam menjalankan aktifitasnya.

Modernisasi dalam berbagai aspek kehidupan juGWga melahirkan permasalahan-permasalahan sistemik, baik secara langsung seperti sistem ekologi dan ekonomi. Maupun dampak tidak langsung seperti sistem pembangunan dan governent (tata kelola pemerintahan).

Dari hasil penelitian Abu Fatiah al-Adnani dalam buku Global warming, dengan menghimpun data dari NASA, IPPC (Intergavernental Panel on Climate Change), dan WWF Indonesia dari tahun 1848 hingga 2008. Menuliskan beberapa dampak dari pemanasan global. Antara lain:

 

  1. Naiknya permukaan air laut hingga 6 m yang akan memperkecil luas daratan akibat pencairan es di daerah kutub dan Greenland.

  2. Pembentukan kembali gunung berapi akibat pencairan glasier. Salah satunya glasier Diamond dan Darwin di pegunungan Kilimanjaro di Afrika.

  3. Kepunahan beberapa spesies serangga.

  4. Semakin meningkatnya frekuensi El-nino.

  5. Kegagalan panen petani akibat perubahan cuaca yang semakin ekstrim.

  6. Meningkatnya jumlah badai akibat siklus air yang tidak teratur.

PermasGW 1alahan ekologi yang sangat serius, ancaman kepunahan biosfer yang pernah di ungkapkan oleh Arnold Toynbee dalam buku Mankind and Mother Earth, disebabkan oleh keberadaan umat manusia dengan kesadarannya (baca: kecerdasan). Hingga saya ingin mengatakan, bahwa  manusia telah menciptakan neraka bagi dirinya sendiri.

Keberadaan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, dengan kecerdasan yang dianugerahkan oleh Tuhan padanya, kebebasan bertindak dalam segala hal sebagai semboyan kehidupan modern, tidak diimbangi deng an kontrol diri terhadap segala tindakannya. Kesadaran akan kelestarian alam adalah keberlangsungan manusia itu sendiri seakan tidak dimiliki. Kenyataan demikian akan mengingatkan kita dalam satu kalamNya yang bernada retoris: Apakah kalian ingin memiliki kebun (baca:  dunia) yang rusak dan dilalap api. Sementara kalian masih memiliki keturunan yang masih kecil?

Permasalahan lain yang secara umum dialami oleh negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Modernisasi dan perkembangan teknologi sering tidak disertai dengan pemerataan pembangunan di daerah-daerah tertinggal terutama infrastruktur dan fasilitas umum yang berdampak juga terhadap pemerataan ekonomi yang di negara-negara maju relatif telah teratasi.

Permasalahan hukum yang meski tak terikat dengan modernisasi dan perkembangan teknologi. Seringkali ditemukan penerapan hukum, terutama hukum pidana yang kerap kali memihak kaum konglomerat. Salaah satunya kasus hukum putra Hatta Rajasa, seperti dilansir oleh Kompas.com:

Dagelan hukum kembali dipertontonkan. Semakin kentara jika membLAWandingkan penanganan kasus kecelakaan maut anak Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Rasyid Rajasa dengan kasus loncatnya mahasiswi Universitas Indonesia Annisa Azward (20) dari angkot. Memang dalam kasus ini Annisa adalah korban, dan sopir angkot, Jamal bin Samsuri (37) memang harus diperiksa.

Tetapi yang mengherankan adalah soal penahanan. Sejak kejadian Rabu (6/2), Jamal langsung ditahan di Unit Lantas Daan Mogot, Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan belum ditemukan adanya unsur kriminalitas, seperti percobaan perampokan, pemerkosaan dan penculikan. Dugaan sementara mahasiswi semester empat itu nekat loncat karena ketakutan.

Jika memang dalam perjalanan ditemukan unsur pidana, tentu Jamal harus dihukum dengan ketentuan yang berlaku. Kini polisi sudah menetapkan Jamal sebagai tersangka, dengan dijerat pasal 283 Jo Pasal 310 ayat (3) UU Lalu Lintas, yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang dan diancam hukuman 5 tahun penjara. Selain itu, Jamal juga bisa dijerat dengan UU Lalu Lintas karena membawa angkot di luar trayek.

Jika menengok kasus Jamal tentu tak seberat dengan Rasyid. Putra bungsu Hatta Rajasa itu pada 1 Januari silam, mengemudikan mobil BMW dengan kecepatan tinggi lalu menabrak mobil Luxio di Tol Jagorawi. Dalam kecelakaan tersebut dua orang meninggal. Memang Rasyid sudah menjadi tersangka, tapi diistimewakan. Rasyid dijerat pasal 283, 287 dan 310 UU Lalu Lintas No 22 Tahun 2009, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.

Setelah kejadian, polisi tidak menahan pria yang menimba ilmu di London, Inggris itu dengan alasan trauma, dan pihak keluarga memberi jaminan Rasyid akan kooperatif.

Ternyata Rasyid kembali mendapat perlakuan khusus. Saat pelimpahan berkas tahap kedua dari Polda Metro Jaya ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur, Rasyid tidak ditahan.

 

Tiga permasalahan di atas pada dasarnya bersumber dari akar yang sama, yakni keadilan. Keadilan yang difahami tidak sekedar sebagai azas hukum, tetapi ‘adil’ sebagai parameter serta dasar kebijakan dan tindakan individu, kolektif, maupun institusi.

Barangkali pembaca akan mempertanyakan relevansi antara dampak ekologi pada permasalahan pertamadengan keadilan. Oleh karenanya penulis perlu menguraikan beberapa hipotesis dalam tulisan ini.

Pertama, jika diyakini secara sederhana bahwa keadilan adalah menunaikan kewajiban kepada yang berhak mendapatkannya, maka hanya akan difahami dengan pengandaian adanya relasi antara dua pihak atau lebih yang terikat satu sama lain membentuk suatu sistem. Singkatnya, hak dan kewajiban timbul setelah terbentuknya ikatan antara satu entitas dengan entitas lain. Dan mengenai pembentukan ikatan hingga membentuk suatu sistem, terdiri dari tiga tahapan atau kategori.

  1. Ikatan adikodrati, yaitu ikatan saat manusia belum memiliki wujud, antara Tuhan dan manusia itu sendiri. Kemudian timbul ikatan antara manusia dengan Tuhan dalam relasi mahkluk dan penciptanya. Lalu timbulah hak dan kewajiban antara manusia dan Tuhan.EKO

  2. Ikatan kodrati, yaitu ikatan yang terjadi pada proses penciptaan hingga kelahiran manusia. Pada tahap ini ikatan yang terjadi lebih komplek dari tahapan pertama, karena dalam tahapan ini manusia mulai membentuk wujudnya berupa jasad materi seperti pembentukan sistem peredaran darah, sistem pernapasan, sistem saraf dan lain-laKELUARGAin dengan berbagai organ tubuh yang ada didalamnya sebagaimana dikenal dalam biologi serta organ yang bersifat ruhaniyahseperti hati dan akal. Disamping itu, pada tahap ini akan timbul ikatan yang terjadi karena hubungan darah (nasab), antara orang tua dan anaknya juga dengan saudara-saudaranya yang lain. Berbagai ikatan lain juga timbul sebagai konsekuensi kelahirannya dan kebutuhan hidupnya. SeseorangBADAN lahir sebagai warga negara artinya ia telah masuk dalam sistem negara, sistem ekonomi, sistem pendidikan, sosial kemasyarakatan dan sebagainya, temasuk sistem ekologi yang menunjang kehidupannya sebagai mahluk hidup. Dengan demikian timbulah hak dan kewajiban antara seorang manusia yang baru dilahirkan dengan dirinya, keluarganya, negaranya, dan alamnya.

  3. Ikatan buatan, yakni ikatan yang terjadi atas dasar kesadaran manusia untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta kebutuhan biologis menuntut manusia untuk memiliki pakaian, makanan, rumah, pasangan hidup, pekerjaan, kekuasaan dan lain-lain yang menimbulkan hak milik manusia sekaligus hak dan kewajiban yang timbul karenanya.

 NEGARA

Kedua, setiap kehidupan kecuali Tuhan, selalu memiliki berbagai kebutuhan untuk mempertahankan eksistensi dirinya. Dalam hal tersebut, adil sebagai salah satu sifat Tuhan diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan setiap mahluk sesuai dengan tujuan, kedudukan, dan fungsinya. Ketika dikatakan bahwa manusia adalah wakil Tuhan di bumi, maka tugas manusia di bumi adalah untuk memenuhi kebutuhan segala sesuatu yang dikuasakan padanya sebagaimana disebutkan pada hipotesis pertama di atas. Dengan berlaku demikian, maka manusia dikatakan adil. Hipotesis kedua ini penulis maksudkan untuk mengetahui substansi keadilan itu sendiri, yakni “memberikan sesuatu kepada yang berhak mendapatkannya sesuai dengan kebutuhan, tujuan, kedudukan, dan fungsinya .”

Apa yang dimiliki oleh manusia, apa yang dikuasakan oleh Tuhan pada manusia seperti anggota anggota badan dan alam ini, hutan ini, laut ini. Apa yang dikuasakan oleh satu orang terhadap yang lainnya seperti istri dan jabatan, negara, jalan dsb . Juga yang dipinjamkan atau sebagai barang pinjaman, baik barang maupun uang. Kesemuannya memiliki hak yang mesti dipenuhi sebagai kewajiban bagi sang pemilik. Manusia memiliki kewajiban untuk melestarikan alam dan melakukan konservasi hutan, laut, dan udara. Jika tidak, sebagaimana telah diulas dibagian awal tulisan ini. “manusia tak akan lagi memiliki tempat bernaung senyaman dan seindah bumi ini”. Seorang presiden dan jajaran pejabat pemerintahan, memiliki kewajiban untuk memfasilitasi kemudahan bagi rakyat dalam segala hal yang berkaitan dengan urusan publik, baik ekonomi, sosial, maupun pembangunan infra struktur. Begitu pula rakyat memiliki keawajiban untuk mentaati pemerintah. Seorang ayah memiliki kewajiban terhadap anaknya. Begitupun anggota keluarga yang lain. Seorang pengusaha memiliki keajiban terhadap pegawainya, namun juga sebaliknya seorang buruh juga memiliki kewajiban untuk memberikan kemampuan yang maksimal bagi perusahaan. Hal yang paling sepele barang kali dalam pandangan sebagian orang. Seseorang juga memiliki kewajiban terhadap anggota badannya. Tangannya, kakinya, giginya, jasadnya. Agar berfungsi sebagaimana mestinya. Segala yang kita tanam seperti sayuran dan buah-buahan, memiliki hak yang mesti di penuhi oleh pemiliknya. Begitupun rumah yang ia bangun, kendaraan yang ia beli, pakaian yang ia kenakan.

Dan kita tak akan bertanya lagi. Siapakah yang paling bertanggung jawab ketika tejadi el-ninoGW 3 dan perubahan cuaca yang sangat ektrim. Kita tak akan bertanya siapa yang paling bertanggung jawab saat jembatan rubuh akibat kontruksi yang tidak memadai, dan kecelakaan lalu lintas akibat kerusakan jalan. Seorang ayah tidak perlu bertanya mengapa anaknya durhaka, seorang pemuda tak akan bertanya mengapa ia tidak sukses seperti orang lain. Kenapa petani mengalami kegagalan panen. Kenapa para buruh berdemo. Jawabnya, karena gigi yang sakit, diakibat apa yang kita makan dimasa lalu. Bukan yang dimakan oleh orang lain. Karena kita tidak memenuhi hak mereka.

Dengan demikian, keberadaan manusia dalam suatu sistem akan menimbulkan kewajiban untuk memenuhi hak Tuhan, manusia lain dan mahluk lain yang terikat dengan manusia dalam suatu relasi pada sistem yang sama. Atau dalam bahasa yang lebih familiar, inilah landasan etika, sebagai pedoman bagi seseorang untuk bertindak. Untuk mengontrol dan mempertimbangkan segala tindakan yang telah, sedang dan akan ia lakukan.