Sign In

Remember Me

Karat di Januari – Senar akhir

Sedari tadi pagi

Adikku selalu semangat seharian

Saking semangatnya terkadang membuat ku khawatir

Kali saja dia membuat ceroboh

 

Tapi maklum saja

 

Mungkin ini kali pertama baginya

(tidak ini kali pertama bagi kami)

 

tidak seperti tahun tahun lalu

yang selalu kami lakukan selalu dengan kami bertiga

sekalipun ada orang lain

mungkin tak pernah lebih dari lima

 

meskipun begitu

itu saja cukup bagi kami.

 

Tapi khusus untuk kali ini

Walaupun tak ada maksud tertentu

Sengaja ku undang teman teman nya

 

Bagi ku sendiri

Aku juga tak rela hasil kerja payahku terbuang sia sia

Ada satu titik sombong di hati ku

Ingin ku pamerkan hasil pertapaan ku pada guru Chilla

 

Jadi khusus untuk hari inipun

Aku mengambil cuti

 

Seharian aku tak keluar rumah

 

==

 

ku seret kursi malas langganan ku

biasanya aku angkat

tapi kali ini aku seret saja

 

kaku pundakku

semalaman menyulap satu ruang

demi hari adikku

 

tinggal menunggu waktunya batinnku

 

ku lirik kolong jendela dari sini

ada yang aneh batinku

 

cukup menggelitik rasa pensaranku

 

jadi aku beranjak dari kemalasanku

sekedar untuk mendekat ke jendela tua kami

 

ah

aku harap semua akan berjalan baik baik saja

karena aku tak ingin hati adikku yang cerah ceria saat ini menjadi segelap awan disana

 

==

 

tik

tik tik

tik tik tik

tik tik tik tik

 

mungkin kata orang itu benar ada benarnya

kita hanya bisa berusaha

yang menentukan pada akhirnya bukanlah kita

 

melihat apa yang terjadi

rasanya tak mungkin

sedangkan jam di dinding tanpa kompromi tak berhenti walaupun hanya sedetik saja

semua duah lewat

 

jadi

aku ajak mereka

untuk melakukannya sama seperti yang dulu dulu

 

dia

yang telah duduk manis di kursi kesayangannya

dia

yang telah menyiapkan gaun putihnya

dia

yang telah  menanti nantikan hari ini

 

berdiri dan mengatakan padaku

jika bertiga sudah cukup baginya

 

maafkan aku adikku

bagaimanapun juga. Aku bukan siapa siapa

jadi aku hanya bisa menyalakan satu persatu lilin kecil mungil

setiap lilin yang aku nyalakan ingin rasanya gagal

ingin rasanya ingin aku mengulur waktu

tapi buat apa?

 

Di tengah kebisuan kami

Tiba tiba kau hadir,

Kau mengagetkan kami. . .

 

Dengan jas hitam mu

Kau basah seluruh badanmu

 

Kurasa tak perlu untuk menjadi seseorang yang jenius

kamu langsung tahu

 

tanpa aba aba

aku langsung bergerak dan berlari mencari handuk untuk mu

segera setelah ku temukan langsung ku berikan pada mu

 

sembari ku mengeringkanmu

kamu mencoba sebisa mu menjawab pertanyaan pertanyaan adik adiku

 

kau menatap adikku

dan mengelus kepalanya

 

kau. . .

seolah mengerti apa yang dia simpan

kau memutuskan bergabung dengan kami

 

. . .

dengan pesta kecil kami

pesta yang selalu kami miliki. . .

 

hei. . .

dari mana datangnya idemu itu?

Baru kusadari kau datang membawa gitar tua mu

Walaupun masih bersembunyi dalam tas hitam

 

Tas yang sama persis miliknya dulu

 

Sebentar saja aku terlena nostalgia

Sayup sayup aku mendengar tawa adik adikku yang kamu hibur dengan trik sulap mu

Tapi aku disini mendekati gitar mu yang masih didalam tas hitammu

 

Sudah lama aku tak naik panggung lagi?

Dengan senyuman ku, aku berhasil lolos dari jerat nostalgia

 

Kulihat adik adikku yang tertawa lepas karna mu

 

Aku tak seperti kamu yang punya sejuta lelucon

Aku juga tak sepandai kamu yang punya banyak trik sulap

 

Jadi aku keluarkan gitar mu

Bolehkan aku pinjam?

 

Ku teriakkan pada mu

Malam ini aku tak mau mengalah dari mu

 

Aku bergabung dengan kalian bertiga

Dengan lagu ku. . .

 

Malam ini

Dingin memang. . .

Tapi berkat mu

Kami melewati malam ini hangat.

 

 

 

 

**************************************************

setiap nada yang aku ambil

setiap senar yang aku petik

mengalun lembut di udara

 

. . .ah

ini lagu bahagia,

ini hari bahagia

tapi entah mengapa air mata ini ada

**************************************************

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply