Sign In

Remember Me

Eksistensi PKS tanpa Fahri Hamzah

“Dalam politik tiada kawan dan lawan abadi”. Demikianlah filosofi dan adigium terbaik untuk menggambarkan betapa elastisnya dunia politik, kawan dan lawan ibarat dua sisi mata uang yang amat mudah dibolak-balik oleh apa yang disebut kepentingan. Kepentingan disuatu waktu mampu berada diatas batas nalar dan logika manusia, kepentingan menguasai titik kesadaran dan rasionalitas sehingga terkadang seseorang berbuat diluar kewajaran dari persepsi kebanyakan manusia pada umumnya.

Uraian singkat diatas agaknya sedikit tepat untuk dijadikan sebuah personifikasi terkait sengkarut internal PKS terkait kabar pemberhentian Fahri Hamzah sebagai kader PKS. Kabar ini sudah menyeruak ke telinga publik beberapa saat yang lalu melalui beredarnya sebuah surat keputusan partai yang pada akhirnya terkonfirmasi secara resmi oleh Presiden PKS Sohibul Iman. Sohibul Iman mengamini pemecatan Fahri Hamzah sebagai kader PKS oleh DPP PKS melalui Majelis Tahkim PKS (Mahkamah Partai).

Polemik pemberhentian Fahri Hamzah sontak menjadi viral dialektika publik, baik di Media sosial dan ruang-ruang diskusi lainnya. Banyak pihak menebak-nebak dengan berbagai argumentasi dan analisanya. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi santernya pencopotan Fahri menjadi perbincangan dan pusat perhatian, antara lain sebagai berikut,

Yang pertama, Figur Fahri Hamzah yang menjadi objek pemecatan adalah salah seorang pimpinan DPR RI. Sudah barang tentu berbagai perilaku, peristiwa atau kejadian yang menimpa Fahri Hamzah akan menjadi pusat perhatian publik, apalagi Fahri Hamzah cukup intensif dan aktif tampil didepan media, baik di media massa, elektronik dan sosial.

Yang kedua, Fahri Hamzah adalah salah satu figur yang selama ini menegaskan diri sebagai pihak yang paling oposan terhadap pemerintahan Jokowi, sebelum dan sesudah pilpres Fahri Hamzah terlihat sangat berseberangan dengan sosok Jokowi. Dengan sikap kritis dan vokalnya, Fahri Hamzah didapuk menjadi sekjen Koalisi Merah Putih dan ditunjuk sebagai salah satu pimpinan DPR RI dalam paket KMP.

Yang ketiga, PKS sebagai partai politik yang telah memecat Fahri Hamzah selama ini dikenal rapi dalam menyimpan dinamika urusan rumah tangganya. PKS semenjak berdiri sampai sebelum kasus pemecatan Fahri Hamzah terlihat hampir tidak pernah mempublikasikan dinamika internalnya, sehingga menjadi terlihat menarik fenomena pemberhentian Fahri Hamzah mencuat dan membuat publik bertanya-tanya, ada apa dengan Partai yang menyebut dirinya sebagai Partai Dakwah.

Dampak Internal

Tidak dapat dipungkiri, pemecatan Fahri Hamzah yang berujung pada pemberhentiannya sebagai pimpinan sekaligus anggota DPR berpotensi menganggu soliditas dan solidaritas PKS, hal ini tidak dapat dinafikan karena bagaimanapun Fahri Hamzah bukan kader kemarin sore di PKS. Fahri hamzah adalah salah seorang deklarator partai dan inisiator gerakan kemahasiswaan yang cenderung berafiliasi kepada PKS yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) yang lahir pada tahun 1998 di Kota Malang, Fahri Hamzah adalah Ketua Umum KAMMI pertama. Dengan jejak organisasi dan politiknya tersebut, Fahri Hamzah sudah barang tentu memiliki kader dan pengikut yang loyal di PKS. Melihat kondisi tersebut, dapat dipastikan polemik antara PKS dan Fahri Hamzah sedikit banyak mengguncang stabilitas Partai, apalagi Fahri Hamzah memutuskan untuk melawan keputusan Partai dengan mengajukan gugatan ke pengadilan. Setidaknya ada dua potensi dampak sistemik yang akan dialami oleh PKS, yakni Psikologis Kader dan Citra Partai.

Dari aspek psikologis kader dapat diidentifikasi dan dilihat dari reaksi kader-kader PKS pasca pemberhentian Fahri Hamzah oleh partai. Secara umum terjadi sebuah pembelahan dialektika antara yang tidak sepakat dan sepakat atas sikap partai kepada Fahri Hamzah. Yang tidak sepakat atas keputusan partai terhadap Fahri Hamzah didominasi oleh kader-kader muda atau golongan muda progresif dan berangkat dari sebuah gerakan intelektual yang berasal dari kampus. Mereka diyakini melihat keputusan tersebut sebagai bentuk pencideraan dan otoritarian partai terhadap kader, apalagi mereka melihat sosok Fahri Hamzah sebagai simbol panutan dan teladan yang selama ini mempresentasikan pemikiran dan gerakan mereka didalam partai. Sedangkan pihak yang sepakat dengan keputusan partai adalah pihak dari golongan tua yang rata-rata duduk sebagai pengurus partai diberbagai tingkatan. Mereka cenderung patuh dan taat kepada keputusan partai, mereka meyakini pemberhentian Fahri Hamzah sudah melalui mekanisme yang telah diatur dan dijalankan oleh Pihak-pihak yang berwenang didalam partai.

Dari aspek Citra Partai bisa dilihat dari bagaimana tanggapan publik terkait polemik tersebut, selama ini PKS dikenal sebagai partai politik yang jauh dari hiruk pikuk konflik internal. Penataan organisasi, kematangan indoktrinisasi dan pola kaderisasi yang cukup rapi membuat Partai Islam tersebut terlihat tenang dan santun. Namun hal ini bisa menjadi sebuah boomerang, karena citra partai bisa seketika anjlok saat PKS mengalami guncangan politik, baik itu eksternal maupun internal. Kasus hukum yang menimpa Luthfi Hassan Ishaq (Mantan Presiden PKS) bisa dijadikan referensi dimana PKS mengalami dampak yang luar biasa, baik dari segi citra partai maupun elektoral. PKS yang saat itu mencitrakan diri kedepan publik sebagai partai bersih langsung menjadi bulan-bulanan publik ketika kadernya (LHI) tersandung kasus hukum, imbasnya pada saat pemilu legislatif 2014 suara PKS tergerus dengan signifikan, dari 56 Kursi di DPR RI pada pileg 2009 menjadi 40 kursi saja pada 2014.

Keributan antara Fahri Hamzah dan PKS seharusnya dapat dihindari, paling tidak menghindari polemik tersebut berkembang menjadi liar dan mengundang komentar publik. Bagaimanapun konflik tersebut akan berimbas pada eksistensi partai dan solidaritas kader, apalagi tak lama lagi Pilkada serentak digelar dan bukan tidak mungkin polemik tersebut berpotensi menganggu persiapan PKS dalam menyongsong dan menghadapi Pilkada yang pada ujungnya bisa berpengaruh hasil pilkada.http://satelitnews.co/berita-eksistensi-pks-tanpa-fahri-hamzah.html


Leave a Reply