Sign In

Remember Me

Bingung

“Apa yang terjadi?”

“Kau kenapa?”

“Kau marah ya?, ayolah pasti kau marah. enggak biasanya kau diam saja seperti ini. Ayo katakan saja kalau kau marah, tidak apa-apa kok”

“Lihat kamu.. kamu pucat sekali, sakitkah?”

Kuanggukkan kepala. Tapi tak juga meredakan berondongan pertanyaan dari teman-teman baikku ini.

“Periksa yuk… ke dokter? atau ssttt… bidan ?”

“Kok bidan sih, ngaco kamu”

“Lho siapa tahu, pucatnya gara-gara dibikin Armando”

“iih… amit-amit deh, jangan ngomong begitu”

Setelah mencecarku dengan ratusan pertanyaan, kini mereka bertengkar sendiri.

“Rosalinda, apa Armando?”

aku menggelengkan kepala.

“Putus?”

aku mengangguk lagi.

“Oooo…. Rosalinda sayang…”

Sekarang mereka memelukku.

“Maaf sayang…”

“Tidak apa-apa, sudah lama kok putusnya. Tapi..”

“Tapi?”

“Tapi rasa sakitnya enggak hilang-hilang”

“Ooo… Rosalinda jangan bersedih kami ada untukmu sayang, percayalah”

“Aku tahu… eh.. terima kasih.. tapi…”

“Tapi?”

“Tapi.. aku bingung..”

“Bingung?.. bingung…bingung apa”

“Aku tahu patah hati adalah bagian resiko dalam bercinta, tapi aku tak pernah mengira rasa sakit akibat patah hati tak tertahankan”

“Ooooo…..”

Aku bingung, mungkinkah rasa sakit ini bisa disembuhkan, dan apakah selama proses-proses penyembuhan tertanggung BPJS Kesehatan?”

“?????………”

Mereka terdiam, tak seorang pun dari ke tujuh teman ngrumpiku itu berceloteh. Oh betapa terasa damai di bumi.

(setelah 5 menit)

“E.. begini Rosalinda, jadi…”

“enggak..enggak, maksudnya…’

“ih.. jangan begitu dong..”

Ternyata kedamaian itu tak berlangsung lama, mereka kembali berkata-kata, jika saja omongan bisa dilihat kasat mata, mungkin akan terlihat tumpang tindih kalimat di udara sekitar mereka.


Leave a Reply