Aku terduduk di sebuah kursi panjang stasiun kereta. Tatapanku kosong namun telingaku mendengar setiap suara yang berlalu. Aku mendengar derap langkah yang sering, obrolan obrolan yang samar, detik jam dinding, bahkan decit roda kereta yang melewati rel baja itu aku mendengarnya hingga suara pengumuman di stasiun mengusik pikiranku, aku tersadar sepenuhnya. “Kereta jurusan cicalengka-padalarang akan segera tiba di jalur 1, harap penumpang bersiap siap”, kurang lebih begitu pengumumannya.

Tatapanku kini luas memandang sekitar area stasiun. Di depanku duduk seorang ibu paruh baya yang membawa sekantong sayuran, ia simpan kantong yang berisi penuh sayuran itu di sampingnya. Ia memandang orang orang sejenak lalu termenung seperti sedang berpikir, entah apa yang dipikirkannya.

Seorang wanita berkerudung disampingku di kursi yang terpisah melirikku dengan tatapan yang aneh. Aku merasa bahwa dia memang memperhatikanku, kucoba melayangkan pandangan ke arahnya tapi tidak focus ke padanya untuk memastikan apakah ia masih memperhatikanku. Tapi ia segera memalingkan pandangannya ke arah lain tepat ketika mataku memandang ke arahnya. Lalu aku merasa semua mata tertuju kepadaku, padahal semua orang sibuk dengan urusan masing masing. Mengobrol, bermain gadget, sampai melamun sendiri atau sibuk dengan sarapan paginya. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja, aku biarkan pikiranku berlalu semaunya hingga suara kereta mengusikku menderu hingga berhenti di depan matakku sebelum memuntahkan penumpang yang cukup teratur. Semua orang yang duduk di kursi sontak bangkit membawa setiap barang bawaannya termasuk aku yang ikut bangkit menuju kereta yang sudah mulai kosong oleh penumpang yang turun tadi.

Aku mulai mencari tempat duduk yang kosong di gerbong ketiga. Dan memang semua kursi masih kosong, hanya ada satu dua penumpang yang sudah duduk. Aku coba masuk ke gerbong kedua melewati perempuan muda dan duduk begitu saja di tengah. Ku taruh tas yang sedari tadi menempel di punggungku di atas tempat barang. Lalu satu persatu kursi kursi yang kosong itu mulai terisi penumpang. Beberapa orang anak muda, bapak bapak dan ibu ibu mulai masuk satu persatu. Lalu mulailah obrolan obrolan khas kereta tentang segala hal pekerjaan,keluarga, hingga lelucon yang cukup menghibur. Sebagian hanya sibuk dengan gadgetnya, mendengarkan music atau melamun saja. Tidak lama kemudian satu orang petugas kereta di ikuti dengan satu orang lainnya masuk ke dalam kereta menutup pintu dan kereta pun mulai berjalan pelan.

Kereta melewati perlintasan pertama dengan lajunya yang semakin konstan. Melewati rumah rumah sederhana di mulut rel, persawahan luas hingga akhirnya berhenti di stasiun kedua, menaikkan penumpang lain yang hendak berangkat kerja. Kereta menjadi penuh sebagian hanya bisa berdiri saja seperti seorang pegawai kereta yang berdiri tepat di depanku. Tak lama kemudian seorang rekannya naik dan menyapanya, lalu mereka sibuk dengan gadgetnya masing masing yang sesekali di timpali dengan obrolan obrolan seputar pekerjaan.

Aku mengamati satu persatu wajah wajah penumpang. Raut muka mereka di penuhi dengan harapan. Mungkin itulah cara mereka menjalani hari demi hari yang semakin keras. Dengan rasa optimis karena jika tidak dijalani seperti itu maka mereka telah mengabaikan orang orang yang mereka cintai di rumah. Mereka pun rela berangkat pagi pulang petang mencari nafkah dan dikereta itulah mereka memulai langkah, mengumpulkan semangat, meluruskan tekad yang menjadi dorongan kuat untuk menjalani pekerjaan masing masing. Kereta adalah representasi dari keberagaman profesi dan kehidupan social yang di pengaruhi oleh keadaan ekonomi yang biasa saja.

Kereta pun terus berjalan semakin cepat meninggalkan titik mulanya. Menderu melewati setiap jengkal kehidupan lain di luar sana. Melewati sawah sawah yang perlahan menjadi rumah, melihat kota dari sisi lain. Berkejaran dengan waktu di mana orang orang bertarung dengannya. Dan pada akhirnya kereta pun berhenti di titik tujuannya tapi bagi mereka itulah awal mula kehidupan, mereka bekerja hingga akhirnya mereka pulang bersama kereta itu lagi, berulang seperti itu setiap hari.