Sign In

Remember Me

Naila bagian satu

Udara pagi mengingatkanku untuk terbangun. Cahaya matahari yang terang, telah menembus kaca-kaca rumahku. Pagi ini adalah awalku. Hari ini adalah hari pertamaku di smp baruku. bukan, aku bukanlah siswa kelas 7 girang akan sekolah baruku. Aku adalah murid pindahan kelas 8.

Namaku Naila. Kelahiran Surabaya. Kini aku tinggal di kos-kosan kakakku di Kota Semarang. Saat ini aku hanya dapat mengenalkan kakakku. Namanya Risa, mahasiswi di Universitas Diponegoro Semarang jurusan psikologi. Ia merupakan satu-satunya kakakku yang mau kubuat repot.

Suara Kak Risa sudah memenuhi seluruh sudut kamarku. Tanda untukku menyiapkan perlengkapan sekolahku. Walaupun belum terang, aroma sarapan buatan Kak Risa sudah tercium. Rajin sekali, hingga kesal aku melihat sikap rajinnya.

Hatiku terasa amat berat. Pindah ke kota ini bertentang dengan keinginanku. Selagi keluargaku meneruskan hidup di Surabaya, aku dipaksa untuk bertahan hidup di Semarang. Aku merasa terbuang. Mungkin mereka sudah muak merawatku.

Jam dinding sudah menunjukan pukul 6.15 AM. Kugayuh sepedaku  menuju sekolah baruku. Kota ini benar benar keterlaluan. Mereka tidak menyediakan jalur sepeda, pengendara motor awut-awutan, mobil agresif meski di jalanan yang padat. Cih, benar benar keterlaluan.

Sesampainya di sekolah, lapangan sudah dipenuh oleh pasukan berbaju putih-biru. Mereka menatap ke arahku. memang seragam sekolah lamaku berbeda dengan sekolah ini, jadi wajar jika mereka menatapku seperti itu. pasti mereka berpikir “kurang ajar sekali si anak baru ini, hari pertama sudah telat”. ah, sebaiknya aku segera ikut berbaris sebelum daripada berpikiran negatif.

Selepas upacara, kucari namaku di lembar penempatan kelas yang tertempel di papan pengumuman sekolah. 8D. Tempatnya lumayan strategis. dekat dengan tangga, diatas kantin,dan tidak jauh dari toilet.

Kuberanikan diriku untuk memasuki kelas. Bangku paling belakang nampak sangat menggiurkan. Segera kuletakan tasku diatasnya sebagai landmark. kebetulan ada satu anak yang tidak hadir. jadi, bangku kosong sebelah kiriku mungkin akan ditempati anak itu. Sedangkan di sebelah kananku, terduduk perempuan berwajah jutek sedang menatap layar hp-nya. Hmm, ia terlihat cukup cool.

Baru saja aku duduk, dua anak di bangku depanku sudah mendatangiku dengan wajah palsu. wajah yang terpaksa senyum. aku cukup pintar membaca wajahmu bodoh. Mereka menyapaku dengan ramah, dan mulai menanyakanku. Sayangnya, aku tau mereka Melakukan itu sebagai bentuk pencitraan agar aku memandang mereka sebagai orang-orang yang ramah. Mungkin jika mereka lebih jujur, aku mau berteman dengan mereka.

“Naila asalnya darimana?” tanya salah satu dari mereka.

Pertanyaan menjijikan. tapi akan tetap kujawab.

“bukan urusanmu.”

Sial. Aku benar-benar kelewatan. Mereka langsung terdiam menutupi kekesalannya terhadapku. Mereka pasti membenciku. walaupun begitu,  syukurlah jika jawabanku dapat menutup mulut mereka.

https://www.wattpad.com/myworks/106347121/write/400008369

Leave a Reply