Jakarta, 7 September 1996

“Vina! Ayo bangun kita jalan-jalan pagi” Suara Kak Dimas membuatku terkejut dan sontak langsung terloncat dari tempat tidur.

Aku mengusap-usap mataku dan melihat sekeliling kamar. Sinar matahari berusaha masuk dari sela-sela gorden jendelaku, seakan mengajakku untuk bermain dengan dunia luar. Kak Dimas masih terduduk disampingku sambil tersenyum.

“Weh princess Elsa semangat dong, masa mukanya lemes masih pagi begini.” Aku tersenyum menatap matanya.

 “Nah gitu dong ceria! Kan jadi tambah cantik buat dipandang, Aku tunggu di ruang makan ya nanti Aku ajak ke tempat yang paling bagus deh” Kak Dimas mengusap-usap rambutku dan kemudian beranjak dari kasur lalu keluar dari kamarku. Aku kembali terdiam. Suara anak-anak yang sedang bermain di luar turut meramaikan kamarku. Aku berjalan  menghampiri meja dan mengambil satu barang yang paling berkesan. Kutekan tombolnya dan terdengar alunan nada yang indah. Aku memejamkan mata dan kembali mengingat semuanya. Mengingat suatu hal yang hanya membuatku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya.

            Harum tempe goreng menusuk hidungku saat Aku membuka pintu kamar. “Pagi sayang.. ayo sarapan dulu, mau diajak jalan-jalan kan sama Kak Dimas”

Ibu tersenyum kearahku lalu melanjutkan kegiatan di depan penggorengan kecilnya.

Aku duduk di hadapan kak Dimas yang sedang menguyah potongan tempe terakhirnya.

“Vin, sarapan dulu, nanti kamu lemes di jalan” Ujarnya sambil menguyah.

Aku menggeleng lemas.

Kak Dimas menghembuskan nafas, “Aduh emang deh princess suka susah dibilangin. Yaudah Aku bawain roti aja ya nanti Kamu makan di jalan”

Aku mengangguk lemas, Aku berusaha menyembunyikan kesedihanku darinya. Aku hanya tak ingin semua orang tahu apa yang Aku rasakan saat ini.

            “Kamu tau gak Vin, kenapa tempat ini Aku bilang tempat yang bagus?” Suara Kak Dimas membuyarkan lamunanku.

Aku menggeleng. Kak Dimas menghela nafas dan bersandar pada kursi taman yang mulai lapuk. Aku kembali terfokus kepada anak kecil yang berada di seberangku.

Dia bermain bersama kedua orangtuanya sambil tertawa bahagia. Di sebelah air mancur terdapat dua orang kakak beradik yang bermain layangan bersama, Kakaknya berusaha menerbangkan layangan dengan susah payah namun adiknya hanya tertawa melihat ekspresi kakaknya yang kesusahan. Angin taman kembali menyapa dan mengajak bermain rambutku. Lagi-lagi hal itu kembali mengusik pikiranku untuk kesekian kalinya.

            “Makan dulu rotinya Vin, tadi Kamu belum sarapan kan?” Kak Dimas menyodorkanku sepotong roti berisi selai kacang.

Aku menepis tangannya.

 “Kok gamau makan nanti sakit gimana?”

Aku berusaha menolak tawarannya karena memang Aku tidak lapar, suasana hati yang sangat tidak mendukung untuk melahap makanan untuk saat ini. Tiba-tiba terdengar suara piano dari rumah yang berada di pinggir taman. Aku menengok ke rumah tersebut dan mencari sumber suara itu. Di balkon rumah terlihat seseorang anak dengan mahirnya memainkan piano dan melantunkan lagu yang kembali mengingatkanku pada satu hal yang kembali menyedihkan hati.

Kak Dimas juga menengokkan kepalanya ke rumah tersebut. Tanpa sadar Aku meneteskan air mata, Angin kembali mengusap-usap rambutku dengan lembutnya seakan menghiburku dari kesedihan. Kak Dimas pun menghela nafas dan memelukku dengan erat.

 

Jakarta, 10 September 1996

            Suara kegaduhan dari luar tiba-tiba membangunkanku. Aku beranjak dari kasur dan melihat jam. Jarum jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Aku melangkah ke pintu kamar dan perlahan membuka pintunya.

“Ibu, Aku mau mencari pekerjaan lagi”

 Aku mengintip Kak Dimas dan Ibu sedang berbicara di dapur yang dindingnya sudah berubah warna dimakan usia.

“Kenapa sih Dim, Kamu susah banget dibilangin. Mana ada perusahaan yang mau rekrut karyawan bermodalkan lulusan SMP saja”

“Ini bukan demi Aku Bu, Ini demi masa depannya Vina”

“Dim, Kamu tau kan Vina gimana keadannya. Udah susah, Dim. Tidak mungkin itu bisa tercapai. Kondisi keuangan keluarga kita juga serba kekurangan Dim”

“Semua mungkin Bu, Aku tidak mau Vina bernasib sama kaya kakaknya. Aku mau Dia punya masa depan yang baik Bu, Aku tidak mau Vina nanti kalau sudah besar cuma bantu Ibu jualan gorengan di komplek perumahan kaya kakaknya. Aku gamau Bu”

Ibu menghela nafas panjang. Kak Dimas menatap Ibu dengan tatapan penuh harap.

“Susah Dim dengan kondisi keluarga kita seperti ini..”

“Ibu…” Kak Dimas mendekati Ibu dan memeluknya. “Kita berjuang buat Vina ya Bu, Kita bisa. Kita satu keluarga”

Ibu hanya terisak saat mendengarkan Kak Dimas berbicara. Aku kembali menutup pintu kamar dan duduk di kasur kesayanganku. Disaat seperti ini Aku kembali teringat kata-kata seorang pahlawan, seorang manusia yang pernah berjuang hingga mengorbankan apapun hanya untukku.

“Buat keterbatasanmu sebagai sumber kekuatanmu”

 

Jakarta, 16 September 1996         

            Panas Jakarta sangat tidak bersahabat dengan kulit. Namun masih banyak orang yang bergantung nasib pada ganasnya Jakarta. Tempat dimana pertemuan, perpisahan, suka, dan duka menjadi satu, inilah Jakarta.

            “Pak semir sepatunya silahkan” Kak Dimas menjajakan semir sepatu kepada sekumpulan orang yang sedang duduk di Halte Bus.

Peluh keringatnya membasahi dahi dan kaos lusuhnya. Ia terus berjalan menyusuri panasnya trotoar Jakarta ditemani sandal jepit kesayangannya yang diberikan saat ulang tahun ke 17. Aku mengikuti Kak Dimas tanpa sepengetahuannya, sudah hampir tujuh jam Ia menjajakan semir di sekitar Ibukota.

“Dek, Semir sepatu ya?” Kak Dimas terbangun dari istirahat singkatnya di bawah pohon rindang. “Iya Pak, Semir sepatunya silahkan”

Orang itu menggunakan Jas berwarna abu-abu dan membawa tas kotak berwarna hitam.

Kak Dimas menghampiri bapak tersebut dan mulai membersihkan sepatunya.

“Kamu masih sekolah Nak?

“Saya menunda sekolah Pak”

“Kenapa Kamu menunda Sekolah Nak? Sekolah penting buat anak seusia Kamu”

“Sekolah buat Saya masih bisa dilanjut Pak. Sekarang Saya hanya ingin membuat adik Saya mempunyai masa depan yang baik”

Bapak tersebut hanya terdiam dan memandang Kak Dimas, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Wah sepatu Bapak senyum. udah bersih sekarang, tadi cemberut belum mandi sepatunya” Kak Dimas tertawa kecil.

Tawa yang didalamnya penuh dengan rasa capek dan lelah, namun Ia tidak menunjukkan ekspresi lelah sama sekali. Bapak tersebut mengeluarkan selembar uang berwarna biru dan memberikannya kepada Kak Dimas.

“Nak, Ini uangnya. Kembaliannya Kamu simpan saja, siapa tau membantu adik kamu”

Kak Dimas memegang tangan Bapak tersebut dan berusaha menolaknya.

“Terima kasih banyak Pak sebelumnya, tapi tidak usah repot-repot. Tuhan masih memberi waktu yang cukup untuk Saya buat bekerja. Dan uang Bapak bisa dipergunakan untuk kebutuhan yang lain. Terima kasih Pak selamat siang”

Kak Dimas lalu beranjak pergi kembali menerjang panasnya Jakarta. Bapak tersebut hanya bisa memandang Kak Dimas dari jauh dan tersenyum.

 

Jakarta, 21 September 1996

            Suara banyak orang dari luar rumah membangunkanku. Aku mengintip dari jendela kamar dan melihat Ibu sedang berjualan gorengan di teras rumah.

“Ayo Ibu masih hangat gorengannya silahkan”

Satu persatu pembeli menghampiri Ibu dan membeli gorengannya.

“Alhamdulillah ada yang beli” Ibu tersenyum saat menggenggam 2 lembar uang dua ribuan yang sudah lecek di tangannya.

“Gorengannya silahkan dibeli baru diangkat dari kompor, dua ribu dapat empat” Ibu terus mempromosikan dagangannya kepada orang yang berlalu lalang di depan rumah.

Saat Ibu sedang merapihkan dagangannya, tiba-tiba ada segerombolan anak remaja berlari dan tepat dari salah satu kaki orang itu mengenai dagangan Ibu. Tanpa ada halangan, gorengan Ibu berjatuhan ke tanah dan kemudian terinjak-injak oleh anak-anak lainnya yang berlari.

“Astaghfirullahaladzim…” Ibu kaget dan kemudian terduduk lemas di samping dagangannya yang telah kotor dan terinjak-injak. Aku berlari keluar dan menghampiri Ibu.

“Eh Vina udah bangun” Ibu menatapku sambil membereskan dagangannya yang jatuh.

 Ia seolah olah terlihat sabar namun dari raut wajah dan pandangannya mata Ibu sudah berkaca-kaca menahan tangis. Aku kemudian memeluk Ibu dengan erat dan merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat.

“Ibu sama Kak Dimas sayang sama kamu Vin”

Tanpa sadar air mataku kemudian menetes di bahunya.

 

Surakarta, 4 Agustus 1993

            “Vina nanti mau jadi seperti itu?” Tanya Ayah sambil menunjuk kearah televisi. Aku mengangguk dengan yakin.

“Wah jago banget ya orangnya, Aku merinding dengernya” Kak Dimas menatap layar televisi dengan mulut menganga.

            “Vina sini dipangku Ibu aja, kasian Ayah udah capek itu keberatan” Ibu kemudian menggendongku ke pangkuannya.

 “Anak perempuan Ayah sekarang udah gendut banget ya” Ayah tertawa kecil sambil mencubit pipiku.

Aku hanya mendengus kesal. Setelah dua jam berlangsung, acara televisi pun berakhir. Ayah, Ibu dan Kak Dimas bersiap-siap menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.

“Sini cubit dulu adikku yang gemes” Kak Dimas kemudian mencubit pipiku hingga kemerahan. Aku mengaduh kesakitan dan sedikit merintih.

“Dimas gaboleh kenceng-kenceng nyubitnya kasian adik Kamu nanti sakit pipinya” Ujar Ibu sambil mengusap-usap pipiku.

“Abis gemes bu sama adik. Aku tidur duluan ya,malem Yah, Bu” Kak Dimas pun berlari menuju kamarnya dan menutup pintu.

Ayah menggendongku ke dalam kamar dan duduk di kasurku.

“Vin, lihat Ayah punya sesuatu buat Kamu”

Aku menatap Ayah dengan penuh penasaran.

Ayah memberikan sesuatu yang berbentuk kotak dan dibungkus dengan kertas kado.

“Ini dia! Kotak musik spesial buat Kamu!”

 Aku mengambilnya dan membuka kertas kado agar terlihat isinya. Sebuah kotak musik berwarna merah dihiasi gambar kartun yang bermacam-macam dan bisa melantunkan nada-nada yang indah.

“Coba Kamu tekan tombolnya”

Ayah mengarahkan jariku untuk menekan dan mengganti-ganti tombol yang terletak di samping kotak.

Setiap ditekan tombolnya, maka lagu juga akan berganti.

“Gimana suka enggak sama kadonya?” Tanya Ayah sambil mengusap-usap kepalaku.

Aku senang sekali mendapatkan kado dari Ayah. Akupun langsung memeluknya saat itu juga.

“Ayah berharap Kamu nanti bisa berprestasi dan terkenal, melebihi orang yang di televisi tadi” Ayah menghela nafas.

“Vina anak hebat, Vina anak istimewa. Pasti jalan Vina yang ditunjukin sama Tuhan nanti juga istimewa” Ayah tersenyum kepadaku.

“Vina bisa jadi orang terkenal”

Kemudian tanganku digenggam oleh Ayah dengan erat.

“Ayah yakin Vina bisa bikin Ayah, Ibu, dan Kak Dimas bangga. Semua butuh waktu dan Tuhan sudah menyiapkan rencana buat Kamu”

Tatapan mata Ayah yang sudah berkantung itu sangat yakin. Lampu kamar yang terang memantulkan cahaya dari uban yang tumbuh di rambut Ayah.

“Buat keterbatasanmu sebagai kekuatanmu”

Ayah memelukku dengan erat dan akupun menangis. Aku juga tidak menyangka itu adalah hari terakhir Aku berpelukan dengan sosok yang memiliki kumis tipis dan beruban itu.

 

 

 

 

 

 

 

Cambridge, United Kingdom 4 Februari 2006

            “Gimana rasanya Vina Dwi Maulana tampil sebagai bintang tamu disini? Jauh-jauh diundang dari Jakarta ya”

Aku menatap sekitarku. Lampu panggung yang sangat terang, dan banyaknya penonton membuatku sedikit gerogi.

“Rasanya tentunya sangat bangga, bisa mewakili musisi Indonesia yang tampil disini”

Aku menggosok-gosokan kedua telapak tangan dan menggoyang-goyangkan kaki agar rasa nervous itu hilang.

“Vina di Indonesia sudah jadi Pianis terkenal, bahkan karya-karya Vina sendiri sudah banyak diketahui masyarakat dunia. Bisa diceritakan sedikit kenapa bisa menjadi musisi terkenal terutama bakat Vina sendiri menjadi pianis” Pemandu acara kemudian tersenyum ke arahku.

Aku menarik nafas dan kembali melihat sekeliling. Pandangan semua penonton tertuju ke arahku.

“Sebelumnya Saya banyak mengucapkan terimakasih untuk Ibu dan Kak Dimas yang duduk di belakang sana” Ibu dan Kak Dimas tersenyum dari jauh.

“Karena mereka berdua yang bisa membuat Saya bisa duduk disini. Awalnya Saya terlahir dengan divonis mengidap Down Syndrome. Saya mengalami kesulitan berbicara sejak kecil bahkan seperti orang bisu yang tidak bisa mengeluarkan satu katapun. Tetapi mereka berdua tetap sabar mengasuh Saya dengan rasa sayang yang sangat tidak terhitung jumlahnya.” Aku mengambil nafas perlahan dan mengembuskannya.

“Dulu Saya ingin menjadi pianis, kemudian Kak Dimas dan Ibu dengan segala jerih payahnya berusaha untuk membantu Saya mencapai mimpi tersebut. Mereka bekerja keras dan membelikan satu piano kecil dirumah. Mungkin piano bekas karena kondisi keuangan keluarga kami yang kurang mendukung untuk membeli piano yang baru. Setelah dibelikan piano, rasa harapan atas mimpi itu kembali muncul.” Semua penonton sangat antusias mendengarkan pengalamanku. Bahkan beberapa mata diantaranya sampai berkaca-kaca.

“Saya kemudian berlatih bermain piano sendiri setiap hari, dan tidak lupa Saya juga belajar berbicara pada saat yang bersamaan. Memang tidak mudah, berlatih hingga larut malam bahkan tetangga sekitar rumah pun mengeluh akibat suara piano yang sudah jelek dan tidak merdu itu menggangu suasana malam mereka. Seiring berjalannya waktu ternyata usaha Saya selama ini membuahkan hasil dan, I’m very surprised

Penonton di ruangan pun memberi applause dengan sangat meriah. Tetapi pandanganku tetap kepada Ibu dan Kak Dimas yang duduk di bangku belakang. Ibu hanya tersenyum dengan wajah yang sudah mulai dihiasi kerutan sementara Kak Dimas dengan gaya khasnya ikut bertepuk tangan dengan penonton.

            “Dan yang terakhir, Saya mempunyai mimpi menjadi pianis karena Almarhum Ayah Saya. Dia yang sangat memotivasi dan menanamkan rasa percaya diri kepada saya selama ini.” Mataku mulai memerah dan berkaca-kaca saat mengingat semuanya.

“Kata-katanya sangat membuat hati Saya bergemuruh, sangat membuat semangat Saya membara setiap saat. Walau Saya memiliki kekurangan dan mengalami keterbatasan, Ayah Saya berkata itu tidak berpengaruh kepada masa depan. Saya terlahir istimewa, jadi rencana Tuhan untuk Saya juga istimewa, dan Saya yakin akan hal itu. Dengan Ayah, Saya dapat belajar keterbatasan atau kekurangan bukanlah penghalang mimpi kalian. Jadikan keterbatasan itu sebagai kekuatanmu untuk menjalani hidup”