Suatu hari ada desa yang cukup terkenal karena adanya pohon ajaib yang selalu menumbuhkan apel setiap 60 detik. Seluruh penghuni desa selalu menikmati apel yang selalu tumbuh sangat cepat di pohon. Rasa apel begitu nikmat hingga semua penghuni desa tidak ingin berbagi kepada desa yang lebih membutuhkan makanan.

            Mereka menyuruh siapapun yang merupakan penghuni luar dan ingin mengicipi apel, penghuni luar tersebut harus mengunjungi desa mereka.

            Mukesh salah satu penghuni tersebut selalu menikmati buah yang selalu muncul di pohon. Dia seperti penghuni desa lainnya yang rakus dan tidak berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

            Suatu hari ketika Mukesh berjalan mendekati pohon, dia masih mendapati pemandangan yang tidak pernah berubah yaitu setiap penghuni Desa disini saling berebutan, beginilah tanda kerakusan mereka. dari kejauhan Mukesh bisa melihat ada seorang kakek yang mencoba mengambil apel diantara kerumunuan, di tangan kanan tergenggam sebuah karung sedangkan di tangan kiri tergenggam sebuah tongkat.

            Entah mengapa ada sebersit perasaan dari Mukesh kepada si Kakek.

            “Hei Kakek, kau butuh bantuan?” tanya Mukesh.

            “Iya.” Jawab si Kakek. “Apakah anda bisa mengambilkan saya Apel yang banyak.”

            Si Kakek memberikan karung kepada Mukesh. Dia pun menerimanya.

            “Kakek ingin seberapa?” tanya Mukesh.

            “Satu karung penuh.” Kata si Kakek. “Aku akan menunggumu disana.”

            Mukesh melihat lokasi yang ditunjuk si Kakek. Tidak jauh dari pohon apel terdapat gerobak yang dijaga oleh 2 penunggang kuda.

            “Kakek kita belum kenalan.” Kata Mukesh. “Nama saya Mukesh, nama Kakek-nya siapa?”

            “Nama saya Musa.”

1.

            Hanya butuh waktu 3 menit untuk Mukesh agar bisa menyelesaikan tugasnya. Mukesh membawa Karung yang begitu berat kepada Musa. karung tersebut dimasukkan kedalam gerobak. Mukesh melihat isi didalam gerobak, sekitar 6 karung berada didalam.

            “terima kasih Mukesh, aku undur diri dulu.”

            Setelah pamit Musa memimpin rombongannya untuk perjalanan pulang. Mukesh merasa ingin berkunjung ke desa-nya Musa. Segera Mukesh cepat-cepat kembali ke Rumah untuk menunggangi kuda ketika diperbolehkan oleh Musa.

            Perjalanan menuju desa-nya Musa butuh lima jam perjalanan. Sampai disana Mukesh bisa melihat desa yang begitu sederhana. Mukesh memasuki pelataran Desa sampai ke Gudang makanan. Disana Mukesh membantu Musa beserta rombongannya untuk menaruh seluruh karung berisi apel kedalam Gudang.

            Setelah itu Musa mengajak Mukesh untuk berkeliling Desa. Pedesaan yang dikunjungi ternyata lebih miskin daripada Desa yang dihuni Mukesh sekarang. Mereka memiliki sawah tetapi sawah yang mereka miliki tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan Desa. Itulah alasan mengapa Musa mengungjungi Desa Mukesh untuk menambahi persediaan makanan.

            Selama beberapa menit berkeliling Desa, Mukesh melihat bangunan yang menurutnya sangat aneh.

            “Itu Banguan apa?” tanya Mukesh

            “Itu adalah Masjid.” Jawab Musa.

            Pada hari itulah untuk Mukesh mendengar istilah ‘Masjid’.

            “Agamu apa?” tanya Musa.

            “Desaku tidak ada istilah agama.” Jawab Mukesh.

            “Apakah kalian tidak menyembah siapapun?” tanya Musa.

            “Pohon apel yang ada di Desa kami merupakan benda yang kami sembah.” Kata Mukesh.

            Karena rasa penasaran Mukesh masuk kedalam untuk melihat isi didalam Masjid. Musa mengikuti dibelakang, dia merasa harus mendampinginya. Didalam Masjid Musa mulai menjelaskan istilah agama, tentang islam, tentang kitab Masjid, dan tentang kitab Al-qur’an.

1.

            Mukesh berencana untuk menetap di Desa-nya Musa. Maka dia kembali ke Desa-nya untuk mengambil perlengkapan untuk menginap di Desa-nya Musa untuk beberapa hari.

            Mukesh menikmati hidup di Desa-nya Musa karena rasa ingin tau-nya, dia ingin mempelajari kehidupan tersebut. Jika lapar Mukesh mengambil di Gudang makanan dan mengambil sebanyak-banyaknya. Dari sini Mukesh sempat menemukan suatu perbedaan.

            Mukesh mengambil lebih dari 5 apel dan memakannya sampai kenyang, sedangkan penghuni Desa cuma mengambil 1 apel. Hari terus berlanjut persediaan makanan habis, kebanyakan Mukesh yang menghabiskan jumlah apel. Penghuni desa hanya mampu menghabiskan 3 apel per-hari.

            Jika persedian makanan habis mata otomatis Musa mengajak seseorang untuk membantu mengambil apel dari desa-nya Mukesh. Mendengar persediaan makanan habis Mukesh juga ingin menamai Musa di perjalanan. Ditengah perjalanan Mukesh menanyakan tentang penduduk Desa.

            “Musa aku ingin tanya tentang penduduk Desa-mu. Di Desa-ku setiap penduduk selalu memakan apel dalam jumlah banyak. Sedangkan setiap penduduk di Desa-mu selalu memakan setidaknya 3 apel. Mengapa bisa seperti itu?”

            “Karena seluruh penghuni didalam Desa itu beragama islam.” Jawab Musa.

            “Apa hubungannya dengan islam?” tanya Mukesh.

            Lalu Musa menjawab. “Islam mengajarkan kami untuk puasa. Di pelajaran itulah kami belajar tentang bersabar dan menahan nafsu.”

            “Apakah ada hasil yang lain dengan puasa?” tanya Mukesh

            “Dengan berpuasa kami mampu berbagi makanan. Di Desa setiap orang pasti kebagian jatah makanan, dan persedian makanan kami tidak mudah habis.”

            Mukesh barusan saja menemukan suatu perbedaan lagi yaitu di Desa-nya Mukesh penghuni disana rakus terhadap makanan dan sombong karena persedian makanan mereka tidak pernah habis, sedangkan di Desa-nya Musa penghuni-nya mampu berbagi jatah makanan.

1.

            setelah mendengar istilah puasa Mukesh sangat penasaran dan mulai mempelajarinya. Di Desa Musa mengajari Mukesh untuk puasa dan langsung praktek. Selama 2 minggu latihan Mukesh akhirnya mampu menahan rasa lapar dan menahan hawa nafsu.

            Saat Mukesh merasa dia telah sangat puas dengan menginap di Desa-nya Musa selama beberapa hari, sudah waktunya bagi Mukesh untuk kembali ke Desa dimana dia berasal.

            Selama perjalanana Mukesh memikirkan pengalaman yang didapat barusan. Dia rencananya ingin berbagi kisah dengan sahabat di Desa-nya. Sampai disana Mukesh melihat keadaan Desa-nya jadi berbeda. Desa yang dulu ramai dengan penghuni-nya berubah menjadi sepi. Hanya segelintir orang yang berlarian dari Rumah ke Rumah. Anehnya orang berlarian seperti seorang budak karena mereka memakai baju yang berseragam.

            Mukesh memasuki pelataran Desa dan mendapati semua penghuninya didalam Rumah masing-masing. Mereka semua terbaring di lantai sedangkan orang yang mengenakan baju berseragam tampak mencoba mengobati mereka.

Tiba-tiba ada orang berkuda melewati Mukesh, dia tidak berseragam dan bukan penduduk desa. Mukesh menghentikannya untuk menanyakan kondisi desa.

            “Saya hanya seorang Dokter.” Kata Dokter memperkenalkan diri, lalu dia melanjutkan. “Aku dan para perawat kesini karena mendapat kabar jika ada Desa yang butuh pertolongan. Seluruh warga disini mengalami gejala penyakit yang tidak bisa obati.”

            Mukesh terkejut mendengar kalimat barusan. Lalu dia bertanya. “Apakah tidak obat untuk menyembuhkan penyakit mereka?”

            Peneliti itu menjawab. “Tidak ada. Kurasa ini hukuman dari Allah.”

            “Siapa Allah?” tanya Mukesh.

            Peneliti itu sangat terkejut mendengar pertanyaan barusan. “Kamu tidak tau Allah.”

            Mukesh menjelaskan jika dia adalah salah satu penghuni Desa tersebut, lalu menjelaskan alasan mengapa dia tidak sakit karena Mukesh sempat menginap di Desa lain. Mendengar penjelesan barusan Dokter merasa ingin menolong Mukesh agar tidak terkena penyakit.

            “Mukesh biar aku jelaskan tentang Desa ini. Desa yang kamu huni ini memiliki sifat buruk. Mereka disini sangat rakus terhadap apel yang selalu di pohon dan tidak pernah berbagi ke Desa yang lebih membutuhkan. Mereka mulai menyembah pohon tersebut karena mereka berpikir pohon didepan mereka adalah tuhan yang menolong mereka.

            “karena keburukan ini mereka diberikan hukuman dari Allah berupa penyakit yang tidak bisa disembuhkan.”

            “Lalu bagaimana caranya agar aku tidak kena dampak penyakit?” tanya Mukesh.

            “Sangat mudah.” Kata Dokter. “Kembalilah ke Desa yang sebelumnya kamu kunjungi. Temuilah orang yang beragama islam atau temuilah temanmu bernama Musa. Mintalah dia untuk mengajarimu islam. Setelah itu masuklah kedalam agama islam.”

 

Nasehat: Allah lebih menyukai manusia yang mampu menahan hawa nafsu dan suka berbagi.