Sign In

Remember Me

Sang Duta Negara

Sang Duta Negara

Surya mengintip di arungan jagad raya. Manakala matahari sudah menyapa disudut keramaian yang sibuk akan dunia. Mulai mengamini harapan yang mungkin jadi takdir. Melawan arus banyaknya persaingan mempertaruhkan impian dan cita cita. Selamat pagi pencerah juang sentosa!
Alarm jam bergambar england diatas ranjang berdering . “aah! Pasti ayah yang pasang alarm tadi malam” dengusku kesal lalu bergegas mandi.
“Selamat pagi ayah, ibu!” sapaku saat menuruni tangga lalu duduk dimeja makan menengahi mereka. “Zas, ayah sudah pilih privat renang yang cocok untuk tes TNI AL kamu besok” kata ayah sambil mengoles selai roti lalu melahapnya. “Maaf yah, Zas ada seminar sosialisasi besok di Bandung”. “komunitas apa lagi yang kamu ikuti Zas? Tidakkah tes TNI AL jauh lebih penting dari seminar seminarmu itu”. Kuletakkan roti yang belum lama ku gigit dan bergegas pergi. Aku marah.
Sejak 2 tahun pensiun dari angkatan TNI AL, ayah mendidik keluarga seperti apa yang beliau dapat di lapangan ketentaraan. mulai dari disiplin waktu, menghargai kesempatan dll. Bahkan tak sekali ayah membujukku tuk meneruskan pengabdiannya. Tapi aku enggan.
Hari ini adalah pengumuman pantas tidaknya ku mengabdikan diri dengan bergabung di komunitas sosialisasi kenegaraan. Ternyata tes wawancara dan tulis yang ku ikuti 2 hari lalu membuahkan hasil. Tahun depan ku bertugas menjadi wakil WNI kedutaan besar di Palestina.
Kabar ini tidak sabar ku ceritakan pada ayah dan ibu, meski aku tahu responnya kan sama. Setidaknya aku mencintai negara dengan cara yang berbeda. Ya dengan menjadi Duta Besar, bukan menjadi seperti ayah. Seorang panglima.
“Ayah, Ibuuu!! Zas lolos tes kedutaan besar Indonesia” kataku girang. “Zas, Ayah harap tahun depan kamu cuti dari seminar seminarmu, ayah direkrut lagi menjadi tentara membantu palestina. Kamu dirumah temani ibu ya..”. “Tapi yah, Zas juga menjadi pembicara di Palestina besok, bareng ayah!” elakku. “Zas, sekarang opini dan sanggahan tak cukup. Negara mengutamakan kekerasan, akan banyak peperangan disana “bujuknya. “Tapi yaah!!!…..” belum lama ku menjelaskan, ayah beranjak dari kursi dan pergi.ku lihat Ibu hanya mengangguk diikuti kata “Udah Zas, turuti saja perintah ayah. Ini kan juga perintah negara?”jawaban yang sama.
Pemberangkatan ayah telah tiba. Ku urungkan niat ikut mengantar ayah ke bandara. Ku pandang bendera negara Inggris, Perancis, Amerika termasuk indonesia di sekeliling kamar serta jas impian tergantung didepan almari. Aku kecewa.

Dua bulan setelah ayah pergi, ibu lebih sibuk dengan pekerjaan rumah. Aku memilih menatap dan berharap mimpiku nyata. “Zas!!!” teriak ibu. Aku berlari menapaki tangga. “Ada apa buu?” kataku cemas. Kulihat ibu duduk dengan lirih memanggil nama ayah seraya menangis menatapku sendu. “Nak, Duta Besar memanggilmu tuk membebaskan para TNI dari sandera Israel di Tanah Bara. Bebaskan ayah nak!” tanpa pikir, ku kenakan jas hitam impianku menuju bandara, check in dengan paspor biru kebanggan Indonesia yang ku dapat di sebuah pers kenegaraan 1 tahun yang lalu.
“Nak Zas, saya pikir kamu sudah lihai dalam berkelabat kata, mengungkap komitmen negara kita. Menyelesaikan tanpa angkat senjata. Selamatkan para pahlawan kita nak” ku tatap mata pembina ketua Duta Besar Indonesia. “InsyaAllah pak!” .
Kukenakan jas, kulihat lagi bendera merah putih masih tetap di tempatnya. Di atas saku tepat di dada. Ku lirik lamat lamat ku hayati tulisan tulisan ku dibuku agenda putih bergambar cangkir kopi pemberian ayah. Istimewa katanya.
Rapat pembelaan antar negara Indonesia dengan beberapa Duta besar di negara lawan mulai larut. TNI dan Panglima Israel mulai damai. Perselisihan ini berakhir tanpa ada peperangan. Para sandera dibebaskan.
masih dengan seragam loreng yang penuh darah, ayah sempoyongan memelukku “Ayah bangga sama kamu Zas. Sang Ambassador!!” aku berbisik dan melepas pelukannya “Zas juga bangga punya ayah pemberani!” jawabku dengan mengangkat tanganku hormat!. “Zas sayang pak kolonel..!!”imbuhku pada ayah yang mulai menangis lalu memelukku lagi.
Impian yang kala di ujung juang seorang hamba sahaya. Izin tuhanlah kunci dari segala arah. Pejuangkan cita sejauh atau setinggi mungkin. Semangat berjuang calon Ambassador! Juga pejuang pejuang cita yang lama tak temukan arti hidup dibalik ujian menuju langit.


The Next Jurnalist :) need a little rise and your help to make me bright and success :)) ig:@alfiahfifik

Leave a Reply