Sign In

Remember Me

Kisah Sulaiman dan Ratu Bilqis

Kisah Sulaiman dan Ratu Bilqis

 

 

Suatu ketika, Nabi Sulaiman mendirikan sebuah rumah suci di Syam [Palestina]. Rumah ini digunakan untuk menyembah Allah. Rumah Suci ini telah lama dicita-citakan oleh Nabi Sulaiman. Namanya adalah Baitul Muqadas yang hingga kini dikenal dengan nama Baitul Maqdis atau Darussalaam [Yerusalem].

Seluruh umat manusia yang beriman kepada Allah diperintahkan untuk berhaji di tempat ini. Tapi oleh bangsa Israel, rumah suci ini disimpangkan dari ajaran Allah. Kelak, Rasulullah Muhammad Saw. pun memindahkan kiblatnya dari Baitul Maqdis menuju arah Ka’bah, Makkah. Bahkan, saat mereka berhaji, mereka menuju Ka’bah, Makkah.

Setelah selesai membangun rumah suci itu, Nabi Sulaiman pun berangkat hendak berkeliling dunia untuk melihat kebesaran Allah. Ini adalah nazarnya.

Mula-mula Nabi Sulaiman pergi ke Yaman. Kemudian, beliau menuju San’aak. Saat itu, beliau kehausan. Kemanapun pergi, beliau tidak menemukan air. Dari bukit hingga lembah, air pun tak dijumpai. Akhirnya, dia teringat burung Hud Hud. Segera dia memanggil burung Hud Hud. Tapi, setelah berkali-kali dipanggil, burung Hud Hud tak jua datang.

Nabi Sulaiman bersumpah bila burung Hud Hud tidak datang, dia akan membunuh burung itu. Tapi, tiba-tiba datanglah burung Hud Hud. Burung Hud Hud segera mohon maaf atas keterlambatannya. Segera burung Hud Hud bercerita,

“Baginda Sulaiman, hamba telah pergi jauh. Hamba melihat sebuah negeri yang makmur. Baginda belum pernah melihat negeri ini. Negeri ini diperintah oleh seorang wanita. Dia sangat berkuasa atas rakyatnya. Tapi, sayang sekali, negeri ini menyembah matahari. Mereka berada dalam kebodohan dan jauh dari kebenaran. Hamba tidak kuat untuk melawan mereka. Karena, penduduknya bertubuh besar dan tegap. Hamba berharap mereka mau menyembah Allah Yang Maha Kuasa”

Nabi Suliaman terkejut mendengar cerita itu. Dia berkata, “Segera kirim surat ku untuk negeri itu”.

Beberapa saat kemudian, Nabi Sulaiman selesai menulis surat. Surat segera diberikan burung Hud Hud. Burung Hud Hud segera terbang melayang menuju negeri Saba’.

Burung Hud Hud segera menyelinap ke istana Ratu Bilqis. Dia masuk melalui jendela. Ketika itu, Ratu Bilqis sedang di dalam istana. Surat dijatuhkan tepat dihadapan Ratu Bilqis. Surat itu segera dibaca oleh Ratu Bilqis, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Janganlah kamu meninggikan diri terhadapku dan hendaklah kamu mendatangiku dengan menganut agama Allah”.

Setelah membaca surat itu dan memahami isinya, Ratu Bilqis sangat kaget. Segera dia mengumpulkan para pembesar kerajaan dan orang terhormat di negerinya. Ratu Bilqis pun meminta saran dan pendapat dalam musyawarah itu.

Mereka berkata “Kita adalah bangsa yang besar dan kuat. Berani dan ahli perang. Kita harus melawan dan tidak boleh mengalah. Tapi, kami semua menyerahkan keputusan ini hanya kepadamu, ya Ratu Bilqis. Bila engkau memerintahkan kami ke laut kami akan ke sana. Engkau perintahkan kami ke langit, kami akan menuju sana”

Ratu Bilqis memberi tanda bahwa dia tidak sependapat dengan mereka. Ratu Bilqis pun berkata “Perang selalu membawa bencana. Negeri yang kalah akan terjajah. Mereka dijadikan budak dan harta mereka dirampas. Orang yang mulia dihinakan, dan yang hina dimuliakan. Mereka yang kalah akan mengalami kehancuran untuk selama-lamanya”. Kata Ratu Bilqis.

Kemudian sang Ratu Bilqis melanjutkan perkataannya, “Masih ada jalan yang baik. Aku putuskan, aku mengirim orang-orang yang terhormat dan hadiah yang mahal untuk Sulaiman. Semoga dia bisa memahami maksudku”.

Segera setelah itu, Ratu Bilqis menulis surat dan diberikan pada burung Hud Hud. Dia juga mempersiapkan hadiah dan utusannya.

Burung Hud Hud terbang melesat menemui Baginda Sulaiman. Diserahkan surat itu. Baginda Sulaiman pun mengerti maksudnya. Segera dia membuat persiapan. Segala jin diperintahkan untuk membuat istana yang megah dan besar. Istana itu dibangun dari segala jenis permata dan perhisaan yang ada diperut bumi dan di dalam lautan.

Istana yang besar dan indah di muka bumi telah tersedia. Istana ini belum ada tandingannya di dunia ini. Dindingnya terbuat dari kaca beraneka ragam. Lantainya dari emas dan perak bahkan pasirnya dari intan, berlian dan batu berharga lainnya.

Utusan Ratu Bilqis pun tiba. Segera mereka diterima Sulaiman dengan hormat. Diajaklah mereka mengeliling istana. Tentu saja, mereka berdecak kagum. Dengan rasa malu, mereka menyerahkan hadiah pada Nabi Sulaiman.

Nabi Sulaiman pun berkata,

“Aku minta maaf, aku tidak bisa menerima hadiah ini. Aku telah memperoleh anugrah dari Allah berupa kekayaan dan perhiasan. Allah juga memberi kekuasaan yang cukup bagiku. Kekuasaanku meliputi segala bangsa dan jin. Allah juga telah memberikan berlian, permata, emas, dan perak sebesar bumi ini. Kembalilah ke negerimu. Bawalah hadiahmu ini. Aku tak butuh kekuasaan dan kekayaan. Aku hanya ingin engkau patuh menjalankan perintah Allah. Kalau engkau ingkar pada jalan Allah, aku akan datang dengan pasukanku yang besar dari segala jenis mahluk Allah dan manusia. Aku akan menghancurkan negerimu”.

Utusan itu segera kembali dan menemui Ratu Bilqis. Mereka menceritakan apa yang dilihat, didengar, dan dibicarakan.

Rat Bilqis pun segera mengerti. Dia pun berkata, “Tidak ada jalan lain. Kita harus tunduk pada Sulaiman. Aku akan berangkat ke istana Sulaiman”.

Ratu Bilqis pun segera berangkat menuju kerajaan Sulaiman disertai para pembesar negeri dan orang yang dimuliakan di negerinya.

Nabi Sulaiman pun tahu kedatangan Ratu Bilqis. Segera dia memerintahkan untuk membawa mahligai atau singgasana Ratu Bilqis. Para jin menjawab,

“Aku bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum engkau berdiri dari tempat itu, Baginda Sulaiman”

Tiba-tiba munculah mahluk Allah yang lain dan berkata,

“Atas izin Allah, aku bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum engkau mengedipkan kelopak matamu, Baginda Sulaiman”

Tiba-tiba mahligai itu sudah berada di depan Nabi Sulaiman. Kemudian, Nabi Sulaiman bersujud pada Allah atas kemudahan yang diberikan.

Akhirnya, Ratu Bilqis telah sampai. Sulaiman pun menemuinya. Mereka berjalan-jalan mengeliling istana. Tentu saja, Ratu Bilqis sangat kagum pada istana Sulaiman. Ketika menuju ruangan raja, Ratu Bilqis sangat kaget karena mahligainya sudah ada di sebelah mahligai Sulaiman.

Sulaiman pun berkata,

“Wahai Ratu Bilqis, itu adalah benar mahligaimu. Pelayanku yang membawanya kesini sebelum engkau datang”.

Ketika hendak menuju mahligainya, Ratu Bilqis mengangkat pakaian panjangnya sehingga terlihat betisnya. Sulaiman pun berkata,

“Itu bukanlah air, tetapi hanya lantai kaca”.

Akhirnya,Ratu Bilqis sadar bahwa dirinya telah tersesat. Dia insaf. Segera dia menyatakan masuk agama Allah dan disaksikan Nabi Sulaiman.

Setelah itu, Ratu Bilqis memerintahkan rakyatnya untuk menyembah Allah dan kembali pada jalan kebenaran dari Allah.  Antara kerajaan Sulaiman dan Saba’ terjalin hubungan yang baik. Lama kelamaan, Sulaiman pun menikahi Ratu Bilqis. Kedua kerajaan ini digabungkan sehingga menjadi kerajaan yang besar, megah, luas, dan indah di muka bumi. Rakyatnya pun hidup dalam kedamaian dan kemakmuran sebab mereka selalu bersyukur pada Allah dan menjalankan agama Allah.

 


Dwi Susanto, menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Buku yang telah diterbitkan diantaranya adalah Hikayat Siti Mariah Perselingkuhan Estetik Pramoedya Ananta Toer (2009), Orang Cina dalam Sastra Indonesia (2009), Pengantar Teori Sastra (2011), Kamus Istilah Sastra (2015), dan Pengantar Kajian Sastra (2016). Pernah diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tentang budaya peranakan Tionghoa Indonesia pada konferensi Internasional ISSCO (International Society for Study of Chinese Overseas) di Chinese University of Hongkong (2011) dan pernah menjadi dosen tamu di Wako University, Tokyo, Jepang (2011).
Dwi Susanto tertarik pada dunia bacaan anak, hiburan, dan lain-lain. Buku yang lain yang akan terbit adalah cerita anak dan bidang seni dan budaya. Saat ini penulis tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply