Sign In

Remember Me

PERSAUDARAAN, SATU ASAS MEMBINA RASA KEBANGSAAN

PERSAUDARAAN, SATU ASAS MEMBINA RASA KEBANGSAAN

Dia menyukai segala sesuatu

Dia memberi segunung cinta pada segala sesuatu yang ditangkap oleh sorot matanya

Agaknya

Apa yang membuatnya sangat menderita pada masa lalu

Adalah

Bahwa dia tidak dapat mencintai segala sesuatu dan seorang manusia

 

Jika berkibarnya merah putih 70 tahun yang lalu, citranya yang tanpa kata-kata provokatif mampu menarik simpati jutaan pasang mata. Pesonanya saja sanggup menggundang bangsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk memproklamasikan kemerdekaan mereka, menawan hati tak hanya pendudukan pribumi. Maka tentu, betapa besar pesona dan kekuatan dalam kenyataan sejarah dan perjuangan, yang ada dibalik citra pusaka suci itu. Hingga HAMKA berseru: “Membaca sejarah nenek moyang adalah suatu hal yang meninggalkan kesan yang mendalam di  jiwa kita, apatah lagi apabila kita baca dengan rasa cinta. Kian dia dibaca kian terbayanglah masa-masa yang lampau dan masa lampau akan meninggalkan jejak yang dalam untuk menghadapi zaman kini dan zaman depan”. Lanjutnya lagi, “Meninjau sejarah hendaklah dengan rasa cinta. Meninjau sejarah hendaklah kita seakan-akan merasai bahwa kita turut hidup dengan mereka. Sebab rasa hati kita sekarang, suka duka kita sekarang, adalah rasa hati dan suka duka yang mereka telah tinggalkan buat kita”.

Kurang lebih, Steve Olson pernah menulis; sebagian besar konflik dan kekerasan yang terjadi di era modern saat ini terjadi antara orang-orang  yang secara fisik berbeda. Padahal, jika dalam sebuah ruangan berisi orang-orang Palestina dan Israel dari Timur Tengah, atau orang-orang Serbia dan Albania dari Balkan, atau orang-orang Muslim dan Hindu dari India Utara, atau orang-orang Madura dan Dayak dari Indonesia, kemudian mereka mengenakan pakaian yang sama dan memotong rambut dengan model yang sama pula, dan dilarang untuk mengeluarkan kata-kata dan isyarat apapun, pasti tak akan ada orang yang bisa membedakan asal-usul kelompok-kelompok mereka. Penyebab paling jahat yang memicu konflik itu justru muncul dari apa yang ia sebut sebagai ilusi-rasialisme budaya, atau kecenderungan memandang orang lain sebagai pihak lain yang berbeda secara budaya ataupun secara fisik.  

Berbicara tentang Indonesia dan pembinaan rasa kebangsaannya, suka atau tidak, kita mesti berbicara mengenai perbedaan suku juga budaya. Perbedaan yang telah kita ciptakan bersama untuk membedakan satu dengan yang lainnya, dan acap kali menjadi alasan untuk mendominasi pihak lain atas nama keunggulan tertentu. Jika mulai menimbang bahwa kita berasal dari rahim yang sama; sekitar 100 ribu tahun yang lalu dari Afrika,  kemudian menyebar keseluruh dunia dengan jalur dan cara berbeda, hingga sampai ke negeri ini, yang kita temui hanyalah pengaruh geografis dan percampuran biologis yang membuat kita, ada yang pesek ada yang mancung, ada yang putih ada yang gelap, ada yang tinggi ada yang pendek dengan keahlian berbeda nan beragam dan sebagainnya. Seperti pengakuan; “aku adalah orang Afrika, aku dibesarkan oleh bukit-bukit dan lembah-lembah, oleh gunung-gunung dan dataran-dataran, sungai-sungai, gurun-gurun pasir, pohon-pohon, bunga-bunga, laut-laut, dan musim-musim yang selalu berubah yang menentukan wajah tanah air kami.”  Beratus-ribu tahun lamanya hingga kita mendapati misalnya orang Asia Tenggara, lain dengan orang Eropa, orang Asia Tengah, beda dengan orang Afrika Barat, orang Melayu, bukan orang Jawa, orang Minang tak sama dengan orang Papua dan Bugis.

Barangkali di zaman globalisasi ini, ketika tingkat penyebaran dan percampuran antar suku bangsa telah semakin tinngi dan semakin tinggi, hanya waktu saja yang akan membuat generasi Indonesia mendatang agak sulit untuk memperkenalkan identitas kebangsaannya. Sebagaimana Brook Mahealani, Miss Universe 1997 sekaligus Miss amerika 2001 yang berdarah Korea-Filipina-Hawaii dari pihak ibu dan berdarah Cina-Portugal-Hawaii dari pihak bapak, darah Asia Timur-Eropa-Asia Tenggara-Pasifik mengalir pada dirinya.

 Nenek moyang bangsa Indonesia yang diyakini berasal dari Yunan, setelah menetap lama dibumi pertiwi, niaga, agama dan politik mengantarkan  bangsa-bangsa Eropa, Tiongkok, Persia, India, juga Arab berlabuh di dermaga-dermaga yang tersebar di sebagian Nusantara. Berbaur, menikah, hingga beranak pinak menciptakan keragaman paras dan budaya. Tak terhitung jumlah pulau, seperti juga tak terbilang jumlah suku, bangsa, dan etnis yang kini disebut sebagai Indonesia.

Sedari dulu, rasa persaudaraan merupakan karakter bangsa Indonesia, meski tak jarang diwarnai sengketa karena adanya campur tangan pihak ketiga. Raden Fatahilah, atau Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Djati adalah keturunan Arab-Aceh, diterima sebagai saudara di Jawa Barat hingga mendirikan kerajaan Banten dan Cirebon. Kigedeng Suro dari Demak disambut sebagai saudara dan menjadi salah satu raja di kerajaan Palembang. Orang-orang Minang juga diterima sebagai saudara dan menyebarkan Islam di Maluku. Saat Malaka di kuasai oleh Portugis, orang-orang Makasar dengan lapang dada menyambut orang Melayu ditanah Sulawesi, pula sebagai saudara. Saat koloni kompeni Belanda sampai ke Bugis, Karaeng Galesong diterima dengan Antusias di Madura penuh rasa persaudaraan disusul ikatan perkawinan. Untung Suropati yang menjadi raja Mataram juga adalah orang Bali. Tak lupa Sultan Deli, Sumatera Utara juga merupakan keturunan bangsa Moghul, India. Singkatnya, dari sejak lama, jiwa dan raga bangsa kita ini, dengan keragaman suku dan etnis yang ada, begitu kuat diikat oleh cinta dan semangat persaudaraan.

Begitu erat, sampai-sampai terpotret dalam pantun Melayu. Ketika Malaka selangkah lagi akan diruntuhkan oleh Portugis hingga tak sanggup bangun lagi, karena ikatan yang telah terpilin dengan saudara dari tanah Jawa, orang Melayu melantunkan sebuah pantun, entah, terdengarkah ketika itu di Banten, Bandung, Semarang, Jogja, atau Surabaya dan nampaknya angin pun tak keberatan untuk mengantarkannya menyeberangi Selat Sunda.

Andai roboh kola Malaka

Mari di Jawa kita dirikan

Jika sungguh bagai dikata

Jiwa dan raga saya serahkan

Malang tak dapat ditolak,untung tak dapat diraih. Harapan tinggalah harapan, pertolongan dari Jawa tak jua kunjung datang; karena abad 17 adalah kejayaan kompeni Belanda, Inggris, dan Portugis di hampir seluruh penjuru tanah air.   

Sampai saat ini pun, ada budaya menarik, paling tidak pada sebagian tetua masyarakat Melayu. Ketika memperkenalkan orang lain pada kita, dengan kalimat. Misalnya -Beliau adalah “orang kita Minang”, atau “orang kita Jawa”, atau “orang kita Medan”, atau “orang kita Bugis ”. atau dengan istilah serupa dalam bahasa yang lebih populer; “beliau adalah saudara kita dari Minang, saudara kita dari Bugis, saudara kita dari Jawa, saudara kita dari Medan dan saudara kita dari setiap jengkal tanah Nusantara, juga saudara kita dari manapun,  di seluruh penjuru dunia ini”.

 

 

 


mahasiswa IAIN STS Jambi. jurusan Aqidah Filsafat, kelahiran Bandung.

Leave a Reply