Jam tiga dini hari, Di kota Malang suasana di warung-warung kopi masih ramai. Tak lupa pasar tradisional sudah buka. Sudah menunggu pelanggan setianya.

Kehidupan di kota penuh hiruk pikuk dan tak pernah padam. 70% di huni oleh mahasiswa, nuansa pemuda mengaung seperti singa muda. Berkeliaran tak tahu arah, seolah-olah mereka sudah bebas hilang beban.

Namanya Tama, seorang Mahasiswa di Universitas swasta yang terkenal di kota Malang. Biarpun dia cerdas tapi hari-harinya di hidupnya ada di cafe.

Setelah itu di sore hari, salah satu cafe yang bagus. Dia tidak sengaja berkenalan dengan perempuan yang anggun, pintar dan penuh berwawasan. Perempuan itu bernama Laraswati. Setiap seminggu sekali mereka selalu bertemu di tempat yang sama. Membicarakan wawasan masing-masing dan nuansa harmoni di kota Malang.

Laraswati mempunyai sahabat Aisyah dan Luci. Aisyah ini orangnya sangat alim, pemalu dan tak pernah neko-neko sedangkan Lucy glamor, modern, dan yah kayak gitu dah.

Pagi hari Laraswati mengajak sahabat-sahabatnya ke pasar tradisional membeli lauk untuk di makan dalam dua hari. “Aisyah, Lusi, ayo ikut kepasar di rumah sudah tidak ada lauk nih” kata Laras. “ah, aku enggak mau becek, bau dan macem-macem, kalau ke supermarket sih mau ikut” celetus lusi. “Iya enggak apa-apa, kamu enggak ikut biar saya yang membantu laras” kata Aisyah dengan suara tenang. Setelah itu Laras dan Aisyah pergi ke pasar, meninggalkan Lusi di kontrakan mereka.

Siang jam 15.00 hari pekan di cafe. Laraswati bertemu Tama, mereka saling berbincang-bincang. “Tahukah kamu cerita tentang Surya, Mentari, dan Matahari?”, tanya Tama tersebut. Laras menjawab, “Belum tahu. Kamu mau menceritakannya untukku?” tanya perempuan itu.

Lelaki tersebut mulai bercerita tentang cerita tersebut. Surya, Mentari dan Matahari, barangkali selama ini kita menganggapnya suatu benda yang sama. Namun tahukah bahwa sesungguhnya ada mozaik-mozaik yang memisahkan mereka?

Kata “Surya”. Tentu kata-kata tersebut identik dengan laki-laki. Sebagian teman-temanku juga bernama Surya, dan mereka adalah laki-laki. Dalam kepercayaan agama hindu, Surya adalah nama Dewa Matahari. Serupa dengan dunia pewayangan, bahwa ia diberi nama Batara. Yaitu dewa yang menguasai elemen matahari. Ketika kita bicara tentang Surya, tentu identik dengan keperkasaan. Sebab dengan sinar teriknya ia menyinari dunia, memberikan kehidupan dan penerangan di kala siang hari.

“Hmm, aku mulai memahami alur ceritamu ”kata wanita itu di menatap Tama dengan penuh berbinar-binar. Laki-laki hanya tersenyum canggung dan melanjutkan ceritanya

Mentari. Ia adalah nama yang biasa diberikan kepada perempuan. Ia adalah perlambang keelokan dan kecantikan. Sinar itu akan kita temui manakala ia masih pagi, atau ketika senja. Manakala ia masih malu-malu menampakkan sinarnya di ufuk timur atau pun di ufuk barat. Bayangkan saja, dibalik panas sinarnya yang membakar di kala siang, ia masih memiliki sinar yang begitu indah. Yang memberikan kehangatan di kala dinginnya pagi, dan memberikan keindahan di kala langit sore. Maka tak salah jika mentari disematkan sebagai kebanyakan nama bagi perempuan. Sebab ia adalah perlambang terbaik bagi perempuan.

“Jika begitu, lalu bagaimana dengan matahari?” tanya Laras dengan penuh antusias. Tama sangan bersemangat dalam pikirnya “Jika sepupu ipar tidak memberi cerita pewayangan yang begitu senderhana kayak begini, ternyata bisa membuat gadis berbinar-binar. terima kasih hehehe”. “Eh, malah bengong lancutkan dong ceritanya” Laras menghardik seoalah-olah marah. “Ok, ok” celetuk Tama

Matahari. Terdiri dari dua kata. Mata dan Hari. Mata adalah salah satu organ tubuh yang kita miliki. Dengannya kita dapat melihat dunia, melihat tanda-tanda kekuasaanNya, serta menyukuri dan bertasbih kepadaNya kala ia dimanjakan dengan hal-hal penuh pesona. Hari adalah jangka waktu tertentu di mana kita akan beraktivitas. Bayangkan ketika kita menjalani hari-hari kita tanpa mata, akankah kita kan menjalaninya dengan indah? Tentu mungkin bagi sebagian orang yang ditakdirkan memiliki masalah dengan matanya adalah iya, namun tentu akan lebih indah ketika mata mampu berfungsi selayaknya manusia biasa. Atau sebaliknya kita memiliki mata namun tak memiliki hari. Apakah mampu kita berjalan tanpa ruang waktu di dunia. Tentu saja tidak. Maka mata dan hari adalah dua suku kata yang tak dapat terpisahkan barangkali. Sebab tanpa mereka takkan mampu lahir sebuah peradaban di dunia ini.

” Sampai disini apakah kamu sudah paham?” tanya Tama. “wah, ceritamu bagus sekali, terus masih ada kelanjutannya?” tanya Laras. “Hmmmm, sebenarnya masih ada. tapi belum saatnya.” Jawab Tama sambil ketawa menggoda. “Terus kapan?” tanya Laras dengan cemberut. “Masih ada hari esok dan lusakan. Toh, sekarang hampir Magrib ” jawab Tama. “Ok dah, jangan lupa ya nanti menceritakan kelanjutannya?” kata Laras. “Ok siap” jawab Tama dengan nada seperti prajurit garda depan. Setelah itu mereka saling berhubungan lewat gawai dan resmi menjadi pacar.

Hari rabu pagi di kampus. “Aduh, bagaimana nih, jumat sudah harus ngumpulkan tugas mata kuliah jurnalistik. Harus wawancara orang lagi” pikir Laras. Setelah berpikir lama “oh iya, kata kakakku, Kak Dao kan ada di sini, baiklah bertolongan terakhir aku harus cepat menguhubungi dia” kata Laras dengan pasrah.

“Hallo, Assalamualaikum Kak Dao bisa bantu aku wawancara kamu?” kata laras lewat telepon. “oh laras, bagaimana kabarmu?. Boleh-boleh tapi hari kamis ya?” Jawab Dao. “Aku baik-baik saja. Ok deh besok aku sore ke tempat kakak soalnya aku paginya aku ada kuliah. Bisa ketemu di mana ya kak?” tanya laras. “Di galeri, nanti aku kasih tempatnya” jawab Dao. “Ok deh, sampai jumpa besok. Assalamualikum” kata laras sambil mematikan panggilannya.

Pada waktu 15.00 WIB hari kamis. Laras pergi menemui Dao. Dao sedang duduk di kursi depan galeri sambil membaca. “Kak, sudah lama ya enggak ketemu” kata Laras langsung menjulurkan tangannya. “Laras, Hmmm tambah cantik aja.” kata Dao sambil senyum. “Eh kakak, aku bilang tunangannya loh, menggoda gadis lain” celetus laras. “Tahu dari mana aku tunangan. kok cepat nyebarnya pasti nih kelakuan Wisnu” kata Dao menggelengkan kepala. “Apa aku tidak di tawari duduk nih kok di suruh berdiri terus” jawab Laras. Dao lang berkata “duduk duduk duduk, mau mewancarai apa?”. “Nih kak, Sastra dan budaya” kata Laras. “Ooooh, kok aku ya. Memang enggak ada orang lain?” jawab Dao. “kepepet kak” kata Laras. “Jujur amat” kata Dao, laras malah ketawa. “Baiklah, kita sambil jalan jalan aja ke dalam galeri” Kata Dao.

Mereka berdua menelusuri galeri. Laras menyalakan rekaman dan berkata ” apa budaya dan sastra itu?. “jangan terburu-buru aku akan menjawabnya dari awal” jawab Dao

Ketika berbicara mengenai budaya dan sastra, kita harus mau membuka pikiran untuk menerima banyak hal baru. Budaya bersifat kompleks, luas, dan abstrak. Budaya tidak terbatas pada seni yang sering kali dilihat dalam gedung kesenian atau tempat bersejarah, seperti museum. Tetapi, budaya merupakan suatu pola hidup menyeluruh. Budaya memunyai banyak aspek yang turut menentukan perilaku komunikatif. Beberapa orang bisa mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Hal ini dikarenakan budaya memunyai keistimewaannya sendiri. Budaya masyarakat satu berbeda dengan budaya masyarakat yang lainnya, sehingga seseorang harus bisa menyesuaikan perbedaan-perbedaannya. Kebudayaan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Dao berhenti berbicara. Setelah itu Laras berkata ” Apa pengaruh budaya terhadap sastra?”. Dao melanjut perkataannya

Bahasa tidak hanya memunyai hubungan dengan budaya, tetapi juga sastra. Bahasa memunyai peranan yang penting dalam sastra karena bahasa punya andil besar dalam mewujudkan ide/keinginan penulisnya. Banyak hal yang bisa tertuang dalam sebuah sastra, baik itu puisi, novel, roman, bahkan drama. Setiap penulis karya sastra hidup dalam zaman yang berbeda, dan perbedaan zaman inilah yang turut ambil bagian dalam menentukan warna karya sastra mereka. Oleh karena itu, ada beberapa periode dalam penulisan karya sastra, seperti Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Setiap periode “mengangkat” latar belakang yang berbeda-beda sesuai zaman dan budaya saat itu.

“Bagaimana pendapat Anda mengenai puisi zaman sekarang?” kata Laras. Dao berhenti langkahnya dan berkata

Tentu saja ada perbedaan yang sangat kentara, baik dalam topik yang “diangkat” maupun bahasa yang digunakan. Sebagai contoh, kumpulan puisi Mbeling karya Remy Sylado, tahun 2005. Sebagian besar puisi Mbeling yang ia tulis mengangkat kehidupan politik pada saat itu, seperti korupsi, koruptor, individualisme, dll. Misal, puisi berjudul “Individualisme dalam Kolektivisme”. Puisi ini hanya terdiri dari kata “kita” dan “aku”. Kedua kata ini disusun dengan pola membentuk persegi panjang, dengan kata “AKU” (kapital) pada titik diagonalnya. Jika dibandingkan dengan puisi pada zaman Muhammad Yamin, tentu mengalami perbedaan. Meskipun mengangkat tema yang sama, misalnya politik, tetapi konten penyajian puisi sangatlah berbeda. Puisi Muhammad Yamin lebih mengangkat sisi perumusan konsep kebangsaan, meskipun saat itu masih dalam lingkup Sumatera. Jelas sangat berbeda dengan puisi Remy Sylado, yang lebih condong menyajikan sisi kehidupan politik sebuah bangsa berkembang dengan kondisi pemerintahan yang kurang baik

Laras berkata matanya bergairah “Pernahkah Anda mendengar karya sastra Indonesia modern?”. Dao tersenyum dan melanjutkan

Ketika kita membicarakan pengaruh kesusastraan asing dalam kesusasteraan Indonesia, kita harus melihat vista sastra Indonesia dari masa lalu hingga masa kini. Sebagai langkah awal, kita dapat melayangkan pandangan jauh ke belakang, ke masa Hamzah Fansuri mula bersyair dan bernazam atau ke zaman Nuruddin Ar-Raniry ketika melahirkan Bustanul Sallatin (Taman Raja-Raja) dan ketika Raja Ali Haji melahirkan Bustanul Katibin (Taman Para Penulis). Hasil kesusastraan di zaman itu lebih sering disebut oleh sarjana sastra Indonesia-Melayu sebagai bagian dari sastra lama Indonesia dan dilanjutkan dengan sastra baru (modern) Indonesia yang dimulai sejak munculnya percetakan di Hindia Belanda dan diramaikan oleh kelompok Pujangga Baru. Meskipun demikian, patut diketahui bahwa sastra baru Indonesia pun sudah dipelopori oleh penulis Tionghoa peranakan yang mula pertama memperkenalkan cerpen dalam kesusastraan Indonesia modern. Pada tahun 1912, misalnya, sudah mulai ditemukan cerita pendek yang awal dalam buku cerita Warna Sari yang terbit di Surabaya. Cerita pendek yang dimuat itu berjudul “Si Marinem” karya H.F.R. Kommer dan ditulis dalam ragam bahasa Melayu rendah.

Dao berhenti berbicara dan menatap luksan . “Hubungan antara budaya dengan sastra sangatlah erat kaitannya. Mengapa dikatakan dengan demikian?” kata Laras menanggapi dan bertanya. Dao menjawab pekataan laras

Karena suatu sastra diciptakan karena adanya kebudayaan. Kebudayaan memiliki sifat kompleks, luas, dan abstrak. Dan suatu sastra itu memerlukan sesuatu yang baru dan terus berkembang dari yang sudah ada. Kebudayaanlah yang membuat seseorang dapat mengembangkan ide-ide pikirannya ke dalam suatu wadah sehingga menjadi sebuah karya. Dan karya itulah disebut dengan hasil-hasil pemikiran seseorang terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh suatu kebudayaan. Jadi budaya dengan sastra sangatlah erat hubungannya. Tanpa budaya seseorang tidak dapat menghasilkan suatu sastra yang baik.

Dao dan Laras keluar dari galeri. Setelah itu Tama menghampiri mereka. “Tama, kenalkan ini Laras” kata Dao waktu Tama hampir dekat dengan dia. “Dao, aku sudah kenal dan lagi aku pacarnya” kata Tama bangga. “Oh, kalian pacaran? dunia ini begitu sempit” Kata Dao sambil tertawa bahagia. “Loh, kak Doa kenal sama kak Tama?” kata Laras bingung. “Dia sepupunya tunangan masak enggak kenal” kata Dao. “Jadi begitu, emang dunia ini sempit” kata Laras tersenyum bahagia. “ngomong-ngomong aku mau jemput Laras tapi karena ada kamu bagaimana kalau kita ke cafe?” kata Tama. “ok” kata Dao. “Hidup laki-laki itu kok sukanya di cafe” kata Laras bendesah tak berdaya. Laki-laki berdua mendengar itu, tak tahu harus senang atau menangis.

Di esok hari, setelah pulang dari Mall. Laras, Aisyah dan Lusi ngobrol di ruang tamu. Laras berkata “kita tadi melihat waktu perjalanan, melihat sampah di sungai dan rumah-rumah di pinggir sungai, aku merasa kita begitu naif”. “kok bisa” Lusi menyalak. “aku tak mengerti” kata Aisyah. “Coba kita yang kecukupan setiap bulan di kirim uang dan tak tahu menahu soal keadaan yang di luar. apakah ini bukan apatis” kata laras. “hmmmm, iya sih” kata Lusi. Aisyah terdiam mengingat orang tuanya. “Dan lagi jika kita lihat orang-orang yang kaya tadi di perjalan, kok marasa jijik lihat orang-orang miskin. Kata orang tua zaman sekarang yang kaya semakin kikir dan yang miskin semakin sengsara”. “kok aku baru sadar ya” kata Lusi sambil mengevaluasi dirinya. Aisyah berkata dengan rendah hati ” dalam firman Allah surat Muhammad Ayat 36 sampai 37 ‘Apabila kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan kepada kamu ganjaran, dan Dia tidak meminta harta bendamu (seluruhnya). Jika Tuhan meminta harta bendamu (sebagai zakat dan sumbangan wajib) dan Dia mendesakmu (agar engkau memberikan semuanya) niscaya kamu akan kikir, (karenanya Dia hanya meminta sebagian dan ketika itu bila kamu tetap kikir maka) Dia akan menampakkan kedengkian (kecemburuan sosial) antara kamu”. “Iya, seperti kata Aisyah barusan alangkah kita harus memanusiakan manusia” jawab Laras dengan nada serius. Lusi hanya menghela nafas dalam dan tenang.

Setahun setengah tahun kemudian. “Tuju hari lagi mau wisuda” pikir Laras. “Aisyah, Laras, terimaksih telah tinggal bersamaku selama kuliah. Aku tak lagi seperti dulu, orang yang manja” kata Lusi rasa kebahagiaan. “Lusi, Laras, aku juga terimakasih biarpun aku masih tetap pemalu, kalian selalu bersamaku” kata Aisyah matanya berkunang-kunang. “Iya, kalian sahabatku selama” kata Laras dengan tegas.

Sore hari di cafe yang sama. Tama dan Laras berhadap-hadapan. “Sayang masih ingat dulu tentang surya, mentari dan matahari?” kata Tama suara yang tenang. Laras menjawab “Iya kak, Aku hampir lupa aku meminta jawabanmu tentang matahari”. “Sebelum aku memberi jawaban lihatlah dulu di tanganku” kata Tama yang tangan mengenggam cincin. Setelah Laras melihat itu tubuh sok bangga dalam hati. “Apakah kamu mau menikah denganku?” kata Tama penuh harap dengan menjulurkan cincin itu. Laras tak berkata, cuma tersenyum tersipu malu dan menjulurkan tangan kanan. Biarpun suasananya tidak seromantis film Bollywood. Sudah itu Tama berkata

Matahari adalah kita berdua. Tanpamu aku takkan mungkin menghasilkan pagi dan senja yang begitu indah. Tanpamu barangkali rasa kantukku manakala pagi, dan rasa lelahku manakala sore tak mampu melebur hilang. Sedang kamu tanpaku, barangkali kamu takkan mampu hidup, sebab aku yang bertanggung jawab untuk mencarikan nafkah untukmu, untuk anak-anak kita, serta nanti untuk generasi kita mendatang. Maka tetaplah kita bersama hingga nanti, sebab kita adalah matahari. Matahari bagi anak-anak kita, matahari bagi dunia kita, serta matahari bagi peradaban yang akan kita bangun bersama, hingga menghantarkan kita bersinar mengangkasa bukan lagi untuk mencapai matahari yang fana. Namun mencapai surganya yang abadi.

Perempuan itu tak sanggup berkata apa-apa lagi. Sementara lelaki itu menutup kisahnya dengan kemesraan. Dan azan maghrib pun menutup senja mereka nan romantis.

Pada hari jumat malam sabtu. Laras menulis tulisan di cacatan hariannya

Di kota Malang, kota yang memberiku segala kenangan. Bukan hanya aku mendapat ijazah sarjana, tapi aku mempunyai sahabat-sahabat terbaikku. Dan seseorang yang sangat aku sayang, yaitu calon suamiku sampai hayat ini bertemu nirvana tuhan. Tak lupa Kak Dao yang memberiku wawasan yang aku tak perlu tahu seperti katak dalam sumur. Terimakasih kota pendidikan kata Malang, Selamat tinggal

Ole Muhammad Firdausin Nuzul

Anak dari seorang petani singkong yang kini lagi penangguran.

Bisa dijumpai di akun facebook Muhammad Firdausin Nuzul.