Sign In

Remember Me

Ibunda Nabi: Aminah binti Wahhab

Kita sudah tahu bahwa ibunda Nabi Muhammad SAW adalah Aminah binti Wahhab, yang wafat ketika Nabi masih kecil (berusia 6 tahun) dan dikuburkan di Quba, yang letaknya tidak jauh dari Madinah. Ibunda Nabi wafat di masa kekafiran dan kemusyrikan masih mendominasi Makkah, sedangkan Muhammad belum menerima wahyu yang mengangkat beliau menjadi Nabi dan Rasul. Dengan demikian, Aminah wafat dalam kondisi belum memeluk Islam.
 
Abu Hurairah ra menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah berziarah ke makam ibunya, lalu beliau menangis sehingga membuat orang-orang yang menemani beliau juga menangis. Rasulullah SAW bersabda, “Aku memohon izin pada Rabb-ku untuk mendoakan ampunan untuk ibuku, namun aku tidak mendapat izin-Nya. Lalu aku memohon izin untuk menziarahi kuburannya, maka DIA mengizinkan aku. Maka, berziarah lah kalian karena hal itu mengingatkan pada kematian.”
Abdullah bin Mas’ud ra juga menjelaskan, “Rasulullah SAW pergi dan kami pun ikut bersama beliau hingga kami tiba di area pekuburan. Lalu beliau menyuruh kami untuk duduk. Setelah itu kami memeriksa beberapa kuburan hingga berhenti pada kuburan ibunda beliau. Beliau duduk di dekatnya dan bermunajat cukup lama. Kemudian beliau menangis dan kami pun menangis karenanya.”
 
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas’ud ra menjelaskan, “Kemudian Rasulullah SAW pulang dalam keadaan menangis sehingga kami pun menangis. Lalu beliau menatap kami, dan aku mendekati beliau untuk bertanya, “Apa yang membuat engkau menangis, wahai Rasulullah? Kami pun menangis dan hati kami menjadi galau.” Nabi memegang tangan Umar. Lalu beliau menatap kami dan bertanya, “Apakah hati kalian menjadi galau karena tangisku?” Kami menjawab, “Benar.” Maka, beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya kuburan yang tadi kalian melihatku bermunajat kepada Rabb-ku adalah kuburan Aminah binti Wahhab. Aku meminta kepada Rabb-ku untuk memohonkan ampunan kepadanya, tapi DIA tidak mengizinkan aku, lalu turun ayat kepadaku, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik.” (QS At-Taubah: 113) “Aku merasakan kasih sayang sebagaimana lazimnya anak terhadap orang tuanya. Maka, itulah yang membuat aku menangis.”
 
Nah, dari penjelasan ini kita bisa mengetahui alangkah berbahayanya kemusyrikan itu, sehingga Nabi Muhammad SAW bahkan dilarang untuk mendoakan ibundanya. Terutama kepada kaum Muslimah, hal ini menjadi pelajaran yang sangat mahal dan penting, untuk selalu menjaga dan meningkatkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, menjauhi segala bentuk kemusyrikan dan mengajarkan kebenaran Islam kepada keluarga. Karena banyak perempuan yang terjebak dan terjerat kemusyrikan, secara langsung maupun tidak, misalnya dengan pergi ke dukun atau percaya pada takhayul. Hal-hal semacam itu lebih sering mengancam kamu perempuan yang lebih lemah akalnya, sehingga mereka percaya suatu tempat ada penunggunya karena rasa takut yang aneh dan berlebihan, percaya pada jimat atau penglaris karena khawatir dagangan tidak laku, bahkan menggunakan pelet karena cemas dicerai suami. Padahal semua itu adalah bencana kemusyrikan yang akan menjerumuskan ke dalam neraka. Alangkah ruginya mereka yang berbuat seperti itu, padahal surga dinaungi banyak kebahagiaan yang tidak terkira.
Lalu, bagaimana dengan nasib Ibunda Rasul? Apakah Aminah binti Wahhab akan dijebloskan ke dalam neraka? Dalam hal ini, banyak orang yang menjadi sedih sekaligus marah, karena dalam pikiran mereka adalah tidak mungkin Ibunda Nabi malah masuk neraka. Tapi mereka justru berpikir salah dan keliru dengan mengatakan Ibunda Nabi pasti masuk surga. Padahal, Aminah wafat sebelum masa kenabian, sehingga beliau belum masuk Islam.
 
Ternyata, ada penjelasan yang menarik dan sangat luar biasa dalam hal ini. Mengapa? Karena berita ini mengacu pada kejadian yang akan dialami di Akhirat, yaitu ketika seluruh manusia akan mengalami perhitungan amal selama hidup di dunia. Penjelasan ini tentu saja berasal dari Rasulullah SAW. Orang-orang yang hidup dan wafat sebelum beliau diutus akan mendapat ujian keimanan untuk menentukan apakah mereka masuk surga atau neraka. Allah SWT akan memerintahkan mereka untuk masuk ke dalam api yang berkobar. Jika mereka patuh pada perintah Allah, ternyata mereka justru masuk surga. Hal ini pasti mengherankan dan mengejutkan kita. Tapi, kita bisa memahaminya dari banyak penjelasan hadits lain: di Akhirat, tidak ada lagi keraguan bahwa Allah SWT adalah Hakim yang mengadili seluruh umat. Jadi, hanya Allah SWT yang punya hak untuk memberi perintah. Jika mereka ragu dan tidak patuh pada perintah Allah SWT, sudah jelas mereka adalah orang-orang yang musyrik.
 
Jadi, kita boleh mengharapkan kejutan di Akhirat kelak, seperti rangkaian cerita yang sangat dramatis: apakah Ibunda Rasul akan masuk surga? Kita bisa bayangkan alangkah “serunya” suasana pada saat itu, keharuan dan kegembiraan yang menjadi satu, dan disaksikan seluruh orang-orang yang beriman. Dengan demikian, semakin yakinlah kita pada kekuasaan Allah SWT sebagai Raja Yang Menguasai Langit dan Bumi, Raja di Hari Pembalasan. Insya Allah.
Bagaimana dengan Ayahanda Nabi, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib? Tidak ada penjelasan dalam hal ini, atau belum diketahui secara pasti. Tapi, dari banyak hadits yang sudah dijelaskan, kita tahu bahwa Ayahanda Nabi adalah laki-laki yang sangat beriman kepada ajaran Nabi Ibrahim as. Bahkan, saking mulianya beliau, cahaya wajahnya memancar ketika orang-orang tertentu pada saat itu menatapnya. Hal itu menjadi perbincangan hangat di antara Ahlul Kitab, saat itu adalah orang-orang yang menganggap diri mereka beriman kepada Taurat dan Injil. Jadi, mereka bukan hanya menisbatkan diri sebagai Nasrani atau Yahudi. Mereka mengira Abdullah bin Abdul Muthalib mungkin saja akan menjadi Nabi yang mereka tunggu. Sedangkan kaum perempuan ingin menjadi istrinya, tapi Abdullah memilih Aminah. Ternyata, Abdullah wafat dalam perjalanan dagang ketika Aminah sedang hamil. Lenyaplah dugaan mereka, dan mereka juga tidak lagi memerhatikan kondisi Aminah dan putranya, Muhammad. Tanda-tanda Muhammad akan menjadi Nabi dan Rasul baru dikenali oleh seorang Rahib bernama Buhairo, ketika Muhammad diajak pamannya Abu Thalib pergi ke Syams (wilayah Suriah) untuk berdagang, tapi hal itu dirahasiakan hingga Muhammad mendapat wahyu pertama di Gua Hira. Dari penjelasan itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Abdullah bin Abdul Muthalib termasuk orang yang beriman kepada Allah SWT dan menolak kemusyrikan. Wallahu a’lam.

Leave a Reply