Gyonwoo dan Jiknyo

 Di sebuah negeri Bintang, ada seorang putri yang cantik jelita. Dia sangat rajin dan teliti. Putri itu bernama Jinkyo (Bintang Vega).

Jinkyo artinya wanita penenun. Jinkyo sangat teliti dan pandai menenun. Kainnya sangat bagus dan halus. Sang raja sangat menyukai hasil tenunan putrinya.

Raja sangat memperhatikan putri Jinkyo. Rupanya Jinkyo sudah dewasa. Pikir sang raja. Raja pun ingin mencarikan jodoh untuk Jinkyo. Sang raja pun memanggil seluruh petinggi kerajaan. Raja ingin mencarikan jodoh untuk putrinya.

Salah satu petinggi kerajaan mengatakan bahwa di negeri tentangga ada seorang pangeran yang gagah, pemberani, tampan, kuat, dan berbudi mulia. Dia bernama Gyonwoo. Gyonwoo artinya Bintang Altair. Akhirnya, sang raja sangat ingin bertemu dengan pria yang tampan itu.

Gyonwoo juga seorang pangeran yang rajin. Selain rajin, dia juga pandai. Di kalangan para raja, Gyonwoo sangat diinginkan untuk para putri mereka. Gyonwoo adalah pujaan para putri dan impian semua kerajaan.

Tapi, tanpa diketahui raja, sang putri telah tahu tentang Gyonwoo. Waktu terus berlalu dengan cepat. Akhirnya, datanglah Gyonwoo ke istana. Seketika itu, sang raja langsung menikahkan Gyonwoo dengan putrinya, Jinkyo.

Raja sangat bahagia. Raja membangunkan istana mungil untuk mereka berdua. Gyonwoo dan Jinkyo hidup bahagia. Pengantin baru ini sering berjalan-jalan. Mereka menikmati pemandangan, melihat taman, dan bermesra-mesraan.

Tak terasa, Gyonwoo telah melupakan pekerjaannya. Para bujang istana dan sang raja telah membujuk Gyonwoo agar mau bekerja. Jinkyo juga tidak mau menenun lagi. Sebab, dia hanya ingin bermain dengan Gyonwoo saja.

Gyonwoo membujuk Jinkyo untuk meninggalkan pekerjaannya. Jinkyo pun menyerahkan pekerjaan menenun kain pada dayang istana.  Tapi, tanpa diketahui, sang raja mendengar kabar itu. Raja marah sekali.

Raja berkata,

“Pisahkan Gyonwoo dengan Jinkyo. Gyonwoo tinggal di Timur dan Jinkyo tinggal di Barat”.

Tentu saja, kabar ini sangat mengagetkan mereka. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apapun. Mereka patuh pada perintah raja. Kesedihan meliputi perpisahaan mereka. Kerinduan hanya tinggal dalam angan dan harapan saja.

Melihat putrinya, sang raja menjadi kasihan dan ikut bersedih hati. Akhirnya, sang raja mengizinkan mereka untuk bertemu. Tapi, hanya setahun sekali pada tanggal 7 Juli di seberang Bimasakti.

Mereka pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kerinduan dan kesedihan mereka akan terobati. Tapi, sayang sekali. Pertemuan  ini pun terhalang. Sebab, tiada kapal dan jembatan yang dapat mempertemukan mereka.

Mereka semakin bersedih. Tangis dan isak air mata menyertai pertemuan itu.  Tapi, tangisan mereka menjadikan bumi banjir bandang. Air seperti banjir bah yang tidak terbendung lagi. Bumi dan isinya jadi kacau dan menderita.

Bumi terasa hancur. Orang-orang kalang kabut. Segala binatang menjadi korban. Tumbuhan banyak yang tumbang. Keadaan ini tidak boleh terus berlanjut. Akhirnya, para hewan bersepakat untuk menolong Gyonwoo dan Jinkyo. Mereka harus dipertemukan pada bulan Imlek itu.

Adalah burung magpie dan burung gagak. Keduanya siap mempertemukan mereka berdua. Kedua burung itu membuat jembatan penyeberangan. Akhirnya, Jinkyo dan Gyonwoo melangkah melewati kedua burung itu. Akibatnya, bulu-bulu pada kepala burung-burung magpie dan gagak rontok. Kepala burung-burung itu pun menjadi putih.

Pertemuan mereka pun terjadi. Kini, bumi tidak lagi dilanda banjir. Suasana menjadi sendu. Terlihat hujan yang rintik-rintik. Konon kabarnya, hujan rintik-rintik itu adalah tangis mereka berdua.

Tapi, isak tangis itu bukanlah isak tangis kesedihan, melainkan kebahagian mereka. mereka berbahagia karena pertemuan itu. Segala rindu dan kegembiraan telah bercampur.

 

[Di sadur dari Ryeo, Prak Jin. (1997). Cerita Rakyat dari Koera. Jakarta: Gramedia  Widiasarana Indonesia]

 

Previous articleKetika “hati” Berbicara
Next articleNabi Samuel a.s.
Dwi Susanto, menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Buku yang telah diterbitkan diantaranya adalah Hikayat Siti Mariah Perselingkuhan Estetik Pramoedya Ananta Toer (2009), Orang Cina dalam Sastra Indonesia (2009), Pengantar Teori Sastra (2011), Kamus Istilah Sastra (2015), dan Pengantar Kajian Sastra (2016). Pernah diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tentang budaya peranakan Tionghoa Indonesia pada konferensi Internasional ISSCO (International Society for Study of Chinese Overseas) di Chinese University of Hongkong (2011) dan pernah menjadi dosen tamu di Wako University, Tokyo, Jepang (2011). Dwi Susanto tertarik pada dunia bacaan anak, hiburan, dan lain-lain. Buku yang lain yang akan terbit adalah cerita anak dan bidang seni dan budaya. Saat ini penulis tinggal di Yogyakarta.