Sign In

Remember Me

Tali Indah Dihembuskan Oleh Ego

SMK YPKP Sentani, disanalah pertemuan tiga perempuan yang watak, sifat nan berbeda kini membangun sebuah tali indah bernama AVN, yang terdiri dari Arinda Faiha, Vlo Goldie, dan Nuraini Inara. Sungguh indah persahabatan AVN. Suka duka mereka jalani bersama, masalah menghampiri tali indah mereka. Tak ada kata untuk saling menjatuhkan satu sama lain.

Mereka bertiga memiliki impian berbeda, tapi mungkin hanya berbeda dengan Vlo.

Impian Arinda ingin menjadi seorang penulis begitupula dengan Nuraini. Sedangkan Vlo ingin menikah di luar negeri. Ah impian nan mustahil, biarlah ia bermimpi sesuka hati.

Siang tampak cerah, Arinda dan Nuraini sedang asik menikmati minumannya disekolah.

“Arinda kamu tahu kakak kelas Irfidiansyah. Ketua rohis SMK YPKP?” Tanya Nuraini penuh semangat.

“Tau, emang kenapa dengan ia?” 

Perlahan-lahan sahabatnya menceritakan apa yang kian menyelimuti hati. Ketika ia melihat lelaki itu berhasil memikat hatinya.

Disisi lain, sebenarnya Arinda juga menyimpan perasaan yang sama. Namun, dia harus mengalah membiarkan sahabatnya mengagumi lelaki itu.

Vlo tiba-tiba datang mengejutkan mereka berdua.

“Ih, Vlo kalau datang bisa gak sih pakai suara.” Sebel Nuraini

Vlo hanya cengir sendiri.

Sedangkan Arinda ingin mendengarkan lebih dalam isi hatinya Nuraini. Walau disisi lain merasa tersakiti.

“Nur, cerita lagi dong tentang kakak itu.” Tanyanya tak kesabaran.

Ia menceritakan bagaimana benih cinta itu mulai tumbuh dihati hingga tergila-gila dengannya.

Arinda hanya tersenyum simpul dan tak ingin menampakkan bahwa sebenarnya dalam hati tergores luka.

1 tahun kemudian,

Tepat tanggal 15-05-2015 mereka melepaskan seragam putih abu-abu dihiasi dengan wajah-wajah yang dikelilingi pelangi indah. Tak terasa kini lembar baru siap menanti mereka bertiga tentunya akan berpisah jarak dan kesibukan masing-masing.

Dua minggu kemudian,

Arinda mendengar kabar bahwa Nuraini diterima di STIKES SYEDZA SAINTIKA PADANG. Sedangkan Vlo diterima di Universitas Cenderawasih, Papua.

Sungguh. Kabar yang sangat bahagia dirasakan oleh Arinda. Mendengar kedua sahabatnya telah masuk di kampus idaman mereka.

Hm, tak terlihat dari mata Arinda ingin melanjutkan kuliah. Sebab, tak yakin bahwa akan mendapatkan kampus yang bakal menerimanya. Karena nilai-nilai disekolah saja masih dibawah rata-rata, dia tak ingin membebani Mama dengan mengeluarkan uang sebanyak itu.

Tapi, Nuraini selalu memberikan masukan agar hatinya tersentuh untuk melanjutkan studi.

Disisi lain, kegagalan selalu menari-nari di sela-sela imaji. Dan memutuskan untuk nganggur satu tahun sambil mengisi waktu kosong dengan melatih kepenulisannya.

Alhamdulillah. Bulan september akhirnya membuahkan hasil, dan telah menerbitkan sebuah karangan perdananya yang berjudul Kenangan Putih Abu-Abu. Didalam buku tersebut dia menceritakan sebuah tali indahnya bersama kedua sahabat terbaik didalam hidupnya.

Waktu terus menggulungkan segala kisah persahabatan mereka pahit, manis hingga Arinda harus kehilangan Vlo. Karena cinta semu membuatnya beranjak meninggalkan tali indah mereka.

Yang tersisa hanya mereka berdua. Entah tali indah itu akan terus berjalan dengan erat atau putus ditengah jalan.

14 Januari 2017

“Nur, kamu tahu gak? Kakak Irfidiansyah yang dulu kamu suka-suka. Sekarang ia antar jemput aku ke kampus loh. Haha ia baik banget.” Ujar Arinda penuh kebahagiaan.

Nuraini hanya tersenyum ketika mereka sedang Vidio Call. Arinda menceritakan awal kedekatan mereka hingga menjadi sahabat baik.

Sempat membuat Nuraini cemburu. Hal itulah membuat Arinda tidak enak hati.

Ah. Mungkin ia hanya terlalu bawah perasaan doang kali. Pikir Arinda sesaat.

Satu minggu kemudian,

Arinda masih diantar jemput Irfidiansyah. Kedekatan mereka semakin membuat sahabatnya dibakar api cemburu buta.

Padahal Arinda hanya menganggap ia sekedar sahabat, jadi mengapa Nuraini mesti cemburu coba? Salah kah bila bersahabat sama lelaki?

Sore itu, sesampainya dirumah Arinda.

“Arin, aku pamit pulang yah. Besok ke kampus barengan lagi yah.” Ujar Irfidiansyah penuh semangat.

Arinda hanya ngangguk cepat dan tersenyum simpul.

Dia melangkah kecil keatas kamar, sambil membuka ponsel.

Nuraini : Arin? Kamu dimana? Aku dirumah nih, datang yah.

Hah? Kok ia gak ngabarin jika berada di Jayapura sih. Sungguh Arinda bahagia sahabatnya datang liburan ke Jayapura.

                         ***

Baru beberapa hari Nuraini di Jayapura, serasa ia berubah. Arinda berharap kedatangannya ingin menumpahkan segala rasa dijiwa. Namun mengapa perlahan-lahan waktu mengubah sifatnya nan keras kepala seperti ini.

Iri? Cemburu? Entahlah. Arinda pusing sendiri melihat belakangan ini ia tak sama seperti yang dikenalinya dulu.

Mengapa semenjai Arinda bersahabat dengan Irfidiansyah seakan membuat tali indah itu seolah berjaga jarak.

Malam minggu,

Arinda mengajak Puput, temannya. Dan juga Nuraini makan di warung Tahu Thek.

Terlihat dari raut wajah Nuraini seakan tidak enak, ketika Arinda sedang asik menceritakan Irfidiansyah.

Dia berusaha tenang dan tak ingin merusak suasana tersebut. Hingga pada akhirnya, entah angin apa disaat sedang bercanda. Nuraini seakan-akan membuka keburukan sahabatnya didepan Puput.

Jarum-jarum seakan menusuk hati Arinda ketika mendengar kalimat pedas yang dilontarkan dari mulut Nuraini, dia hanya tersenyum berusaha tak mengacaukan suasana. Namun sebenarnya dalam hati sangat terluka.

Mengapa Nuraini membuka masa lalu sahabatnya yang tak seharusnya diceritakan pada orang asing?

Cemburu. Jangan hanya karena hal itu, semakin membuatmu menangkan egomu yang sangat besar. Dan tak peduli mempertahankan tali indah kalian selama ini dibangun bertahun lamanya.

Mengapa Nuraini lebih mementingkan egonya yang sangat besar dan membuat sahabatnya menjauh. Seakan tak ada lagi tali indah itu dalam hidup Arinda, semuanya hancur. Tak ada lagi yang mesti ditata kembali, karena sulit menyatu dengan indah. 

Biarlah Arinda sendiri menjalani hidupnya tanpa sahabat yang selama ini dia bangga-banggakan. 

Berubah. Iya semua orang pasti akan berubah, namun tidak seperti ini saling menjatuhkan kawan terbaiknya hanya kecemburuan tiada habisnya. []

                            End

Leave a Reply