Sign In

Remember Me

sosok wanita menurut al-qur’an dan wanita – wanita masa kini

sosok wanita menurut al-qur’an dan wanita – wanita masa kini

Berbicara tentang wanita selalu menarik, tak ada habisnya. Bukan saja bagi pria, bahkan bagi wanita sendiri pun berbicara tentang dirinya tetap menarik, tak ada bosannya.

Diskusi diawali dengan membicarakan wanita-wanita dalam Al-Qur’an. Allah telah mengabadikan dalam Al-Qur’an contoh-contoh wanita-wanita yang baik, wanita yang tidak baik, sampai kepada contoh wanita-wanita penentang.

Maryam, salah satu contoh wanita baik-baik. Maryam adalah ikon wanita yang suci, senantiasa menjaga kesuciannya, wanita yang sholeha. Dalam suroh Maryam dengan gamblang Allah telah mengabadikan kisah keteladanannya. Wanita pilihan Allah yang dari rahimnya yang suci terlahir seorang anak laki-laki yang suci lagi mulia, dialah Isa as, Nabi Allah tanpa seorang ayah. Allah dengan kuasanya telah menanamkan anugerah benih dirahim Maryam. Maryam yang tiada pernah disentuh oleh laki-laki mana pun. Maryam bukan wanita pezina. Maryam wanita mulia yang selalu menjaga kehormatan dan kesuciannya. Sosok wanita yang kuat, darinya pula lahir seorang bayi yang Allah mampukan untuk menyampaikan kebenaran kepada kaumnya. Subhanalloh…

Jika kita lihat sekitar kita saat ini, yang banyak terjadi adalah sebaliknya. Begitu tiada berharga lagi para wanita, tiada lagi marwah, anak gadis yang masih ingusan begitu bangganya bisa melakukan sesuatu yang belum saatnya untuk dilakukan, atau juga seorang wanita yang sudah menjadi istri seseorang begitu mudahnya melakukan sesuatu yang tiada pantas untuk dilakukan. Bagi mereka kesucian lahiriah tidak lagi menjadi penting untuk dijaga. Padahal dari kesucian lahiriah lah akan dapat membentuk kesucian jiwa. Tidak semua memang, karena Allah senantiasa menjaga, selalu ada contoh teladan, senantiasa ada contoh yang baik di setiap zaman. Sedikit sekali wanita-wanita seperti Maryam, yang senantiasa menjaga diri, maruah dan kesuciannya.

Jika dulu wanita dikenal sangat pemalu hingga sifat pemalunya membuat wanita lebih anggun, tapi sekarang laki-laki lah yang menjadi malu akibat keberanian wanita. Berani dalam kebaikan itu wajib, tapi justru bukan itu yang terjadi. Keberanian memperlihatkan kepada publik bentuk utuh dirinya. Bukan hanya di daerah metropolitan, bahkan di desa yang katanya paling katro sekalipun telah terjamah budaya pamer badan. Bukan hanya di kalangan selebriti dan artis, tapi seorang yang berstatus pelajar atau mungkin pembantu rumah tangga pun tergoda untuk meniru. Aneh memang orang sekarang, ditengah zaman yang katanya semakin modern, tapi kok malah cara berpakaian orang-orang seperti kembali ke zaman purba kala. pergeseran telah terjadi dengan sangat jauhnya. Wanita itu indah, semua pasti sepakat. Tapi keindahan itu tak mesti dan tak boleh ditunjukkan jika dengannya menjadi sumber musibah, sumber bencana.

Wanita yang kedua, dialah Asiyah istri Fir’aun. Istri seorang Fir’aun yang sangat dzalim. Menganggap dirinya sebagai Tuhan. Asiyah wanita luar biasa, bersuamikan seorang yang kafir lagi dzalim tapi tetap bertahan dalam keimanannya, yang dengan izin Allah lewat tangannyalah Musa dapat selamat dari tangan dzalim suaminya, hingga Musa tumbuh besar dan menjadi seorang Nabi. Asiyah…sosok wanita yang darinya kita para wanita bisa belajar banyak, teladan bagi para istri jika takdir menggariskannya bersuamikan seorang yang tidak baik. Wanita sebagai sosok yang lemah, yang kemungkinan besar akan mengikut arus suami, tapi Asiyah tidak. Suami yang kafir lagi dzalim tidak membuat dia juga kafir dan dzalim. Dia sosok wanita yang memiliki kekuatan, dibalik kelemahannya sebagai seorang wanita. Tiada kata taat pada suami jika tidak dalam keimanan. Tidak mudah memang, dan mereka perempuan-perempuan yang kuat yang bisa untuk tetap dalam keimanannya di tengah kuasa suami yang kafir atas dirinya.

Wanita ketiga dan keempat, Ibu (Yukabad) dan Kakak Nabi Musa. Yukabad, seorang ibu yang demi memikirkan keselamatan anaknya menjalankan perintah Allah untuk menghanyutkan bayinya Musa, di suangai Nil setelah sebelumnya diletakkan dalam peti yang tertutup rapat. Walau berat, Yukabad mengikhlaskan putranya dan yakin Allah akan menjaganya. Kakak Nabi Musa, dengan rasa tanggung jawab dan ingin melindungi adik yang ada pada dirinya, mengikuti dan mengawal peti yang hingga peti berlabuh dan diketahui siapa yang menemukannya. Dan ternyata peti ditemukan Asiyah, istri Fir’aun dan dia jugalah yang mengangkat Musa sebagai anak, merawat dan membesarkannya. Dengan kehendak kuasa Allah Musa selamat ditangan Asiyah dan ibunya Yukabad yang kemudian terpilih menjadi ibu susunya. Allah Maha Penepati janji, Yukabad kembali Allah pertemukan dengan putranya Musa.

Wanita dengan perasaannya yang lembut memiliki rasa tanggung jawab yang amat sangat besar. Lihatlah, banyak wanita, banyak perempuan yang sanggup menjadi single parent, membesarkan dan mendidik sendiri anak-anaknya. Perempuan, dikatakan paling sanggup untuk bertahan dalam penderitaan demi kebahagiaan orang-orang yang dikasihinya. Seorang ibu, rela melakukan apa saja demi anaknya. Seorang anak perempuan mampu mengalahkan egonya demi ibunya. Ya, dibalik kelemahannya wanita menyimpan kekuatan yang besar.

Wanita yang kelima, Ratu Balqis. Hidup di zaman Nabi Sulaiman. Wanita cantik, penguasa, pintar dan mudah menerima kebenaran yang disampaikan Allah melalui Nabinya Sulaiman as. Ratu Balqis benar-benar sosok perempuan ideal. Semua kebaikan ada padanya, harta, kecantikan, cerdas dan hati yang terbuka menerima kebenaran.

Wanita yang keenam, meski namanya tidak secara eksplisit Allah nyatakan dalam Al-Qur’an tetapi kisahnya yang menyebabkan turunnya aturan Allah dalam QS. Al-Mujadilah:1-4, telah diabadikan dalam kalamNYA. Dialah Khaulah binti Sa’labah. Wanita cerdas yang protes kepada Rasulullah dan pengaduanya didengar Allah. Kisah khaulah tentang suaminya yang menyatakan dirinya seperti punggung ibunya, kemudian meminta sesuatu dari Khaulah. Khaulah menolak dan berkata, “Sekali-kali jangan. Demi Allah yang menguasai nyawaku, jangan menyentuhku, sementara engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan, hingga Allah dan Rasul-Nya memberi keputusan tentang kita”. Kemudian datang kepada Rasulullah, berdialog untuk meminta fatwanya, dan Rasulullah menyatakan “Aku tidak melihat selain engkau telah haram baginya”. Tapi khaulah tidak menerima begitu saja, gelisah dan sedih hatinya dengan keputusan Rasul. Allah tetap menjadi tempat pengaduannya. Dan Allah pun mendengar, maka berlaku lah aturan, bahwa seorang suami yang menyatakan istrinya seperti ibunya berlaku kifarat baginya. Khaulah, wanita yang fasih, cerdas, dan taat.

Wanita tak selalu harus manut. Perlu ilmu dan cerdas untuk melakukan sesuatu. Tidak mengekor dan mengikut tanpa di dasari pengetahuan. Seorang wanita juga harus kritis, mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai seorang wanita, istri, ibu atau anak. Tapi kita tak bisa menutup mata, bahwa banyak wanita yang tidak tahu bagaimana memposisikan diri sebagai seorang istri, sebagai seorang perempuan, sebagai anak, sebagai ibu. Menuntut sama dengan laki-laki, padahal bagaimana pun tidak pernah ia bisa sama dengan laki-laki, kecuali di hadapan Allah.

Wanita yang ketujuh, Zulaikha. Diceritakan dalam Al-Qur’an sebagai wanita penggoda, wanita yang tidak baik, yang menggoda Nabi Yusuf as yang ketika itu bersuamikan al-aziz raja Mesir. Yang kemudian setelah Zulaikha bertaubat dan jatuh miskin, Yusuf As menikahinya. Menikahi Zulaikha setelah menjadi sosok wanita baik.

Di banyak sudut kalaupun tidak di semua sudut, amat sangat banyak kita temukan perempuan-perempuan ini. Perempuan penggoda. Dari yang muda sampai yang tua. Dari anak-anak sampai orangtua. Dari pelajar, mahasiswa, pembantu rumah tangga sampai para wanita-wanita pekerja. Menggoda dengan berbagai motiv. Dari alasan keterpaksaan sampai kebutuhan. Dari alasan hobi, kesenangan dan masih banyak alas an lainnnya yang entah apa saja.

Wanita kedelapan dan kesembilan, istri Nabi Nuh as (Wafilah) dan istri Nabi Luth as. Dua sosok wanita penentang. Kedua wanita ini bersuamikan laki-laki baik tetapi tidak merekalah wanita yang tidak baik. Menentang Allah dan suaminya yang jelas-jelas sebagai Nabi utusan Allah untuk kaumnya. Wanita yang tidak beriman kepada Allah dan suaminya sebagai Nabi Allah.

Istri Nuh as dan istri Luth as, adalah kebalikan dari kisah Asiyah istri Fir’aun. Kedua wanita ini, di abadikan dalam firman Allah, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya….” (at-Tahrim: 10)

Dalam konteks kekinian, tak jarang kita temukan hal serupa kisah Asiyah atau serupa cerita istri Nuh as dan istri Luth as. Allah telah memberikan contoh, untuk manusia dapat mengambil hikmah darinya. Telah ada kisah di zaman para nabi sebelum kita melihat cerita demikian di kehidupan kita. Seorang ustadz beristrikan seorang wanita yang tidak sholeha. Wanita yang tidak baik mendapatkan laki-laki yang baik. Seroang perempuan baik-baik bersuamikan laki-laki yang tidak baik. Perempuan sholeha tidak mendapatkan laki-laki yang sholeha. Semua adalah pelajaran, selalu ada hikmah dibalik sesuatu. Allah tidak sesuatu untuk sia-sia. Barangkali adalah ujian keimanan atasnya.

Wanita kesepuluh, istri Abu Lahab. Wanita pembawa kayu bakar untuk menyiksa suaminya dan penyulut api bagi suaminya sambil melilitkan tali dilehernya karena kesukannya membantu suaminya menyebar fitnah yang keji tentang Rasulullah.

Istri Abu Lahab adalah pelajaran bagi perempuan-perempuan yang keji, yang suka sesumbar menyebar berita bohong yang tiada. Juga pelajaran berguna juga perempuan lainnya agar berhati-hati dalam lisannya. Entah mengapa memang tersiar kabar dan saya lihat di sekitar saya bahwa gossip sangat identik dengan perempuan, perempuan sulit menjaga rahasia, perempuan bermulut besar suka sesumbar, lidah perempuan sangat tajam, dan label negatif lainnya yang lekat pada kata perempuan. Entah sejak kapan. Faktanya, peminat gossip atau infotainment di stasiun televisi apapun nama acara yang mengcovernya, peminat terbesarnya adalah kaum perempuan, wanita. Begitu sulitnya perempuan untuk lidahnya untuk tak banyak bicara, sampai-sampai sebuah anekdot pernah saya baca “ bila ingin sebuah berita tersebar dengan cepat, katakana saja pada seorang perempuan”. Tidak hanya itu, kalau diperhatikan, yang sering digossipkan juga adalah perempuan. Perempuan menggosipkan tentang perempuan. Apa mungkin selain suka bergossip, perempuan juga senang dijadikan bahan pergossipan. Hhhh…entahlah.

Ya…apa saja bisa menjadi bahan obrolan bagi perempuan, yang tidak penting pun bisa menjadi menarik dan menjadi bahan pembicaraan yang menyita waktu jika sudah dibicarakan oleh perempuan. Tetangga punya TV baru, kulkas baru, mobil baru atau bahkan mungkin punya sepatu baru juga bisa menjadi gossip menarik. Perempuan.. kalimat yang akrab bagi kita “hati-hati dengan mulut perempuan, mulut perempuan itu berbisa”.

Sepuluh wanita diatas adalah beberapa diantara wanita-wanita yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Selain sepuluh wanita diatas masih ada sosok Hajar yang berlari-lari dari Shofa dan Marwah demi mendapatkan air untuk buah hatinya Ismail. Kesemuanya menjadi contoh bagi wanita-wanita di masa kini. Begitu sempurna Allah memberikan kita kisah-kisah yang dapat dijadikan pelajaran. Contoh yang baik sampai yang tidak baik, yang tidak baik kemudian bertaubat, telah jelas Allah gambarkan. Amat sangat lengkap preferensi tentang contoh-contoh yang digambarkan pada kita. Semua ada. Contoh yang baik ada, pun dengan contoh yang tidak baik. Tinggal kita memilih yang mana yang kita suka, yang kita ingin ada dalam pribadi kita. Tidak ada yang tidak menginginkan kebaikan. Dan kebaikan yang baik akan di dapat dengan jalan kebaikan pula.

 saya ingin berbagi ilmu, bukan murni tulisan tangan saya melainkan saya dapat dari berbagai sumber ^_^,

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Leave a Reply