Sign In

Remember Me

Nabi Samuel a.s.

Nabi Samuel a.s.

 

Samuel adalah utusan Allah. Ada yang berkata kalau dia adalah keturunan dari Nabi Harun a.s. Dia hidup sekitar empat ratus tahun setelah Yusya’ ibn Nun. Konon ceritanya, Nabi Samuel selamat dari pembunuhan dan kekejaman kaum Amaliqah. Ketika itu, kaum Amaliqah mengalahkan Bani Israel di Gazza dan Asqalan. Mereka pun membunuh banyak orang. Bahkan, ada yang menahan mereka. Hal ini menjadikan terputusnya kenabian dan keturunan Nabi Ya’qub a.s.

Tapi, Allah Maha Tahu. Dikisahkan bahwa ada seorang wanita yang lari. Dia menyelamatkan diri dari pembunuhan oleh kaum Amaliqah. Wanita itu penyembah setia Allah. Wanita itu sedang mengadung. Setelah penuh perjuangan, wanita itu melahirkan. Anaknya dinamakan Samuel. Yang berarti, “Allah mendengarkan doaku”.

Wanita itu diberi petunjukkan oleh Allah. Dia membawa anaknya ke sebuah rumah ibadah. Setelah beberapa lama kemudian, Samuel diangkat menjadi utusan Allah. Al Quran Surah Al-Baqarah (2); 246 mengingatkan hal itu,

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah. ‘Nabi mereka menjawab, ‘Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab, ‘Mengapa kami tidak mau beperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. (QS Al Baqarah (2); 246)

Begitu Samuel menjadi pemimpin. Mereka pun mengalami kemenangan dalam  peperangan. Sebab, Allah telah menolong mereka. Samuel telah memohon pada Allah agar mereka diberi kemenangan. Allah telah mengabulkan doa Samuel.

Tapi, Bani Israel mulai ingkar. Mereka tidak lagi mau berperang. Sehingga mereka berada dalam penjajahan bangsa lain. Samuel pun berkata pada mereka,

“Sesungguhnya, Allah telah mengutus  Thalut sebagai pemimpin klaian”.

Tapi mereka berkata pada Samuel,

“Apakah orang miskin dan fakir itu aakan memimpin kami. Dia saja tidak bisa memimpin dirinya sendiri dari kefakiran. Kami tidak yakin dan sulit untuk bersedia”

Allah telah mengabadikan jawaban mereka dalam Al Quran Surah Al Baqarah (2); 247,

“Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” (QS Al Baqarah (2); 247).

Mereka menolak Thalut karena alasan kemiskinan Thalut. Thalut telah ditakdirkan Allah untuk menjadi pemimpin mereka. Thalut akan mengalahkan Jalut dan membebaskan Bani Isreal dari penjajahan. Thalut sendiri adalah tukang penyamak kulit yang miskin.

Samuel berkata,

“Meski Thalut seorang yang miskin, Allah telah memberinya ilmu yang mampu mengalahkan musuh kalian. Thalut memiliki ilmu yang luas”.

Akhirnya, Bani Isreal menerima usul dari Samuel. Thalut pun diangkat jadi pemimpin mereka. Thalut mempersiapkan diri untuk memimpin perang. Allah telah memberinya anugerah sebuah Tabut. Malaikat membawa Tabut itu untuk Thalut. Tabut itu merupakan peninggalan dari Nabi Musa. a.s. Allah telah menuliskannya dalam Al Quran Surah Al Baqarah (2): 247-248

 “Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Dan nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, tabut itu dibawa malaikat.’ Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman” (QS Al Baqarah (2): 247-248.

Setelah itu, Thalut pun memberi perintah pada tentaranya. Mereka disuruh untuk bersabar dan tidak minum air sungai Yordania.  Thalut berkata bahwa siapa saja yang meminum air sungai itu, maka dia bukanlah pengikutnya. Tapi, bila hanya meminum seteguk saja, hal itu tidak apa-apa.

Thalut membawa pasukan besar. Daud juga bersamanya dengan pasukan yang besar itu. Pasukan Thalut berjumlah delapan puluh ribu orang. Tapi, cobaan dan ujian dari Allah tidaklah mudah. 

Pasukan sebesar itu hanya tersisa empat ribu saja. Thalut telah kehilangan pasukannya yang besar. Sejumlah tujuh puluh enam ribu telah meninggalkan Thalut. Mereka yang hilang itu karena mereka meminum air sungai Yordania. Tapi, karena kesabarannya, empat ribu pasukan itu berhasil mengalahkan pasukan Jalut.

Allah telah mengabarkan itu dalam Al Quran Surah Al-Baqarah (2): 251,

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunh Jalut” (QS Al Baqarah (2): 251.

Daud adalah salah satu personil dalam pasukan Thalut. Daud telah membunuh Jalut. Kini, bangsa Bani Israel tidak lagi dijajah. Mereka telah merdeka sebab menang dalam perang. Samuel a.s. telah berkata benar. Atas petunjuk Samuel a.s. dan izin Allah, Bani Israel dapat mengusir kaum Amaliqah dari tahan mereka.

Daud pun mendapat banyak pujian. Dia akhirnya disukai oleh Bani Israel.


Dwi Susanto, menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Buku yang telah diterbitkan diantaranya adalah Hikayat Siti Mariah Perselingkuhan Estetik Pramoedya Ananta Toer (2009), Orang Cina dalam Sastra Indonesia (2009), Pengantar Teori Sastra (2011), Kamus Istilah Sastra (2015), dan Pengantar Kajian Sastra (2016). Pernah diundang untuk mempresentasikan hasil penelitiannya tentang budaya peranakan Tionghoa Indonesia pada konferensi Internasional ISSCO (International Society for Study of Chinese Overseas) di Chinese University of Hongkong (2011) dan pernah menjadi dosen tamu di Wako University, Tokyo, Jepang (2011).
Dwi Susanto tertarik pada dunia bacaan anak, hiburan, dan lain-lain. Buku yang lain yang akan terbit adalah cerita anak dan bidang seni dan budaya. Saat ini penulis tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply