Sign In

Remember Me

Urgensi Produktifitas Pertanian dalam Upaya Penigkatan Ketahanan Pangan Nasional

Urgensi Produktifitas Pertanian dalam Upaya Penigkatan Ketahanan Pangan Nasional

 Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014).  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014). Peran terhadap upaya menjaga kelestarian amat vital di tengah semakin meningkatnya persoalan-persoalan lingkungan dewasa ini. Pertanian juga merupakan penyedia mayoritas dari bahan baku industri kecil dan menengah. Sekitar 87% bahan baku dari industry kecil dan menengah adalah berbasis dari proses pertanian. Pertanian dengan demikian memberikan potensi bagi dinamika perekonomian bangsa.  Walaupun seiring dengan pencanangan sistem industrialisasi, tetapi menurut saya tetaplah harus diimbangi dengan peningkatan dalam sektor pertania karena antara pertanian dengan industri memiliki hubungan timbal balik. Pengelolaan sektor sumber daya pertanian saat ini belum dapat dikatakan maksikmal karena belum dapat memberikan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Menurut saya apabila pengelolaan sumber daya pertanian dilakukan secara optimal dan sumber daya manusia yang mengelolanya memiliki pengetahuan dan strategi dalam menghadapi permasalahan pertanian, maka akan berpengaruh terhadap meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia.

 Ketahanan pangan berhubungan erat dengan produktivitas pertanian. Produktivitas pertanian memberi gambaran tentang kinerja pertanian dalam penyelenggaraan usahatani. Kinerja usahatani adalah hasil yang dicapai dalam bentuk ouput proses produksi. Produktivitas pertanian berhubungan erat secara langsung dengan dengan faktor-faktor sumberdaya. Faktor-faktor sumberdaya adalah sumberdaya alam termasuk lahan, air, iklim, sumberdaya sarana produksi dan sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani. Faktor-faktor sumberdaya tersebut saling berinteraksi dalam menentukan dinamika produktivitas pertanian (Muksin, 2014). Konsep ketahanan pangan (food security) lebihluas dibandingkan dengan konsep swasembada pangan, hanya saja berorientasi terhadap aspek fisik kecukupan produksi bahan pangan. Beberapa ahli sepakat bahwa ketahanan pangan minimal mengandung dua unsur pokok yaitu “ketersediaan pangan” dan “aksesibilitas masyarakat” terhadap bahan pangan tersebut. Suatu negara belum dapat dikatakan memiliki ketahanan pangan yang baik apabila salah satu dari unsur tersebut tidak terpenuhi. Menurut saya walaupun pangan tersedia cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan rapuh. Salah satu ukuran produk vitas pertanian dapat dikaitkan dengan kondisi ketersediaan pangan nasional dan dinamika untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Kebutuhan dari pangan nasional cukup besar dapat diamati  dari nilai rupiah yang dibelanjakan dari APBN untuk kebutuhan pangan tersebut. Sebagaimana hasil kajian beberapa penelitian bahwa pada tahun 2009 sekitar 5 persen dari APBN atau sekitar 50 triliun digelontorkan untuk menyediakan atau membeli enam komoditas pangan, yaitu kedelai, gandum, daging, sapi, susu dan gula, termasuk garam. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pangan kita kepada Negara lain. Dewasa ini Bangsa Indonesia menginpor  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014).  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014). Peran terhadap upaya menjaga kelestarian amat vital di tengah semakin meningkatnya persoalan-persoalan lingkungan dewasa ini. Pertanian juga merupakan penyedia mayoritas dari bahan baku industri kecil dan menengah. Sekitar 87% bahan baku dari industry kecil dan menengah adalah berbasis dari proses pertanian. Pertanian dengan demikian memberikan potensi bagi dinamika perekonomian bangsa.  Walaupun seiring dengan pencanangan sistem industrialisasi, tetapi menurut saya tetaplah harus diimbangi dengan peningkatan dalam sektor pertania karena antara pertanian dengan industri memiliki hubungan timbal balik. Pengelolaan sektor sumber daya pertanian saat ini belum dapat dikatakan maksikmal karena belum dapat memberikan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Menurut saya apabila pengelolaan sumber daya pertanian dilakukan secara optimal dan sumber daya manusia yang mengelolanya memiliki pengetahuan dan strategi dalam menghadapi permasalahan pertanian, maka akan berpengaruh terhadap meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia.

 

 Ketahanan pangan berhubungan erat dengan produktivitas pertanian. Produktivitas pertanian memberi gambaran tentang kinerja pertanian dalam penyelenggaraan usahatani. Kinerja usahatani adalah hasil yang dicapai dalam bentuk ouput proses produksi. Produktivitas pertanian berhubungan erat secara langsung dengan dengan faktor-faktor sumberdaya. Faktor-faktor sumberdaya adalah sumberdaya alam termasuk lahan, air, iklim, sumberdaya sarana produksi dan sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani. Faktor-faktor sumberdaya tersebut saling berinteraksi dalam menentukan dinamika produktivitas pertanian (Muksin, 2014). Konsep ketahanan pangan (food security) lebihluas dibandingkan dengan konsep swasembada pangan, hanya saja berorientasi terhadap aspek fisik kecukupan produksi bahan pangan. Beberapa ahli sepakat bahwa ketahanan pangan minimal mengandung dua unsur pokok yaitu “ketersediaan pangan” dan “aksesibilitas masyarakat” terhadap bahan pangan tersebut. Suatu negara belum dapat dikatakan memiliki ketahanan pangan yang baik apabila salah satu dari unsur tersebut tidak terpenuhi. Menurut saya walaupun pangan tersedia cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan rapuh. Salah satu ukuran produk vitas pertanian dapat dikaitkan dengan kondisi ketersediaan pangan nasional dan dinamika untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Kebutuhan dari pangan nasional cukup besar dapat diamati  dari nilai rupiah yang dibelanjakan dari APBN untuk kebutuhan pangan tersebut. Sebagaimana hasil kajian beberapa penelitian bahwa pada tahun 2009 sekitar 5 persen dari APBN atau sekitar 50 triliun digelontorkan untuk menyediakan atau membeli enam komoditas pangan, yaitu kedelai, gandum, daging, sapi, susu dan gula, termasuk garam. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pangan kita kepada Negara lain. Dewasa ini Bangsa Indonesia menginpor bahan pangan seperti beras dari negara lain. Bukankah bangsa Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang baik, tanah yang cocok sebagai lahan penanaman, iklim yang mendukung. Seharusnya melalui kekayaan tersebut Indonesia menjadi pengekspor bukanlah penginpor bahan pangan. Menurut saya salah satu penyebab menurunnya produktifitas pertanian di Indonesia sehingga harus menginpor bahan pangan dari negara lain adalah kurangnya sumber daya manusia ahli yang dapat menangani masalah yang terjadi dan kurangnya strategi dalam peningkatan produktivitas.

Apabila dilihat dari penguasaan lahan pertanian, petani memiliki lahan pertanian yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Sebagaimana ditunjukkan dalam hasil sensus pertanian tahun 1993 menunjukkan penguasaan lahan oleh keluarga petani adalah sekitar 0,48 ha. Selanjutnya pada hasil sensus pertanian tahun 2003 penguasaan lahan pertanian oleh petani sekitar 0,3 ha per keluarga, sementara hasil sensus pertahian tahun 2013 menunjukkan penguasaan lahan yang dikelola keluarga petani sekitar 0,2 ha. Kondisi tersebut menunjukkan penurunan luas lahan yang menyebabkan penurunan produktifitas pertanian. Dengan demikian dibutuhkan solusi untuk lebih meningkatkan produktifitas pertanian yang ada di Indonesia. Peningkatan tersebut dapat dimulai dengan penyusunan diversifikasi tanaman pada lahan pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berperan sebagai pengolahnya, kualitas SDM pertanian yang tangguh, akan memberikan peran yang sesuai dengan kondisi persaiangan saat ini. SDM yang memliki kompetensi tentu memberikan kontribusi pada kemajuan usaha tani,  dan  pembaharuan teknologi yang semakin modern yang dimbangi dengan penggunaan sesuai dengan fungsi sesungguhnya tidak untuk peningkatan eksploitasi lahan pertanian menjadi lahan permungkiman ataupun perumahan.

Ketahanan pangan  dapat didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan system yang berintegrasi  dan mencakup ketersediaan pangan, distribusi pangan, dan konsumsi pangan. Ketiga sub system tersebut harus dikelola sebaik mungkin supaya pemenuhan ketahanan pangan di masyarakat dapat berjalan dengan baik. Ketersediaan pangan harus selalu dikelola dengan sebaik mungkin karena pemanenan hanyalah terjadi dalam kala waktu tertentu, distribusi pangan juga harus dilakukan secara optimal supaya persebaran pendistribusian dapat tersebar dengan merata, dan melalui konsumsi pangan diharapkan masyarakat semakin  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014).  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014). Peran terhadap upaya menjaga kelestarian amat vital di tengah semakin meningkatnya persoalan-persoalan lingkungan dewasa ini. Pertanian juga merupakan penyedia mayoritas dari bahan baku industri kecil dan menengah. Sekitar 87% bahan baku dari industry kecil dan menengah adalah berbasis dari proses pertanian. Pertanian dengan demikian memberikan potensi bagi dinamika perekonomian bangsa.  Walaupun seiring dengan pencanangan sistem industrialisasi, tetapi menurut saya tetaplah harus diimbangi dengan peningkatan dalam sektor pertania karena antara pertanian dengan industri memiliki hubungan timbal balik. Pengelolaan sektor sumber daya pertanian saat ini belum dapat dikatakan maksikmal karena belum dapat memberikan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Menurut saya apabila pengelolaan sumber daya pertanian dilakukan secara optimal dan sumber daya manusia yang mengelolanya memiliki pengetahuan dan strategi dalam menghadapi permasalahan pertanian, maka akan berpengaruh terhadap meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia.

 

 Ketahanan pangan berhubungan erat dengan produktivitas pertanian. Produktivitas pertanian memberi gambaran tentang kinerja pertanian dalam penyelenggaraan usahatani. Kinerja usahatani adalah hasil yang dicapai dalam bentuk ouput proses produksi. Produktivitas pertanian berhubungan erat secara langsung dengan dengan faktor-faktor sumberdaya. Faktor-faktor sumberdaya adalah sumberdaya alam termasuk lahan, air, iklim, sumberdaya sarana produksi dan sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani. Faktor-faktor sumberdaya tersebut saling berinteraksi dalam menentukan dinamika produktivitas pertanian (Muksin, 2014). Konsep ketahanan pangan (food security) lebihluas dibandingkan dengan konsep swasembada pangan, hanya saja berorientasi terhadap aspek fisik kecukupan produksi bahan pangan. Beberapa ahli sepakat bahwa ketahanan pangan minimal mengandung dua unsur pokok yaitu “ketersediaan pangan” dan “aksesibilitas masyarakat” terhadap bahan pangan tersebut. Suatu negara belum dapat dikatakan memiliki ketahanan pangan yang baik apabila salah satu dari unsur tersebut tidak terpenuhi. Menurut saya walaupun pangan tersedia cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan rapuh. Salah satu ukuran produk vitas pertanian dapat dikaitkan dengan kondisi ketersediaan pangan nasional dan dinamika untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Kebutuhan dari pangan nasional cukup besar dapat diamati  dari nilai rupiah yang dibelanjakan dari APBN untuk kebutuhan pangan tersebut. Sebagaimana hasil kajian beberapa penelitian bahwa pada tahun 2009 sekitar 5 persen dari APBN atau sekitar 50 triliun digelontorkan untuk menyediakan atau membeli enam komoditas pangan, yaitu kedelai, gandum, daging, sapi, susu dan gula, termasuk garam. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pangan kita kepada Negara lain. Dewasa ini Bangsa Indonesia menginpor  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014).  Letak suatu wilayah sangatlah menentukan akan keberadaan sumber alam yang dimilikinya. Banyak negara yang hanya memiliki luas wilayah terbatas, sehingga sumber daya alam yang dimilikinya juga terbatas. Kondisi Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau baik besar dan kecil dengan wilayah daratan dan perairannya yang lebih luas dibandingkan dengan negara lainnya. Menurut letak geografisnya Indonesia merupakan wilayah yang sangat strategis serta posisi silangnya membawa implikasi adanya kandungan sumber daya alam yang berlimpah dan beraneka ragam. Menurut kondisi lingkungan geografis sekaligus mata pencaharian utama masyarakat Indonesia yang sebagian besar sebagai petani, tentu sektor pertanian berpengaruh penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia karena pertanian di Indonesia merupakan tulang punggung dari perekonomian dan pembangunan nasional, hal tersebut dapat dilihat dalam  penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja, penyediaan pangan, dan penyediaan bahan baku industri. Apabila dilihat dari perspek  jumlah tenaga kerja, maka pertanian menyerap sekiar 33,32% total tenaga kerja. Kondisi lainnya adalah bahwa pada rumah tangga pedesaan bergantung sekitar 70%  dari sektor  pertanian sebagai sumber utama pendapatan. Menurut konteks ketenagakerjaan, maka pertanian memiliki peran vital dalam menutup lubang pengangguran terbuka yang semakin besar. Kondisi tersebut memberikan klarifikasi bahwa pertanian menjadi factor penutup bagi potensi pengangguran yang besar. Terdapat fakta bahwa pertanian adalah suatu keniscayaan bagi keberlanjutan kehidupan manusia, dalam konteks penyediaan pangan (Luckey, et al: 2013). Sisi lain dari pertanian adalah sektor ini memiliki peran yang tidak ringan dari upaya mencegah atau menyelesaikan masalah lingkungan. Sebagai “organisasi” yang bersandar dari proses alamiah, maka pertanian memiliki peran dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 8 juta ton (Kementerian pertanian, 2014). Peran terhadap upaya menjaga kelestarian amat vital di tengah semakin meningkatnya persoalan-persoalan lingkungan dewasa ini. Pertanian juga merupakan penyedia mayoritas dari bahan baku industri kecil dan menengah. Sekitar 87% bahan baku dari industry kecil dan menengah adalah berbasis dari proses pertanian. Pertanian dengan demikian memberikan potensi bagi dinamika perekonomian bangsa.  Walaupun seiring dengan pencanangan sistem industrialisasi, tetapi menurut saya tetaplah harus diimbangi dengan peningkatan dalam sektor pertania karena antara pertanian dengan industri memiliki hubungan timbal balik. Pengelolaan sektor sumber daya pertanian saat ini belum dapat dikatakan maksikmal karena belum dapat memberikan kemakmuran untuk masyarakat Indonesia. Menurut saya apabila pengelolaan sumber daya pertanian dilakukan secara optimal dan sumber daya manusia yang mengelolanya memiliki pengetahuan dan strategi dalam menghadapi permasalahan pertanian, maka akan berpengaruh terhadap meningkatnya kemakmuran masyarakat Indonesia.

 

 

 

 Ketahanan pangan berhubungan erat dengan produktivitas pertanian. Produktivitas pertanian memberi gambaran tentang kinerja pertanian dalam penyelenggaraan usahatani. Kinerja usahatani adalah hasil yang dicapai dalam bentuk ouput proses produksi. Produktivitas pertanian berhubungan erat secara langsung dengan dengan faktor-faktor sumberdaya. Faktor-faktor sumberdaya adalah sumberdaya alam termasuk lahan, air, iklim, sumberdaya sarana produksi dan sumberdaya manusia sebagai pelaku usahatani. Faktor-faktor sumberdaya tersebut saling berinteraksi dalam menentukan dinamika produktivitas pertanian (Muksin, 2014). Konsep ketahanan pangan (food security) lebihluas dibandingkan dengan konsep swasembada pangan, hanya saja berorientasi terhadap aspek fisik kecukupan produksi bahan pangan. Beberapa ahli sepakat bahwa ketahanan pangan minimal mengandung dua unsur pokok yaitu “ketersediaan pangan” dan “aksesibilitas masyarakat” terhadap bahan pangan tersebut. Suatu negara belum dapat dikatakan memiliki ketahanan pangan yang baik apabila salah satu dari unsur tersebut tidak terpenuhi. Menurut saya walaupun pangan tersedia cukup di tingkat nasional dan regional, tetapi jika akses individu untuk memenuhi kebutuhan pangannya tidak merata, maka ketahanan pangan masih dikatakan rapuh. Salah satu ukuran produk vitas pertanian dapat dikaitkan dengan kondisi ketersediaan pangan nasional dan dinamika untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut. Kebutuhan dari pangan nasional cukup besar dapat diamati  dari nilai rupiah yang dibelanjakan dari APBN untuk kebutuhan pangan tersebut. Sebagaimana hasil kajian beberapa penelitian bahwa pada tahun 2009 sekitar 5 persen dari APBN atau sekitar 50 triliun digelontorkan untuk menyediakan atau membeli enam komoditas pangan, yaitu kedelai, gandum, daging, sapi, susu dan gula, termasuk garam. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan pangan kita kepada Negara lain. Dewasa ini Bangsa Indonesia menginpor bahan pangan seperti beras dari negara lain. Bukankah bangsa Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang baik, tanah yang cocok sebagai lahan penanaman, iklim yang mendukung. Seharusnya melalui kekayaan tersebut Indonesia menjadi pengekspor bukanlah penginpor bahan pangan. Menurut saya salah satu penyebab menurunnya produktifitas pertanian di Indonesia sehingga harus menginpor bahan pangan dari negara lain adalah kurangnya sumber daya manusia ahli yang dapat menangani masalah yang terjadi dan kurangnya strategi dalam peningkatan produktivitas.

 

Apabila dilihat dari penguasaan lahan pertanian, petani memiliki lahan pertanian yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Sebagaimana ditunjukkan dalam hasil sensus pertanian tahun 1993 menunjukkan penguasaan lahan oleh keluarga petani adalah sekitar 0,48 ha. Selanjutnya pada hasil sensus pertanian tahun 2003 penguasaan lahan pertanian oleh petani sekitar 0,3 ha per keluarga, sementara hasil sensus pertahian tahun 2013 menunjukkan penguasaan lahan yang dikelola keluarga petani sekitar 0,2 ha. Kondisi tersebut menunjukkan penurunan luas lahan yang menyebabkan penurunan produktifitas pertanian. Dengan demikian dibutuhkan solusi untuk lebih meningkatkan produktifitas pertanian yang ada di Indonesia. Peningkatan tersebut dapat dimulai dengan penyusunan diversifikasi tanaman pada lahan pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berperan sebagai pengolahnya, kualitas SDM pertanian yang tangguh, akan memberikan peran yang sesuai dengan kondisi persaiangan saat ini. SDM yang memliki kompetensi tentu memberikan kontribusi pada kemajuan usaha tani,  dan  pembaharuan teknologi yang semakin modern yang dimbangi dengan penggunaan sesuai dengan fungsi sesungguhnya tidak untuk peningkatan eksploitasi lahan pertanian menjadi lahan permungkiman ataupun perumahan.

 

Ketahanan pangan  dapat didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, dan terjangkau. Ketahanan pangan merupakan system yang berintegrasi  dan mencakup ketersediaan pangan, distribusi pangan, dan konsumsi pangan. Ketiga sub system tersebut harus dikelola sebaik mungkin supaya pemenuhan ketahanan pangan di masyarakat dapat berjalan dengan baik. Ketersediaan pangan harus selalu dikelola dengan sebaik mungkin karena pemanenan hanyalah terjadi dalam kala waktu tertentu, distribusi pangan juga harus dilakukan secara optimal supaya persebaran pendistribusian dapat tersebar dengan merata, dan melalui konsumsi pangan diharapkan masyarakat semakin memperhatikan terhadap gizi dan kesehatan pangan. Menurut saya, permasalahan ketahanan pangan yang muncul haruslah disikapi dengan serius terutama oleh pemerintah daerah. Pemusatan berada pada Pemerintah Daerah karena Indonesia menganut otonomi daerah atau kekuasaan daerah untuk mengurusi daerah masing-masing, sehingga PEMDA yang lebih mengetahui terhadap komoditas unggul yang dimiliki setiap daerah. Setiap daerah seharusnya dapat memperbaiki kualitas pertanian dan siste yang dipergunakan supaya dapat meningkatkan ketahanan pangan yang ada di Indonesia, karena ketahanan pangan tersebut sangat ditentukan oleh produktivitas pertanian yang dihasilkan oleh petani. Apabila produktivitas semakin membaik maka pemerataan pangan akan semakin baik dan efisien, selain itu apabila ketahanan pangan membaik maksa secara berkala Indonesia tidak akan menginpor bahan pangan dari negara lain karena dapat memenuhi kebutuhan pangan dengan baik.

Sebagai perwujudan peningkatan produktifitas ketahanan pangan, maka harus dilakukan beberapa strategi untuk mewujudkan target pencapaian. Peningkatan dapat dimulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia yaitu petani,  peningkatan itu dengan cara memberikan pengetahuan dan informasi seputar pertanian serta teknologi pertanian yang dapat melalui kegiatan penyuluhan. Selain itu peningkatan dapat dengan cara memanfaatkan lahan tidak produktif menjadi lahan produktif dengan menggunakan inovasi peningkatan teknologi, penggunaan teknologi yang dapat membantu pekerjaan dengan baik dan cepat, dan bagi pemerintah dapat memberikan bantuan berupa pupuk ataupun bibit tanaman.

Saya berharap segala pihak baik badan kepemerintahan ataupun masyarakat terutama petani dapat bekerja sama untuk mewujudkan peningkatan produsi pertanian sebagai peningkat ketahanan pangan yang ada di Indonesia supaya  dapat berjalan kearah yang lebih baik lagi sehingga dapat meningkatkan kualitas  pangan masyarakat Indonesia dan dapat memenuhi kebutuhan tanpa harus menginpor bahan pangan dari Negara lain.
Daftar Pustaka:

http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/139106-%5B_Konten_%5D-,Urgensi%20Regenerasi%20SDM%20Pertanian.pdf, diunduh pada hari Kamis, 13 September 2016, pukul 13.00 WIB.

http://www.academia.edu/7235543/KEBIJAKAN_KETAHANAN_PANGAN, diunduh pada hari Kamis, 13 September 2016, pukul 14.00 WIB.

http://presidenri.go.id/pangan/1967.html, diunduh pada hari Jum’at, 14 September 2016, pukul 16.38 WIB.

http://unwahas.ac.id/publikasiilmiah/index.php/Mediagro/article/download/881/993, diunduh pada hari Jum’at, 14 September 2016, pukul 21.00.

Penulis  : Isti Rahayu

Email  : [email protected]

No.HP /WA : 087839027607

Yogyakarta, 29 September 2016

 

 


Seorang pelajar SMA N 9 Yogyakarta yang menyukai novel dan sedang tahap belajar menulis.

Leave a Reply