Sign In

Remember Me

Sejarahmu, Identitasmu!

Sejarahmu, Identitasmu!

Sejarah bukan  sebatas pelajaran yang berhenti dibicarakan begitu saja, namun jauh dari itu, sejarah dapat menemukan identitas sejati yang dapat mengantar kita pada kearifan masa-masa berikutnya.

 Sejak abad 6 SM, raja-raja dan penguasa politik di Yunani banyak meminta  nasihat dari seorang pendeta wanita di Delphi, sebuah tempat pemujaan Apollo yang terkenal. Orang-orang percaya, pendeta ini menyampaikan nasihat langsung dari Dewa Apollo sendiri. Mulai dari urusan kontes seni sampai kemelut politik yang membelit pemerintahan kala itu. Ketika penjahat-penjahat di koloni Locri meminta nasihat bagaimana mengatasi kekacauan, pendeta di Delphi menjawab “Buatlah hukum bagimu”. Ketika orang-orang bertanya siapa manusia paling bijaksana, Dewa Apollo melalui mulut pendeta Delphi menjawa: “Socrates”. Dari Delphi pulalah sebuah motto lahir dan mendunia: Gnoti Seauthon. Artinya, “kenalilah dirimu”. (Jallaludin,1985:17)

Motto Gnoti Seauthon  mengusik para filsuf untuk mencoba memahami dirinya, sehingga kabarnya motto inilah yang mendorong berkembangnya filsafat Yunani, Gnoti Seauthon-kenalilah dirimu. Hingga kini, Gnoti Seauthon masih menggema karena kebutuhan untuk mengenal diri takkan hilang ditelan zaman.

 Mengenal Diri

Mengenal diri sendiri berarti memahami diri seutuhnya. Baik dari fisik maupun kedalaman karakter yang dimiliki. Di sini muncullah yang disebut dengan identitas. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan identitas sebagai ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang.  Dalam kehidupan sehari-hari, identitas hanya dimaknai sebatas hal-hal yang tersurat dalam kartu tanda pengenal seperti nama, jenis kelamin maupun tempat tinggal. Padahal dalam individualitasnya, identitas seseorang bak lautan yang luas dan dalam, yang tidak mudah diselami bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Ada banyak hal yang dapat membantu seseorang  memahami dirinya secara utuh, namun yang terpenting adalah melalui akar sejarah yang dimilikinya. Bertolak dari pernyataan EH Carr dalam bukunya What is History, bahwa Sejarah merupakan dialog yang tak pernah selesai antara masa lampau dan masa kini, keberadaan seseorang pada masa tertentu tak dapat dilepaskan dari akar sejarah yang dia miliki.

Seperti yang digambarkan oleh Ayu Utami dalam skenario film Rumah Maida. Dalam skenario itu, Ayu bercerita tentang pribadi Dasaad Muchlisin, seorang pengusaha properti yang menghentikan penggusuran sebuah rumah tua setelah tahu bahwa rumah tersebut adalah rumah di mana ia dilahirkan di masa penuh pergolakan menjelang kemerdekaan Indonesia. Sejarah telah mengenalkan Dassad pada orang tua yang tak dikenalnya dan juga pada identitas sosialnya sendiri. Sejarah, dengan demikian, mengajak Dassad berdialog dengan masa lalunya, yang kemudian berpengaruh pada keputusan yang akan dibuatnya.

Namun Dassad Muchlisin adalah tokoh khayali dari imajinasi Ayu Utami. Contoh di atas hanya skenario film yang sengaja dibuat. Namun, seringkali pada kehidupan nyata pun manusia mulai menyadari beberapa hal tentang dirinya setelah memahami akar sejarah yang telah mengantarnya hidup di masa tertentu. Tak salah jika Gaarder berujar bahwa setiap manusia membawa serta sejarah dalam dirinya. Sejarah yang dimaksud tentu saja tak selalu sejarah populer yang banyak tertulis di buku-buku atau yang banyak diketahui orang-orang, melainkan lebih bersifat personal. Bahkan bukan mustahil bila personalitas dalam sejarah  yang dibawa seseorang dalam dirinya bisa saja menjadi pemikiran besar yang mampu mengubah dan mempengaruhi banyak orang untuk memandang diri mereka sendiri. 

Tengoklah Edward Said atau Gayatri Spivak. Said takkan mampu menulis Orientalism dan Spivak akan setengah-setengah menggagas Can Subaltern Speak jika keduanya tak memulai pemikirannya dengan sungguh-sungguh. Pemikiran yang bermula dari sebuah pertanyaan sepele: siapakah saya? Said menemukan dirinya adalah seseorang dari Timur Tengah yang dibesarkan dalam didikan Barat. Oleh karenanya ia menulis Orientalism, sebuah buku yang bertutur mengenai dunia Timur, dunia yang, sejatinya hanya merupakan persepsi-persepsi yang dibangun oleh Barat. Sementara itu, Spivak lebih merasakan kegelisahan pada identitasnya sendiri. Ia merasa sebagai seorang India, namun merasa aneh ketika ia menemukan dirinya tak terikat dengan tradisi-tradisi Hindustani dan agamanya.

Guru yang baik

Sejarah tak hanya berhenti dengan mengenalkan seseorang pada identitasnya. Seperti yang dikatakan Jhon Tosh bahwa sejarah  merupakan sumber pengalaman melalui pengembangan suatu rasa identitas sosial orang-orang dan propek orang-orang tersebut pada masa yang akan datang. Prospek yang dimaksud adalah bagaimana identitas seseorang yang telah dijelaskan oleh masa lalunya, membantunya menata masa depan. Sebab, baik masa lalu, sekarang, dan masa depan merupakan bagian dari waktu yang tak mampu berdiri sendiri.

Rangkaian mengenal identitas diri dari masa lalu, kemudian menata  masa depan, membuktikan bahwa manusia menggunakan akalnya dengan baik. Penyair Jerman, Goetehe pernah berkata bahwa “orang yang tidak belajar dari masa tiga ribu tahun berarti dia tidak memanfaatkan akalnya” (Gaarder,1990:259). Akal budi merupakan ciri khas dari manusia sejak ia diciptakan. Mempelajari sejarah berarti mengenal identitasnya, berarti pula menggunakan akalnya dengan baik. Inilah proses di mana seseorang memanusiakan dirinya: ia ikut berperan dalam perkembangan waktu yang terus berjalan.

Sejarah memang populer dengan sebutan guru yang baik. Di samping itu sejarah juga mampu memosisikan dirinya sebagai tanda pengenal bagi siapapun yang terlibat di dalamnya. Tak hanya sekedar pengenal berupa nama atau asal tapi juga menyangkut jati dirinya dalam ragkaian masa yang tak kunjung putus. Sejarah tak sebatas pelajaran yang berhenti dibicarakan setelah keluar kelas, namun ditelusuri akarnya hingga kita menemukan identitas sejati yang dapat mengantar kita pada kearifan masa-masa berikutnya.

 


Leave a Reply