Sign In

Remember Me

Catatan Harian 1 : Hikmah Safar

Saya sedang menggunakan kemeja hem biru putih belang belang tipis, sengaja memang. Biasanya saya pakai setelan koko yang warnanya agak terang. Awalnya saya kira mengadakan safar dengan baju koko itu ada manfaatnya, dan mungkin mendapatkan pahala. Tetapi, lambat laun saya mempelajari dan mendapatkan penjelasan mengenai adab dalam hal berpakaian dalam suatu masyarakat, al hasil para ulama mengatakan, lebih afdhal memakai pakaian sebagaimana yang di pakai masyarakat pada umumnya, timbang memakai atribut islam tetapi mendatangkan fitnah dan mudharat.
Saya naik kereta progo, mau pulang dulu ke bekasi karena tanggal 29 nanti akan mengikuti tes masuk pondok pesantren mahasiswa Ar Raayah. Kebetulan keretanya kelas ekonomi ac, duduknya dua orang berhadap hadapan. Disamping saya ada seorang mahasiswa ugm jurusan teknik alat berat (kelihatan dari jaketnya) di depan saya dua orang, satu seorang nenek tidak berjilbab yang kurang lebih sudah berkepala lima usianya, serta seorang laki laki dewasa yang memiliki badan ramping. Wajah laki laki itu dari tadi agak kurang enak di hati, tetapi saya lakukan pembelaan atas ke suudzonan di dalam hati saya. Mungkin sudah tabiatnya.
Perjalanan lancar, hanya perut lapar karena tidak membawa bekal. Di dompet ada uang empat puluh ribu dan seratus lima puluh ribu untuk bayar hutang servis laptop. Mau beli nasi goreng dalam kereta pun rasanya gak sreg sekali, kenapa? Pas denger harga nasi goreng nya, satu porsi, tiga puluh ribu. Habis dah uang saya nanti. Karena kerongkongan dari tadi sudah meraung raung minta dibasahi, akhirnya saya relakan uang lima ribu untuk membeli air mineral.
 
Ada waktunya saya tidur, meskipun harus menyesuaikan dengan sandaran yang tegak lurus sembilan puluh derajat. Ketika waktu shalat datang menyapa, saya paksakan paha ini untuk bangun dari duduk yang agak lama. Lalu mengambil air wudhu di kamar mandi gerbong dengan saluran air keran yang harap dimaklumi, lalu melaksanakan shalat di kursi penumpang, agak aneh dilihatnya mungkin ya, tapi mau bagaimana lagi, ini namanya rukhshah, yang penting jangan malu diliatin banyak orang apalagi dibilang aneh.
 
Setelah itu, saya menoleh ke kiri, seorang pemuda paruh baya sedang menonton video video di youtube. Awalnya video turtorial mengenai servis gadget, makin kesana akhirnya berita berita mengenai pilkada jakarta pun ia ikuti, terlihat video perkembangan langkah langkah pak anies baswedan dan pak sandiaga uno dalam menyongsong jabatan baru disana. Dan sungguh luar biasa memang kota jayakarta itu, ialah kota yang pertama kali di taklukan oleh pahlawan islam bernama fatahillah, dan kota itulah yang dahulunya menjadi daerah kekuasaan turki ustmani dan diterapkan syariat Nabi Muhammad di dalamnya.
 
Adapun sebagian orang yang paham sejarah di ranah jakarta, paling males kalau di bilang betawi, lebih suka dibilang orang jakarta timbang orang betawi. Karena apa? Karena betawi itu asal muasal katanya batavi, yang artinya penduduk batavia (penamaan jayakarta yang diubah oleh pemerintah kolonial belanda) kemudian di konfersikan ke lidah orang jakarta ketika itu, jadilah batawi, kemudian betawi. Dan sebagian mereka lebih bangga dengan kata jakarta, karena jakarta asal kalimatnya jaya karta, yang jika di translate ke bahasa arab nya menjadi fathan mubiina, innaa fatahnaa laka fathan mubiina, sesungguhnya Kami telah membukakan kepadamu kemenangan yang nyata. (QS Al Fath : 1)
 
Saat ini juga, di kursi yang berada di arah jam 10 dari kursi saya diduduki oleh seorang ayah dan anak anaknya, yang disampingnya juga terdengar suara ibu nya. Dari penampilan nya seorang ayah dan ibu yang paham agama, Memelihara janggut dan tidak isbal pakaiannya, serta jilbab yang sesuai kaidah syariat.
 
Tetapi yang buat saya kagum bukan itu saudara, tetapi anak anak nya, dengan semua tingkah mereka yang lucu, membuat penumpang disekitar mereka senang dengan kehadiran keluarga tersebut, dan kedua ayah ibu pun ngobrol biasa aja dengan penumpang ibu ibu yang tidak berjilbab, atau mungkin malah tidak memiliki iman dalam hati. Sehingga presepsi muslim berjenggot itu radikalis, kaku, tidak bisa bergaul, seakan hanya menjadi isapan jempol kaum nyinyirun di bumi pertiwi. Saya kagum sebenarnya dengan orang orang tipe seperti itu, yaitu orang orang yang Allah berikan anugerah berupa sifat supel dan mudah bergaul dengan sesama manusia tanpa menjual murah prinsip utama, yaitu aqidah dan tauhid yang selalu tertanam dalam dada orang orang beriman. Makanya, saya mau mengekspresikan kekaguman saya ini kepada orang lain malah tidak ada teman ngobrol, jadi adanya gadget, di pakai saja buat menulis. Semoga bermanfaat, dan semoga Allah membuat kita menjadi pribadi muslim yang santun serta berakhlak kepada sesama manusia meskipun kepada non muslim.

Leave a Reply