Sign In

Remember Me

CAPUNG MERAH (Part 2)

CAPUNG MERAH (Part 2)

Irfan tampak sedang sibuk mondar-mandir di ruang makan. Dia menata meja makan; menaruh piring-piring dan mangkuk-mangkuk yang berisi lauk-pauk dengan rapih di atasnya. Sesekali dia memandang ke luar lewat jendela kaca transfaran dapur yang berukuran besar. Tubuh nan lincah yang sedang dia tunggu-tunggu belum menampakkan batang hidungnya. Pekarangan tampak kosong dan jalanan yang belum beraspal tampak sepi. Jangankan kendaraan, seekor sapi pun tak ada yang melintas. Biasanya di waktu Dzuhur begini, Winny sudah duduk di depan meja makan dengan wajah segar dan tubuh wangi sehabis mandi. Irfan akan menyendokkan nasi ke dalam piringnya sambil mendengarkan cerita-ceritanya hari itu. Dari cerita teman-teman sekolahnya, guru favoritnya, sampai petualangan-petualangan serunya dengan sahabat terdekatnya, Ari. Seminggu yang lalu dia bercerita tentang pengalamannya membantu Nek Sum memanen jagung, lalu berlanjut dengan kelucuannya menceritakan seekor belalang sembah yang mereka temukan di lantai pondok, dan diakhiri dengan betapa bersemangatnya dia mengusir burung-burung hama dengan menggerak-gerakkan tali orang-orangan sawah. Dan hari ini? Entah apa lagi yang akan dia ceritakan. Irfan akan selalu penuh perhatian mendengarnya.

            Jam dinding telah menunjukkan pukul 12.55. Irfan mulai gelisah. Dia menghela panjang dan berjalan lagi ke arah jendela. Suasana di luar masih sunyi. Namun tiba-tiba dia terperanjat kaget. Tepat di depan pagar taman yang sudah setengah terbuka, sesosok tubuh bocah perempuan yang sangat dia kenal telah terkapar di tanah.

                                                                                                             ***

            Busa-busa putih di sudut bibir Ari telah mengering dan menyisakan kerak seperti bedak tabur tipis yang merebak lengkung hingga ke tebing pipinya. Keringat di lehernya telah berubah menjadi lipatan-lipatan daki. Lipatan-lipatan daki itu terlihat jelas di parit-parit tipis kulit lehernya yang tak lagi putih, melainkan telah meruam merah seperti ruam merah wajahnya yang tertimpa langsung laser panas Sang Terik. Sang Terik yang penyengat itu pun belum jua mampu menyadarkan Ari.

                                                                                                 ***

            “Saluran pernapasannya mulai stabil” kata dr. Kemal sembari mengemas tas kerjanya, “tapi dia belum benar-benar pulih. Biarkan dia beristirahat untuk beberapa hari di rumah. Jangan perbolehkan dia melakukan kegiatan yang melelahkan untuk sementara waktu.”

            Irfan mengangguk. Titi bernapas lega.

            “Ada perokok di rumah?”

            Titi menggeleng. Irfan memandangi wajah cucunya iba.

            Alat bantu pernapasan terpasang di hidung Winny. Dengih napasnya masih terdengar sempit dan menyakitkan.

            “Syukurlah kalau begitu. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi saya.”

            “Terima kasih, dokter” kata Titi sembari mengelus-elus tangan Winny.

            Irfan bangkit dari kursi dan mengantar dr. Kemal ke luar kamar.

            Titi memandangi wajah Winny yang telah tersesat dalam mimpi-mimpi tidurnya.

Jalan-jalan kecil di sudut-sudut kampung masih tampak lengang. Seorang gadis kampung membuka jendela kayu kamar tidurnya yang tak berjerjak dengan tirai terbuka. Pipi-pipinya yang merah langsung dikecup-kecup mesra angin kemarau yang genit. Sepasang matanya yang tadinya masih setengah mengantuk sehabis tidur siang sontak berbinar damai. Dia tersenyum malu lalu berlari-lari kecil memasuki dapur. Tak lama, asap-asap kayu bakar dari dapur beratap nipah perlahan-lahan melesat keluar melewati celah-celah dinding bambu yang agak goyah. Seiring dengan itu, dendang kasmaran dengan cengkok Melayu yang kental sayup-sayup terdengar begitu memanjakan alam.

Kalaulah kaca menjadi intan

Teranglah malam, emm…

Di tangan kenangan.

Kalaulah bulan jatuh ke riba

Kiamatlah insan, emm…

Di alam dunia.

Sudah ku tenung dan ku pandang

Makin ku renung makin sayang

Siang dan malam kau terbayang

Di dalam mimpi terkenang-kenang…

 Senja di langit Kampung Aek Serandah sudah memerah, Sekawanan sapi yang sedang digiring oleh seorang lelaki berbadan ringkih terdengar mendenguh-denguh menyusuri jalan lintas dari padang rumput menuju kampung.  Seekor anak sapi yang lasak memiliki sebuah lonceng di lehernya. Lonceng itu akan berbunyi setiap kali anak sapi itu meloncat dan berlari. Setelah lelah bermain dan kenyang merumput, anak sapi itu seperti menari-nari senang kembali pulang ke kandang.

“Assalamu alaikum, Wak Sakti!” sapa lelaki berbadan ringkih itu pada seorang lelaki tua berpeci miring. Sekawanan ternak sapi miliknya melintasi areal kandang kambing yang senyap seperti tak berpenghuni.

“Wa alaikum salam” jawab Wak Sakti datar tanpa menoleh orang yang baru saja mendoakan keselamatannya. Dia terlalu serius mengamati seekor kambing betina miliknya. Kambing betina yang telah bunting tua itu akan segera melahirkan. Kambing betina itu sedang berada di ambang maut. Dia khawatir sekali menunggu detik-detik persalinannya.

            Kambing betina itu mulai mengembek-embek di dalam kandangnya. Perutnya besar sekali. Gerak-geriknya gelisah dan uring-uringan. Dia menggaruk-garukkan kaki depannya ke tanah. Sorot matanya ricuh dan takut. Alat kelaminnya memerah dan berlendir. Sebentar dia menoleh ke arah pinggulnya yang mencekung, sebentar kemudian dia mengangkat ekornya seperti ingin menyeruduk. Lalu dia kelelahan dan berbaring. Puting-putingnya membengkak terisi susu. Tak lama kemudian terlihat sesuatu seperti balon berisi air perlahan-lahan keluar dari lubang kelaminnya. Begitu balon berisi air ketuban itu keluar dan pecah, tampaklah sepasang kaki mungil bayi kambing itu menjendul keluar lalu disertai kepalanya. Induk kambing itu terus merejan sambil mendorong urat daging perutnya sekuat dia bisa. Separuh dari badan bayinya telah kelihatan. Bayi kambing itu sendiri juga sedang berusaha mencari jalan keluar.

            Wak Sakti takjub melihat perjuangan induk kambing dan bayinya itu. Napasnya tertahan. Dia takut induk kambing itu kehabisan cairan dan tenaga. Dalam hitungan menit yang singkat, rasa takutnya tadi berubah menjadi sukacita. Bayi kambing itu keluar dengan selamat. Sang induk membersihkan tubuh bayinya dengan lidahnya. Bayi kambing itu bergerak dan bernafas dengan normal. Induk kambing itu terus menjilat-jilat cairan yang melekat di tubuh bayinya hingga mengering. Bayi kambing yang gemuk dan sehat itu mencoba untuk berdiri. Dia masih terlihat gugup dengan sekitarnya.

            Wak Sakti iba saat melihat bayi kambing itu jatuh. Dia ingin menolongnya tapi dia mencoba menahan diri. Bayi kambing itu berusaha berdiri lagi. Wak Sakti tak berkedip menatapnya. Dengan kesungguhannya, bayi kambing itu akhirnya berhasil berdiri tegak dengan keempat kakinya. Dia lucu sekali.

         Namun tidak cukup sampai di situ. Kebahagiaan Wak Sakti belum tergenapkan karena dia masih harus menunggu kambing betina itu mengeluarkan anak keduanya. Kambing betina itu mengalami kesulitan yang luar biasa untuk mengeluarkan anak keduanya itu. Lagi-lagi dia merejan dan mendorong urat daging perutnya berkali-kali agar bayi keduanya itu keluar semudah anaknya yang pertama. Sebentar dia berdiri gelisah di atas keempat kakinya, sebentar kemudian dia berbaring karena kelelahan. Tak lama, perlahan-lahan tampaklah balon lain yang juga berisi cairan menjendul keluar dari alat kelaminnya disusul kaki-kaki depan dan kepala anak kambing.

            Wak Sakti memegang dadanya lantas meluruskan posisi miring pecinya Jantungnya seperti berhenti berdetak. Tak lama anak kedua kambing itu pun keluar dari perut induknya. Tidak seperti anak kambing yang pertama, anak kambing yang kedua ini terlihat lemah tak berdaya. Dia bahkan tak sanggup untuk mengangkat tubuhnya. Entah kenapa tiba-tiba saja induk kambing itu menolak membersihkan tubuh bayi keduanya. Wak Sakti pun langsung menghamburkan diri ke dalam kandang dan mengangkat bayi kedua kambing itu. Lalu dia membaringkannya dekat dengan hidung induknya. Induk kambing itu tetap menolak menjilat tubuh bayi keduanya. Wak Sakti membersihkah kepala dan hidung bayi kedua kambing itu dengan kain halus yang kering. Bayi kedua kambing betinanya itu ternyata masih sulit bernafas. Wak Sakti menempelkan rumput kering ke dalam rongga hidung anak kambing yang tak sehat itu. Tapi bayi kedua kambing itu menunjukkan rangsangan yang lambat untuk bernafas. Wak Sakti terus saja menempelkan rumput kering ke dalam rongga hidung anak kambing itu sembari mengelus-elus kepalanya.

             “Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakathu,” Terdengar seruan pengumuman dari toa musholla kampung. “Inna lillahi wa inna ilaihi rodziun. Telah berpulang ke rahmatullah, Nenek Sumi sekitar pukul 18.10 sore tadi. Saat ini almarhumah berada di rumah duka, dan insya Allah, jenazah almarhumah akan dikebumikan besok di pemakaman umum kampung sebelum waktu Dzuhur. Sekian pengumuman ini. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakathu.”

        Irfan yang baru saja usai berwudhu langsung bergegas menuju kamar Winny. Titi menyambutnya dengan tatapan sedih. 

             “Winny tak mendengarnya, dia baru saja tertidur pulas” kata Titi merapikan posisi handuk kompres di dahi putrinya, “Demamnya mulai reda, sedari tadi dia mengigau menyebut-nyebut nama Ari.”

             Irfan sedikit lega, “Ayah ke Musholla dulu. Sehabis Maghrib, ayah langsung pigi melayat ke rumah Ari.”

              Titi mengangguk dengan riak mata sedih.

                                                                                    ***

               Tiga hari sudah Winny tak masuk sekolah. Benar-benar membosankan karena itu artinya dia harus berbaring di tempat tidur, tertinggal pelajaran sekolah, tak bisa bermain dan tak tahu sama sekali bagaimana kabar Ari. Seperti sudah lama sekali rasanya dia tak ketemu Ari.

                “Hei, sayang. Sudah bangun?” sapa Titi menghampiri dan langsung mengecup keningnya. Winny tersenyum, memandangi cuaca di luar begitu cerah.

                   “Ayo, coba tebak siapa yang datang?” tanya Titi dengan mata berbinar, lantas berjalan ke arah pintu.

                  “Ari!” hati Winny melonjak riang, “Oh, Tuhan! Syukurlah dia tidak apa-apa” bisik hatinya lagi. Dia sudah tak sabar melihatnya muncul di ambang pintu.

                    “Tadda!!” seru Titi membentangkan kedua tangannya.

                     Tapi tak ada siapa pun yang muncul. Winny semakin penasaran.

                Titi terheran, lantas melongokkan wajahnya keluar. “Anak-anak, sini!” panggilnya, “jangan malu-malu! Ayo, masuk! Katanya mau jenguk Winny. Koq, malah sembunyi di situ. Nih, Winnynya udah pada pengen ketemu.”

             Terdengar cekikan-cekikan lucu, langkah-langkah kaki berdesakan di lantai. Winny mencoba duduk dan bersandar di bantal yang tegak di sandaran tempat tidur.

                 “Halo, Winny” sapa teman-temannya malu. Mereka saling dorong, masih rada segan untuk masuk. Seragam merah putih yang mereka pakai begitu menambah kerinduan Winny akan suasana kelas; guru favoritnya, Ibu Ratih; dan tentu saja Ari.

                     “Yaaa…” hela Winny kecewa. Tak ada Ari dan Bu Ratih di situ.

                     “Silahkan, silahkan” sambut Titi ramah, “Tante tinggal sebentar, ya.”

                     “Jangan sibuk-sibuk Tante” kata Bima, “apa yang ada keluarin aja.”

                     “Ih, Bima!” tegur Putri yang judes, “nggak sopan, tau!” tatapnya tajam.

                     “Udah, nggak apa-apa” bela Titi mesem-mesem. “Ntar, tante ke dapur dulu, ya.”

                     “Iya, Tante” jawab keempat bocah itu serempak.

                     “Tuh, kan. Ibunya Winny aja harap maklum.”

                     “Iiiih… “ Putri geli sendiri, “malu-maluin.”

                     “Udahlah, Put” kata Winny, “Bima memang begitu.”

                     Bima tertawa tanpa suara. Dada dan perutnya yang besar bergoyang-goyang ke atas dan ke bawah. Dan itu semakin membuat Putri dongkol dan langsung menjulurkan lidahnya ke arah Bima.

              “Hai, Winny” Anggi yang berkacamata menghampiri Winny. “Gimana? Sudah agak mendingan?” dia duduk di tepi tempat tidur.

                     Winny mengangguk-angguk senang.

                     “Aku udah kangen kali kita bisa ….. .”

                     “Bisa makan nasi lemak di kantin lagi” Bima nyerocos begitu saja.

                     “Bima!” gadis kecil berkacamata itu melirik Bima tajam.

                     “Heran, ya. Dari dulu isi otakmu itu makanan aja” repet Putri tak tahan.

                     Winny tertawa geli. “Eh, ngomong-ngomong kalian datang ke mari dengan siapa?” dia penasaran.

                     “Pak Budi, Ny. Bu Ratih kan udah tiga hari nggak masuk. Dengar-dengar dari obrolan guru-guru sih, Bu Ratih mau nikah. Jadi untuk sementara Pak Budi yang gantiin” jawab Andi, yang paling kalem dan tertib di antara mereka.

                     “O, begitu ya.” respon Winny, raut mukanya agak kecewa.

                   “Kau pasti juga nggak tahu, kan? Ari itu sudah nggak bersekolah di sekolah kita lagi. Eit!” Bima langsung menutup mulutnya seperti menyesali kelancangannya.

                     “Apa!“ Winny terkaget, “Ari tidak…. “

                     “Maaf, keceplosan.” Wajah Bima beruam-ruam merah, tak berani melihat Putri, Anggi dan Andi yang sedang membelalakkan mata mengancamnya.

                     “Winny, mau kemana?” tanya Anggi khawatir begitu melihat Winny mengibaskan selimutnya dan bergegas turun dari tempat tidur.

                     “Win! Winny!” tegur Andi mencoba mencegah. Tapi Winny tak mendengarkan. Dia menghambur keluar kamar.

                     “Ini semua gara-gara kamu Bima” Putri gondok sekali, “aku akan bilang sama Pak Budi biar dia mengempeskan perutmu agar kau bisa menahan ucapanmu sebelum kau menyakiti perasaan orang lain.”

                 Bima merasa bersalah sekali. Anggi dan Andi berlari mengejar Winny sambil memanggil-manggil namanya.

                  Titi yang sedang berjalan di koridor dengan sebaki gelas minuman melihat Winny berjalan begitu tergesa-gesa menuju garasi. Dengan tanda tanya heran, dia pun menaruh baki di atas meja kopi di ruang keluarga, dan langsung menghampirinya.

                 “Winny! Winny!” panggil Andi lagi. “Benar Ari memang sudah tak bersekolah sama-sama dengan kita lagi, tapi itu karena dia harus ikut dengan orang tua barunya.”

              Winny menghentikan langkahnya. Dia terdiam sesaat dengan riak muka marah. lalu berbalik menatap Andi dengan mata mulai berkaca-kaca, “orang tua barunya? Ja….. jadi dia…. “

             “Dia harus ikut orang tua barunya karena empat hari kemarin neneknya meninggal, Ny” kata Anggi, menatapnya sedih.

                 “Apa…?!” dada Winny terpukul. 

                 “Jadi, Winny benar-benat tak tau kalau … ” Andi tak melanjutkan ucapannya.

                Winny memang benar-benar tak tahu apa-apa tentang Ari setelah kejadian di kolam capung itu. Bagaimana dia bisa selamat dari capung merah itu, bagaimana merasa berdosanya dia meninggalkan Ari sendirian di sana, dalam sebuah hutan yang dihuni hewan-hewan liar yang sulit dijinakkan,

                     “Winny, Ari ….. .”

                     “Kenapa tak ada seorangpun yang memberitau Winny?” rontanya menyela sapaan Titi yang mencoba memberinya penjelasan. Dia menatap ibunya, Andi, Anggi, Putri  dan Bima yang baru saja sampai di situ dengan pipi sembab memerah menahan malu.

                     Titi mendekat. “Sayang, dengar …… “

              Winny tak menghiraukan. Dia menghapus air matanya. Dengan dada naik turun, dia mengambil sepedanya dan langsung mendorongnya dengan kasar ke luar garasi.

                     “Winny. Kau belum sehat benar, sayang.”

                     Winny tak mau mendengar. Dia telah meluncur dengan sepedanya menembus halaman depan.

                     Di tepi kolam ikan koi di taman depan rumah, Irfan dan Pak Budi yang sedang asyik ngobrol sontak tercengang memandangi Winny yang berkelabat kencang di atas sepedanya.

                     Titi berlari ke depan disusul Andi, Anggi dan Putri.

            “Tante” sapa Andi pelan, “siang ini Ari akan dijemput orang tua angkatnya. Winny harus menemuinya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.”

                     Titi menghela. Andi, Anggi, Putri dan Bima memandang Winny yang telah mengayuh sepeda mininya dengan jantung yang berdegup kencang.

                                                                                                         ***

           Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Winny mengayuh sepedanya tanpa henti. Setibanya di rumah Ari, dia mendapati rumah itu sudah tak berpenghuni. Pintu-pintu dan jendela-jendela telah terkunci rapat. Winny mengintip melalui kaca jendela yang transparan. Suasana di dalam rumah itu kosong melompong. Tak ada sebuah perabot rumah-tangga pun yang tertinggal.

Winny berlari ke salah satu rumah tetangga yang terdekat di situ.

            “Wak! Wak! Wak!” panggil Winny seperti seekor anak ayam yang kehilangan induk.

            Seorang perempuan bersongkok keluar dari rumah.

           “Panjang Umur” sambut perempuan tau bersongkok itu, “Uwak baru saja mengingatmu. Sini, sini, masuklah. Uwak baru saja selesai membuat bolu pisang. Uwak mau kau mencicipinya. Kau tau, resep bolu pisang itu dari seorang koki terkenal yang Uwak tonton di tivi tadi pagi.”

           Wini terisak.

       Perempuan bersongkok itu terbeliak. “Aih, aih! Kenapa pulak lah kau, ni. Datang-datang ke rumah Uwak berderai tangis. Apa gerangan berita duka yang belum Uwakmu ni tau?”

           “Apa Ari sudah lama pergi, Wak?”

         “Ala baya! Jadi, yang belum jumpanya kau sama dia?” Perempuan bersongkok itu menyimaki air muka Winny yang rusuh lantas berteriak memanggil suaminya. “Bang! O, Bang! Cak lah kau tengok dulu cucu Tulang Irfan ni.”

         Seorang lelaki yang tak lain adalah Wak Sakti keluar kamar sembari memakai peci. Di memandangi Winny lewat bingkai atas kacamatanya yang melorot.

            “Winny?”

            “Wak!” panggil Winny sedih.

           Wak Sakti pun lantas berpantun:

Anak dara mandi di kali,

Bermain air bernyanyi gembira,

Uwak tengok kau bergundah hati,

Cepatlah katakan apa sebabnya.

 

            “Dia datang ke mari mau ketemu Si Ari, Bang.”

            “Yang ku pikirnya dia habis dikejar-kejar anjing Si Binsar.”

            “Anjing Si Binsar udah mati diracuni orang dua hari yang lalu.”

            “Diracuni orang?” suara Wak Sakti melengking, “kejamnya lah perangai orang zaman sekarang. Sikit-sikit habisi, sikit-sikit bunuh. Aih!”

            “Wak!” Winny meringis tak sabar.

            Wak Sakti pun mendenguh iba. “Mobil yang membawa Ari baru saja pigi, Nak. Caklah kau susul. Belum pala jauh itu.”  Dia pun menggambarkan warna dan ciri-ciri mobil orang tua angkat Ari.

          Tanpa mengucapkan terima kasih Winny langsung membalap sepedanya. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Winny mengenjot sepedanya. Membelok tajam di persimpangan, menerobos jalan-jalan pintas, menebas rumput-rumput setinggi lutut dan melesati barisan pepohonan karet, dan akhirnya menginjak remnya di ruas jalan besar. Debu mengepul di udara. Namun dia tidak melihat sebuah mobil pun yang melintas. Cemas kalau mobil yang dinaiki Ari sudah kelewatan, Winny pun lanjut mengayuh sepedanya menelusuri badan jalan bagai seorang biker yang sedang balapan. Dengan napas ngos-ngosan dan wajah berkeringat, dia menikung kencang. Dan saat itulah, dari jarak 10 meter di depannya dia melihat mobil itu berjalan tenang.

         Winny membalap sepedanya sambil berteriak sekencang-kencangnya memanggil-manggil nama Ari. Dia juga melambai-lambaikan tangan kirinya lalu tersenyum bahagia begitu melihat wajah Ari muncul di kaca belakang mobil. Winny terus memanggil-manggilnya namun Ari tidak membalasnya. Ari mematung menatapinya seolah dia sudah tak mengenalinya. Winny mempercepat kayuh sepedanya berharap dia bisa menyusul agar Ari bisa lebih jelas menangkap wajahnya. Tapi sayang seribu sayang, Ari berbalik dan mobil itu pun melaju kencang.

         “Ari! Ari!” Winny meraung-raung perih. Tenggorokannya kering dan suaranya tertahan di tatakan lidahnya. Bak putus asa, dia menghentikan sepedanya tepat di badan jalan. Dia hanya bisa terpatung kecewa menatap mobil itu semakin jauh, jauh dan lama kelamaan mengecil. Ari telah benar-benar melupakannya. Air mata Winny mengalir deras tak tertahankan.

            Dengan perasaan terluka dan hati marah, Winny turun dari sepedanya, memutar sepeda itu ke arah yang berlawanan dan mendorongnya tak bersemangat. Ari seolah sudah tak menganggapnya sebagai sahabat lagi. Winny melap air matanya, menarik napas, dan kemudian mempercepat jalannya.

         Namun tiba-tiba, sayup-sayup dari kejauhan di belakang, terdengar bunyi klakson panjang. Winny menghentikan langkahnya, menoleh, berbalik dan melihat mobil itu melaju, dekat, dekat dan semakin membesar.

             Sepeda Winny jatuh terkapar begitu saja di badan jalan. Tak jauh di depannya, mobil itu pun berhenti. Winny bergegas namun tiba-tiba ragu dan malu untuk mendekat. Seorang pria berkumis di belakang setir tersenyum ramah padanya. Tak lama, pintu belakang mobil terbuka. Sepasang sepatu yang Winny kenali turun menginjak tanah. 

            Entah kenapa, tiba-tiba Winny mundur dan berbalik menjauh

                     “Winny!” panggil Ari langsung mengejarnya.

                     Winny pura-pura tak mendengarnya.

                     “Winny! Tunggu!”

              Winny meraih sepedanya dan seketika menghempaskan sepeda itu begitu saja. Lantas dia berbalik ke arah Ari dengan wajah merunduk bersimbah air mata.

       Ari berlari-lari kecil menyambutnya, namun tak disangka-sangka, tiba-tiba saja Winny menyerangnya. Winny mendorong tubuh Ari dengan keras sampai Ari terjerembab jatuh ke aspal. Winny menangis sambil berteriak-teriak kalau dia membenci Ari.

           Ayah angkat Ari sempat mencoba turun namun tiba-tiba terdiam ketika Ari menoleh ke arahnya.

          “Aku benci kamu, Ari. Aku benci!” Bibir Winny bergetar hebat. Dia menatap wajah Ari yang tak berani menatapnya. Lantas Winny berbalik dan meninggalkan Ari yang kemudian menatap kepergiannya dengan sinar mata yang tak kalah terluka.

 

                                                                                                         ***

            Entah sudah berapa kali Titi mengetuk pintu kamar Winny, namun Winny tak menggubrisnya.

          “Sayang, Bunda boleh masuk?” tanya Titi membuka pintu dan mengintip dari celah. Winny masih diam saja di tepi jendela, memandangi gerimis yang jatuh ke tanah.

             “Ada titipan dari Ari lho ini” sambung Titi, mendorong pintu agak lebar.

         Mendengar nama Ari disebut, dada Winny bergolak marah. Dia masih bersitegang dengan perasaannya dan tak tertarik sedikitpun untuk mengetahui apa titipan itu.   

            Titi masuk dan langsung menghampiri. “Setiap hari Ari datang menjenguk Winny.  Bunda dan Opung tau kalau dia sangat mencemaskan Winny. Hanya saja setiap kali dia datang, Winny sedang tidur. Ari melarang Bunda membangunkan Winny. Begitu ceritanya”

             Winny tak merespon sepatah kata pun.

          Titi menaruh titipan itu di sampingnya. Winny masih gengsi bahkan untuk sekedar meliriknya saja.

             “Ya, udah. Kalau begitu, Bunda tinggal dulu.” Titi menaruh titipan itu di samping Winny, lantas melangkah keluar, kamar.

         Sesaat Winny ragu, melirik, dan mendapati sebuah amplop putih yang tergeletak rapi menggoda. Tak sanggup menahan rasa penasarannya, Winny pun mengambil amplop itu dan langsung membukanya.

Winny, sahabatku yang baik,

            Winny, saat kau terbangun dan membaca surat ini, maka kau akan tau bahwa keadaan sudah tak seperti dulu lagi. Perlahan-lahan semua berubah meski kita berdua tak mau ada satu pun yang berubah. Kita tidak akan bisa bersama-sama lagi, Winny. Aku tak bisa menjagamu dari anak-anak laki-laki usil lagi; tidak bisa mengantarmu pulang sampai ke rumah; tidak bisa membantu peermu; tidak bisa memetikkanmu buah cherri; tidak bisa menemanimu berburu telur cicak di loteng; tidak bisa membantumu mengamati sekoloni semut hitam yang sedang menggotong duri ikan; dan tidak bisa membawamu berpetualang masuk hutan lagi. Itu karena aku harus ikut dengan orang tua angkatku ke sebuah tempat yang jauh, sebab aku tak memiliki siapa-siapa lagi di sini kecuali seorang gadis kecil manja, pemarah, yang seumuran denganku dan yang masih kewalahan mengurus dirinya sendiri.

        O, ya. Tentang capung merah itu…. ! Aku harus berterus terang padamu kalau capung merah itu bisa menggigit. Itulah sebabnya aku melarangmu menangkapnya. Aku tak mau kau tergigit, sebab kalau kau merasa sakit aku juga akan merasa sakit.

      Dan, tentang kejadian itu, Winny, aku…a…..aku, mungkin akan terdengar aneh di telingamu. Aku hanya berharap kau tidak menjauhiku setelah aku mengatakannya. Winny, aku telah lama mengidap ‘Epilepsi’. Tapi sayangnya aku tidak bisa menjelaskan tentang penyakit itu lebih jauh. Aku hanya bisa memberitaumu kalau siang itu aku diselamatkan oleh seorang penderes getah. Mendiang nenek menceritakan itu begitu aku sadar. Tapi sekarang aku sudah sehat dan akan semakin sehat lagi setelah aku tau kau juga sehat. Winny masih mau berteman dengan Ari lagi, kan? Terima kasih kalau begitu. Winny jangan sedih lagi, ya. Aku akan selalu berdoa kita bisa bersama-sama lagi.

 

 Dekapku,

                                                             To Be Continued

Daftar Kata: 

Lasak         : Tidak tertib. tidak bisa duduk tenang.

Pigi            : Pergi

Pulak         : Pula, juga

Ala Baya!  : Ungkapan kasihan dalam Bahasa Melayu/Pesisir Sumatera Utara, Labuhanbatu

Cak            : Coba

Tulang       : Saudara laki-laki dari ibu kita, atau sebutan untuk laki-laki yang semarga dengan ibu kita

Image Source : http://pixabay.com

Leave a Reply