Sign In

Remember Me

CAPUNG MERAH (Part 1)

CAPUNG MERAH (Part 1)

Banyak sekali perubahan yang Titi rasakan pada Winny. Dulu, Winny mesti berkali-kali disuruh mandi baru bergegas mandi. Itu pun karena habis diomeli. Mandinya pun asal. Air banyak terbuang. Sabun, shampo, dan odol tergelatak berserakan di atas lantai. Sementara leher, daun telinga, punggung, ketiak, pergelangan tangan, dan lipatan kakinya masih menyisakan daki. Namun sekarang ini, dunia kecil Winny seakan berputar ke belahan bumi yang lebih baik. Omelan dari mulut Titi tak pernah meluncur lagi hanya untuk menyuruhnya mandi. Winny sudah tahu tugasnya sendiri. Dia bahkan rajin sekali mandi. Pantang sedikit saja tubuhnya bau matahari, dia pun langsung bergegas mandi. Dia juga menggosok seluruh badannya hingga bersih. Dia bahkan tak pernah lagi menolak setiap kali Titi mengeramas, menyisir, dan memberi vitamin pada rambutnya. Malah, belakangan ini Titi sempat dibuatnya repot. Winny tak jarang memintanya untuk mengepang rambutnya. Mulai dari kepang satu, kepang dua, bahkan sampai beberapa kepang yang kemudian dikepang menjadi satu kepangan. 

            Waktu Winny masih centil-centilnya, dia sering mengendap-endap masuk ke kamar Titi. Winny mengamati semua perlengkapan rias Titi dengan sorot mata penasaran. Namun dia tak pernah berani sekalipun memakainya.

            “Kau masih terlalu kecil, Sayang” kata Titi suatu kali saat Winny serius memperhatikannya memakai lipstick. Titi melaga-lagakan kedua bibirnya agar pewarna bibir yang dia oles tipis itu merata.

            Winny menelan ludah. Sinar matanya yang cantik berbinar seperti tak sabar ingin segera cepat dewasa agar pewarna bibir itu bisa memerahi bibirnya.

            “Aku pasti secantik bunda nanti” gumamnya dalam hati.

            “Ya?”

            “Bunda cantik” lontarnya kagum.

            Titi tersenyum dan langsung mencium pipinya. Winny mendekatkan wajahnya ke kaca rias dan tersenyum geli melihat cap bibir berwarna merah menempel di pipi kirinya.

            “Kecantikan itu bukan apa-apa.” Titi menepuk-nepuk bibirnya dengan ujung jari tengahnya. “Bila kau dewasa nanti, kau pasti akan mengerti.”

            “Cinderella, Snow White, Pochahontas, dan Barbie semuanya cantik. Bunda. Mereka terkenal dan disukai anak-anak perempuan di seluruh dunia.”

            Titi mengoleskan blush on di tulang pipinya.

            “Mereka terkenal bukan karena kecantikan mereka. Tapi karena kebaikan dan ketulusan hati mereka. Dan anak perempuan mana sih di dunia ini yang nggak suka dengan teman-teman negeri dongengmu yang berhati mulia itu?”

            “Bunda, Winny pengen deh jadi kupu-kupu. Sayap-sayapnya indah.” Winny mengepak-ngepakkan kedua tangannya ke udara dengan gemulai. “Winny bisa terbang mengitari taman. Ke sana ke mari tanpa letih” lantas dia pun berputar-putar di belakang Titi bagai seorang penari balet cilik, “hinggap di bunga-bunga yang cantik. Mencium wangi kelopaknya. Menghisap sarinya dan berayun-ayun di tangkainya.”

            Titi memandang ulah lucu Winny lewat kaca riasnya. Senyumnya merekah bahagia sekaligus bangga. Bahagia karena Winny begitu mengalir; berimajinasi, dan beremosi cerdas. Bangga karena di usianya yang masih sangat dini, dia telah menguasai begitu banyak kosa kata.

            “Bunda, enakan mana ya? Jadi peri kupu-kupu atau jadi peri bersayap burung kayak malaikat?” Winny menghentikan putaran lalu merayap mendekati Titi. Kemudian dengan polosnya dia bertopang dagu di tepi meja rias yang setinggi pusarnya.

            “Winny lebih suka yang mana?” Titi melengkungkan bulu matanya dengan sebuah pelentik bulu mata.

            “Yang mana, ya?” Winny berpikir-pikir sesaat, “Winny sih suka kedua-duanya.”

            Titi tidak terlalu ambil peduli karena tak lama lagi Winny pasti ingin jadi yang lain. Jadi Timun Mas yang berjuang melawan kejahatan Sang Raksasalah, jadi Si Bawang Putih yang terbebas dari kedengkian Si Bawang Merah dan ibu tirinyalah; bahkan dia pernah ingin jadi Tarzan yang bisa berayun dan melompat dari satu tali pohon ke tali pohon lainnya untuk mengawasi hewan-hewan di hutan dari serangan para pemburu.

 

                                                                       ***

            “Winny! Winny!” Sayup-sayup terdengar panggilan dari luar.

            Sentak dada Winny tegak. Kedua matanya membeliak. Lantas dia pun melap mulutnya dengan serbet lalu beranjak dari kursi makan dan berlari ke jendela untuk memastikan pemilik suara di pekarangan yang sebenarnya sudah sangat dia kenali.

Titi yang sedang menumpukkan piring-piring kotor mengerutkan bibirnya faham.

            “Bunda, Opung, Winny… .”

            “Mmm, katanya mau nemani bunda belanja.”

            “Tapi, Bunda. Winny udah terlanjur janji ama, Ari.”

            “Trus, siapa yang mau bantu Opung bersihkan kolam koi?” sabet Irfan yang masih fokus dengan surat kabar di tangannya.

            “Opung, membersihkan kolamnya nggak harus pagi ini kan? Kek mana kalau sepulang Winny main aja? Soalnya Winny nggak enak ama Ari kalau…”

            “Janji apa, sih?” Titi penasaran.

            Winny tersenyum-senyum menyembunyikan sesuatu.

“Ya, udah. Tapi jangan lama-lama.” Irfan mengingatkan, “pulang tepat waktu dan temani opung makan siang. Sekalian ajak temanmu yang nakal itu makan siang di rumah.”

“Siap, Boss!” jawab Winny senang, “mmm, Bunda nggak makan siang di rumah ama kita?” Sepasang mata cantik Winny merekah penuh tanya.

“Siang ini bunda mau pergi ke undangan.”

“Jadi?” Winny kesal.

“Adek perempuan Tante Nur, teman sekantor ama bunda itu menikah. Resepsinya hari ini. Jadi bunda nggak mungkin nggak datang. Udah bunda nggak bisa bantu-bantu, masak datang juga nggak bisa.”

“Bunda kan jarang makan siang sama kita?” Kulit wajah Winny berubah cemberut.

 “Winny, sayang. Bunda …”

Tapi Winny telah berlari keluar ruang makan dengan perasaan kecewa.

            Titi hanya bisa menarik napas memperhatikan tubuh mungil Winny melesat bak seekor anak menjangan yang kabur dari intaian seekor singa.

“Ti, kayaknya kau harus mencari seseorang untuk bantu-bantu pekerjaan di rumah” kata Irfan tanpa ekspresi. Lelaki beruban yang berwajah tirus itu tak lepas membaca sebuah artikel di sebuah surat kabar di tangannya.

“Udah, Yah. Aku malah udah masang iklan di radio. Tapi, sampai sekarang belum ada juga yang datang.”

“Kenapa kau nggak tanya Mak Bibah saja? Siapa tahu dia punya kenalan.”

“Mak Bibah? Ya, ampun. Kenapa aku nggak teringat sama sekali ama Si Mak, ya?” Titi terbodoh sekejap lantas berlari ke ruang keluarga dengan mimik muka senang.

Irfan melipat surat kabarnya lantas meneguk kopi hangat dari cangkirnya. Dia tampak begitu menikmati aroma dan rasa kopi itu hingga kedua matanya terpejam sekejap.

“Halo, bisa bicara dengan Mak Habibah” sapa Titi lewat telepon.

 

***     

            “Akhirnya aku berhasil juga membikin alat penangkap capung ini. Nih, untukmu!” Ari menyerahkan sebuah ranting pohon yang ujungnya diberi kantung plastik putih besar yang telah diikatkan dengan dua buah karet gelang.

            “Wah, mantap!”

            “Aku kan sudah bilang. Kau jangan pernah layas samaku.”

            Winny mengamati alat penangkap capung itu dengan binar mata kagum. “Aku rasa aku nggak pernah layas samamu.”

            “Ya, bagus kalo kek gitu!”

            Winny seperti belum puas mengamati alat penangkap capung itu.

            “Ayo, cepat! Kau bilang kan kau udah nggak sabar mau menangkap capung. Jam-jam segini pasti banyak capung beterbangan di lapangan sana. Ingat ya, Ny. Jangan pernah menangkap capung yang berbadan merah!”

            “Kau selalu melarang aku menangkapnya. Kenapa?” Winny meliriknya tajam. “Kenapa sih aku selalu tak boleh melakukan apa yang kau lakukan?”

            “Karena kau anak perempuan dan aku anak laki-laki.”

            “Jadi maksudmu, menangkap capung merah itu hanya boleh dilakukan oleh anak laki-laki?”

            Ari terdiam. Dia merapikan posisi tali teropong yang menggantung di lehernya.

            “Kenapa kau tak menjawab?” Winny berlari-lari kecil menyamai posisi, “aku pernah nengok kau menyiram tanaman,  kenapa kau melakukannya? Itu kan tugas perempuan?”

            “O, itu.” Ari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Sudah! Sudah!” Dia jadi bingung sendiri.

            “Kau selalu kek gitu. Tak pernah tuntas menjawab pertanyaanku.”

            “Pertanyaan yang mana?”

            “Masih pertanyaan yang sama, Ari?”

            “Bukannya sedari tadi kau tak henti-hentinya bertanya?”

            “Kau membalas pertanyaanku dengan pertanyaanmu, Ari.”

            “Agh, sudah lupakan.”

            “Bilang saja kalau kau tak bisa menjawabnya.”

            Sinar matahari mulai naik dan menyilaukan pandangan. Sesaat keduanya terdiam melewati jalanan setapak bertanah merah. Wajah tanah merah itu bergelutur ditancapi batu-batu kecil yang lumayan tajam.

            “Wah, dengan alat ini aku pasti bisa juga menangkap banyak lalat.” 

            “Lalat itu kotor, tau! Jumlahnya bisa ratusan. Seekor saja dari orang itu bisa menyebarkan bibit penyakit untuk membuat warga satu kampung mencret. Kau bisa langsung sakit perut bila memakan makanan yang hanya dilintasinya saja.”

            “Masak, sih? Kombur mu itu?” Winny tak percaya, “Si Kumis tidak pernah sakit perut setiap kali dia makan sisa makanan dari tong sampah. Semua lalat-lalat di situ langsung terbang menjauh setiap kali dia datang.”

            “Dia itu berkaki empat, Winny. Sama kotornya dengan lalat. Beda denganmu.”

            “Kambing betina Wak Sakti juga berkaki empat. Dia kotor, tapi dia nggak menyebarkan penyakit. Buktinya, aku sering meminum susunya.”

            Ari langsung melirik Winny dengan riak mata peduli, “apa asthmamu masih sering kambuh?”

            “Kadang-kadang. Biasanya kalau aku terlalu kelelahan atau kedinginan.”

            “Kenapa bunda dan opung mu nggak melarangmu bermain seharian denganku?”

            “Karena mereka menyukaimu. Itu pun karena aku bilang kalau kau anak yang baik. Kenapa? Kau keberatan kalau aku ….”

            “Nggak! Nggak apa-apa.” Wajah Ari beruam merah.

            “Mmm, aku tahu sekarang.” Winny menghampirinya dengan mimik muka manja. “Kau cemas kalau nantinya asthmaku kumat, kan? Ya, aku sih …. .”

            “Jangan sok merasa diperhatikan! Aku hanya tak mau saja kau merepotkan.”

            Winny terdiam dan menatap Ari kesal.

            “Kenapa sih hari ini kau begitu menyebalkan?”

            Ari pura-pura tak mendengar.

            “Tingkahmu itu membuat aku tak berminat lagi menangkap capung.”

            Langkah Ari terhenti. Dia membalikkan tubuh dan menatap Winny yang langsung buang muka tak mau melihatnya.

            “Winny, ayolah! Kita sudah berjalan sejauh ini. Apa kau mau kita balik pulang? Aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati.”

            Ari mendaki sebuah bukit kecil. Menaiki sebuah batu sebesar toilet duduk, lantas berhenti mengamati padang ilalang yang mau mereka tuju. Dia membentangkan tapak tangan kanannya di keningnya sesaat lalu mengambil teropong di lehernya dan mengawasi situasi sebuah padang ilalang di bawah bukit.

            “Kalau kita terlambat, percuma. Capung-capung itu …. .” Dia terdiam sesaat lalu sorot matanya memancar riang.

            “Ny, sini! Cepat! Cak lah kau tengok! Capung-capung itu sedang terbang berkeliaran di sana.”

            “O, yeach!” Winny menggoyangkan pinggulnya sebal dan acuh. Semua bentuk kecemberutan anak perempuan seusianya berkumpul di wajahnya.

            “Ya, ampun Ny. Banyaknya! Kita harus segera ke sana.” Ari turun dari batu besar itu dengan hati-hati. “Ayo, ulurkan tanganmu!”

            “Penoko!”

            “Penoko apanya? Kau tengok dulu, sini!”

            Winny masih kesal dan gengsi.

            “Kau tak kan percaya sebelum kau menengoknya, Winny.”

            Winny mulai penasaran. “Betul, kan?”

            “Aih mak jang! Payah kalilah kau dibilangin, ya.”

            Masih dengan wajah ditekuk Winny menjejakkan langkahnya yang berat perlahan-lahan. Dia mendaki tanjakan tajam itu dan membiarkan Ari menarik tangannya sampai ke atas. Ari pun membantunya berdiri di atas batu. Lalu dia melepaskan teropong dari lehernya dan menyerahkan teropong itu pada Winny. Kedua mata Winny langsung menyipit memandangi sebuah tempat yang Ari arahkan dengan jari telunjuknya itu.

            “Nampak?”

            Wajah cemberut Winny perlahan-lahan merekah bak sekuntum bunga.

            “Kek mana?” Ari masih menahan keseimbangan tubuh Winny dengan kedua tangannya.

            Tiba-tiba Winny tergelak riang. Ari senang bercampur heran.

            “Wah! Aku udah nggak sabar mau menangkapnya.” Winny turun perlahan.

            “Aku heran. Kenapa sih anak-anak perempuan itu suka merajuk?”

            “Aku juga heran. Kenapa sih anak-anak laki-laki itu suka membuat anak-anak perempuan merajuk?”

            “Aku rasa aku nggak kek gitu.”

            “Tapi hari ini kau kek gitu.”

            Ari terdiam sesaat. Tiupan angin mengibas anak-anak rambut mereka yang mulai kering terkena keringat.

            “O, ya. Aku mau menjawab pertanyaanmu.”

            “Pertanyaan yang mana, nih? Bukannya aku nggak bertanya apa-apa lagi?”

            “Ya, udah. Kalau kek gitu anggap aja aku memberi tau mu.”

            “Tentang apa?”

            “Tentang capung merah itu.”

            Winny meliriknya tajam. Dari cara Ari mengucapkan tentang capung merah itu, dia menangkap adanya ketidak beresan.

            “Kau tau kalau capung merah itu berbahaya.”

            “Berbahaya? Seperti apa bahayanya?”

            “Aku bilang berbahaya ya berbahaya.”

            “Kenapa kau memberi tau aku setengah-setengah? Kalau itu berbahaya amaku berarti itu berbahaya amamu juga, kan?”

            “Pokoknya kau harus hati-hati. Capung merah itu beda dengan capung hijau?”

            “Apa bedanya?”

            “Kalau kau maksa ingin menangkapnya, terserah! Yang pasti aku udah memperingatkanmu. Kalau ada apa-apa denganmu, aku tak mau tau.” Ari meninggalkannya.

            Wajah Winny kecut. “Aku tau kau sengaja menakut-nakuti aku.”

            “Terserah!”

            Winny tak berani melangkah. Ari terhenti, lalu berbalik menghadapnya.

            “Kau pikir kau bisa menangkap capung hanya dengan berdiri di situ?”

            Winny menggeram marah. Dia pun membuntuti Ari menuruni bukit kecil berbatu. Keduanya mengendap-endap bagai ekspeditor. Mereka menyelinap masuk ke rimbunan semak dan mencium bau ilalang yang setinggi lutut. Kaki-kaki mereka yang mungil tergesek tepi daunnya yang tajam.

            Padang ilalang itu luas sekali. Berada di kawasan Aek Serandah yang berbukit, Rantauprapat. Di situ juga banyak tumbuh pohon-pohon dan bunga-bunga liar. Tepat di tengah padang ilalang itu, di dataran yang paling rendah, terdapat sebuah kolam. Nah, di atas kolam itulah kawanan capung-capung itu sering berputar-putar bagai helikopter-helikopter mini. Mereka juga meletakkan telur-telur mereka di tanaman air yang tumbuh di situ. Padang ilalang itu tidak hanya mengundang capung dan kupu-kupu, tapi juga persinggahan serangga-serangga lain seperti kumbang; tawon; lebah yang membuat sarang di batang pohon;  burung-burung dan semut-semut. Binatang-binatang melata seperti kadal, biawak bahkan ular juga tak jarang terlihat melintas gesit di balik semak. Mereka memburu mangsa, mencari pasangan, kawin, dan bertelur di lubang-lubang tanah. Ada yang di balik batu, di balik akar-akar pohon, dan di bawah timbunan semak.

            “Ssstt…..!” Ari menegakkan jari telunjuknya di bibirnya. Winny menahan napas. Seekor capung army sedang bertengger di atas sebuah rumput liar rendah di tepi kolam. Ari mengangkat alat penangkap capung di tangannya dengan perlahan-lahan, lalu menurunkannya sedikit demi sedikit. Hidung Winny berkeringat. Dagunya yang lancip manis tetap menggemaskan meski pun dengan posisi tegang.

            “Saaaaap! Dapat kau!”

            Winny melompat riang.

            Capung itu mengepak-ngepakkan sayap-sayapnya berusaha meloloskan diri. Dia telah terkurung dalam kantung plastik alat penangkap capung itu. Ari menahan ujung-ujung kantung itu hingga menyentuh tanah, lalu mengangkat sedikit sisi kantung plastik itu. Merogohkan jarinya dari bawah dan mengapit sayap-sayap capung itu. Capung itu benar-benar telah terlumpuhkan.

            “Cepat! Ambil kantung plastik dari saku belakang celanaku!”

            Dengan gesit Winny bertindak.

            “Buka lebar-lebar!”

            Winny mengangakan mulut kantung besar itu. Ari langsung memasukkan capung hijau tangkapannya. Winny menutup mulut kantung itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya, kemudian meniupnya. Perlahan-lahan kantung plastik besar itu terisi udara. Capung itu mengepakkan-ngepakkan sayapnya dan bertengger di dinding kantung plastik yang memenjarakannya.

            “Apa capung itu bisa bernapas lama di dalam?” Winny mengamati kepala bulat dan bentangan sayap-sayap capung itu.

            “Dia bisa bertahan bahkan sampai kita sampe di rumah.”

            “Capung adalah seekor serangga. Setahuku serangga berumur pendek.”

            “Kau tau, capung itu adalah penerbang yang tangguh. Dia tidak selemah kupu-kupu yang kau kagumi-kagumi itu.”

            “Apa aku salah kalau aku mengagumi kupu-kupu? Sayap-sayapnya kan cantik. Cara dia terbang pun lebih sopan. Tidak seperti capung yang kasar dan sok jagoan.”

            “Tapi kenapa kau jijik dan takut pada ulat? Padahal kupu-kupu kan asalnya dari ulat juga.”

            “Kurasa kau salah menilai maksudku. Aku mengagumi kupu-kupu dewasa karena kecantikan dan kebaikannya menyerbuki bunga-bunga, Ari. Bukan mengagumi seekor ulat yang tak berdaya.”

            Keduanya berjalan mengitari kolam. Setiap kali Ari mendekati capung yang bertengger di dedaunan keladi liar di tepi kolam, capung itu langsung terbang menjauh.

            “Bagaimana dengan ngengat? Apa kau menyukainya? Ngengat kan sejenis kupu-kupu juga. Apa karena ngengat memiliki sayap-sayap yang kusam? Makanya …. “

            “Ari!” jerit Winny tiba-tiba.

            Ari tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Beberapa ekor capung merah sedang berputar-putar di tepi kolam. Dia melihat bagaimana Winny menyingkir mundur seperti melihat seekor ular berbisa. Alat penangkap capung yang tergantung di tangan kiri Winny terjatuh begitu saja.

            “Ari! Jangan diam saja!” Winny panik tatkala capung-capung merah itu terbang dan berkisar-kisar di depan mereka. Winny histeris sambil memukul-mukulkan kantung plastik itu ke arah capung-capung merah itu.

            “Enggak apa-apa, Winny. Mereka nggak akan menyerang.”

            Tapi Winny telah bersembunyi di balik punggung Ari dengan wajah pucat dan bibir gemetar. Melihat kondisinya yang lemah, Ari pun mengambil tindakan. Dia berteriak-teriak ke arah capung itu dengan marah sembari melayang-layangkan alat penangkap capungnya ke udara.

            Winny melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Kantung plastik berisi capung di genggamannya terbang-terbang tertiup angin. Capung army di dalamnya terguncang-guncang sesaat, lalu merekatkan kaki-kakinya ke atap kantung.

            Cuaca semakin terik. Matahari turun merendah.

            “Jangan jauh-jauh! Kau harus tetap berada di dekatku!” Ari mulai ngos-ngosan.

            Bibir Winny semakin bergetar hebat.

            “Aku lupa ngasih tau kau kalau capung merah i…tu…. .” Tiba-tiba, Ari merasa kepalanya pusing. Langit berputar. Bumi bergetar. Keringat di dahinya mengucur deras. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang dan selanjutnya gelap.

            Ari terjatuh tepat di tepi kolam. Tubuhnya kejang-kejang, matanya melotot seperti hendak meloncat keluar, lehernya tercekik-cekik kehabisan napas. Perlahan-lahan, gumpalan busa-busa putih keluar dari mulutnya.

            Winny menjerit. Kantung plastik di genggamannya terlepas. Capung army yang ada di situ dengan gesit meloloskan diri dan terbang melesat. Winny berteriak-teriak memanggil Ari. Wajahnya sangat ketakutan.

            Seekor capung merah bertubuh besar mendarat perkasa di punggung tangan Ari. Ari tak bergerak. Sinar mata Winny merah terbakar mengamati gerak-gerik capung itu. Keringat mengucur di pelipisnya.

            “A…ri!” desisnya perih tak berani berbuat apa-apa. Dagunya bergetar hebat dan air matanya menetes tak tertahankan. Capung merah yang bertengger di punggung tangan Ari sesaat terbang merendah lalu kembali mendarat di landasan yang sama. Prilakunya seperti seekor predator yang sedang mempertahankan hasil buruannya.

            Winny menghapus air matanya, lalu bergerak mundur, perlahan-lahan dan kemudian berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli lagi dengan segala rintangan yang ada di depannya. Tak peduli kalau kedua alas kakinya sudah terlepas di bongkahan akar pohon kayu yang besar. Dia berlari dan terus saja berlari tanpa henti. Menerobos padang ilalang yang tinggi; menerjang terik matahari yang senakin garang membakar; menerobos tanjakan berbatu yang tajam, menyibak debu lapangan bertanah merah yang gersang; dan melawan arah mata angin yang angkuh menerpa rambut panjangnya. Winny berlari dan tetap berlari mencari bantuan dengan wajah bersimbah air mata. 

To be Continued

Daftar Kata:

Opung       : Sebuta kakek atau nenek dalam Bahasa Daerah di Tanah Sumatera Utara,

Layas        : Anggap remeh

Nengok     : Lihat

Orang itu  : Gaya bahasa ini lazim digunakan oleh masyarakat Kabupaten Labuhanbatu, khususnya 

                      warga kota sawit Rantauprapat untuk kata ganti jamak/sekelompok makhluk hidup yaitu

                      manusia ataupun hewan. Lucu juga sih, masak hewan dibilang orang. Tapi ya begitulah                      

                      faktanya di lapangan. Hehehe…kayak penelitian. 

Kombur    : Omong besar, banyak cakap yang belum tentu kebenarannya.

Penoko     : Penipu, pembohong

Aih Mak Jang!  : Ungkapan seperti alamak, rada kecewa atas perkataan atau sikap orang lain

Merajuk   : Sebel, kesal karena kemauan hati tak dituruti

Leave a Reply