Sign In

Remember Me

Karat di Januari – Beku Akhir

disini aku duduk di sofa coklat motif garis biru

melihat mu dipojok sana menabuh drum dengan semangatmu

 

jika bukan karena kerja sama mu dengan adik adikku

aku tak mungkin ada disini

aku lebih memilih untuk tinggal di rumah saja

 

ah

teman teman baru ku yang kau kenalkan padaku bersusah susah untuk sopan dengan ku

mereka bertanya dimana aku kerja

mereka bertanya dimana aku tinggal

mereka juga sempat tanya tanpa kau tahu

siapa dan apakah aku sudah punya pasangan?

 

rasa ingin tahu mereka mungkin sedikit melintas garis nyamanku

tapi masih saja aku layani mereka dengan jawab sebisa ku

 

singkat saja

teman teman mu ingin tahu siapa aku.

 

hei. . .

kau tak pernah seperti mereka

bertanya dengan menggebu gebu

 

ku sedot minuman yang sedari tadi aku pegang

sedikit demi sedikit ku minum

sesekali saja, sekedar untuk pegangan di tanganku

 

sesuai dengan niat kita sedari awal

tiba giliran ku untuk duduk disana

 

teman temanmu bersorak dan bertepuk menyemangati ku

tapi kulihat kamu tak melakukan itu

tapi aku tahu betul

kau tak ubahnya mereka semua. aku tahu betul kau ingin sekali aku duduk disana

 

mungkin itu tujuan awalmu?

 

aku tak ada kawan

jadi aku ikuti maunya mereka dan kamu

aku letakkan minumanku dimeja

saat itu aku sadar jari jariku gemetar

 

gemetar halus, mungkin tak terlihat dari mata kalian

tapi ini jari jari ku

aku tahu, aku rasa

 

. . .

 

mungkin bukan kalian saja yang ingin tahu

aku pun juga kurang lebih sama

akupun ingin tahu

apakah jari jariku masih sama seperti tahun tahun lalu

 

tahun tahun dimana aku dan mereka dulu dengan semangat muda kami

dan juga dengan nada kami

kami menantang dunia

 

kami bersorak

kami berdarah

kami berkeringat

tapi kami ada dijalan mimpi kami

kami di jalan yang kami pilih

 

. . .

 

ah selagi aku langkahkan kaki ku ke kursi coklat yang nampak tua itu

aku teringat dengan anak anak yang bermain di sawah dengan bebasnya

mereka begitu bebas dan lepas

 

dalam senyumku saat ini

aku baru kusadari

masa itu

aku dan mereka juga sama seperti anak anak itu

kami bebas, kami lepas

 

masa itu

terasa sangat jauh, tak tercapai lagi dengan tangan kecilku

 

tapi disinilah aku

dengan orang orang baru

dengan tempat baru

dan juga dengan hidupku yang baru

 

dan tepat didepan mata ku

 

ada satu kesempatan satu kali lagi. dan mungkin hanya satu kali lagi

 

ada kesempatan bagiku untuk sekejap saja

tak lama, paling hanya lima sampai enam menit

untuk sekedar mengecapi rasa yang pernah dulu aku punya

 

terdengar juga sayup sayup di belakang suara adik adikku yang juga tak mau kalah menyorakiku

jadi ku percepat saja jalan kakiku

 

. . .

 

hei kalian. . .

yang entah sekarang ada dimana dan sedang apa

tidak kah kalian tahu?

malam ini

 

aku dengan dress putih yang baru saja kubeli minggu lalu

kuhadap ratusan pasang mata yang tertuju hanya padaku

 

tapi aku tak takut

sama sekali tak takut

apa yang kurasa, kurang lebih sama seperti dulu

 

jadi. . .

ku ambil gitar disampingku

dan

sebelum ku petik senar pertamaku

 

ku sampaikan pada mereka semua yang didepan ku

kusampaikan pada mereka bahwa aku kupersembahkan pada mereka

 

kenangan manisku

lagu ku dan teman temanku

lagu yang lahir dari kreasi kami

meski ku berkata begitu mungkin mereka tak begitu mengerti

mungkin hanya lewat lagu nostalgia ini bisa sampai di hati mereka

 

hei. . .

aku tak tahu mengapa tiba tiba aku teringat kamu malam ini

bukan berati aku tak mampu lepas dari mu

sejak aku pergi dari kota itu

aku sudah lapang

 

tapi hei cinta pertamaku

tahu kah kamu?

malam ini ku petik senar yang pertama, kedua, ketiga, keempat dan seterusnya

dengan cara yang sama seperti dulu kamu ajari aku

sama seperti malam itu.

 

semakin aku lanjutkan lagu ini

semakin aku menyadari

betapa begitu jauh jalan yang sudah aku tempuh

kadang jika aku pikir aku pun tak percaya dengan apa yang sudah aku tempuh

 

dimulai dari aku dan kalian yang dengan kebebasan kita untuk menantang dunia

untuk melebarkan sayap kita hanya untuk terbang meraih mimpi kita

 

lalu kenyataan yang harus aku terima

kenyataan yang kalian berdua berikan padaku

sampai detik ini aku tak tahu jalan pikir kalian berdua

yang terus mengejar ego kalian

yang terus tak telihat kami di mata kalian berdua

 

aku juga teringat dikala aku dengan kamu

yang sejak awal terus menemani aku,

selalu menenangkan tangisku

dan selalu dengan setia memberi warna dalam hari hari ku

warna yang sampai kapan pun tak akan pudar seperti gelang itu

 

warna yang masih tersimpan dalam saku

 

meskipun akhirnya harus kembali ku terima kenyataan

walau pertamaku sudah  ku berikan padamu

nyatanya kamu tak memilih aku

 

kau yang hanya sebentar saja hinggah dalam hidupku

dan hanya dalam sebentar itu

banyak yang kau ajari aku

sampai sekarang masih ku ingat semua itu

 

dan aku juga ingat kamu yang pernah sengaja aku biarkan kamu untuk hinggah di lembarku

sejujurnya aku tak punya apa apa untukmu

jadi mungkin sekali dua kali aku menyakitimu

yang penting dalam benak ku saat itu

luka ku . . .

maka dari itu,  ketika aku rasa cukup, ku sampaikan maafku padamu di sore itu

dan di sore itu kau katakan pada ku jika kau tahu itu

 

kau tak pernah banyak tuntut jadi kau melepaskan aku

 

. . .

 

sejujurnya

masih banyak lagi yang masih ingin aku putar ulang

tapi lagu ini tak memberiku cukup waktu untuk itu

 

seperti saat aku memaku niatku di hati terdalam ku untuk tak melepaskan adik adiku

atau saat dimana aku kembali bertemu dengan kamu hei cinta pertamaku

walaupun kembali bertemu hanya untuk menutup buku yang telah lama terbuka tak terbaca

yang berlanjut keputusanku untuk datang ke desa ini

 

memulai ulang semua disini

membangun semua disini

menulis ulang semua disini

mengenal ulang semua disni

 

banyak banyak dan banyak hal baru yang kupelajari disini

dengan apa yang kami miliki

mungkin dengan ratusan hari bersyukur pun tak akan pernah cukup

 

kami bertiga

dalam rumah kecil di bukit itu

menikmati detik detik yang kami miliki

 

lalu bagaimana dengan aku sendiri?

dengan melihat jauhnya jalan yang telah aku tempuh

 

dengan diberikannya aku kesempatan untuk duduk disini sekali lagi

 

dan juga dengan diberikannya aku satu kesempatan lagi untuk memegang rasa itu

 

aku akhiri ini lagu ini

dengan syukur tulus ku

 

riuh tepuk tangan mereka adalah hadiahku

 

==

 

selanjutnya berdiri aku disini

menikmati persembahan orang orang setelah aku

 

agak sebal juga rasanya karena dari sini susah untuk melihat ada apa didepan sana

mau tak mau aku harus puas dengan pemandangan seadanya

sembari mendengarkan suara saja yang berhasil sampai ke telingaku

 

hingga akhirnya kau datang dan berdiri disamping kiriku

 

hei. . .

tahukah kamu.

sedikit demi sedikit aku mulai mengenal kamu

mengenal dari basa basimu yang selalu kau tawarkan didepan

dan melihatmu mengumpukan keberanianmu untuk menyatakan niat awalmu

 

aku tahu itu dan selalu kuperhatikan itu

hanya saja kadang aku tak mampu melihat apa niatmu itu

 

kali ini niatmu untuk mengajakku

kau tak mau memberitahu aku

jadi kau tarik saja tangan ku dan memaksa aku untuk mengikutimu

 

di jalan di malam ini

kau bercerita sedikit tentang mu,

kau bercerita tentang dirimu yang memilih untuk bekerja di sini, di sekolah ini

kau bercerita tentang bagaimana susahnya untuk mengenal pribadi pribadi baru setiap tahunnya

 

di hall utama sekolah ini

kau bercerita tentang bagaimana tantangan untuk mengasuh mereka selagi mereka masih di sini masih di asuhanmu

kau juga bercerita bagaimana rasanya untuk mengimbagi mereka yang mungkin punya otak yang lebih dari punyamu (lucu aku mendengarnya)

kau harus banyak belajar dari mereka semua, kau harus mati matian untuk mencari tahu hanya untuk kau bagikan pada mereka

 

di tangga ini

kau bercerita betapa bersyukurnya kamu mencapai cita cita yang kau ingini sejak kecil dulu

kau juga bercerita susahnya perjalanan yang harus kamu tempuh untuk sampai disini

 

dan juga pengorbanan yang kau lakukan. . .

 

sampai kita di pintu besi ini

kau rogoh kunci di saku celana mu

setelah kau temukan kau buka pintu ini

dan sampai kita di atap sekolah ini

 

kau ajak aku mendekati tepi di ujung sana

 

dari sini aku terlihat semua

dengan bebas mataku mampu melihat gemerlap lampu di bawah sana

dengan sesuka ku bisa ku lihat ada apa di panggung itu

senyumku cukup untuk menggambarkan betapa puasnya aku sekarang

 

malam itu, diatas atap sekolah ini

kita dengan berpegangan dengan pagar besi

pagar besi yang telah karat, karat di bulan Januari ini

 

kau bercerita padaku

apa yang kau miliki saat ini masih jauh dari cukup

 

oleh karena itu

kauputuskan kau ingin lebih

kau ingin mencari lebih dan membagi lebih

 

kau ingin melebarkan sayapmu

sama seperti yang aku lakukan dulu

 

.

.

.

.

.

 

kau ingin pergi dan meninggalkan desa ini. . .

 

 

**************************************************

waktuku membeku

lebih dingin, jauh lebih dingin dari pagar besi yang aku pegang ini

 

gemerlap lampu dibawah sana

menari nari indah dalam halo yang mampir di pandanganku

**************************************************

 


Leave a Reply