Sign In

Remember Me

Karat di Januari – I akhir

Hari ini hari minggu

Aku punya waktu seharian penuh

Yang terserah mau aku pakai untuk apa dan dimana

 

Jadi kuputuskan untuk bersih bersih rumahku

Setelah sedikit bongkar sana bongkar sini

Aku putuskan untuk sekalian saja aku bongkar semua

 

Aku ingin suasana baru, aku ingin atur ulang semua barang barang ku

Sembari aku melakukannya, ku setel saluran radio kesayanganku agar bisa menjadi kawan ku

Sembari bersenandung lagu dari radio itu

Kutata isi rumah ini

 

Mondar mandir sana sini

Bunyi seret itu bunyi seret ini

Aku mensibukkan diri ku sendiri

 

Debu debu berhasil masuk ke hidungku dan aku pun terbatuk

Hah. . . bagaimana bisa aku lupa pakai masker?

Baru  mulai ku cari, tapi dimana aku simpan masker biru itu?

Setelah sebentar aku memusatkan ingatan ku

Baru aku ingat dimana aku simpan masker itu

 

Jadi aku segera buka laci kecil ini

Benar saja aku temukan masker itu

Segera saja aku pakai, foto hari bahagiamu Chilla, jadi saksi bisu

 

Dan aku melanjutkan kerja ku

 

 

Satu persatu ruangan aku bersihkan,

Mulai dari ruang tamu, ruang tengah, dapur

Dan tak lupa

Kamar tidur mereka berdua

Seperti yang ku duga, banyak debu disini

Akibatnya aku banyak menghabiskan waktu ku disini.

Karena selain banyak debu, kupastikan ku kembalikan harta mereka ditempat semula

Aku tak mau beradu ribut dengan mereka. Terlebih si kakak.

 

Setelah beres dengan keduanya dan akupun juga puas

Ku kunci kedua pintu itu. . .

 

==

 

Kulirik jam dinding

Ternyata sudah pukul satu

Lama juga batinku. Tapi tak apa

Melihat suasana baru sudah cukup bagi ku.

 

Dalam keheningan aku nikmati semangka kiriman dari Eri beberapa hari lalu

 

Terasa manis Eri. . .

 

==

 

Awalnya aku ingin habiskan waktu ku untuk berdiam disini saja

Tapi detik waktu ini entah mengapa begitu menyiksa

 

Berjalan bergitu lambat

Jadi setelah ku habiskan semangka yang telah aku belah

Aku buka pintu utama dan untuk sejenak

Aku tinggalkan rumah ini untuk sekedar membunuh waktu.

 

==

 

Aku tak perlu tujuan kemana aku pergi

Lagipula aku hanya ingin segera melewati hari ini

Jadi sengaja kupilih jalan jalan yang sekiranya dapat membantuku

Makanya jalan di bukit itu langsung aku pilih

 

Lagipula

Dengan musim yang sekarang, aku bisa mendengarkan alunan melodi dari kumbang kumbang

Alunan melodi yang tak pernah aku lewatkan

 

Dipuncak bukit ini

Disamping pohon yang sampai sekarang masih berdiri rindang

Aku duduk

Dengan lembutnya hembusan angin bulan Agustus  

Dan alunan suara kumbang

Aku menikmati pemandangan desa dari atas bukit ini.

 

==

 

Dalam jalan pulang ku, kuputuskan untuk mampir membeli sayur

Lumayan untuk beberapa hari kedepan

Lagipulan tadi pagi aku selalu dirumah tak keluar

 

Seperti biasanya

Ibu penjual ini selalu akrab dengan ku, dan begitu juga aku dengannya

Saking akrabnya pernah beberapa waktu aku habiskan waktu hanya untuk ngobrol dengannya

 

Begitu juga dengan sore ini, aku sempatkan sedikit waktuku untuk bersama dengannya

 

Dalam obrolan ini, sesekali melintas dalam ingatanku dengan nenek yang juga penjual sayur di kios sebelah.

Kios yang sejak ditinggal empunya, tak pernah buka. . .

 

==

 

Sore semakin mencapai puncaknya

Langit sedikit demi sedikit semakin jingga

Aku lewati jalan persimpangan yang dulu pernah punya cerita

Tapi aku teruskan saja langkah langkah ku

 

Sampai akhirnya aku sampai dimana sekolah adikku dulu

Gedungnya masih ada dan tetap berdiri tegak

tapi kesan tua mulai nampak bagaikan kerutan di wajah tua renta

Maklum saja

Sejak aku datang ke desa ini, sekolah ini sudah lebih dulu ada

 

Tapi aku juga tak berhenti selangkahpun disini

Aku teruskan saja jalan ku

Setapak demi setapak, ku tinggalkan gedung sekolah adikku

 

Ketika sudah cukup jauh aku tinggalkan

Handphone ku berdering, segera saja aku cari handphoneku

 

Ternyata telepon dari adikku

 

Jika aku ingat ingat di bulan ini sudah dua kali dia telepon aku

Tiga dengan yang ini

Jadi aku jawab saja tanpa ragu

 

Sambil tetap melanjutkan jalanku,

Aku berbicara dengan adikku di ujung sana

Seperti biasa, dia tanya kabarku dan tanya semua tentang aku

Seperti biasa pula dia bercerita tentang dirinya di sana

 

Untuk sejenak saja

Kami saling melepas rindu

 

==

 

Setelah sekian lama aku terus berjalan

Disini akhirnya aku menghentikan langkahku. . .

 

Hei. . .

Di ladang ini aku dulu pertama kali aku melihatmu

Begitu serasi dengan lagit sore waktu itu

Tapi kau sibuk dengan kanvasmu yang dulu masih putih penuh

 

Hei Ardi. . .

Disini pula pertama kali aku mendengar namamu

Bukan dari dirimu tapi dari adikku

 

Hei. . .

Kau tahu?

Sekarang dia sudah jauh dari ku

Dia juga sudah jauh lebih tinggi dari aku

 

Dan adikku yang paling bungsu sudah di bangku tahun kesepuluh

 

Jadi Ardi, katakan padaku . . .

Sudah berapa Januari yang aku tempuh?

 

Karena aku masih ingat.

Tahun lalu adik adikku mengajak aku untuk pergi jauh

Tapi aku katakan pada mereka aku tak mau

Jadi aku masih tetap disini berteduh

 

Sesekali aku tunggu kereta mu

Sesekali aku tiru leluconmu

Dan sesekali aku naiki bianglala itu

 

.

.

.

 

Hei Ardi. . .

Apa kabarmu?

Apakah aku masih harus berteduh?

 

 

**************************************************

Bermandikan cahaya sore

Gitarmu yang tadi aku bebas dari debu

Terus menanti jarimu dan jari ku

 

Hari ini

Adalah satu hari lagi tanpa dirimu

**************************************************

 

 

. . . Clôture

 

 

 


Leave a Reply