Sign In

Remember Me

Permintaan Apa?

Permintaan Apa?

“Aku tidak punya rasa takut” kata Kahfi dengan datarnya. “Aku tidak pernah menangis, aku hanyalah sebuah robot yang kehilangan arah setelah ditinggal penciptanya.”

Alif menggelengkan kepala, memandang rendah ke arah sahabatnya. Baginya, kata-kata itu seperti setelan kaset rusak yang diputar dua hari sekali.

“Dengar, aku tidak peduli jika kau tidak punya rasa takut ataupun rasa sedih. Tetapi jangan mengulanginya berkali-kali, kau membuat telingaku semakin panas,” ujar Alif sambil memukul kepala Kahfi.

Kahfi menyuruh Alif diam, lalu memperhatikan anak-anak yang sedang bermain di kejauhan. Salah satu di antara mereka terjatuh dari sepeda, sehingga banyak orang yang mengelilinginya.

“Kasihan sekali anak itu,” komentar Alif sambil menyipitkan matanya.

“Itu salahnya sendiri, karena tidak hati-hati,” balas Kahfi. Sekali lagi, Alif memukul kepalanya.
Beberapa orang dewasa mulai berdatangan, mereka menenangkan anak itu sampai berhenti menangis. Teman-temannya kembali bermain, sedangkan anak itu dijemput orang tuanya.

“Kau melihatnya, kan?” tanya Kahfi, “anak itu terjatuh, orang-orang akan menenangkannya, dan keluarganya akan menjemputnya. Saat dia sudah pergi, anak-anak yang lain akan kembali bermain. Tidak ada gunanya merasa bersedih, perasaan itu hanya akan terasa sebentar lalu menghilang selama-lamanya,” jelasnya.

“Jadi itu pendapatmu, ya?”
Alif menghela napas panjang, lalu berdiri membelakangi Kahfi. Dia menutupi matanya dengan telapak tangan, menghalangi cahaya mentari yang mulai terbenam.

“Kau benar, mungkin kau benar-benar tidak punya hati,” balas Alif, “tetapi kau masih seorang manusia, dan suatu saat kau akan mendapatkan hatimu kembali.”
Alif meninggalkan sahabatnya seorang diri, sahabat yang memalingkan mukanya dengan acuh.

###

“Kakak, sebentar lagi hujan….”

Kahfi berlari kecil dan melihat ke arah langit, menghela napas lalu kembali duduk di samping adiknya.

“Pendengaranmu tajam seperti biasanya, sebentar lagi benar-benar akan hujan. Hebat sekali,” terang Kahfi sambil tersenyum. “Dengan begini, rencana untuk pergi mendaki gagal lagi. Benar-benar merepotkan,” lanjutnya.

“Beberapa hari ini, langit sering menangis. Kenapa ya Kak?”Kahfi hanya terdiam. “Padahal Bulan ingin melihat bintang-bintang secara langsung” ucapnya ragu,“tapi sepertinya mustahil ya?”

Suaranya disamarkan oleh bunyi hujan, seakan tidak memperbolehkan seorang pun mendengar perkataannya.

“Kenapa tidak? Sebentar lagi kau akan melihatnya,” balas kakaknya sambil tersenyum.

“Tapi… Bulan tidak bisa melihat,” ujarnya ragu-ragu.

Suasana menjadi hening, Bulan yang periang mulai murung beberapa hari ini. Seperti langit yang menangis, hatinya ikut menangis karena luka yang dalam. Tidak pernah melihat satu pun warna, tidak pernah melihat langit biru yang selalu ada di atas kepalanya. Tetapi saat langit ingin menangis, dia adalah orang pertama yang akan menyadarinya.

“Kakak, Bulan ingin melihat langit!” serunya polos. “Bulan ingin melihat bintang! Bulan ingin melihat wajah Kakak! Kalau Bulan tidak bisa melihatnya, Bulan ingin bertemu Ayah dan Bunda.”

“Jangan sembarangan bicara!” Kahfi berteriak sekeras-kerasnya.

Suasana kembali hening, Kahfi berdiri dan memandang ke arah gumpalan awan. Matanya berkaca-kaca, tetapi tidak ada satu pun air mata yang menetes. Kahfimenatap adiknya dengan senyuman getir, lalu mengusap rambutnya.

“Jangan bertemu Ayah, jangan bertemu Bunda,” katanya, “biar Kakak dulu yang bertemu mereka… jangan kamu,” suaranya menjadi semakin pelan dan berbisik.

Bulan mengangguk pelan, sedangkan Kahfi pergi meninggalkannya sendirian.

“Kakak, di atas gunung langitnya cerah ya?” bisik Bulan. “Setelah operasi, Bulan ingin melihat matahari terbit dari atas gunung,” lanjutnya sambil tersenyum.

Bulan mengambil tongkatnya, berjalan perlahan ke arah jendela. Dengan tangannya yang halus, dia mencoba untuk merasakan dinginnya hujan. Sampai akhirnya air menetes dari pelupuk matanya.

###

Seorang pria kurus berputar-putar di lorong rumah sakit, sesekali melihat ke arah jam dan duduk termenung menatap lantai. Tatapannya kosong, matanya memerah, dan mulutnya terus mengucap tetapi sunyi. Dia berdiri lagi, menatap pintu kamar operasi, melihat jam lalu duduk lagi.
Udara malam membuat kulitnya sedingin es, keringat dingin terus mengalir di pelipis kanannya, sedangkan pelipis kirinya diusap oleh kain tipis yang mulai basah.

“Kenapa lama sekali?!”

Kahfi berdiri dan membeli kopi di mesin minuman, lalu meneguknya dengan cepat. Hatinya mulai gusar, kesabarannya mulai habis, berkali-kali dia melihat ke arah pintu, tetapi belum ada tanda-tanda akan terbuka.
Kopinya sudah habis, dia membuangnya dengan kasar. Dia membelinya sekali lagi, setelah beberapa teguk dia membuangnya ke tempat sampah. Dia melemparnya dengan kesal.

“Kakak, Bulan ingin melihat langit….”

Kembali teringat kata-kata yang diucapkan adiknya, membuatnya semakin cemas. Suasana sangat sunyi, yang terdengar hanyalah napas seorang kakak yang berat dan tidak beraturan. Kakinya mulai berisik, suara ketukan kaki menggema di sekitarnya. Giginya digertakkan kuat-kuat, lalu sesaat kemudian dia tenang, dan menghela napas panjang.
Dia menatap ke langit-langit, lalu menutupi matanya dengan kain untuk menahan air matanya.

“Bulan ingin melihat bintang!”

Lagi-lagi sebuah kalimat melayang di ingatannya.

“Kalau Bulan tidak bisa melihatnya, Bulan ingin bertemu Ayah dan Bunda.”

Tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya, lalu bangun dari tempat duduknya. Pintu telah terbuka, beberapa orang berpakaian serba hijau keluar dari ruangan. Wajah mereka tertunduk, lalu berjalan melewati Kahfi begitu saja. Dia hanya terdiam, merasakan firasat buruk yang melanda hatinya yang rapuh
Salah seorang dari mereka menepuk bahunya, dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang sederhana, tetapi jauh lebih bersih dan terang dibandingkan rumahnya yang kumuh. Hanya ada seorang gadis kecil yang terbaring di atas kasur, gadis yang belum pernah melihat warna di sepanjang hidupnya.

“Kakak… apakah itu kau?” tanya gadis itu.
Detak jantung Kahfi semakin cepat, perlahan-lahan dia melangkah ke arah adiknya yang malang.

“Kakak ada di mana? Kenapa masih gelap?” ujarnya parau. “Ternyata kasur warnanya memang hitam ya?” tanya Bulan sambil meraba-raba kasurnya.

Mata Kahfi mulai berkaca-kaca, tetapi tidak ada setetes pun air mata yang mengalir di pipinya.

“Kakak, lampunya nyalain dong… soalnya kata Bu Guru, kalau lagi gelap semua benda warnanya hitam,” pinta Bulan sambil tersenyum tipis.

Kahfi memeluk adiknya dengan erat, melampiaskan seluruh perasaannya yang lemah sebagai seorang kakak.Mengutuki dirinya sendiri yang belum pernah membahagiakan adiknya, dan belum bisa menepati janjinya.

“Maafin Kakak ya, Kakak belum bisa membahagiakan Bulan,” bisiknya sambil meringis.

“Bulan juga minta maaf ya, Kak,” balas Bulan, sambil melonggarkan pelukannya, “Maafin Bulan karena sudah berbohong sama Kakak….”

Kahfi melepaskan pelukannya, lalu memandangi adiknya yang tersenyum puas.

“Bercanda! Bulan sudah bisa melihat, kok!” ujarnya riang, sambil menggenggam bahu kakaknya. “Bulan pikir Kakak lebih keren, tapi ternyata cengeng juga ya?”

Kahfi masih diam terpaku, berusaha mencerna kata-kata yang diucapkan adiknya.

“Kenapa? Kakak tidak senang, Bulan sudah bisa melihat?” tanya Bulan sambil tersenyum manis.
Setetes air terjatuh dari bola matanya, mengalir di pipinya, dan terjatuh dari wajahnya. Itu adalah air mata pertama setelah kematian orang tuanya, air mata yang mengembalikan hatinya. Bulan mengusap wajah Kakaknya untuk menghapus air matanya.

“Kenapa Kakak menangis?”

“Bukan apa-apa, tidak usah dipikirkan,” jawab Kahfi. “Kamu jahat juga ya, bisa-bisanya bikin Kakak sedih setengah mati,” lanjutnya sambil mengusap tangan adiknya.
Bulan hanya terdiam, terus memandangi Kakaknya yang mulai menghapus air mata.Dia mengambil sesuatu dari saku bajunya.

“Hari ini cerah, kan? Kenapa Kakak tidak mendaki gunung?” tanya Bulan sambil menyerahkan sebuah surat. “Kakak baru boleh baca surat ini kalau sudah sampai di atas gunung.”

“Kenapa?”

“Ra-ha-si-a!” seru Bulan. “Kalau bacanya sekarang, kejutannya hilang.”

“Kenapa kita tidak mendaki bersama-sama? Kau bisa melihat jutaan bintang di atas sana,” saran Kahfi. Bulan menggelengkan kepalanya, lalu kembali berbaring di atas kasur.

“Dia belum bisa keluar,” ujar Dokter tiba-tiba. “pasien yang sudah melakukan operasi harus menginap terlebih dahulu.”

Kahfi mengangguk pelan, lalu mengusap kepala adiknya untuk terakhir kalinya. Dengan sepucuk surat yang dipegangnya erat, dia melangkah pergi meninggalkan kamar operasi dengan wajah yang berseri-seri
Keadaan menjadi hening seketika. Hanya tersisa dua suara: Detian jarum jam dan sentuhan dua benda logam. Bulan yang tertidur mulai bangun perlahan, meraba-raba ke sekeliling tempat tidurnya yang berantakan.

“Kakak sudah pergi, kan?” tanya Bulan.

Dokter hanya terdiam, terlalu sibuk menahan air matanya yang hampir keluar.

“Dokter? Dokter masih di sini, kan?”

“Istirahat saja, Kakakmu sudah pergi,” katanya singkat. “Kau memang tidak bisa melihat lagi, tapi kenapa kau membohongi kakakmu?”
Bulan tersenyum, lalu kembali berbaring di kasurnya.

“Aku tidak ingin dia sedih,” jawabnya singkat. “Setidaknya, Bulan merasa akan bertemu dengan Ayah dan Bunda sebentar lagi,”
Suasana kembali sunyi, Bulan menutup matanya perlahan-lahan. Pada akhirnya, sampai detik ini belum ada satu pun warna yang dilihatnya. Tetapi senyuman bahagia terukir manis di wajahnya, dan matanya tertutup rapat untuk selama-lamanya.

###

“Kakak… maaf ya, Bulan mengunjungi ayah—bunda terlebih dahulu. Allah sangat baik karena mengabulkan salah satu permohonanku, Kakak jangan sedih ya….” -BULAN-

Kahfi terbaring di atas karpet hijau yang membentang di bawah ribuan bintang, menutup matanya dengan lengan kanannya yang ‘tak kuasa menahan lelehanair matanya. Tangisannya yang pilu disamarkan oleh nyanyian jangkrik dan suara ranting pohon yang bergesek.

“Pada akhirnya, kau mendapatkan hatimu kembali, ya?” ujarAlif di kejauhan. “Jadi, di mana kau menemukannya? Apa yang terjadi?”

“Bukan apa-apa,” jawabnya dengan suara yang serak, “hanya saja… bulannya tidak terlihat di atas sini….”


How to be a "Mystery" and "Legendary"

Leave a Reply