Sign In

Remember Me

AKU DAN PEREMPUAN

AKU DAN PEREMPUAN

Buat seorang perempuan yang pernah membawa sekantung roti srikaya dan sebuah koran lokal edisi pagi saat aku terbaring lemah di rumah sakit karena demam tipus.

Apa kabarmu hari ini?

Ku harap Tuhan selalu menyempurnakan kesehatanmu.

Buat kamu, ya kamu yang memberiku sebuah sapu tangan ketika aku muntah karena pengaruh obat yang luar biasa pahit.

Semoga kau menemukan orang yang lebih baik dari aku, ya.

Kau ingat, bagaimana kau menjaga tetesan-tetesan terakhir cairan di botol infusku.

Padahal saat itu aku masih terjaga,

Namun aku tak tega melarangmu melakukan itu untukku.

Kenapa kau melakukan semua itu? Tentulah aku tahu jawabnya.

Engkau mengompres dahiku dan memijat ujung kakiku.

Penuh cinta, padahal engkau tahu engkau bukan kekasihku.

Kau menyampaikan doa ‘semoga lekas sembuh’ dari keluarga dan orang-orang terdekatmu padaku.

Aku mengangguk dan sumringah.

Kau bertanya, “Ada apa?”

Jawab hatiku, “Kau tahu,  laki-laki itu mengharamkan dirinya menangis karena sebuah penyakit, tapi tidak untuk sebuah perasaan”.

Perasaan yang disadarinya harus terus ditertibkan untuk menjaga perasaan rentan seorang perempuan, yaitu perasaanmu.

agar kau tak terluka untuk kesekian kalinya,

agar kau tak menutup diri dari laki-laki lagi yang entah untuk ke berapa kalinya,

dan pastinya aku tak mau kau membenciku perkara itu.

Apakah aku harus kau miliki?

Buatmu di sana, Sampaikan salam hormatku pada opung dan ibumu. Serta peluk hangatku buat orang-orang terdekatmu yang telah berusaha keras menyatukan kita dalam cinta.”

Katakan pada mereka bahwa aku merindukan tatapan hangat mereka semua.  

Aku tahu,  mereka menyukaiku karena kau.

Aku juga tahu, mereka menyambutku dengan ruang-ruang yang telah mereka tata rapih juga karena kau.

Sebab hatimu sudah sering terluka oleh laki-laki yang mereka pilihkan.

Dan untuk menebus semua itu mereka membiarkanmu memilih.

Kau pun memilih aku.

“Kenapa?”

Kau balas bertanya, “Apa aku salah memilihmu?”

Oh, Perempuan yang telah jatuh hati padaku.

Ampunilah aku seperti seorang ibu yang mengampuni kenakalan putranya.

Maafkanlah sikap tulusku yang telah merebut hatimu padahal aku tak berniat begitu.

Sesungguhnya aku sangat menyumpah serapahi diriku,

Karena tak bisa membalas kasih yang kau beri.

Apakah aku harus kau miliki?

Apakah persaudaraan yang utuh aku tawarkan tidak mampu menggantikannya?

Oh, perempuan yang telah menjadikanku kisah pada setiap halaman di buku hariannya.

Berilah kadar perhatianmu sekenanya saja padaku,

percayalah ada orang lain yang pasti lebih pantas untukmu dibanding aku.

Aku akan mendoakanmu bagaimana seorang anak yang saleh mendoakan kebaikan untuk ibu dan ayahnya.

Ku mohon, janganlah berharap lebih.

Ku mohon ikatlah aku dengan seutas tali persaudaraan yang telah ada,

dan kita akan saling mengayomi dan menjaga.

Terimakasihku atas ucapan-ucapan selamat yang kau kirim ke emailku.

Terimakasihku karena masih tetap mengingat tanggal kelahiranku.

Ku harap kita terus berkirim berita,

Ku harap kau terus menjadikanku bahagian dari keluarga besarmu.

Mungkin aku tak bisa melihat apa yang kau lihat,
tapi rasaku bisa merasa apa yang kau rasa.
Mungkin aku tak bisa menafsirkan apa yang  kau pendam,
tapi batinku bisa membaca apa yang kau siratkan.
Mungkin kau berpikir diamku bukanlah sebuah jawaban.
Mungkin juga kau berpikir diamku bukanlah sebuah tindakan.
Oh, Perempuan yang kini menutup segala akses untukku.

Dengan segala kerendahan hati dan permohonan yang mendalam, “Maafkanlah aku!”

Kau tahu, laki-laki sepertiku tidak pernah benar-benar berlari.

Aku hanya mencoba menenteramkan hubungan kita.

Sedari dulu dan sampai detik dimana kau berjejak menjauh.

Saat menulis ini, aku sedang duduk termenung di samping jendela sebuah mesin bersayap yang membawaku terbang tinggi di atas permukaan laut.

Aku terbang ke Bandung, sejenak menyejukkan hati dengan cuaca yang kini tak lagi tertebak. Kau tahu apa yang sedang aku pikirkan?

Aku tak mau kau terluka meskipun aku tahu akhirnya kau menangis dan semua orang yang mengasihimu kecewa.

Prihatin padamu, dan tak mengerti alur pikiranku.

dan aku yang telah berkata jujur justru dianggap yang paling bersalah.

 

Leave a Reply