Sign In

Remember Me

Mereka Menyebutnya Perempuan Malapetaka

setiap sore, perempuan tua itu akan duduk di teras menatap langit yang berubah warna. lambat-lambat berkedip, malas memelihat. tapi juga segan memejam. tidak seorangpun perduli apa yang sebenarnya dia lakukan. selain duduk di teras, perempuan tua itu akan berbicara dengan tanaman bougenvil yang tumbuh rimbun di area rumahnya. parasnya terlalu cantik untuk disebut gila. kilapnya memancarkan sisa-sisa keanggunan remaja putri kraton berpuluh tahun silam. rambutnya beruban yang tergulung rapi serta butir mutiara yang menempeli tusuk kondenya.

Warga setempat sepakat untuk mengasingkannya; meniadakan keberadaan perempuan tua itu dengan enggan bertegur-sapa. mata bulat kecoklatan itu seperti mata yang menaburkan seribu matahari, namun juga mata yang bisa jadi sendu, mendatangkan sunyi. Bibirnya bergincu, sayang, bibir itu tidak akan pernah tersenyum. kadang, perempuan itu akan sedu sedan tanpa suara. ia meremas-remas  pakaian bergaya nonik belanda yang ia kenakan. di remasnya kuat-kuat seolah kemarahan yang hanya bisa dilampiaskan pada bajunya. air matanya deras membasahi wajahnya. Di rumah itu hanya ia tinggali seorang diri. suaminya telah meninggal tujuh belas tahun silam, kedua anak perempuan dan satu menantu laki-lakinya turut meninggal dua tahun setelahnya. Sebenarnya perempuan tua itu masih memiliki satu cucu, sayang, cucunya lari ketakutan dan meninggalkannya sendiri.

pernah satu hari di ujung senja, perempuan tua itu memiliki niat baik, ia berniat menyelamatkan gadis kecil yang jatuh dari sepedanya, namun, belum sempat ia melakukannya  orang-orang menuduhnya melukai gadis kecil itu.

Mereka menyebutnya perempuan malapetaka.

***

 

Setelah ini mungkin giliranku yang mendapatkan musibah. Kalau saja bukan tuntutan pekerjaan. aku tidak akan pernah mau menyerahkan nyawaku. menjadi profesional dan bekerja totalitas adalah prinsip teguh yang melekat kepadaku sebagai reporter. mbok Ning adalah narasumber terpilih untuk edisi minggu ini. sebutan perempuan malapetaka yang melekat kental padanya menjadi ulasan serius.Jujur saja, rumahnya masih jauh satu kilometer lagi, tapi aku sudah panas dingin. Doa terus kurapalkan sepanjang jalan sebelum aku sampai di depan pagar rumah mbok Ning.Pikirku wajar, jika nanti perempuan tua itu akan melempariku dengan kursi, atau memukulku hingga babak belur, ataumemukulku hingga babak belur, atau bahkan mencekik leherku,Sebab, lima belas menit kedepan, aku akan menanyai hal yang paling sensitif untuknya; sebutan perempuan malapetaka.

Aku datang tepat saat Mbok Ning sedang duduk di teras. Sengaja aku datang senja begini. Aku hanya ingin tahu apa yang dilakukannya. mengapa orang-orang membencinya sampai tega mengasingkannya. apa benar kabar simpang siur bhawa mbok Ning dalang dari meninggalnya suami sekaligus anak dan menantunya itu? tapi sungguh, kesan pertama setelah melihat paras perempuan tua itu, tidak sedikitpun terlihat seperti orang jahat. wajahnya keibuan, hanya saja tatapannya kosong menerawang terlalu jauh… sangat jauh

“Punopo dalem kepareng mlebhet?”* aku bertanya sehalus mungkin, tersenyum setulus mungkin. Dan ketika ia melihatku datang, air mukanya berubah senang, walaupun tidak menampilkan senyuman di wajahnya.

“Sini nak” Mbok Ning melambaikan tangannya, mengisyaratkan untuk aku masuk. Lalu ia memberiku kursi rotan yang ada di sebelah kursinya. dengan perasaan cemas, takut sekaligus melihat kelembutannya membuatku lupa sedang berada di situasi serius yang sedang aku hadapi.

Aku menelan air ludahku sebelum melontarkan kalimat yang mungkin nantinya akan membuat perempuan tua itu bertransformasi menjadi galak. “Ngapunten, Mbok Ning”** kataku menggunakan bahasa jawa halus. Sebelum melanjutkan kalimatku, aku lebih dulu menyiapkan mental apabila Mbok Ning tiba-tiba mengusirku. “Nyuwun pangapunten sakderengipun.., dalem nyuwun katrangan, kenging punopo tiyang-tiyang mastani bilih mbok Ning menika piyantun putri ingkang damel sangsara  tiyang sanes?”**

“Harusnya dulu saya tidak meninggalkannya sendirian. Jika dulu saya menuruti permintaanya untuk tetap berada di rumah, mungkin tidak begini jadinya”  suaranya melemah, samar-samar bergetar, membuatku menjadi gemetaran.

“Orang-orang hanya tidak tahu saja kebenarannya, mereka mengira saya sengaja membunuh suamiku dan meninggalkannya seorang diri di rumah. Padahal, saya keluar rumah untuk pergi ke pasar, niat ingin memasak untuk suami, pulang-pulang malah berita duka yang saya dapatkan” pandangannya telah jauh menerawang kesana. tanpa perlu aku ajukan pertanyaan, mbok Ning menceritakan semua yang ingin aku ketahui.

“Saat itu hati saya sedang terluka dan sedih, saya tidak memikirkan untuk memberitahukan bahwa suami saya meninggal karena sakit jantung dan saya terlalu takut untuk membenarkan kesalapahaman itu. hati saya kembali hancur, saat kedua anak perempuan dan menantu laki-laki saya turut meninggal karena kecelakaan lalu lintas, beruntung,  saya dan cucu selamat dari kecelakaaan itu”  sesekali perepuan tua itu menyeka air matanya. “wajar, jika cucu saya lari karena ketakutan akan tertimpa malapetaka. Melihat orang-orang terkasihnya meninggal, sedangkan saya selamat, mungkin dia memiliki pikiran yang sama dengan orang-orang itu.  tapi Tapi bersyukur cucu saya pergi, dengan begitu saya tidak lebih merasa bersalah dan ikut kehilangannya”

Dari ceritanya, aku yakin, dia bukan orang gila, atau perempuan malapetaka. Peristiwa-peristiwa itu adalah musibah yang diberikan Tuhan. Aku merasa kasian dengan mbok Ning, selama ini ia memendam kebenaran itu sendirian, dan rasa bersalah yang besar.

“Peristiwa itu membuat saya tertuduh sebagai perempuan pembawa malapetaka. Saya di asingkan selama bertahun-tahun. saya tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi”  pantas saja, selain duduk di teras dan menangis, perempuan tua ini kerap kali berbicara dengan bougenvilnya. Ternyata Mbok Ning kesepian. Sangat kesepian. Ia hidup sendiri tanpa satu orangpun menganggap keberadaannya.  semua orang menjauhinya karena takut tertimpa malapetaka.

Kuberanikan diri menggenggam tangannya yang keriput.

“Dulu, sebelum peristiwa-peristiwa itu, saya salah satu perempuan yang dihormati di kampung ini. selama dua periode saya menjabat sebagai ketua PKK, tenaga saya sering di butuhkan di beberapa kegiatan kampung. kini, bahkan satu orangpun seperti jijik meilhat saya, tidak ada diantara mereka yang mau bertegur-sapa. Bahkan setiap peristiwa yang terjadi di kampung ini, selalu dikait-kaitnkan dengan saya,  mereka berkata sayalah dalang setiap musibah yang datang”

Aku tertunduk, merasakan betapa sulitnya hidup sebagai Mbok Ning. Pasti selama bertahun-tahun perempuan tua itu sangat kesepian ketika semua orang menjauhinya. Hilang sudah prasangka buruk lima belas menit lalu yang begitu aku khawatirkan. Setelah mendengarkan kisah Mbok Ning, aku malah bersimpati terhadapnya.

“Mungkin benar, saya perempuan pembawa malapetaka” katanya mengakhiri ceritanya sebagai penutup.

 

NB:

*narasi yang digunakan memakai bahasa jawa yang artinya, “boleh saya masuk?”

** narasi yang digunakan memakai bahasa jawa yang artinya, “maaf kalau saya lancang, saya ingin bertanya,kenapa orang-orang menyebut Mbok Ning sebagai perempuan pembawa malapetaka?”


Leave a Reply