Sign In

Remember Me

Renungan Senja Secangkir Kopi

Renungan Senja Secangkir Kopi

Penulis : Syarifuddin Mandegar (22/02/2017). Senja menanti malam, di Warkop Banana Nugget Mamuju, saya bersama teman-teman komunitas Jalan-Jalan Ner tengah asyik berbincang-bincang lepas sembari menikmati secangkir Kopi dan alunan musik mancanegara. seperti biasanya, saat asyik bincang-bincang, saya membuka akun facebook sekedar melihat postingan-postingan status para pengguna sosmed. Pandanganku pun tertuju pada salah satu postingan dari teman dunia maya. Postingan itu berisi salah satu Riwayat “Imam Ali Zainal Abidin” yang akrab dengan julukan Imam “As-Sajjad”. (orang yang ahli sujud, semoga Allah malapangkan hati kita mengikuti risalah-risalah beliau).
Setelah membaca riwayat itu dengan seksama, saya pun terinspirasi untuk merangkai kata dalam sebuah catatan kecil ini. Dalam sebuah riwayat, Imam Sajjad mengajarkan tentang salah satau akhlak sosial, yakni kedermawanan kepada peminta-minta. Riwayat itu adalah : “Hak peminta-minta adalah memberinya sedekah, jika engkau bisa memenuhi hajatnya, dan doakan supaya kesulitannya bisa terselesaikan. bantulah dia, jika engkau meragukan kebenaran pengakuannya, maka ketahuilah bahwa keraguan itu adalah jaring syaitan yang memang menginginkanmu jauh dari Allah. perlakukan dia dengan rasa hormat dan kata-kata yang lembaut. jika hal itu engkau lakukan sambil memberinya sesuatu, maka engkau telah melakukan hal yang benar”.
Belajar dari Riwayat Sang Imam, dalam kehidupan sosial, Seringkali kita didatangi oleh peminta-minta dengan pakaian yang lusuh dan tatapan yang polos sambil menyodorkan stiker bertuliskan ayat kursi dan bismillah dengan tujuan memohon belas kasih kita atas derita materi yang selama ini mereka jalani. ada yang memberinya dengan tulus, namun tidak sedikit dari kita menyambutnya dengan prasangka-prasangka buruk terhadapnya dan menghalangi kita untuk memberi. Ironisnya, tidak sedikit permohonan belas kasihnya dibalas lontaran kata-kata yang menyakiti perasaan mereka meskipun mereka tidak tampakkan. padahal perasaan seperti itu bisa kita rasakan sendiri saat kita berada pada posisinya”.
Gambaran perilaku seperti itu telah membuyarkan kesadaran kita bahwa mereka miskin bisa jadi karena mereka tidak memiliki keahlian, mereka tidak pernah merasakan indahnya bersekolah atau bahkan karena pemangku kebijakan tidak pernah ambil peduli soal nasib mereka saat menyusun program pembangunan.
Belas kasih orang-orang kaya, distribusi kekayaan negara secara adil telah menelantarkan harapan mereka. sehingga mua tidak mau, mereka mengambil jalan pintas menjadi peminta-minta demi mempertahankan hidup dan demi keluarga yang mereka cintai. Dalam paradigma manusia bermazhab apatisme, bisa saja mengatakan bahwa menjadi peminta-peminta bukanlah satu-satunya jalan untuk mempertahankan hidup. paradigma seperti itu bisa saja dibenarkan jika kondisi sosial mampu mengeluarkan mereka dari nasibnya sebagai peminta-minta. Aku, kamu dan mereka, tidak ada yang ingin hidup dengan jalan meminta-minta. Namun orang-orang bermazhab apatisme seringkali memandang segala hal ihwal itu dengan pandangan yang nihil sehingga apa yang tampak dihadapan mereka dianggap sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan sosialnya.
Mereka tidak pernah sadar bahwa, salah satu kecenderungan tertinggi manusia adalah perasaan dan kelembutan yang muncul dari relung jiwanya yang paling dalam dan termanifestasikan dalam bentuk pelayanan serta pegabdian kepada sesamanya dalam lembaran hidupnya. Manusia bukan seperti batu yang tidak memiliki jiwa, dimana ia tidak peduli pada sesamanya. karena itu, Pengemis, satu dari sekian masalah sosial yang sering kita abaikan bahkan sering pula semangat mereka dalam mencari rejeki digelandang aparat keamanan dengan dalih mereka adalah kaum yang malas bekerja, kaum yang mengganngu keindahan kota. padahal mereka memilih jalan hidup sebagai peminta-minta boleh jadi karena tuntutan ekonomi. Satu sisi kita berdalih dengan logika apatisme tapi disisi lain, nasib peminta-minta kita sering jadikan jadikan objek perbincangan dalam setiap forum-forum ilmiah bahkan tidak sedikit dari kita yang memperoleh kentungan dari forum itu.
Nasib mereka bukan untuk dijejer diatas meja-meja diskusi lalu mengencangkan urat leher kita untuk berdebat seolah-olah kita begitu prihatin terhadap nasib mereka dan setelah itu kita tidur pulas hingga matahari terbenan. dan bukan pula objek kampanye saat musim pilkada tiba. Namun kemiskinan adalah realita yang setiap saat menanti wujud sejuta kata-kata manis yang tumpah ruah forum-forum ilmiah atau diatas panggung kampanye. Peminta-minta memiliki hak atas harta yang kita miliki, karena itu, tunaikanlah hak itu sebab menunaikannya adalah cerminan dari kodrat kita sebagai makhluk sosial. yakni makhluk yang tidak sekedar menjalani hidup tanpa memiliki keterikatan dengan orang lain. Saat kita melegalkan sifat individualistik saat itu pula kita telah menciptakan penjara-penjara sosial pada diri kita sendiri. Diakhir tulisan ini saya mengutip salah satu risalah dari Imam Ali, semoga ini menjadi bahan renungan kita semua : “Aku heran dengan orang yang pelit. Dia memilih kemiskinan yang ia telah lari darinya. Dan dia kehilangan kekayaan yang selalu ia cari. Lalu ia hidup di dunia dengan kehidupan orang-orang faqir dan dihisab di akhirat dengan hisabnya orang-orang kaya.” (Imam Ali bin Abi tholib as)
—–Wassalam—-


Leave a Reply