Sign In

Remember Me

Ku Gapai Mimpi Di Pesantren

Ku Gapai Mimpi Di Pesantren

 

Jariku menunjuk nama demi nama di papan pengumuman. Aku sangat berharap namaku ada diantara  siswa yang beruntung itu. Jantungku berdegup kencang dan keringat dingin membasahi sela-sela jari. Jari ini bergerak dari satu kertas ke kertas lainnya. Hingga jari ini berhenti dan menunjuk sebuah nama. Ashfya al-anfa.. “Alhamdulillah ya Allah aku diterima” ucapku dengan rasa syukur yang tak terkira. Aku diterima di SMA Internasional yang tersohor di Jakarta dengan jalur beasiswa.

            Angkot yang aku tumpangi tak terasa panas hari ini, keringat ibu-ibu yang pulang dari pasar pun tercium. Aku sudah tak sabar ingin sampai di rumah dan mengabarkan keberhasilanku ini kepada Ibu dan bapakku. Baru kali ini aku dapat membuat mereka bangga. Tentunya dengan beasiswa yang kuterima ini, Bapak tak harus memikirkan beban biaya sekolahku nanti.

    ***

Setibanya di rumah aku memberitahukan bapak dan ibu, tapi bapak menolak alasanya bapak ingin aku sekolah di Pondok Pesantren, Aku sedih sampai aku meneteskan air mata perkataan bapak membuatku tak ingin melakukan apapun. Aku masu ke kamar air mata ini tak hentinya menangis hingga ibu masuk ke kamarku dan menenangkan aku. Ibu menyakinkan ku untuk menuruti perkataan bapak, dan akhirnya aku akan meneruskan ke Pondok Pesantren sesuai kemauan bapak. Jujur sebenarnya aku tak ingin aku masih ingin melanjutkan sekolahku di SMA, susah payah aku belajar untu masuk ke SMA itu, tapi hasilnya.????

            “Ya Allah, semoga melepas beasiswa di SMA Internasional merupakan keputusan yang benar, dan semoga aku tak menyesalinya kelak…”

***

            Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pondok pesanten ini. Aku kebingungan, Mata ini tak henti-hentinya memandangi tembok-tembok tinggi di pesantren. Tembok itu terasa sangat dingin padaku. Semakin kupandang semakin membuatku merasa kecil dan asing. “Ya..Allah, mudahkan aku dalam menuntut ilmu”. bisikku sembari mencari tempat istirahat.

Akupun bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Seusai sholat tak lupa aku memanjatkan doa untuk kedua orang tuaku. Entah kenapa baru sehari saja meninggalkan rumah aku sudah ingin segera kembali. Saat itu aku teringat pesan Bapak ketika aku hendak berangkat ke Pesantren.”Fia, Jaga dirimu baik-baik di pesantren. Hafalkan Al-Quran Nak, Bapak ibumu ingin melihat kamu menjadi orang yang berilmu dan mulia. Kemudian terbayang pula wajah teduh Ibu yang sangat menyayangiku.”Anakku, Ibu mencintaimu karena Allah.”

***

Setelah tiga bulan di pondok pesantren…

 

            Awal hidup di pesantren memang tak semudah yang aku bayangkan. Aktivitas dari bangun pagi hingga kembali tidur sudah diatur di selembar kertas yang ditempel di dinding kamar masing-masing. Ketika jam tiga pagi, Sudah ada pendamping yang siap meneriaki kami untuk segera bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Setelah itu kami harus menghafalkan Al-Quran sembari menunggu adzan subuh tiba.

Kerinduan pada orang tuaku semakin membara, ku beranian lngkahku menuju ruang pengurus untuk telepon orang tuaku.

            Rasa rindu kepada orang tua sedikit terobati dengan telepon tadi. Setelah sembilan bulan lebih aku dipondok, Ini bukan pertama kalinya mereka tidak bisa mengirim uang yang cukup untukku. Beberapa kali aku harus bersabar karena tidak ada uang sepeserpun di kantong. Aku pegang sisa-sisa uang yang kupunyai. Agar tak terlupa, Uang untuk shadaqoh segaja aku sisihkan dari dompetku. Ayah mengajarkanku sejak kecil bahwa ada hak-hak orang lain di dalam uang yang kita miliki. “Aku lelah sekali!“ Kataku sembari merebahkan badanku ke lantai dan berharap agar segera bisa tertidur.

            Malampun berganti, kokok ayam jantan mulai terdengar satu per satu. Suara kicauan burung pipit juga ikut meramaikan sunyinya subuh pagi ini. Sebelum suara adzan berkumandang, Segera aku selesaikan makan sahurku. “Ya Allah, Aku berniat berpuasa daud. Kuatkanlah tubuhku hinga sore hari. Amin,  Saat uang menipis, Biasanya aku menjadi sangat rajin untuk berpuasa. Semoga itu tak mengurangi ensensi puasa.” Gumamku dalam hati.

            Dengan semangat berjuang untuk mencari Ilmu Agama kulangkahkan kaki menuju gedung madrasah. Pagi ini sinar matahari nampak cerah. Kulihat beberapa santri berduyun-duyun menuju kelas. Namun langkahku terhenti ketika tepat berada di depan papan pengumuman. Dalam pengumuman itu tertera bahwa lusa akan diadakan seleksi pertukaran pelajar ke Mesir. “Aku harus ikut!” Kataku sambil menulis persyaratan-persyaratan yang harus aku lengkapi. Saat itu pula aku segera berlari ke kantor untuk meminjam telepon. Aku akan meminta izin dan mohon doa pada kedua orang tuaku.

***

Alhamdulillah akhirnya aku lulus dalam seleksi pertuaran pelajar di Mesir. tapi, setelah aku diterima aku berfikir dari mana aku peroleh biaya untuk melengkapi persyaratan. aku telepon bapak aku cerita semua ke bapak aku berusaha membatalkan semuanya, tapi bapak melarangku membatalkan bapak akan berusaha mencarikan dana untuk melengkapai Administrasi pertukaran pelajar ke Mesir.

***

Saat ini aku berada dalam pesawat terbang menuju Mesir. Aku sangat bahagia. Aku bahagia karena orang tuaku  memiliki rasa cinta pada Allah yang begitu besar. Benar kata Bapak. Allah akan mencukupinya. Subhanallah, Semua biayaku ke Mesir bukan berasal dari kantong bapakku saja, dari jerih payahnya Bapakku meskipun bapakku petani tapi bapak bisa membiayaiku sampai ke Mesir namun dari beberapa teman Bapak dan ustadz-ustadz di daerahku yang menginfaqkan hartanya untuk memudahkan orang yang menuntut ilmu agama. Ternyata, Percaya pada Allah itu lebih dari cukup. Percayalah pada Allah maka keajaiban-keajaiban akan terjadi pada  kehidupanmu ….”Allahu Akbar…!!”

                                                                 ***

Aku melanjutkan kuliah di Mesir di sana kehidupanku tercukupi rizki yang ALLAH kasihkan keaku datang dari segala penjuru. Meskipun orang tuaku gak kirim uang ke Aku insyallah aku bisa bertahan dengan tabunganku dulu waktu di Pesantren.

                                                   ***

Enam tahun telah berlalu dan selama enam tahun aku ngak pulang kerumah karena Mesir dengan Indonesia sangat jauh, Dan biaya Transportasinya pun mahal. Tapi entah kenapa rasa Rindu ini hadir dalam hatiku untuk kedua orang tuaku. Au bicara sama sayla dia temanku di Mesir dia berasal dari Turki, akhirnya sayla pun menyarankan aku pulang ke Indonesia. Bismillah……..

                                                   ***

Aku punya rencana buat kasih kejutan buat orang tuaku dengan tidak memberitau kepulanganku. Setibanya dirumah, aku melihat tetangga berkerumun di rumahku dan aku dengar ada suara tangisan, Aku terhenti di depan pintu saat kulihat Bapakku sedang terbujur di lantai. Air mataku tak bisa lagi ku pendam aku bergegas mendekati bapak dan ibu berada di sampingnya.

Air mata ini ta bisa ku pendam suara jeritanku tak bisa ku tahan, kenapa semua berlalu begitu cepat kenapa bapak terlalu cepat meninggalkanku padahal au pulang demi bapa demi ibu, demi mengobati rasa rinduku untuk orang tuaku.

Aku tak percaya bapak akan pergi secepat ini, ibu berada disampingu berusaha menguatkan aku ibu membuatu bersabar dalam hatiku, ya allah kuatkanlah aku jangan uji kesabaranku ya allah aku pulang untuk ketemu sama orang tuaku kenapa KAU  ambil secepat ini…kenapa???

 

 


hobbyku tiap hari nulis dan maen di depan laptopku, cita-citaku ingin jadi penulis aku hobby nulis sejak kelas 6 jadi keterusan deh sampai sekarang

Leave a Reply