Sign In

Remember Me

Neofasisme Orde Baru

Orde baru adalah salah satu rezim pemerintahan yang paling tidak bisa dihilangkan dalam periodesasi sejarah di Indonesia. Pada periode tersebut, berbagai macam perubahan yang lumayan mencolok terjadi di Indonesia seperti pembangunan infrastruktur, peningkatan keamanan, pembangunan ekonomi, dan sebagainya. Selain itu rezim ini juga terjadi tindakan pelanggaran HAM (penculikan, penahanan tanpa proses pengadilan, dan pembungkaman kegiatan aktivis), korupsi dan diskriminasi.

Soeharto, yang potret dirinya pernah menghiasi lembaran uang dengan nominal 50.000 rupiah (yang merupakan pecahan tertinggi pada saat itu) di klaim sebagai bapak pembangunan. Segala macam kemajuan pembangunan dalam berbagai sektor semenjak Soekarno lengser dianggap sebagai hasil kinerja Soeharto. Hal ini tentu saja tidak lepas dari posisinya sebagai tampuk kekuasaan tertinggi di negara ini yang berkuasa selama lebih dari tiga dekade (merupakan rezim terlama dalam sejarah Indonesia) yang tentu saja memiliki kuasa atas segalanya di republik ini.

 

Neofasisme Soeharto

Disaat tentara negara Indonesia pertama kali dibentuk, terdapat tiga faksi yang berperan dalam kuasa atas militer Indonesia. Mantan KNIL (tentara kerajaan hindia belanda), mantan PETA (tentara jepang), dan mantan Laskar rakyat (basis perlawanan yang berdasarkan etnisitas dan agama). Tentara KNIL mempunyai ideologi kolonialis yang sangat feodal, tentara PETA yang merupakan warisan dari Fasisme jepang (ideologi fasis menganggap bahwa pemerintahan sipil sejarah dengan posisi panglima militer. Dalam hal ini perdana menteri – yang merupakan jabatan sipil – sejajar dengan para Jenderal  angkatan bersenjata), dan Laskar rakyat yang sifatnya lokal dan kedaerahan.[1]

Soeharto pada mulanya mengikuti pendidikan KNIL. Setelah jepang masuk ke Indonesia, dia kemudian dididik didalam PETA[2]. Dua instansi militer yang memiliki dua ideologi yang berbeda. Saya melihat, Soeharto memiliki dua ideologi tersebut lalu kemudian menggabungkan kedua ideologi tersebut. Disatu sisi Soeharto menduduki posisi puncak dari “Feodalisme”. Di sisi yang lainnya, dia mensejajarkan angkatan bersenjata (khususnya angkatan darat) dengan pemimpin sipil (yang diwujudkan dengan “pelestarian” dwifungsi ABRI)[3]. Hanya saja dalam kasus ini, Soeharto menghapuskan perdana menteri sehingga dia menjadi kepala negara sekaligus kepala pemerintahan (parlementer ke presidensial) sekaligus pemimpin tertinggi angkatan bersenjata (karena dia adalah kepala negara). Itulah yang saya sebut sebagai Neofasisme.

Diskriminasi etnis tionghoa yang terjadi pada saat orde baru berkuasa bersangsung sampai rezim ini berakhir. Pemakaian nama ganda, tidak diperkenankannya etnis tionghoa menduduki posisi pemerintahan dan sebagainya merupakan salah satu contoh diskriminasi yang terjadi. Diskiriminasi ini bermula ketika peristiwa G 30S meletus. Etnis Tionghoa yang dikaitkan dengan idiologi negeri RRC dianggap mempunyai andil dalam usaha kudeta tersebut. Terlepaas dari kontroversinya peran RRC, yang berhubungan dengan China/Tionghoa segera di diskriminasikan. Saya melihat teks-teks sejarah bahwa ketika rezim fasis berkuasa, selalu ada yang di diskriminasi etnis yang terjadi. Jerman (nazi) beserta Italia dengan yahudinya sementara Jepang dan Indonesia dengan Tionghoanya.

Dalam proses perekonomian, keanehan terjadi. Tionghoa yang selama rezim berkuasa terzolimi tampil sebagai konglomerat bahkan sewaktu rezim tersebut masih berkuasa. Ada apa sebenarnya?. Apakah pepatah melayu “telunjuk lurus kelingking berkait” layak untuk diberikan kepada rezim orde baru? Tanan kiri menusuk, tangan kanan mengobati. Rata-rata, koruptor-koruptor yang lari keluar negeri sewaktu rezim orde baru runtuh adalah etnis keturunan Tionghoa. Munafikkah?

 

Demokrasi semu?

Soeharto mengyadari bahwa sekalipun pemerintahannya berdasarkan fasisme totaliter, demokrasi harus tetap dijalankan sebagai wujud kelanjutan demokrasi pada era sebelumnya. Sewaktu orde lama berkuasa, indonesia dalam kacamata demokrasi memasuki zaman multipartai ekstrem. Seoharto dengan segala kuasa yang dimilikinya menyederhanakannya menjadi 3 partai. Golkar yang beraffiliasi dengan pemerintah dan semua pamong prajanya, PPP yang beraffiliasi dengan Islam dan PDI yang beraffiliasi dengan semua unsur politik kecuali dua yang telah disebutkan.

Dalam proses perjalanannya jelas terlihat sebenarnya Golkar merupakan partai tunggal dalam proses demokrasi “semu” ini. Sejauh yang saya tau, sewaktu orba berkuasa, Soeharto “menghimbau” seluruh abdi negara/pamong praja (baca: abdi dalem “kraton Indonesia” à Feodalisme à Hirarki KNIL) untuk memilih Golkar pada pemilu, dan bagi yang “membandel” akan dikenakan sanksi seperti mutasi dan bahkan pemecatan. Golkar pada saat ini bukan untuk mencari kenikmatan duniawi seperti saat sekarang ini. Golkar pada saat itu MURNI mencari kekuasaan. Golkar pada masa orde baru menggunakan kekuasaan bukan sebagai sarana untuk mendapatkan sesuatu., tetapi kekuasaan ditempatkan pada tujuan akhir!. Maka tidak heran jika orde baru berkuasa selama tiga dekade lebih[4].

 

Kesimpulan.

Selama Soeharto berkuasa, militer berada dalam level elite. Keamanan masyarakat bawah terjaga tetapi moral dari masyarakat elit kian bobrok karena terlena dengan kekuasaan yang begitu lama. Tirani yang sekian lama di dokrinkan ke masyarakat membuat generasi-generasi tua yang hidup pada masa itu tidak bisa membedakan antara ketakutan dengan kesetiaan. Alih-alih digugat malah di elu-elukan. Generasi mudalah yang masih belum terkontaminasi yang dapat menurunkan rezim tiran tersebut.

Dalam proses pemerintahan yang begitu lama, Soeharto tak ubahnya seperti “kaisar” di Indonesia. Semua proses dalam segala bidang harus berdasarkan petunjuk beliau dan bukan undang-undang. Dengan kata lain, kalau saat ini kita dalat menyebut UUD sebagai system core, pada masa Soeharto berkuasa Soehartolah System Core. Selama lebih dari dua generasi tidak ada yang dapat mencegahnya untuk berkuasa. Tirani, fasis, dan pemerintahan terpusat tidak ada bedanya dengan sistem pemerintahan pada saat Kaisar Shih Huang menguasai China dalam dinasti Qin. Melihat itu, saya dapat mengatakan bahwa saat Indonesia dipimpin oleh Soeharto, Republik Indonesia adalah Kekaisaran Indonesia.

[1] Artikel Kejahatan Kemanusiaan 65-66 dan Keterlibatan Militer. Seminar Kelompok Studi Sosial Ekonomi dan Politik (KSSEP) – ITB, 9 Oktober 2000

[2] Otobiografi Soeharto. www.soehartocenter.com

[3] Artikel Kejahatan Kemanusiaan 65-66 dan Keterlibatan Militer. Seminar Kelompok Studi Sosial Ekonomi dan Politik (KSSEP) – ITB, 9 Oktober 2000

[4] Hasil modifikasi dari Artikel A Brave New Distorphia, Chris Hedges.

Sumber. Google

Sumber. Google


Leave a Reply