Sign In

Remember Me

Isu Lingkungan Takkan Pernah Habis: 44% Koloni Lebah Mati dalam 1 Tahun

Isu Lingkungan Takkan Pernah Habis: 44% Koloni Lebah Mati dalam 1 Tahun

Seiring perkembangan teknologi terus dikembangkan, populasi manusia yang semakin bertambah maka kebutuhan akan bahan baku dari alam pun semakin bertambah. Hal ini menjadi sebuah siklus yang tak berakhir:

manusia mengambil dari alam lalu alam menjadi payah kemudian manusia berusaha untuk kembali mempertahankan kelestarian alam.

Di satu sisi, hal ini memang patut disyukuri sebab ‘kemanusiaan’ dalam jiwa manusia masih melek terhadap kondisi yang sebenarnya mereka sendiri ciptakan. Hal yang miris ini tampak pada kasus matinya 44% koloni lebah madu di Amerika dan setelah diselidiki penyebab utamanya adalah pestisida.

EPA (Environmental Protection Agency) di Amerika menjadi sasaran kemarahan aktivis peduli lebah disebabkan tidak turun-tangannya dalam masalah yang telah diketahui penyebabnya. Padahal beberapa jenis pestisida yaitu dari jenis neonikotinoid, imidacloprid telah dinyatakan mengganggu kelangsungan hidup lebah madu, namun pestisida ini masih legal digunakan.

Kini, aktivis peduli lebah dan serangga penyerbuk lainnya sedang mengumpulkan petisi dengan target 2 juta orang yang mendukung petisi agar EPA menindaklanjuti secara nyata perusahaan pestisida yang membahayakan kelangsungan hidup serangga-serangga ini. lihat: http://salsa3.salsalabs.com/o/1881/t/0/blastContent.jsp?email_blast_KEY=1351338

Tentu hal ini akan menjadi kontroversi karena aspek perhitungan yang lebih luas. Industri pestisida ini tentu memiliki banyak karyawan yang boleh jadi akan menjadi pengangguran dengan ditutupnya industri ini, tetapi berbagai permasalahan global juga akan teratasi, utamanya masalah lingkungan dengan efek yang jauh lebih luas.

Salah satu langkah yang bijak yang mungkin saja bisa diambil yaitu jika ada pergantian jenis pestisida yang aman untuk lingkungan dikelola oleh semua industri pestisida. Tentunya hal ini membutuhkan waktu dan penelitian tetapi akan lebih efektif. Hanya saja, faktor ekonomis akan menjadi pertimbangan yang signifikan.

Kami hanya berharap semoga masalah ini mendapatkan jalan keluar yang pertengahan dan juga menjadi pelajaran bagi negri ini. Bagaimanapun, masalah seperti ini sebenarnya terjadi di berbagai negara namun hanya sedikit yang tampak, itu ketika keadaan menjadi benar-benar buruk. (FA)

By
S1 FARMASI, UNIV. HASANUDDIN

Leave a Reply