Sign In

Remember Me

Karat di Januari – Menghitam akhir

Ah

Semenjak hari itu hujan kini semakin rajin menyapa kami

 

Begitu juga kali ini

Kupandangi diluar sana dari jendela kotak tua ini

Kuperhatikan orang orang berlarian tak karuan

Tapi ada juga yang sudah siap

 

Jika aku ingat

Mungkin hari ini aku akan menjadi salah satu orang yang berlarian tak karuan

Betapa bodohnya aku?

Tapi khusus untuk saat ini

Aku tak mau memikirkan hal itu dulu

Didepan ku masih ada setumpuk tugas yang terus menumpuk bagaikan tembok kokoh

Terkadang aku ingin rasanya kantor ini kebakaran saja

 

Jahatkah aku?

 

Sesekali aku mulai menceritakan ini pada Chilla

Kadang dengan dia saja

Kadang dengan teman teman nya

Beberapa dari mereka mungkin ada yang mengerti dan memahami

Tapi ada juga yang mungkin tidak

Ah aku tak begitu peduli dengan itu

Jadi yang terpenting bagiku sudah bercerita saja cukup bagiku

Tak perlu muluk muluk, karena aku mampu berbagi saja adalah hal mewah bagi ku

 

Sejak kapan?

 

Aku harap mereka bisa pulang dengan selamat.

 

==

 

sudah sekitar dua jam aku disini

jika aku tahu akan begini jadinya aku turuti saja tawaran mereka tadi

tapi mungkin ego ku masih terlalu tinggi

atau mungkin keras kepala?

 

Sesekali angin dingin berusaha menusuk ku dari sela sela jaket biru yang aku kenakan

Apa boleh buat ini bukan jaket mahal yang tebal seperti di toko toko itu

Hanya jaket tipis ini yang selalu menemani aku

 

Kuputuskan untuk duduk di bangku sana

Capai juga jika harus berdiri lama lama disini

Ku lap dahulu kursi ini

Aku tak ingin celana ku basah dan membuatku tambah repot

Dan ketika aku duduk

Lumayan lah. . .

 

Didepan ku

Kulihat hamparan bakal sawah yang luas sangat luas hingga aku lupa seberapa luas pastinya

Baru aku sadari

Ada anak anak bermain disana

Dengan riangnya

Mereka kejar kejaran

Dibawah hujan ini

Mereka tak peduli

 

Ah apakah sebegitu serunya kah?

Aku tak begitu paham dengan itu semua

Mau bagaimana lagi? Sejak kecil aku lahir di perkotaan

Bukan seperti di sini

Sawah?

Apa itu? Diriku yang masih kecil tak mengenal itu

 

Tapi meskipun aku tak paham dengan semua itu

Meskipun aku tak mengerti dimana serunya

Tapi aku yakin satu hal

Mereka bebas, mereka terbang, mereka  lepas

Mungkin mereka termasuk anak anak yang beruntung

Mungkin sedunia malah.

 

Bagiku, justru mereka lah yang paling bahagia.

Bukan anak yang selalu tertekan untuk menjadi nomor satu di sekolah mereka

mereka anak anak, kau mau apa?

bukan kah memang pantasnya bagi mereka untuk menikmati detik demi detik yang mereka punya saat ini?

bukan kah memang selayaknya untuk mereka untuk menikmati setiap alur kehidupan yang mereka jalani saat ini?

jika tidak sekarang? lalu kapan?

aku tak yakin akan datang kesempatan yang sama satu kali lagi

aku tak yakin akan hadir kesempatan untuk mengulang lagi

 

oleh karenanya

 

tak pernah sekalipun aku menuntut adik adikku

untuk menjadi yang terbaik

untuk menjadi yang nomor satu

mereka masih anak anak

mereka masih mempunyai waktu

jadi segenap keringatku ini

aku ingin mereka menikmati semua ini

aku ingin mereka meresapi detik ini

 

dan aku ingin kelak mereka dapat bercerita akan hal ini

 

mungkin tak mewah yang aku tawarkan

mungkin juga tak berkilau

 

tapi lihat lah anak anak yang di depan ku ini?

mereka berkotor kotoran penuh lumpur

belum lagi dengan dekil keringat di badan mereka

 

tapi mereka bebas. . .

 

==

 

jalanku perlahan

kupastikan setiap langkah yang aku letakkan ada dipinggir jalan dan bukan di got sebelah kiri ku

meskipun begitu

aku tak selalu memperhatikan itu

tatapan ku tetap lurus kedepan

karena aku hapal betul jalan ini

 

habis ini belok kiri, kekanan ambil kanan lagi, dua perampatan lurus, perempatan ketiga ambil kiri lalu lurus terus hingga sampai di warung yang pasti kutebak pasti sudah tutup jam segini.

lalu ambil kiri

jalan mulai menanjak saat itu

 

ini sudah jalan yang keberapa kali?

ratusan? ribuan? jutaan?

ah malas otak ku

otakku tak seencer si kakak

 

mungkin aku tak berapa pastinya jalan ini aku lewati

tapi dari beberapa itu semua

ada cerita yang masih aku rekam

ada hari yang masih hidup

 

jadi

meski telah gelap

aku tetap menikmati semua ini

masih gerimis halus memang

bajuku mulai basah memang

tak peduli aku

tetap saja aku terus melanjutkan langkahku dan menikmati setiap detiknya

karena mungkin saja, mungkin saja

kali ini tak akan terulang lagi, sekalipun

 

seperti anak anak tadi sore

aku juga ingin bebas

 

. . . . . . .

 

baru aku mau ambil kiri

aku bertemu dengan mu

 

dengan payung corak polkadot merah dan kuning mu

ha aha aha ha

norak sekali payungmu. kau pilih sendiri kah?

 

basa basi aku dan kau tahu

tanya ini, tanya itu

hingga kau beranikan dirimu

untuk menawarkan payung mu itu untuk ku

 

. . .

hei. . .

hentikan.

hentikan desakan mu itu

selama ini aku tak apa

selama ini tanpa kamu aku memang selalu seperti ini

jadi jangan kau katakan itu

 

aku sudah terbiasa, percayalah!

dan jangan kau perlakukan aku begitu

 

aku hanya. . .

aku tak ingin bergantung pada mu

 

tapi kau tak dengar aku

jadi kau degan keras kepala mu memaksa aku untuk memegang payung mu

sedikit kesal di wajahmu, ya aku tahu

mungkin aku sedikit kelewatan pada mu

jika aku boleh, mungkin aku akan tersenyum di bibirku karena raut lucumu

 

jadi malam itu aku pinjam payungmu

karena jika aku kira mungkin akan sama dengan kira mu

jalanku masih jauh

garis finishnya masih bersembunyi di balik belok belokan itu dan di balik terjalnya bukit itu

dan aku juga tak tahu, bisa saja ditengah jalan ku, hujan kembali menyapa ku.

 

malam itu

mungkin kau ada perlu untuk dirimu

jadi setelah kau percayakan payungmu,

kau tinggal kan aku dengan payung norak mu ini

jika dipikir untung saja ini malam, mungkin jika siang mungkin akan makin terlihat betapa noraknya payung mu ini

 

tapi senorak norak payung ini

ini payung mu

 

hei. . .

aku tak tahu baru berapa tapak yang aku buat malam itu

aku juga tak tahu mengapa

tapi kau berubah pikiran

 

sampai akhir

 

saat hujan itu

tak banyak yang kita tukar

selain cerita tawa dan tatap mata sekali waktu. . .

 

**************************************************

entah sejak kapan

di lemari kami, mulai ku simpan kopi pahit kesukaan mu

dan aku tak tahu mengapa?

tapi kali ini aku bersyukur akan hal itu

kali ini meski kopi yang aku buat untukmu pasti pahit djiamu

tapi ada sesuatu yang bertemu disitu

**************************************************

 

 

 

 

 


Leave a Reply