Sign In

Remember Me

Ciri-ciri Kamu Dikuasai Ego

Ciri-ciri Kamu Dikuasai Ego

CIRI-CIRI KAMU DIKUASAI EGO

 

Sebagai manusia, ada kalanya ego menguasai diri kita sehingga seringkali cara kita berpikir dan bertindak pun dipengaruhi ego. Lalu bagaimana cirri-ciri ego telah menguasai kita? Berikut tanda-tandanya, mudah-mudahan kamu bisa melepaskan diri dari ego yang dominan.

 

  1. Terlalu Sibuk Memikirkan Pengakuan Orang Lain

Apakah kamu mengkhawatirkan wajahmu yang kurang cantik atau kurang tampan karena takut tidak diterima orang lain? Apakah kamu selalu merasa kurang modis dibandingkan teman-temanmu? Apakah kamu sering ingin membuktikan pada teman-temanmu jika kamu punya ini-itu? Jika jawabannya “IYA”, maka dipastikan kamu termasuk orang yang dikendalikan ego.

Coba renungkan apa akibat kamu menuruti semua kekhawatiranmu tentang pendapat orang lain? Kamu akan didikte oleh praduga-praduga yang belum sepenuhnya benar, dan kamu akan terjebak pada gaya hidup atau sikap yang tidak sesuai dengan dirimu. Singkatnya, kamu tidak akan menjadi diri sendiri.

Banyak teman-teman sebaya kita yang menghalalkan segala cara agar bisa diterima dalam lingkungannya dengan punya kendaraan bagus, baju yang modis, atau gadget terbaru. Itu karena mereka dikendalikan egonya.

Banyak orang yang sibuk cari perhatian (caper) dengan jalan yang melampaui batas. Sebenarnya mereka hanya mencari pengakuan saja, hendak diakui sebagai “sesuatu” yang berharga dimata orang lain. Itu saja tujuannya : pengakuan orang-orang, karena selama ini ia merasa tidak dianggap penting oleh orang lain.

Sebenarnya tidaklah perlu sibuk mencari-cari pengakuan orang lain. Cukup jalani hidup ini dengan banyak kebaikan. Maka pantulannya akan kembali kepada pelakunya dimasa yang akan datang. Seseorang tidak akan diikuti dan diakui orang lain karena sibuk cari perhatian. Tapi dengan sendirinya dia dianut orang lain jika selalu menanam hal-hal yang baik.

 

 

 

  1. Gengsi Meminta Bantuan

Jika kamu selalu merasa gengsi dan enggan meminta bantuan, atau kamu gak mau meminta tolong karena kamu anggap itu akan merendahkan nilai diri kamu, maka itu menjadi bukti ego telah mengambil alih dirimu. Berarti kamu tidak bisa bekerja sama dalam secara tim, kamu ingin melakukan semuanya sendiri dan membuktikan pada semua orang “I can do everything.”

Ada sebuah kasus pengalaman kawan penulis yang akan meluncurkan situs web kerja bagi mahasiswa MBA. Sebut saja namanya Anto, dalam penilaiannya, dia memutuskan untuk menyelesaikan proyek itu sendiri setelah berdiskusi dengan beberapa teman sekampusnya. Anto berambisi untuk jadi mahasiswa terdepan dengan meluncurkan situs baru hasil karyanya itu. Tetapi apa yang terjadi? Pada akhirnya proyek itu berakhir dalam kegagalan. Andai Anto tidak menuruti egonya dan mau bekerja sama dengan mahasiswa lain, besar kemungkinan proyeknya akan berhasil dan Anto pun telah menyelamatkan beberapa hubungan persahabatan.

Jiwa bersaing yang Anto miliki bukan jiwa bersaing yang positif, karena tujuannya murni untuk menonjolkan diri, diakui orang lain, dominasi, dan pamer. Persaingannya bukan karena adanya cita-cita yang dikejar dengan sungguh-sungguh.

 

  1. Ogah Meminta Maaf

Manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, seperti ungkapan terkenal “nobody’s perfect” (tidak ada orang yang sempurna). Dari mulai tukang becak sampai seorang presiden sekalipun pasti pernah berbuat kesalahan.

Kenapa tetap susah sekali untuk mengucapkan kata ”maaf”? Jawabannya adalah karena “maaf” membutuhkan keikhlasan yang luar biasa bagi yang mengucapkannya. Selain itu, banyak yang tidak mau mengucapkan karena anggapan salah selama ini yang menyatakan bahwa meminta maaf itu berbanding lurus dengan kekalahan, kelemahan dan ketidakberdayaan.

.Padahal tidak seperti itu. Meminta maaf justru akan membuat kita semakin mulia, bukan hanya di sisi manusia namun juga di sisi Allah Swt. Di sisi manusia, meminta maaf akan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara sesama. Jika orang yang meminta maaf tulus dan ikhlas, maka itu bisa dirasakan oleh orang yang dimintakan maaf, dan hal tersebut akan menyambung kembali tali silaturahmi diantara keduanya. Suatu permusuhan yang sudah sangat lama pun bisa selesai hanya jika salah satu pihak berinisiatif untuk meminta maaf. Hilangkan perasaan gengsi. Kalo mau ego-egoan mending ke laut aja..

 

  1. Enggan Mengucapkan Terima Kasih

.Jangan pernah lupa untuk mengucapkan “terima kasih”, karena itu adalah penghargaan terhadap segala kebaikan yang telah diberikan oleh orang lain kepada kita. Namun sayangnya, kita sering sekali lupa untuk mengucap kata sakti ini. Bagi sebagian yang lain, “terima kasih” sangat sulit untuk diucapkan karena memang ucapan “terima kasih” membutuhkan ketulusan dari yang mengucapkannya.

.Menurut sebuah riset, dalam menjalani hubungan dengan orang lain, ucapan “terima kasih” sekecil apapun dapat membuat suatu hubungan menjadi harmonis dan lebih baik. Baik itu dalam rumah tangga, pekerjaan, pernikahan, dan pacaran. Coba tanya dari pedagang gado-gado sampai pedagang berlian, pasti mereka senang jika dihargai, terlepas dari apapun profesinya. Hal ini bisa terjadi karena memang dasarnya manusia itu suka dihargai.

 

  1. Selalu Membandingkan dan Bersaing

Orang-orang yang dikendalikan oleh egonya sering menjadi korban apa yang disebut dengan kelemahan komparatif dan kelemahan kompetitif. Kelemahan komparatif yaitu sikap yang selalu membandingkan diri dengan orang lain, itulah salah satu bentuk ego yang paling ganas.

Banyak yang merasa panas hati jika melihat temannya punya baju baru, hp baru, atau jauh lebih dikenal, lebih disukai, lebih kaya dan lain sebagainya. Kemudian kamu terdorong untuk menyamai pesaingmu apapun caranya, meski harus memaksakan diri atau menghalalkan segala cara.

Pada dasarnya, itulah kekalahan abadi kamu, karena dengan membanding-bandigkan kamu dengan orang lain, maka kamu akan selalu jadi pengekor di belakang orang lain.

 

  1. Selalu Ingin Lebih

Rasa ingin lebih, tidak pernah puas, dan keserakahan adalah bentuk lain dari ego. Banyak cerita dalam film yang bisa kita ambil pelajarannya, bahwa ada kalanya tiba suatu titik di mana kita berhasil memiliki segala sesuatu yang diinginkan, tetapi kemudian kita tetap menginginkan lebih dari itu. Andai ketika semua terkabul, cobalah untuk mengerem atau berhenti, bukannya malah tancap gas dan terus ambisius.

 

  1. Selalu Bermain Jadi Korban (Playing Victim)

Kamu tentu pernah melihat anak-anak kecil yang sedang bermain lalu mereka terlibat perselisihan soal aturan main yang ada. Ketika adu mulut semakin memanas, salah seorang anak ada yang berkata, “Ya udah, Aku enggak jadi main!” atau “Aku pulang aja!” Dia lebih memilih keluar dari permainan yang sebenarnya masih bisa dia ikuti andai dia bisa lebih fleksibel.

Tapi itu kan anak-anak? Bagaimana dengan kita? Rupanya orang dewasa pun masih ada yang bermain korban seperti anak-anak tadi. Misalnya ketika ide-ide kita tidak diterima, atau ketika kita merasa tidak setuju pada satu hal yang menjadi kesepakatan, adakalanya kita cenderung memilih keluar dari pekerjaan atau tim. Pada awalnya, hal ini seperti bukan bentuk pelampiasan ego, tapi itulah ego. Kamu menempatkan kebutuhan untuk diakui di atas pekerjaanmu dan di atas kepentingan tim.

 

  1. Agresif

Ketika kamu merasa ada orang lain yang melanggar sesuatu yang dianggap sebagai area pengaruh dirimu, lalu kamu merasa perlu untuk melindungi berdiri, pengaruh, kedudukan, atau citra dirimu dan tidak membiarkan siapa pun jadi lebih menonjol dari dirimu. Bahkan kamu mencari nama dari ide-ide orang lain atau menutup kemungkinan mereka mendapat sorotan.

 

  1. Mudah Sekali Tersinggung

Pernahkah kamu kenal “seseorang” yang mudah sekali tersinggung? Yang selalu merasa segala sesuatu itu sebagai serangan pada pribadinya? Tidak peduli apa yang kamu katakan pada dia, atau seberapa baik cara kamu menjelaskannya, entah bagaimana dia akan salah mengerti dan menganggapnya sebagai serangan atau bahkan penghinaan. Demikian pula, beberapa orang memperlakukan setiap ketidaksepakatan sebagai indikasi bahwa Kamu mempertanyakan kompetensi mereka. Kedua hal ini adalah menampilkan halus ego.

Jika kamu terlalu mengedepankan praduga, asumsi, atau persepsi dirimu di atas hal-hal yang prinsip dan utama, kamu sebenarnya tengah menghancurkan kredibilitasmu sendiri. Kamu akan selalu memandang setiap penolakan adalah permusuhan, setiap ketidaksepakatan berarti serangan pada dirimu.

 

  1. Tidak Pernah Menerima Kenyataan

Seseorang yang dikuasai egonya, dia tidak akan pernah menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan atau keinginannya. Dia tidak akan pernah menyadari jika dalam hidup ini selalu ada langit di atas langit, akan selalu ada seseorang yang melebihi dirinya dalam hal apa saja. Jika kita merasa lebih dari orang lain dalam hal kekayaan, pasti ada orang lain yang justru lebih kaya. Jika kita merasa lebih ganteng atau cantik, tentu ada yang jauh lebih cantik dan ganteng dari diri kita.

Benar pepatah orang tua kita yang menyebutkan “Dalam soal harta, tengoklah ke bawah. Dalam soal amal kebaikan, tengoklah ke atas.”

Pernahkah kamu mengutuki keadaan yang membuatmu tidak mampu membeli smartphone canggih sebagaimana teman-temanmu? Pernahkah kamu merasa benar-benar terperosok malu hanya karena kamu tidak begitu modis dibandingkan yang lain? Jika pernah, berarti di dalam diri kamu masih bersemayam sikap tidak menerima kenyataan yang dapat muncul tiba-tiba membakar seluruh kebaikan dalam dirimu.

 

  • Selalu Merasa Benar Sendiri

Salah satu wujud ego yang sangat merusak dan bisa membuat kamu dijauhi orang lain. Orang yang selalu merasa benar dan selalu ingin dibenarkan oleh teman-teman di sekitarnya, dia sesungguhnya sedang menuju kejatuhan yang tajam. Orang-orang yang merasa benar sendiri akan bersikap keterlaluan karena perilaku mereka yang keras kepala dan agresif. Bisa jadi memang suatu waktu dia akan meraih sukses, tetapi berkat sikap buruknya itu, apa yang telah diraihnya akan merosot tajam.

 

Dirangkum dari buku Kuasai Dirimu : Bab 2 Kelola Egomu Sebelum Mengelola Cita-citamu

Penerbit : Alvabet Jakarta

Penulis : Ahmad Dzikran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Arsitek freelance yang suka tulas-tulis, mulai dari nulis buat mading semasa SMA eh SMU, nulis buletin, nulis artikel di media. Sekarang juga nyambi jadi ghost writer di beberapa penerbit, dan alhamdulillaah baru nerbitin 4 buku (2 di malaysia, 2 di Indonesia).

Leave a Reply