Bintang terasa sangat dekat malam ini begitu berkilauannya hingga kurasa ingin kupetik salah satunya dan kubawa pulang. Angin bertiup begitu kencangnya hingga aku tidak merasakan sesejuk apapun itu meskipun kulihat beberapa rambutku bergoyang kedepan wajahku. Aku tertidur menengadah keatas langit tanpa kuketahui sejak kapan aku melakukannya dan ingatanku seolah terhapus semuanya hingga aku hampir saja tidak mengenali diriku. Aku benar-benar tidak ingat mengapa aku disini seharusnya pagi sehabis mengemasi barang didalam asramaku aku sudah sampai dirumah tepat tengah harinya tapi mengapa aku disini dan aku tidak menemukan jawabanya. Angin nerhembus kembali hingga meniup segala apapun yang ada disana termasuk membawa sebuah kertas putih didepan wajahku bukan itu adalah foto sepertinya. Aku mengambilnya dan melihatnya sekilas tampak dimataku sebuah foto keluarga yang tampak begitu bahagiannya. Mataku tertuju memandangi satu persatu sosok manusia yang ada didalam sana. Dua orang manusia paruh baya wanita dan pria, dua orang wanita remaja dan dua orang pria remaja. Aku memaksakan diriku bangit dan menyimpannya pada saku celanaku kurasa akan berguna nanti. Aku bangkit dan berjalan perlahan tanpa arah hingga kudapati sebuah perairan tanpa ujung kurasa ini laut. Aku memandangi mukaku yang terpantul akibat sinar dari bulan kurasa hari ini bulan purnama. Aku melihat mukaku begitu kotor dan penuh noda hitam bukaan kurasa itu darah karena tercium sangat amis. Aku membersihkannya perlahan dan aku yakin ada banyak luka disana hanya saja tidak terasa sakit sedikitpun bahkan tidak terdapat tanda-tanda terluka. Aku segera memeriksa bagian lainnya tapi sepertinya memang tidak terluka. Sehabis itu aku terus berjalan dan berjalan hingga kudapati sebuah jalan beraspal yang sangat sepi dan aku duduk dipinggirnya. Lama aku berada disana namun keinginan untuk bergeser sama sekali tidak ada hingga sebuah truk kecil berhenti disampingku dan keluarlah seorang manusia yang sangat misterius namun aku tidak takut sama sekali seolah aku sama sekali tidak memiliki keinginan apapun didalam hidup. Aku melihatnya sepintas dan kembali tertunduk lagi. Dia semakin jelas didepanku dan terlihatlah seorang pria yang masih mudah memandangku keheranan.
“Moe?”
Moe? Siapa Moe? Akankah diriku? Benar? Mengapa kau memanggil nama Moe dengan menatapku menggunakan tatapan sayu. Kau begitu tampan dan menenangkan aku tahu itu tanpa kau menggodaku mungkin aku bisa jatuh cinta padamu.
“Moe?”
Kau memanggilku dengan nama itu lagi akankah itu namaku tapi aku tidak boleh mudah mempercayaimu. Aku terus terdiam hingga dia mensejajarkan tubuh kitandan membuatku menatap wajahnya yang memang sangat tampan.
“Moe?”
Jawabku dengan mengikutti panggilannya tadi padaku.
“Kau tidak mengingat apapun?”
“Mengingat tentang apa?”
“Kau tidak mengingatku?”
Aku menggelengkan kepalaku perlahan hingga dia menunduk sedih kurasa. Dia membuatku berdiri dan menggandengku masuk kedalam truknya dan aku hanya menurut hingga dia membawaku ketempat yang tidak kuketahui. Aku seharusnya tidak mengikutinya atau seharusnya memang aku harus mengikutinya. Dia membawaku keseebuah rumah yang cukup megah namun terbuat dari bambu dan kayu begitu berkilau seperti memandang jutaan bintang dari jauh namun dari dekat terlihat hanya beberapa lampu yang sengaja dipasang gemerlap. Dia terus menuntunku masuk kedalam rumah itu. Dia mengetuk pintunya dengan perlahan dan nampaklah seseorang wanita dari dalam rumah membukakan pintu untuk kami.
“Bibi…aku menemukannya”
Aku berdiri dibelakang pria itu tengah sibuk mengamati tempat yang terasa familiar bagiku dan begitu mataku bertemu dengan wanita itu aku merasa semakin familiar dengan semua keadaan ini hingga aku teringat akan foto tadi kurasa wajah wanita itu juga berada disana.
“Moe?”
Siapa sebenarnya Moe itu? Kenapa sejak tadi selalu dosebut-sebut kembali kesimpulan terakhir itu adalah namaku namun aku tidak mengingatnya. Aku benar-benar tidak mengingatnya. Aku mengenali diriku namun aku tidak mengingatnya. Wanita itu mendekatiku namun aku mendur dan malah bersembunyi di balik pria itu.
“Kau tidak mengenaliku? Aku ibumu”
Wanita paruh baya yang mengaku adalah ibuku mulai manangis namun aku hanya terdiam seolah memang tidak tahu apa yang harus kulakukan pria itupun hanya mencoba menenangkan wanita paruh baya itu.
“Bibi tenanglah Moe mungkin hanya lupa ingatan dan butuh beberapa waktu untuk mengingat kembali”
Disaat mereka sedang berbicara muncullah seorang wanita muda dan pria paruh baya dari dalam. Mereka serempak memanggilku Moe dan menatapku terkejut. Kurasa namaku memang Moe karena tidak hanya satu atau sua orang tapi banyak orang yang memanggilku demikian. Aku dibawa pria muda itu masuk kedalam kamarku dilantai dua bersama wanita yang kurasa beberapa tahun lebih tua dariku. Dia membantuku mandi dan berganti pakaian sementara pria muda itu turun kebawah.
“Moe…. kau tahu mungkin kau tidak mengingat kami tapi aku sangat bahagia kau kembali dan itu membuatku sangat senang,…uhh maafkan aku”
Wanita itu terlihat mengusap air matanya disaat sedang menyisir rambutku.
“Kau ingat sesuatu hal? Apapun itu?”
Aku menggelengkan kepalaku perlahan hingga akhirnya dia membimbingku keatas ranjang dan memberikan sebuah album foto berukuran besar. Dia membantuku membukanya perlahan dan kulihat pada halaman pertama persis foto yang kubawa tadi.
“Ini ayah dan ini ibu….ini kau dan ini diriku…kita bersaudara umur kita hanay berbeda satu tahun dan kau adalah adikku… adik tersayangku”
Dia menatapku dengan kedua matanya yang hampir meneteskan air mata.
“Ayah…ibu…Sis?”
Aku menguscapkan perlahan hingga diakhiri anggukan dari wanita yang kuambil kesimpulan adalah kakakku.
“Pria yang tadi?”
“Maksudmu Star?”
“Apakah kau sedang bbercanda?”
“Hahaha memang itulah namanya…sejak awal memang terdengar tidak cocok tapi bukankah kau yang menyukainya…. maafkan aku kau mungkin melupakannya juga”
“Aku menyukainya?”
“Kurasa mungkin saja apalagi kalian sudah berteman sejak kecil”
Kakakku sudah bercerita terlalu banyak hingga sampsi seluruh teman-temanku yang ia ketahui namun tidak kukenali sama sekali. Dia mengantarku untuk tidur dan mematikan lampu kamarku. Beberapa saat setelah ia pergi aku kembali terbangun dan membuka jendela kamarku untuk melihat keluar. Aku menyadari ada sebuah teleskop disebelahku dan mulai kulihat kavcanya untuk melihat bintang namun tidak dapat kulakukan karena terhalang pohon pinus yang lebat dibelakang rumah kami. Aku mengalihkan keinginanku untuk keluar kamarku dan mengendap menuruni anak tangga. Ketika aku setengah turun kebawah kudengar ada sebuah perbincangan yang kurasa mengenai diriku karena namaku disebut berkali-kali. Aku memutuskan untuk kembali keatss tanpa ingin tahu apa yang terjadi. Aku duduk diatas tempat tidurku sambil mencoba mengingat apapun yang terjadi hanya sajamsatupun tidak tertangkap. Aku tertidur hingga pagi menyingsing dan kembali aku masih tidak dapat mengingat apapun. Aku melamun sejenak hingga kutangkap sebuah mimpi yang seperti sepotong ingatanku. Aku merasa berlari ditengah hutan dengan ketakutan namun tidak kuketahui apa yang sedang kuhindari hingga akhirnya aku menengadah keatas dan semua ingatanku hilang.
“Selamat pagi putri cantikku… apakah semalam tidurmu nyenyak?”
Aku mengangguk dan terus menatap pria paruh baya yang kurasa ayahku yang tengah meletakkan sebuah nampan berisi sarapan diatas meja.
“Makanlah yang banyak… lekaslah sembuh… ayah mencintaimu”
Dia mengusap kepalaku dan berjalan keluar. Aku beralih pada sarapanku dan menatap kedalam gelas berisi susu putih tengah masih beriak yang berbentuk seperti benda yang terasa sangat familiar. Terlintas sebuah ingatan tentang segelas wine putih yang kurasa ditangznku tengah kugoyangkzn perlahan dan disisi lain kulihat sepotong tubuh pria yang belum dapat kukenali seolah tengah berlutut dan memberikan cincin kepadaku. Aku berusaha mengingatnya dan tanpa kusadari aku menjatuhkan Nampan berisi sarapanku dan soantaranya kulihat gelas susu yang pecah dan secara spontan aku ingat tengah melihat sebuah gelas wine yang pecah dan kemudian bergerak menampak sesosok pria yang tidak kuingat siapa.
“AAAAAAÀAAAAAAAAAAAA”
Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga kulihat seluruh anggota keluarga mendatangiku termasuk pria muda tadi malam yang kuingat bernama Star. Ibuku segera membawaku kedalam pelukannya disaat aku sedang ketakutan dan menangis.
“Ada apa sayang… ibu disini”
“Jauhkan gelas itu dariku… aku benci minuman warna putih…”
“Baiklah ayah keluarkan dari sini”
Ayah lekas membereskan seluruh sarapan yang sudah berantakan dan membawanya keluar dari dalam kamarku. Ibu dan kakakku membawaku keatas kamarku sementara pria bernama star itu tengah menatapku tidak mengerti. Mereka tetap terdiam selama aku masih ketakutan hingga akhirnya ibu dan kakakku meninggalkan aku bersama Star berdua mereka mengatakan agar aku lebih santai jika bersama temanku.
“Apa kau ingat sesuatu yang buruk?”
Tanyanya dengan berjalan kearahku dan duduk disampingku. Aku hanya terdiam hingga akhirnya dia mulai memberikan sebuah benda berbentuk bintang yang kurasa dibuatnya dari kertas lipat.
“Sejak kecil kau menyukai segala sesuatu yang berbentuk bintang hingga akhirnya kau berusaha untuk membeli sebuah teleskop dari uang tabunganmu….. kau ingat kau pernah memberikanku satu botol kaca penuh berisi bintang seperti ini”
Aku kembali terbayang sebuah ingatan dimana tanganku memegang sebotol kaca penuh dengan bintang berukuran kecil aku merasa aku membuatnya hampir selama seminggu dan disaat seorang anak laki-laki masuk kedalam kelas aku memberikannya kepadanya. Aku rasa itu sebuah ingatanku persis seperti apa yang dikatakan Star.
“Aku mengingatnya… bisakah ceritakan banyak hal lagi kepadaku agar aku bisa mengingatnya lebih banyak?”
“Benarkah kau mengingatnya? Tentu saja”
Aku ikut bersamanya selepas jam makan siang. Dia membawaku kearea hamparan ladang gandum yang terlihat tiada batasnya. Angin bertiup begitu kencangnya hingga membuat gaun putih yang panjangnya dibawah lututku tetap tertiup dengan mudahnya. Dia melepaskan jaketnya dan menyuruhku untuk memakainya. Kami berjalan kearah pondok yang besar yany berada dipinggir ladang dan kulihat seorang bibi bertubuh gemuk berjalan kearah kami dengan membawa sebuah ember dan garpu rumput dikedua tangannya dia terlihat habis mengurusi ternak jika diperkirakan dari sepatu bootnya yang kotor.
“Kay?…apa yang kau inginkan untuk makam malam?”
“Kay? Star?”
Dia tersenyum seolah mengerti akan apa yang kubingungkan. Bibi itu berjalan mendekat dan terlihat terkejut melihat keberadaanku.
“Moe?….”
Dia berlari kearahku dan memelukku sangat hangat hingha akhirnya melepaskanku dengan mengusap air matanya.
“Kami sudah hampir putus asa mencarimu? Apa yang terjadi sayang”
“Ibu tidak tepat menanyainya saat ini”
Kulihat Star terlihat menggapai tangan ibunya itu dan menggelengkan kepalanya pelan seolah membuat sebuah isyarat yang tidak kuketahui artinya. Star membawaku berkeliling ladang untuk merasakan angin yang memang begitu kencangnya namun aku tidak merasakan sedikit hembusanpun yang menerpa tubuhku karena selama ini aku hanya membayangkan bagaimana rasanya saja. Kami berjalan hingga mencapai sebuah rumah pohon yang sangat tua.
“Mars…”
Ucapku dengan spontan tanpa kuketahui apa artinya.
“Kau mengingatnya… emm rumah pohon itu kau yang menamakannya”
Dia terus mengajakku melihat-liht sejenak dan akupun memanfaatkannya dengan memutarinya sejenak dan bermaksud hendak memanjatnya. Dia tidak melihatnya disaat aku memanjat hampir terlampau jauh namun karena kondisinya yang sudah tua tangga yang kupanjat sudah lapuk dan tidak mampu menahan berat tubuhku pada akhirnya aku terjatuh.
“Aaaa”
“Apa yang terjadi?”
Star segera membantuku berdiri namun disaat itu memoriku seolah terbangun kembali dan aku melihat wajah laki-laki kecil tadi yang pernah kubayangkan sebelumnya tampak terlihat mengulurkan tangannya kepadaku membantuku menaiki tangga rumah pohon ini.
“Kepalaku sakit”
“Aku akan mengantarmu pulang… kau membenturkan kepalamu terlalu keras”
“Tidak.,tidak bukan itu… aku merasa mengingat sesuatu…. kumohon teruslah membantuku mengingat semua itu”
Setelah bbpeberapa saat berhenti sejenak dia mengajakku kesebuan kedai kecil yang tidak jauh dari sana. Kurasa kedai itu milik seseorang yang juga kukenal. Kami memesan menu yang sama hingga akhirnya tidak beberapa lama seorang perempuan muda mengantarkan pesanan kami dan meletakkannya dengan sedikit emosi makanan yang kupesan.
“Akankah aku berbuat salah kepadanya”
Tanyaku pelan kepada Star yang tengah menyedu teh pesanannya namun dia hanya tertawa sebentar sebelum akhirnya menarik tangan perempuan itu.
“Tentu saja tidak kau dan Bonny berteman sangat baik bahkan kalian bersahabat”
“Hentikan Kay jangan memberikan informasi yang salah”
Wanita yang bernama Bonny itu terlihat tidak menerima jika kami dikatakan berteman sehingga segera menyangkal penuturan Star.
“Kenapa? Kaliankan memang berteman”
Ucap Star dengan santai sambil menyedu tehnya kembali. Aku masih sedikit penasaran namun aku menepis itu dan menganggap itu semua hanya lelucon mereka. Kami kembali keladang jagung untuk mencapai truk miliknya dan mengantarku pulang. Disaat dia sedang meninggalkanku sejenak disebelah truknya untuk hal yang tidak kuketahui. Aku hahya terdiam sambil bermain-main dengan batua-batu kecil dan tidak kusadari aku telah menendangnya dengan keras sehingga tanpa sengaja sepatu yang kukenakan terlempar kearah semak-semak dan membuatku harus mengambilnya. Aku mencarinya dengan teliti hingga akhirnya kutemukan sepatuku berada tepat disebuah kuburan kecil yang kuperkirakan kuburan itu milik hewan peliharaan. Aku mencoba melihatnya lebih detail sambil memakai sepatuku kembali. Aku membaca sebuah batu nisan kecil yang tertancap diatas sana.
“Mars?”
Aku memejamkan kedua mataku seolah melihat kenanganku bermain dengan seekor anjing kecil dan tidak kuketahui siapa anjing itu.
“Moe?..”
Aku segera berjalan kearah Star disaat dia memanggilku tepat disebelah truknya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku mengambil sepatuku”
“Kau tidak melakukan sesutu yang lainnya?”
Tanya Star dengan curiga seolah aku menyembunyikan sesuatu kepadanya namun aku hanya menggelengkan kepalaku dan segera masuk kedalam truknya untuk segera pulang kerumah. Aku masih saja penasaran akan banyak hal hingga tidak dapat tertidur malam ini. Aku membulatkan tekad untuk menanyakan semuanya kepada Star yang sebenar-benarnya namun aku memikirnya kembali hingga akhirnya aku memutuskan jika dia tidak akan menceritakan hal yang benar-benar terjadi karena sebuah kejanggalan ini. Aku tidak dapat tertidur karena banyak sebuah rahasia yang disebunyikan dariku terutama Mars meskipun Star sudah mengatakan Mars adalau sebuah rumah pohon hanya saja aku merasa itu tidak benar. Aku terus terfikir akan hal demikian hingga aku terlelap dan kembali aku bermimpi mengenai keadaan dimana aku berlarian dihutan dan bangun dengan ketakutan. Aku memutuskan untuk mengunjungi Bonny karena kurasa dia terlihat tahu sesuatu pada pagi harinya.
“Bonny bisa kita berbicara?”
“Tidak… apa kau tidak lihat aku sedang sibuk”
“Kumohon aku benar-benar membutuhkan bantuanmu”
“Huf baiklah”
Dia mengantarku kearah loteng kedainya yang adalah rumahnya. Dia membawaku kedalam kamarnya dan menyuruhku duduk diatas ranjangnya.
“Aku tidak mengingat sedikitpun kamarmu ini”
“Tentu saja kau tidak pernah kesini karena kita bukanlah teman baik…sebensrnya kita ini bermusuhan”
“Benarkah? Maafkan aku”
“Selmah itukah kau saat ini? Biasanya kau akan menepis ucapan burukku yang membuatmu sakit hati dahulu”
Disaat Bonny sedang mengambil suatu benda dibawah tempat tidurnya seorang wanita paruh baya masuk kedalam yang tidak lain adalah ibu dari Bonny untuk memberrikan dua gelas teh hangat.
“Moe minumlah dulu…”
“Terimakasih bibi”
Tak berapa lama ibu dari Bonny keluar dan kulihat Bonny memberikanku sekotak besar yang entak isinya apa. Aku membuka perlanan dan hampir banyak barang disana. Aku mengambil sebuah bendat terbungkus kain kado yang terlihat sudah usng.
“Kau mungkin tidak akan mengingatnya tapi itu adalah hadiah yang sebenarnya ingin kuberikan padamu disaat ulang tahunmu yang ke 8 namun aku terlalu emosi disaat itu akhirnya aku pulang”
“Ulang tahunku?”
Aku mengambil benda lainnya yang kurasa sebuah kartu undangan milikku untuk Bonny kurasa aku mulai mengingat sesuatu mengenai ulang tahunku. Sebuah pesta dimana banyak temanku merayakannya dan kulihat juga anak laki-laki yang selalu pada memoriku juga ikut merayakannya. Aku melihat seorang gadis kecil membawa sebuah kado namun hanya berdiam dipojokan dan kemudian berlari keluar, aku ingin mengejarnya namun aku dihalangi oleh banyak teman-temanku yang lain.
“Aku ingat…maafkan aku sebenarnya aku ingin mengejarmu dan membawamu kembali kesana”
“Sudah tidak masalah yang terpenting kau kesini ingin mengetahui sesuatu bukan? Jika aku terlalu berteman aku akan lebih susah menyampaikan segala sesuatunya dengan mudaah termasuk hal yang menyakitkan sekalipun”
“Maksudmu?”
“Karena kau musuhku aku akan bercerita dengan jujur tanppa memperdulikan hal yang kau rasakan”
“Baiklah”
“Kau berteman baik dengan Kay sejak kalian kecil…kau mengingatnya”
“Kurasa iya… perasaanku mengatakan hal yang sama”
“Selepas menyelesaikan sekolah menengah atas kau melanjutkaan studymu kesebuah universitas diluar kota. Selepas itu aku tidak tahu apa lagi yang terjadi kepadamu aku hanya mendengar kau akan menikahi seorang dokter disebuah rumah sakit yang sangat terkenal namun beberapa bulan ini banyak yang mengatakan kau tidak jadi menikahinya”
“Kau tahu sesuatu mengenai Mars?”
“Apakah Kay tidak memberitahumu? Dia itu rumah pohonmu”
“Kumohon beritahu aku dengan jujur”
“Kurasa aku akan menjadi temanmu saat ini… huff… dia adalah anjing yang kau temukan bersama Kay dididalam hutan pinus dibelakang rumahmu…”
Aku memegangi kepalaku disaat sebuah memori berputar mengenai seekor anak anjing.
“Kau tidak papa?”
“Tolong teruskan saja”
“Kalian menjaganya bersama hingga anjing itu tumbuh menjadi dewasa. Kau meninggalkannya tanpa berpamitan padanya disaat kau akan pergi melanjutkan sekolahmu diluar kota. Dia terus menunggumu ditempat yang sama dimana dia selalu menunggumu sebelumnya hingga dia tidak mau makan dan minum hingga mati dan dimakamkan ditempat yang sama tapi kau seolah tidak perduli”
“Sejahat itukah diriku”
Aku terus memegangi dadaku yang mulai terasa sesak dan sulit bernafas hingga akhirnya sebuah sakit kepala yang begitu menyiksa meraja lela dikepalaku. Selepas aku dari kedai Bonny aku segera berlari menuju kuburan Mars dan mencoba membuka kuburannya dengan kukuku namun aku terhenti oleh Star.
“Hentikan Moe…hentikan sudah tidak ada gunanya lagi mengeduknya”
“Maafkan aku…maafkan aku…”
Aku meneteskan air mataku hingga keatas gundukan tanah kuburan Mars.
“Kau jahat Star kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya”
“Kau tahu… aku hanya tidak ingin membuatmu semakin menderita disaat kau tidak stabil saat ini…. aku tahu karenaa ini kau semakin tidak mempercayai siapapun tapi satu yang harus benar-benar kau percayai aaku tidak akan menyakitimu”
Aku memeluk Star dan meremas bajunya dengan cukup keras dan ia memlukku balik. Beberapa hari berlalu dan keadaanku semakin membaik hingga akhirnya ayah dan ibuku mengantarku kekota untuk menerima tindakan medis yang lebih baik karena selama ditempat tinggalku aku hanya diberikan pertolongan dari obat-obatan dan ibuku memutuskan untuk menerima terapi untukku. Kami segera menemui dokter untuk melihat keadaanku terlebih dahulu. Seorang doktertanpan dengan rambutnya yang keemasan terlihat duduk didepan mejanya menatapku dengan terkejut seolah aku ini hantu. Dia menghampiriku dan hampir memegangku namun secara reflek aku menolaknya seolah aku memang benar-benar tidak mau dipegangnya ibu dan ayahku keheranan akan apa yang terjadi.
“Kenapa kau… maksudku… kau maish hidup?”
“Apakah anda mengenal putriku?”
Tanya ibuku keheranan.
“Ya dia kekasihku”
Aku membelalakan mataku mendengar penuturan dari pria itu yang membuatku semakin ketakutan. Entah mengapa aku sangat takut dengannya seolah dia bertindak sangat jahat kepadaku.
“Aaaaaa”
Aku berteriak cukup keras disaat dia hampir menyentuhku yang pada akhirnya dia mengurungkan niatnya.
“Pergilah jangan sentuh aku!”
Akihirnya terapi tidak jadi kami lakukanya dan orangtuakupun mengajakku untuk kembali kedaerah kami. Entah mengapa aku seolah percaya akan penuturannya hanya saja aku befitu membencinya entah untuk alasan apa. Beberapa hari aku selalu bermimpi akan hal yang sama hingga akhirnya aku kehabisan ide untuk mengembalikan ingatanku karena selama ini sama sekali belum bertambah memoriku yang hilang itu. Aku memutuskan untuk melawan rasa sakitku pergi kembali kepada pria itu meskipun aku terlalu takut namun untuk mengembalikan ingatanku juga butuh pengorbanan. Dia meluangkan waktunya untuk berbicara denanku ditaman rumah sakit dimana ia bekerja.
“Bagaimana kondisimu?”
Tanyanya yang tidak kujawab sama sekali.
“Aku tidak tahu kenapa kau sangat membenciku tapi aku akan memakluminya karena kau sedang dalam kondisi tidak baik saat ini… apa kau mau meneruskan terapimu?”
Aku menggelengkan kepalaku dan kemudian menatapnya dengan tajam walaupun jarak kami begitu jauh saat ini.
“Banyak temanmu menanyakan kondisimu disaat kau hilang beberapa bulan yang lalu. Apa kau tidak ingin menemui mereka?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku mengerti hanya saja mungkin itu akan menjadi terapi terbaik jika kau lakukan…kau akan menemukan sedikit demi sedikit memori yang hilang”
Kulihat dia terssnyum tipis sambil menatap keatas langit. Dia terlihat sangat tampan dan mempesona hanya saja terlihat menyimpan begitu banyak rahasia yang mengerikan dariku.
“Aku sennag dapat bbertemu lagi denganmu tahukah kau betapa sulitnya diriku mencarimu hingga aku harus mengambil cuti selama beberapa bulan”
Dia membawaku mengelilingi tempat itu dan kamipun sampai dipelataran tampat ibadah. Seorang pendeta tampak menadangi kami dari jauh dan berlari mendatangi kami.
“Selamat pagi Dokter Kris?”
“Selamat pagi Bapa…”
Dia memandangiku dengan sangat mengintimidasi sehingga aku benar-benar ketakuta. Pada akhirnya dia hanya berpamitan pergi dari sana tapi sebelumnya dia memberikan kepada pria bernama Kris itu sebotol kecil ir yang kurasa air suci beserta sebuah rosario kecil.
“Seharusnya kau tidak berada disini… setelah kau menyelesaikan permasalahanmu didunia pulanglah keasalmu berada”
Aku keheranan jika dia memaksudkan ucpan itu untukku tentunya aku akan kembali kedaerahku selepas aku mengingat semuanya tapi aku merasa semakin banyak kejanggalan disini masa bodoh yang penting aku dapat mengingat semuanya.
“Tidak perlu kau pikirkan perkataanya.. Bapa memang seringkali mengatakan ucapan yang tidak kumengerti”
Dia kembali membawaku berjalan kedaerah kantin yang ada disana dan memesankan secangkir kopi.
“Taukah kau betapa sulitnya aku mencarimu dimana-mana bahkan hampir setiap hari aku mengunjungi asramamu dan tempat-tempat kesukaanmu berharap kau hanya marah sekejap kepadaku dan kita dapat menyelesaikan semuanya dengan baik”
“Kau berbohong kan? Semua yang kau katakan adalah kebohongan bukan?”
Dia terlihat sedikit terkejut mendengar ucapan dariku namun wajahnya kembali sayu dan menatapku dengan beribu arti. Aku semakin tidak mempercayai pria ini. Aku benar-benar berfikir jika dia itu pria yang jahat.
“Aku tidak bisa memaksamu untuk menerima semua ceritaku hanya saja aku berharap kau selalu sehat dan kembali seperti semula itu saaja sudah membuatku senang”
Dia pergi dari sana dan meninggalkanku sendiri. Aku menerima telpon dari ibuku tidak lama setelah itu. Ibuku mengatakan jika dia sudah memberitahukan ibu asramaku mengenai kedatanganku dan menyuruhku menungguku disana sebelum ibu asramaku datang menjemputku. Selepas ia menjemputku dia membawaku keasramaku dan menyruhku tinggal beberapa hari untuk menyembuhkan ingatanku.
“Istirahatlah nanti aku akan memanggilmu pada saat jam makan siang… sifatmu masih sama saja keras kepala…seharusnya kau jangan berpergian sendiri disaat kondisimu masih seperti ini”
Aku hanya tersenyum mengiringi kepergiannya. Sebenarnya aku tidak memberitahukan kepergianku kesini kepada kedua orang tuaku hanya saja kakakku membantuku mencarikan tiket bus antar kota untuk menuju kemari. Aku berjalan kearah ranjangku dan mengamatinya sejenak sebelum akhirnya memutuskan duduk diatas kursi yang kuletakkan didepan meja belajarku. Aku teralihkan pada beberapa box besar diatas meja belajarku yang terdapat tulisan Mars diatas sana. Aku membukanya perlahan dan terdapat beberapa barang familiar yang sudah dapat kukenali sebelumnya dan juga beberapa foto kenangan dimana terdapat diriku dan Star disana namun anehnya tidak kudapati wujud Bonny dimanapun. Aku langsung saja berasumsi jika kita tidak menjadi teman satu kelas ataupun satu sekolah. Aku juga mendapati beberapa album kenangan sekolah tapi kejaanggalannya terletak pada nama sekolah dan alamat sekolah yang berada diluar daerah asalku yaitu dikota ini. Aku merasakan kepalaku semakin kesakitan dan bersimpulan jika tidak ada yang jujur denganku bahkan Bonny sekalipun.
“Moe makan siang sudan…apa yang terjadi?”
“Bibi siapa sebenarnya diriku?”
“Kau Moe bukan?”
“Bibi semuanya berbohong mengenai masa laluku”
“Coba ceritakan yang jelas apa yang terjadi?”
“Semuanyaberbohong kepadaku Bibi”
Ibu asrama menatapku dengan penuh perhatian hingga akhirnya dia mulai menceritakan sesuatu kepadaku.
“Aku memang tidak terlalu mengenalmu Moe karena kita baru bertemu disaat kau menjadi mahasiswa baru disini. Aku ingat kau sosok wanita yang pandai dan penuh dengan semangat. Kau menjalin hubungan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang saat ini sudah menjadi seorang dokter dirumah sakit tadi hingga akhirnya kalian memutuskan akan menikah Namun diakhir kelulusanmu kau menghilang entah kemaana tapi malam sebelumnya seorang pria menjemputmu dan selama beberapa bulan kau menghilang…. satu bulan yang lalu ibumu menghubungiku dan megatakan jika kau ditemukan dan itu membuatku senang…”
“Siapa pria yang menjemputku dimalam itu”
“Aku tidak terlalu mengenalinya hanya saja kau terlihat mengenalinya.. dia menjemputmu dengan mobil berwarna kuning…”
Aku seolah menemukan sebuah ingatan mengenai mobil itu dimana kulihat seorang pria sedang mengemudikannay bersamaku. Aku mengingat disebelah kiri dan kanan hamparan gandum sudah mulai menguning. Aku juga ingat sebuah gonggongan anjing dari arah kuris dibelakang. Kami seolah tertawa bersama dan aku tidak dapat mengingat wajahnya.
“Apakah pria itu pria yang sama dengan dokter itu?”
“Maksudmu dokter Kris? Kurasa bukan dokter kris hampir setiap malam datang kemari untuk menanyakan keberadaanmu kepadaku semeenjak kau menghilang bahkan dia sampai menyewa detektif lokkal untuk mencari keberadaanmu … baiklah jika ada yang ingin ditanyakan kembali tanyakan saja… bibi berada dikamar bibi”
Aku mengambil kesimpulan jika Star merupakan sumber dari segala ingatanku namun aku merasa selama ini dia terus membohongiku dan menutupi segala sesuatunya dariku tapi tentu saja aku tidak berfikir jika dokter itu tidak berbahaya. Aku seolah mengingat sesuatu kembali mengenai dokter itu. Aku merasa kami pernaah datang bersama kesebuah tempat untuk melihat bintang digedung yang tinggi kurasa mungkin saja dia berkata jujur. Aku memutuskan untuk pergi kesana setelah mencari tahu dimana lokasnya yang tidak lain tidak jauh dari sana. Aku datang seornag diri disana kurasa memang tempat ini tidak terlalu populer hanya saja masih ada beberapa pengunjung yang sengaja mengajak kekasihnya untuk bermesraan. Aku mendatangi sebuah teropong yang kurasa tidak dipakai oleh siapapun namun pada waktu yang sama kulihat dokter itu juga akan memakainya.
“Kau kemari?”
Tanyanya padaku dengan kujawab anggukan saja. Diamterlihat mempersilahkanku untuk memakainya terlebih dahulu. Aku seolah bertambah mudah untuk mengingatnya kembali apalagi dengan keberadaanya disini dengan pakaian yang kurasa sama seperti yang dipakainya dalam ingatanku.
“Baju itu?”
“Iya kau mengingatnya? Maafkan aku… aku sengaja kemari dengan mengenakannya agar aku bisa merasakan kembali kenangan bersamamu jujur aku sangat merindukannya”
Dia menatapku dengan tersenyum tipis membawaku mengingatnya kembali senyuman itu. Aku merasa lebih aman berada disini daripada didaerahku sendiri meskipun sebenarnya pria ini sangat mencurigakan.
“Kau benar-benar kekasihku?”
“Kau tidak mempercayaiku?”
Aku terdiam dengan menundukan kepalaku tapi dia hanya menggapai tanganku dan membawaku turun dari atas gedung itu. Dia mengajakku berjalan mengitari kolan yang ada disana dan memsankanku sebuah kopi hangat.
“Kau benar-benar tidak mempercayaiku?”
“Apakah kau tidak dapat memaklumi kondisiku saat ini.,. Tidak ada satupun orang yang bisa kupercaya karena pada dasarnya manusia hidup hanya diluputi kebohongan”
“Aku setuju tentang itu… tapi perasaan manusia terlalu kuat sehingga dia dapat membedakan mana yang salah dan yang benar”
“Apakah itu juga berlaku padaku?”
Dia menganggukan kepalanya dan tersenyum kembali. Aku mulai menatapnya dan mencoba merasakan sesuatu kepadanya akankah bahaya atau tidak orang itu namun sejauh mataku melihatnya hanya sebuah ketakutan yang hanya kurasakan tapi jauh dari itu aku merasa aman dan nyaman bersamanya seolah aku merasakan benar-benar mencintainya tanpa tahu apa sebabnya.
“Kau masih belum dapat membedakan diriku berbahaya atau tidak bukan?”
Dia menarikku kedalam pelukanya dalam hitungan detik dia mencium bibirku dan membuah dunia seolah berhenti. Aku menatapnya terkejut selepas ia melepaskan ciuman kami namun dia terlihat hanya tersenyum. Beberapa detik aku seolah teringat akan kejadian yang sama mengenai ciuman yang kami lakukan. Aku berkesimpulan jika benar jika dia adalah kekasihku.
“Kau tahu betapa putus asanya diriku mencarimu bahkan pada akhirnya banyak yang mengatakan jikka dirimu sudah meninggal… uhhh sekarang tidak mengapa yang terpenting kau sudah kembali meskipun kau tidak mengingatku kembali…”
“Aku penasaran mengapa kau tidak jadi menikahiku? Dan lagi waktu itu mengapa ibu dan ayahku tidak mengenalimu jika kau benar-benar kekasihku”
Aku benar-benar ingin mengetahui kebenaran itu karena Bonny sempat mengatakan aku tidak jado menikah dan tidak tahu alasannya apa. Aku hanya ingin mengetahui apapun itu saat ini.
“Siapa yang mengatakannya kita membatalkan pernikahan? Orang tuamu? Bukankah ayahmu sudah meninggal disaat usiamu lima tahun dan ibumu meninggalkanmu kemudian? Kau sendiri yang mengatakan hanya tinggal bersama keluarga Mars? ”
Aku merasa semakin bingung dengan keadaan ini dan semakin tidak percaya dengan siapapun lagi.
“Kau tahu mengenai Mars itu?”
“Kau tidak terlalu menceritakan banyak hal mengenai Mars hanaya saja kau pernah mengatakan jika kalian berteman sejak kecil dan mengenyam pendidikan sejak sejak sekolah menengah pertama disini”
“Jadi Mars itu bukan anak anjing atau rumah pohon… mengapa kau membohongiku disaat kondisiku seperti ini yang sangat membutuhkan bantuan orang lain..hiks…hiks”
Aku menangis merasa sangat sakit hati kepada semuanya. Kris menggapai tubuhku dan membawaku kedalam pelukanya. Rasanya lebih hangat dan nyaman dibandingkan Star yyang melakukannya apalagi setelah banyak kebohongannya kubuka. Kris membawaku kedalam apartemennya dan menyuruhku duduk diatas sofanya sementara dia membuatkan segelas susu coklat untukku.
“Susu cokelat?”
“Iya… kau tidak menyukai benda dengan warna putih bukan… kau pernah mengatakan ibumu pergi bersama pria lain menggunakan baju berwarna putih… kau mengingatnya”
Aku terbayang disaat ibuku pergi dan aku masih berlari menggapai kakinya namun dia tetap saja meninggalkanku. Kurasa yang ia katakan benar adanya.
“Apakah aku dapat mempercayaimu”
“Itu tergantung darimu”
Dia mengusap kepalaku dan meninggalkanku masuk kedalam mempersiapkan kamar tidur untukku. Dia memintaku untuk bermalam disini karena keadaan sudah sangat malam jika memaksakan untuk kembali keasramaku. Aku berjalan-jalan sejenak disana merasakan nuansa yang sangat familiar dan juga benar-benar kukenal. Aku berjalan kearah balkon apartemennya dan kudapati teropong bintang juga disana. Aku mencoba melihat dengan itu dan memang terlihat sangat jelas dari sini dibandingkan balkon rumah yang terhalang banyak pohon pinus. Aku tidak habis pikir mengapa mereka membohongiku toh tidaak ada gunanya juga mereka berbohong kepadaku. Aku semakin ingin tahu alasan mereka berbuat baik kepadaku tapi pada akhirnya perbuatan baik mereka adalah kebohongan semata.
“Moe? Kenapa kau ada disini? Masuklah udara benar-benar dingin diluar sini”
Aku dibawanya kembali masuk sebelum menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal. Dia membimbingku masuk kesebuah ruangan yang kurasa tempat dia bekerja. Dia memberikan sebuah album foto kepadaku.
“Apa ini?”
“Ini album foto yang mungkin akan membantumu mengingat sesuatu”
Dia membuka lembar pertama dan aku melihat sebuah foto kelulusan yang disana ada Star dan Bonny juga.
“Star…Bonny?”
“Kau mengenal mereka?”
“Iya… mereka tinggal didaerahku juga”
“Ini semakin aneh….
Aku menaikkan alisku tidak terlalu mengerti.
“Tunggu sebentar siapa yang kau panggil Star?”
“Kay….”
“Ini tidak benar…kau benar-benar tidak mengingatnya? Starmu bukan Kay…tapi Mars..”
Dia membalikkan lembarannya dan terlihat sesosok anak laki-laki didalam foto terlihat berdiri disebelahku dengan wajah yang sama dengan wajah Kay. Kepalaku semakin berkunang-kuna. Emosiku memuncak karena dibohongi sejauh ini oleh mereka. Aku merasakan dipermainkan dengan mudahnya. Aku memang merasa sangat familiar dan seolah kenangan bersama Mars benar-benar kembali kepadaku. Aku merasa benar-benar bisa mengingat semuanya disaat aku mengetahui kebenaran itu.
“Aku mengingatnya…aku benar-benar mengingatnya…tapi kenapa mereka tega berbohong kepadaku?”
“Aku juga tidak mengetahuinya….”
“Dimana Mars sekarang? Kau tahu dia dimana?”
“Dia sudah meninggal Moe..”
“Kenapa? Apakah kau bisa menceritakannya semuanya…semuanya”
“Kau pernah bercerita kau sudah tidak memiliki orang tua lagi akhirnya kau tinggal bersama keluarga Mars… kau meninggalkan daerahmu sejak memasuki sekolah menengah pertama dan hidup disini bersama Mars hingga kalian menduduki sekolah menengah atas dan menjadi adik kelasku. Diwaktu yang sama kakak Mars bersama temannya yang bernama Bonny ikut menempuh pendidikan yang sama dikota ini hingga kita semua menyelesaikan pendidikan bersama. Kay dan Bonny kembali kedaerahnya dan kudengar mereka menikah sementara kau dan Mars masih berada disini untuk menyelesaikan sekolah. Kita termasuk Mars mengenyam pendidikan yang sama di Universitas yang sama hanya saja aku menambil pendidikan kedokteransaat itu. Kau sudah mengingatnya”
“Kurasa aku benar-benar merasa mengalami itu semua dan aku mengingatnya”
“Tentu saja karena ini semua ingatanmu… hanya saja pada saat terakhir kau mengidap penyakit jantung dan dikatakan tidak dapat diselamatkan… akupun tidak tahu harus melakukan apa hingga pada malam harinya Mars datang menemuiku dan mengatakan untuk menjagamu…aku tidak tahu apa maksudnya hingga akhirnya kuketahui dia mendonorkan jantungnya untukmu walaupun pada awalnya tidak berjalan baik namun kau berusaha beradaptasi dengan jantung Mars dan kau benar-benar menjaga jantunya dengan sangat baik… kau patah hati setelah mengetahui apa yang Mars lakukan tapi akhirnya kau berangsur-angsur dapat mengerti itu. Kau juga pernah mengatakan kepadaku…sekarang tidak ada lagi yang dapat kupanggil dengan nama Star bisakan kau menggantikannya… akhirnya kita bertunangan dan dimalam sebelum kau menghilang ibu asrama sempat memberitahuku ada seorang pria tak dikenal menjemputmu dan sampai saat ini sku tidak mengetahuinya… akan kah kau mengingat sesuatu?”
Aku berusaha keras memutar otakku hingga sebuah darah keluar dari hidungku dan disaat itu aku mengingatnya.
“Kay….”
“Kay?”
Aku ingat dia selalu maksaku untuk bertemu selepas kematian Mars dan dia yang memaksaku untuk bertemu dengannya.
“Apakah malam itu akan diadakan sebuah hal yang penting keesokan harinya?”
“Kurasa tidak… hanya saja tiga hari lagi kita akan menikah…sebentar bukankah keesokan harinya ada peringatan kematian Mars…”
Aku membelalakan mataku teringat kunci dari semua ini dimana Kay memancingku dengan datang keasramaku menggunakan mobil kucing milik Mars dan membawaku kesebuah gubuk kecil ditengah hamparan gandung dan disana letak ingatanku menghilang.
“Aku tidak tahu menggapa tapi aku merasa aku ini tidak hidup lagi”
Kris mengerutkan keningnya tidak mengerti tapi aku baru menyadarinya jika selama ini aku tidak pernah merasakan apapun. Aku terlalu fokus dengan ingatanku sehingga aku lupa dengan kondisiku saat ini. Aku masih dapat menggapai sesuatu namun aku tidak benar-benar merasakan apapun. Aku masih dapat mengetahui angin yang berhembus hanya saja aku mengingat bagaimana rasanya bukan benar-benar meraskannya.
“Jangan main-main disaat seperti ini… kau ini masih hidup…”
“Mungkin saja kau benar tapi mungkin saja aku memang benar-benar tidak lagi bernafas… kau ingat Pastur itu pernah mengatakan hal demikian…kau masih mengingatnya buka”
“Moe bukankah sudah kukatakan sebelumnya dia sering mengatakan segala sesuatunya dengan seenaknya…”
“Tidak mungkin hal seperti itu pastilah ada tujuannya… kumohon… terimalah pendapatku”
Kami berselisih dengan sangat sengit malam ini hingga dia meninggalkanku dipagi harinya dengan meja yang penuh dengan sarapan yang ia buat. Aku melihat kedalam gelas susu cokl yang ia buat dan teringat akan sebuah ingatan diaman seorang pria berlutut didepanku dan saat ini terlihat dengan sangat jelas jika pria itu adalah Mars yang melamarku dan kami terlibat sebuah percekcokan selepas itu mengenai pendonoran jantung yang ia akan lakukan kepadaku. Aku bertekad untuk kembali kepondok kecil ditengah ladanggandum itu lagi tanpa memberitahukannya kepada siapapun. Aku menjalani perjalanan yang cukup lama menggunakan bus kota dan akhirnya sampailah aku disana. Aku diam-diam segera menuju kesana tanpa diketahui oleh siapapun. Tempat yang pertama kudatangi adalah kuburan milik Mars yang dikatakannya anjing itu namun disaat benar-benar kubukan isi dari kuburan itu adalah sebuah cincin yang diberikan Mars kepadaku. Disaat aku hampir beranjak kesana aku mendapati sosok Kay sudah mengetahui keberadaanku.
“Moe? Sedang apa kau disini? Kapan kau pulang?”
“Itu tidak penting lagi…. saat ini aku sudah ingat semuanya”
Kay terlihat muali bersikap berbeda dari sebelumnya diawali dengan senyum sinisnya kepadaku.
“Sia-sia juga usahaku hingga detik ini…ikut aku”
Dia menarikku dan memaksaku seperti sebelumnya memasuki pondok itu meskipun aku menolaknya. Kulihat didalam pondok itu hanya terdapat sebuah tumpukan batang gandum yang sudan menguning dengan keadaan yang snagat gelap.
“Aku tidak tahu bagaimana kau masih dapat hidup”
“Maksudmu?”
“Kau belum ingat juga?”
Dia menarikku kearah sebuah kuris kayu yang ada disana namun aku memaksakan untuk melepaskan cengkeramannya . Hampir saja aku dapat terlepas sesosok wanita yang tidak lain adalah Bonny mencoba menangkapku dan membantunya untuk mengikatku disana. Dia terlihat melepaskan sebuah tali yang tergantung ditepian tembok dan akhirnya sebuah kejutan mmengerikan terlihat dengan kedua mataku. Aku melihat tubuhku digantung didepanku dengan kedua tanganku ditali keatas. Kepalaku terlihat penuh dengan darah. Dalam beberapa detik aku benar-benar mengingat semuanya mereka yany menyiksaku dan kemudian membunuhku. Mmereka menculikipu dan memukuli kepalaku dengan balok kelapa hingga aku sudah lupa bagaimana sakitnya penyiksaan yang mereka lakukan itu.
“Mengapa…mengapa kalian tega melakukan ini? Apa salahku?”
“Kau masih bersikap polos menanyakan itu? Padahal sudah kukatakan sebelumnya disaat kau memohon ampun padaku dulu karena aku hanya suka melakukan itu padamu… pada wanita yang dicintai adikku namun pada akhirnya setelah dia diberikan banyak kebaikan oleh adikku hingga adikku rela memeberikkan jantungnya dia meninggalkannya dengan pria lain”
“Maafkan aku…maafkan aku… aku sungguh-sungguh mencintai adikmu… dan sebenarnya aku benar-benar tidak menerima keputusan Mars melakukannya hanya saja dia berkeras hati dan aku berfikir dia masih tetap hidup dan berdetak bersamaku”
“Kau masih bisa menangis? Kau sudah tidak dapat bernafas lagi seharusnya kau tidak bisa hidup lagi”
“Aku juga tidak tahu tapi pada akhirnya aku megerti aku ingin kalian kembali kejalan yang baik…”
“Jagan menasehatiku… kau hanya hidup sebagai parasit…lebih baik kau mati saja…”
Hampir saja Kay memukulku kembali pintu seolah dipaksa terbuka dan dapat kulihat Kris sudah berada didepan sana.
“Hebat… kau bisa mencapai tempat ini…tapi sayangnya kau sangat sangat terlambat…”
Kris terlihat shok menatap tubuhku yang sudah tak bernyawa lagi namun dia juga terlihat bingun mendapati diriku masih terikat diatas kursi.
“Kau manusia rendahan… tidak tahu belas kasihan”
Dia mencoba menyerang Kay namun Kris dapat dikalahkan dengan mudah. Hingga pada akhirnya disaat Kris hampir dihabisi oleh Kay aku berusaha sekuat tenaga mendekatinya dengan menjatuhkan kursiku dan berjalanmerambat untuk menggapainya yang tergeletak tidak jauh dariku. Aku berusaha menghalanginya dan melihat kearah wajahnya yang sudah terhalangi oleh darah yang mengalir sangat deras. Aku menautkan wajahku padanya dan mengatakkan maaf dengan pelan. Aku sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Kay namun sebelum dia memukuli kami Bonny meenghalanginya dan membuka ikatanku.
“Larilah…maafkan aku… kita teman bukan”
“Terimaksih..selalu kita teman”
Aku membawa tubuh Kris yang sudah tidak berdaya keluar dari sana dan meminta pertolongan beruntung ada sebuah mobil lewat kedepan kami yang tidak lain adalah ibu asrama.
“Moe apa yang terjadi? Aku kemari karena mencemaskanmu setelah Kris datang padaku tadi dan menceritakan semuanya kepadaku”
“Bibi tolonglah Kris kumohon bawalah dia kerumah sakit dan tolong panggilkan polisi kemari”
Aku memasukkan Kris kedalam dan tidak lama mobil Ibu asrama melaju kencang menjauh dari sini. Aku kembali kesana bermaksud menolong Bonny tapi sayang kurasa terlambat. Kay berhasil keluar dari sana dan menemukan keberadaanku. Aku berlari kearah belakang pondok itu dan mendapati hutan pinus yang sangat tinggi. Aku ingat sebelumnya aku pernah berlari disini sebelum berhasil ditangkap oleh Kay kurasa kejadian itu terullang kembali. Dia berhasil menangkapku dan akan membawa kepondok tadi namun sebuah sinar yang menyilaukan membuat mata kami buta beberapa saat. Tangan Kay terlepas dan seolah ada sosok pria menangkapku.
“Moe…Moe…”
Aku membuka mataku dan kulihat Mars tengah berada didepanku. Aku meneteskan air mataku dan segera memeluknya. Kay terlihat sangat terkejut juga melihat keberadaan Mars disana.
“Kak kenapa kau melakukan itu pada Moe?”
“Maafkan aku…aku hanya marah kepadanya”
“Kematianku bukan salahnya… ini keinginanku sendiri agar aku bisa hidup dan menyatu selamanya bersamanya. Tapi mengapa kau melakukan ini kepada Moe…ini semuanya salahmu Kak”
“Berikanlah aku kesempatan kembali”
“Aku sudah memberinya tapi kau tetap zaja kalut dan bermaksud membunuhnya semuanya sudah terlambat kak… sebenarnya aku berfikir dengan kehadiran Moe dapat menggantikanku tapi kurasa aku salah”
Mars membawaku menjauhi Kay. Kali ini aku benar-benar mengingat dan tahu semuanya. Aku merasa memang tidak aman tingbal disini. Aku ingin bersama Mars saja selamanya. Dia membawaku berbaring ditempat dimana aku berbaring untuk pertama kalinya. Aku menikmati waktu itu bersama Mars hingga aku lupa bagaimana akhirnya.