Sign In

Remember Me

Seperti Mimpi

 

                Entah kenapa aku merasa tidak enak di dalam sini, Aku tidak tahu kalau kelompokku akan membuat film ditempat yang seperti ini. Ingin mengatakan kalau aku tidak mau tapi bagaimanapun aku harus mengikuti mereka dengan apa yang aku buat sendiri. Awalnya aku biasa saja saat aku berada di tempat temanku dan kehidupanku masih seperti biasa. Kita berangkat dengan bersama, fillingku masih biasa saja dan belum ada yang wah. Masuk kewilayah tempat membuat film aku masih tenang dan belum mendapatkan sesuatu yang mengerikan atau membuat aku merinding.

                “Mau buat film dimana?” tanya seorang penjaga yang sedang berdiri didepan pos.

                “Mau buat film pak, tugas sekolah” kata teman yang memboncengiku.

                “Kalau begitu hati-hati ya”

                Kami melanjutkan perjalanan lagi ke TKP. Sampai disebuah perempatan aku kira akan lurus saja tapi ternyata tidak aku dan temanku berbelok kearah barat yang bagiku tempt yang lumayan becek karna baru saja hujan. Banyak rumput dikanan-kiri yang menjulang tinggi jalananpun sudah banyak yang berlubang dan cukup mengerikan dengan lumpur hitam.

                “Dah sampai” kata teman yang memboncengi diriku.

                Aku turun dari motor dan bergabung dengan teman lainya. Banyak firasat buruk yang datang dan masuk ke fikiranku. Hatiku tidak terlalu tenang. Aku merasa tidak terlalu baik untuk kondisiku saat ini. Aku takut dan aku ingin pulang. Melihat teman-temanku yang lain aku merasa egois kalau aku membatalkan tempat ini menjadi tempat kita shooting padahal sudah saling sepakat. Aku menahan rasa takut yang melingkupi diriku.

                “Ayo masuk” seorang teman cowok mengajak diriku untuk mengajak semua orang yang ada disana masuk untuk menunggu teman yang lain di dalam saja.

                Pintu masukpun sudah membuat diriku merinding tidak karuan dengan tempat yang becek dan penuh lumpur hitam. Aku dan teman-temanku harus pandai-pandai memilih jalan agar tidak menginjak lumpur hitam itu dan agar tidak terjatuh. Sampai disebuah tumpukan, entah tumpukan apa itu. Disana cukup kering tapi saat kita injak tumpukan itu cukuplah lembek dan lunak. Menjijikan. Bau yang membuat hidung terasa tersumbat dan perut ingin mengeluarkan isinya karna begitu buruk baunya.

                Sampai disebuah mesin yang sudah tidak digunakan dan sudah berkarat. Kami berhenti sebentar dan mengamati masin itu. “Ini dulu adalah mesin yang pernah menggiling orang”, seketika itu badanku panas karna dari awal banyak makhluk yang menampakan diri dan membuat aku takut.

                “Tapi bukan yang ini mesinya, mesin yang asli sudah dikubur” kata temanku menenangkan kami yang bagiku semuanya mulai aneh.

                Kamipun menuruni tangga dan menuju tempat yang cukup kering dan lumayan terang. Ada tiga lorong disana dan lorongnya cukup lebar dan panjang. Aku melihat hal yang tidak biasanya dan membuat aku semakin ingin pulang. Kembali melihat teman-temanku yang asik dan senang disana aku kembali mengurungkan niatku untuk pulang dan ikut berbaur dengan mereka. Banyak yang sedang berfoto-foto dan ada juga yang menyiapkan dirinya untuk shooting beberapa saat lagi. Aku ikut beberapa foto dan kemudain aku berjalan kesekeliling untuk melihat-lihat karna diriku begitu penasaran.

                Dilorong kedua aku masuk kesana dan melihat sebuah kertas yang bertuliskan tentang tata cara kerja yang dulu digunakan disana. Sampai diperaturan terakhir diriku tiba-tiba termenung. Kata “UTAMAKAN KESELAMATAN KERJA”. Aku diam dan melihat sekeliling. Jika disini mengutamakan keselamatan kerja, bagaimana bisa disini banyak yang sudah meninggal dan banyak yang menjadi korban. Kataku dalam hati, aku takut kalau ada yang dengar.

                Singkat cerita kita mulai shooting dan adegan demi adegan berjalan cukup lancar dan tidak ada halangan yang terjadi sedikitpun disana. Walau banyak hal yang membuat kita tertawa seperti saat diriku jatuh dan banyak hal lain juga yang membuat hal lucu lainya. Sampai ada seorang bapak-bapak yang sudah berada dibelakang kita, banyak yang kaget juga melihat bapak-bapak itu datang.

                Bapak-bapak itupun cerita tentang apa saja yang dulu pernah terjadi disana dan apa saja yang membuat tempat ini tidak digunakan lagi. “terakhir dipakai tahun 2008” jawab bapak itu saat temanku bertanya kapan terahir kali gedung ini digunakan.

                Ada yang masih shooting dan ada yang mendengarkan bapa itu bercerita. Saat adegan temanku menangis ada beberapa orang disana yang merasakan merinding yang sangat. Biasanya hanya dua kali pengambilan video tapi ini sampai tiga kali dan adeganya tetap menangis seperti itu. Akupun memutuskan untuk kembali dan mengajak semua temn-temanku yang berada disana. Merekapun setuju untuk pindah tempat dan kami pindah ketempat yang baru.

                Diperempatan tempat kita kembali shooting aku hanya diam dan hanya sesekali berbicara karna badan dan fikiranku sudah memiliki kehendak yang berbeda. Bagaimanapun aku sungguh takut apa lagi saat aku melihat gedung tempat tadi kita shooting yang bagiku angker dan sungguh angker.

                Kamipun kembali kerumah teman kami untuk istirahat tapi tiba-tiba saja tanganku sakit dan tidak leluasa untuk bergerak. Sakit, sungguh sakit. Dirumah teman kami hanya sebentar lalu kami berpamitan untuk pulang dan kembali kerumah masing-masing untuk beristirahat. Sampai diasrama aku tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

                Malam yang dingin. Aku baru saja bangun dari tidurku dan sungguh tiba-tiba aku terbangun jam 12 seperti ini. Aku mulai berhalusinasi lagi kalau aku berada ditempat dimana aku shooting tadi. Aku merasaka tubuhku panas dan sungguh merinding. Aku mencoba mengubah posisi tidurku dan tetap saja aku takut dan semakin takut. Seakan-akan aku masih berada disana dan masih membuat film itu. Dan aku serius kalau aku berada dimimpi dan alam normal. Dan ini nyata yang ku alami. Dan aku tidak ingin kembali ketempat itu lagi. Apapun alasanya.

 


Leave a Reply