Sign In

Remember Me

Karat di Januari – Puisi akhir

Aku mulai hari ku seperti biasa

Bangun lebih dulu dari adik adikku

Ku pastikan mereka dapat sarapan sebelum mereka memulai harinya

Sejak dulu ini salah satu peraturan keras dari ku

Semenjak insiden si adik lemah tak berdaya di sekolah dulu

Sejak hari itu aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku

 

Dan setelah mereka berangkat, aku pun juga berangkat

 

Pagi ini begitu cerah. . .

 

==

 

Aku bohong jika aku tak apa apa

Tapi ego dalam hati ku begitu menguasaiku

Malam itu memang sudah cukup lama berlalu

Tapi kata katamu masih saja selalu menghantuiku

Selalu saja mengikuti ku kemanapun aku pergi

Hingga

Pernah suatu waktu menggedor kesadaranku dalam tidur malamku

 

Tak pernah aku cerita ini pada siapapun

Tidak pada teman kerja ku

Tidak pada Chilla

Tidak pada siapapun

Termasuk kamu

 

Jadi ketika ada kesempatan kita bertemu

Ku tunjukkan pada dirimu

Tak ada yang berbeda dalam diriku

Sama seperti beberapa hari lalu ketika kita bertemu di sekolah adikku

Sama seperti beberapa waktu lalu ketika kita bertemu di jalan pulangku

Sama seperti malam kemarin lalu ketika kita tak sengaja bertemu dan kau traktir aku

Dan sama seperti bulan lalu ketika kau ajak aku ke gunung. . .

 

Biarlah ini menjadi rahasiaku

 

Dalam persimpangan

Bis yang aku tumpangi melewati lapangan yang luas

 

Ah

Akan ada pasar malam disini

Jadi ini yang di gegerkan si adik kemarin

Pikirku

 

Tak apalah sesekali menikmati gemerlap pasar malam

Tak apalah sesekali menikmati manisnya kembang gula

Tak apalah sesekali aku memanjakan mereka

 

Walaupun aku tahu  kalau akulah yang paling tahu

Bahwa dari kita bertiga

Mungkin akulah yang paling membutuhkan itu

 

Sejenak untuk pelarian dari kata kata mu

 

==

 

Kali ini

Aku dan rekan kerja termasuk bossku

Kami pergi ke rumah rekan kerja ku yang selama ini memberiku cobaan dalam kerja

 

Ya

Beberapa hari lalu buah cintanya lahir ke dunia ini

Seorang perempuan katanya

 

Aku tak banyak tuntutan

Asal aku bisa menuntut janjimu untuk mencubit anakmu

Mungkin hati ini akan sedikit terobati

 

Sore ini

Pergilah kami kerumahnya dengan van putih milik bossku

Kupilih untuk duduk di belakang

Dan kuhabiskan perjalanan ini dalam bisu

Sengaja aku arahkan pandangan ke luar jendela

Entah apa yang aku cari di luar sana

 

==

 

Sedikit diluar bayanganku

Ternyata rumahnya kira kira sama kecilnya dengan rumah ku

Hanya beda dengan cat kuning dibanding dengan cat putih rumahku yang entah sejak kapan aku cat sendiri

 

Aku lihat anak barumu

Masih terlelap dia dalam tidurnnya dan begitu mungilnya dia

Jadi aku tunda untuk menagih hutangmu

Rasanya tak tega aku. Jadi nanti pasti di lain hari akan aku cubit pipinya

 

Selama aku dirumah ini

Terasa betapa bahagianya keluarga kecil ini

Sangat terukir jelas di senyum kalian

 

Hei

Pengorbanan apa yang kalian berikan

Untuk mendapati kebahagiaan ini?

Karena aku tahu tak ada yang gratis di dunia ini

Mungkin bukan selalu dengan uang atau dengah harta materi

Tapi kalian pasti telah menukar sesuatu demi datangnya kebahagiaan di tengah tengah keluarga kalian

 

Jika boleh aku tahu

Tolong bisikanlah padaku

 

==

 

Sore itu

Ditengah jalan pulangku

Aku lihat kamu ditengah lapangnya rumput hijau ini

 

Aku sadari

Kanvas putihmu semakin tak nampak

Telah kau poles dengan campuran warna warna yang sengaja kau pilih

 

Sore itu

Sengaja kuhabiskan dengan mu

 

==

 

Sejak aku ajak dia kemarin pagi

adikku selalu bersemangat dan ingin segera berganti hari

 

dan malam ini adalah puncak dari keinginannya

mungkin inilah rasanya yang dirasakan oleh orang tua

ketika melihat anakknya begitu riang dan semangat

 

jadi malam ini sudah niatku

kukabulkan semua keinginannya sebisaku

cukup manis malam ini, lebih manis dari kembang gula yang baru saja kami beli

 

tapi adikku tak cukup puas dengan itu saja

jadi dia mengajak aku dan si kakak untuk menjajal semua yang ada disini

agak kewalahan juga kami berdua

tapi melihat dia senang gembira sudah cukup untuk sebagai bayaran yang setimpal

 

tepat di tengah tengah pasar malam ini

aku lihat kamu dengan dua teman mu yang kau kenalkan pada ku waktu itu

dan kalian melihat kami

jadi tak ada kesempatan bagi aku untuk mengindar

 

mungkin karena akal licik mereka

atau mungkin karena kepolosan adik adikku

sehingga rencana mereka untuk meninggalkan aku dengan mu dapat berjalan mulus

 

aku datang kesini malam ini bukan untuk ini

 

tapi akupun tak tahu apa yang menjadi mauku

dengan satu ajakan saja dari mu

aku putuskan

untuk merekam baik baik malam ini

tak akan aku sia siakan malam ini

dan aku pastikan aku menyimpan baik baik dalam memoriku

 

agar dapat aku pastikan aku dapat terus hidup dalam moment ini

meski aku tahu betul, moment ini tak akan lama

mungkin hanya satu atau dua jam saja

tapi itu cukup bagi ku

 

dalam sesingkat itu

 

kau dengan lelucon mu

kau dengan cerita mu

kau dengan raut wajah mu

kau dengan semua yang kau miliki saat ini

 

  1. . .

mungkin aku benar benar tanpa harapan

aku tahu apa yang akan aku petik nanti

aku tahu akan jadi apa kelak

tapi aku tak ingin menyesal

aku tak ingin mengulang kesalahan ku ke tiga kali

 

jadi ku sampaikan padamu

keinginanku untuk naik bianglala itu

kau menurut. . .

 

selagi kita terus naik naik dan naik

kita lanjutkan tawa kita

kita lanjutkan cerita kita

 

terus naik naik dan naik

untuk sebentar saja kita berada di waktu milik kita

. . .

 

hei kamu yang menemaniku malam ini

dengarkan baik baik

kalimat yang mungkin tak akan aku ulangi

 

aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi di masa depan

dan aku juga tak peduli dengan singkatnya waktu kita

 

jadi ku katakan pada mu. . .

 

aku tak ingin mengulang kesalahanku

aku tak ingin menyesal di hari nanti

 

aku jatuh cinta padamu. . .

 

. . .

 

Dalam bola mataku

Aku melihat mu terkejut dengan kalimatku

Kau terdiam dalam bisu

 

Dan selagi kau membisu

Kita semakin turun turun dan turun

 

Kau tahu?

Aku memang tak pernah mengharapkan sesuatu dari mu

Karena sejak awal aku memihak pada egoku

Jadi malam itu tak ada sesak dihatiku

 

Waktu terus bergulir

Begitu juga waktu kita, semakin mendekati batas akhirnya

 

Ketika kita hampir kehabisan waktu

Kau katakan padaku

 

Dalam perjuanganmu

Kau meminta aku menunggu

 

Dan kau pergi setelah mengecup keningku

 

Disini aku terpaku

Menatap kereta mu yang semakin menjauh . . .

 

**************************************************

Tak banyak yang kita bisa lakukan

Tapi sebisa mungkin aku simpan baik baik semua yang kau berikan

 

Dalam waktu yang singkat ini

Kujadikan untaian puisi dalam lembar hidupku

Agar dapat aku baca sewaktu waktu

**************************************************


Leave a Reply