Pandangannya lurus ke arah depan,entah apa yang sedang ia perhatikan. Tatapan itu begitu tajam menandakan jalan pikirannya sulit untuk ditebak. Laki -laki berkacamata itu mulai menengguk kopi panas di hadapannya. Kepulan asap tergambar jelas di bagian atas cangkir itu,mulai dibuka buku tebal miliknya yang tak begitu ku kenal penulis buku tersebut. Entah mengapa aku merasa sedikit tertarik dengan laki-laki bermata tajam itu,setiap aku singgah di kafe ini selalu kutemukan dia di kursi pojok bersama buku tebalnya yang senantiasa setia menemani. Ingin rasanya aku berkenalan dengannya, namun mungkin kau tak pernah tahu rasa malu yang ku miliki terlalu besar hanya untuk sekedar berkenalan.

Hari ini benar-benar padat, aku harus bolak balik ke kampus untuk menyelesaikan masalah skripsiku. Untuk menambah literaturku kuputuskan untuk meminjam buku di perpustakaan kota, tahulah gimana kehidupan mahasiswa yang uangnya pas pasan. Ketika memasuki perpustakaan aku melihat sosok yang tidak asing lagi bagi mataku, dia tengah berdiri diantara kumpulan buku fiksi. “Ya Allah, dia ada disini!!” hati ini terasa begitu tak menentu dan desiran nadi berdenyut lebh cepat. Ku pikir hari ini aku bisa mewujudkan harapanku untuk berkenalan dengannya,ada beberapa rencana yang ku buat dan merancang beberapa kemungkinan yang terjadi. Wah kalau ini melah perumusan hipotesis dalam penelitian. Rencana pertamaku, aku akan berjalan di sekitar tepat dimana ia berdiri, hingga akhirnya menyapa untuk knalan. Rencana kedua, aku akan cari buku dirak seberang tepat ia merdiri, menjatuhkannya, ini lebih terkesan mencari perhatian. Rencana ketiga aku akan menghampirinya dan bertanya tentang buku yang aku butuhkan. “Duh pakai yang mana ya, gimana kalau rencana ketiga aja yang aggak logis.”, bimbangku. Aku mulai berjalan ke arah rak rak untuk mencari buku mengenai hukum pidna. Hingga pada akhirnya aku sudah ada disampingnya, detak jantung ini tak menentu keringat dingin mengalir begitu saja hingga aku memberanikan buka mulut, “Permisi mas, maaf buku mengenai hukum pidana raknya di sebelah mana ya?” ia menoleh ke arahku dengan tatapan tajamnya sembari menaikkan alisnya. Hatiku benar-benar was was, bagaimana jika ia tahu kalau aku orang yang sering ia temui di kafe itu. Ia mulai membuka mulutnya dan menjawab, “Sebentar, sepertinya aku mengenali wajahmu, oh aku ingat kamu biasanya ke kafe kopi itu kan?”, “Hehehe iya, sampai hafal ya tiap hari aku kesana. Namaku cahaya, namamu siapa?” “Oh aku awan, oiya kamu tadi nyari buku tentang hukum pidanakan, ayo tak antar ke raknya” wih tak terbayangkan aku tau nama mata tajam itu,baik juga orangnya. Prejalanan kami menuju rak itu tak begitu sunyi, obrolan ringan ku ciptkan agar aku bisa lebih tau tentangnya. Setahuku orang yang bermata tajam sulit sekali untuk ditebak jalan pikirnya. Namun disini aku punya tekat bahwa aku akan bisa menguak siapa sebenarnya sosok awan. Camkan itu.

Pagi ini berat rasanya untuk beranjak dari kasur hijau ini, badan ini ingin selalu menempel di permukaan halus itu. Namun setelah ku tengok jam yang tergantung ditembok lekas-lekas ku sambar handuk dan berlari menuju kamar mandi. Tergambar akan wajah tampannya beserta tatapan tajamnya disaat ku guyurkan air ke tubuhku, secepat mungkin ku singkirkan bayangan itu karena aku tak mau terlalu lama berkutat di kamar mandi. Kusambar begitu saja baju berwarna merah marun dan ku padukan dengan jilbab merah abuabu ku. Bergegas ku nyalakan sepeda motor dan segera meluncur ke kafe itu. Tidakkah ada tempat lain yang dapat kusinggahi selain kafe itu? Mungkin karena hanya dia yang kuperbolehkan untuk singgah dalam hatiku yang kosong ini hahaha. Setiap langkahku menuju pintu kafe tak pernah terbesit pemikiran selain tentang dia, akankah diri ini berhasil menggapai dia? Aku tak berharap lebih kepadanya, tapi rasa senang ini sudah cukup warnai hidupku. Apalagi tatapan tajam itu ketika melihat ke arahku, kaki ini seperti tak kuasa menopang tubuh yang serasa mengembung. Ketengok ke kursi pojok yang biasa tempat ia duduk, namun ….. kenapa dia tidak ada!! Kemanakah sosoknya?

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..