Sign In

Remember Me

“PISUKE BUKAN KARTINI”

“PISUKE BUKAN KARTINI”

“PISUKE BUKAN KARTINI”

(PEREMPUAN PISUKE PEMBANGUN DESA)

             Karang ditabrak ombak bergulung dari sisi tengah lautan Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat. Bagian timur Indonesia yang selalu memancarkan pesona keindahan alam nya. Membuat mata akan buta melihat biru hijau bumi disini. Tak hal nya dengan persembunyian Pisuke didalamnya.

Safira gadis yang tinggal didaerah Gerunung Kecamatan Praya Kabupaten Lombok. Safira Lesuke nama lengkap nya. Safira tinggal dengan kedua orang tua di Gerunung. Safira dua minggu lalu menyelesaikan pendidikan Strata Satu di Universitas Airlangga Surabaya, Jawa Timur. Sudah seminggu Safira kembali ke Gerunung. Seharusnya Safira bahagia kembali lagi kesini, tapi Safira terfikir hal yang dibicarakan Bapak nya semalam. Sudah tiga jam dari terbit fajar Safira berdiam diri dikamar.

“Fira mari makan sudah dari tadi kau belum makan,” ucap Mamak.

“Fira belum lapar mak, kalau mau makan mamak duluan saja,” jawab Safira.

“Yasudah kalau kau tak mau makan,” ucap Mamak.

Mamak Safira pergi keruang makan. Mamak tau kalau Safira masih terfikir apa yang dibicarakan Bapaknya soal Pisuke. Tapi Mamak juga tidak bisa berbuat apa-apa, meskipun hal ini akan menghambat pendidikan S2 Safira ke Sidney, Australia.

Pagi ini Safira berjalan-jalan ditepian pantai Lombok. Setelah seharian Safira mengurung diri dikamar. Banyak orang yang ditemui Safira. Terus berjalan-jalan disepanjang pantai seketika Safira tertegun dan langkahnya terhenti.

“Pagi nine (sebutan perempuan Lombok),” ucap Safira.

“Pagi kakak,” jawab mereka serentak.

“Ikan nya banyak ne,” ucap Safira.

“Iya kakak, kakak kapan balik ke Gerunung sedari empat tahun diseberang,” tanya salah satu dari mereka.

“Sudah dua minggu di Gerunung nine,” ucap Safira malu. Karena memang Safira belum pernah keluar dari rumah.

“Enak belajar disana ya kakak tak seperti kami disini tamat SMP habis itu memilih ikan seperti ini,” ucap mereka.

“Kenapa tak kalian lanjutkan ke SMA?” tanya Safira terkejut.

“Kalau ditanya kami pasti sangat ingin melajutkan tapi lain hal nya dengan Bapak kami,” jawab mereka.

“Iya saya paham akan hal itu,” jawab Safira sambil menganguk-angguk kecil.

Safira kembali melanjutkan perjalanan nya. Dua jam berjalan-jalan di pantai Safira kembali kerumah. Sesampai dirumah Safira memikirkan hal tadi. Safira merasa beruntung karena bisa menikmati pendidikan yang tinggi. Tidak hal nya dengan mereka gadis-gadis yang masih memiliki masa depan yang lebih baik lagi.

Menuju keruang makan disana Bapak dan Mamak Safira sudah menunggu untuk makan malam bersama. Safira masih belum bicara dengan Bapak nya sejak malam itu. Tapi sebagai anak Safira memulai pembicaraan.

“Safira ambilkan nasi Bapak,” tawar Safira.

“Ini,” jawab Bapak sambil memberikan piring.

“Bapak, Mamak Safira ingin mendirikan sebuah tempat belajar untuk nine yang putus sekolah?” ucap Safira.

“ Maksud kau?” tanya Bapak dengan nada agak emosi.

“Masih banyak nine diluar sana yang butuh pendidikan, tapi mereka harus jadi budak dirumah sendiri,” jawab Safira.

“Tak usah lah kau sok elok didepan mereka, pikiran saja soal pernikahan mu itu!” jawab Bapak emosi.

“Bapak, Safira tidak pernah menentang pernikahan tapi tidak dengan Pisuke!” jawab Safira.

“Apa salah nya dengan Pisuke kau juga yang untung.” Jawab Bapak lalu pergi meninggalkan meja makan.

Safira mencoba untuk  menenangkan diri nya. Sebab jika tidak hanya akan memancing perperangan dingin lagi Safira dengan Bapaknya. Safira bingung tak mungkin menentang adat. Pembayaran Pisuke sudah menjadi tradisi daerah Gerunung.

Mentari pagi sudah menyinari jendela kamar Safira. Hari ini Safira berniat melanjutkan rencana nya dengan semua nine yang tinggal ditepian pantai. Safira keluar dari rumah. Tapi sesampai di pintu ada Bapak Safira.

“Mau kemana kau Safira?” tanya Bapak.

“Kepantai Pak,” jawab Safira terpotong dan kemudian Mamak Safira datang dari dapur.

“Iya Bapak, Mamak yang suruh Safira ke Pantai beli ikan ke nelayan disana,” jawab Mamak sambil mengedip kearah Safira.

“Iya Bapak, Safira pergi dulu,” jawab Safira bergegas pergi.

Lima belas menit melangkahkan kaki kecilnya. Safira sampai ditepian Pantai tempat nine tinggal. Safira melihat mereka sudah berkumpul. Dan yang membuat Safira terkejut mereka telah membuat rumah pohon dengan sebuah ayunan kayu. Safira benar-benar merasa bahagia karena semangat belajar mereka yang tinggi. Safira bisa melihat dari kreatifitas mereka.

“Pagi nine, semua semangaaatt???” teriak Safira.

“Pagi kakak.. semangat..” jawab mereka kompak.

“Langsung saja kita mulai belajar, tapi sebelumnya kakak hendak tanya, apa alasan kalian masih semangat untuk belajar bersama kakak disini?” tanya Safira.

“Karena kami ingin seperti Ibu Kartini, yang berjuang untuk pendidikan demi memperjuangkan derajat kaum wanita,” jawab salah satu dari mereka.

“Benar sekali nine, sebagai perempuan kita harus bisa memperjuangkan derajat dan hak kita. Kita juga bisa jadi legislatif duduk dibangku besar sana!” tutur Safira tegas.

“Kami akan buktikan kakak, kalau kami yang tinggal diperdalaman ini bisa menginjak negeri besar disana,” jawab salah satu dari para nine.

“Kakak bangga dengan kalian karena masih menanamkan rasa nasionalisme yang tinggi, huftt..(sejenak Safira menghela nafas) baiklah kita awali belajar hari ini tentang  Logaritma,” tutur Safira semangat.

Tak sadar asik mengajar langit pun sudah berwarna Jingga, Safira mengakhiri pembelajaran hari ini. Hari ini dilewati Safira dengan bahagia. Karena berbagi ilmu dengan orang lain merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Safira sangat ingin bisa mendirikan sebuah Yayasan untuk mereka, meskipun keinginan itu dilarang oleh Bapaknya.

Dengan hati yang sangat senang Safira kembali kerumah melangkahkan kaki-kaki kecil nya dengan seutas senyum dibibir. Tapi senyuman Safira memudar seketika. Safira dengan terpaksa masuk kedalam rumah. Mamak Safira menyuruh Safira duduk disebelah Mamak dan Bapak.

“Safira kesini ada Tora dan Mamak Bapak nya,” ucap Mamak.

“Jadi begini Safira kami kesini ingin tanya berapa jumlah Pisuke yang kau mintak?” ungkap Mamak Tora terus terang.

“Safira tidak tau Mamak tanya ke Bapak saja,” jawab Safira datar.

“Safira tidak sopan kau! Mamak Tora tanya kau hanya jawab datar begitu,” ucap Bapak Safira sedikit emosi.

“Dari awal Safira tidak pernah setuju akan Pisuke ini, Safira yang akan jadi korban disini, bukan hanya hak Safira yang tidak diizinkan untuk melanjutkan pendidikan tapi Safira juga akan memilih keluarga! Safira tidak bisa Bapak,” tutur Safira lantang.

“Tapi ini adat di Gerunung, kau tidak bisa menentang itu!” bantah Bapak tegas.

“Safira kau harus turuti ini nak, umur mu sudah dua puluh tiga tahun kau sudah harus menikah,” tutur Mamak lembut.

Sejenak Safira merenung dan berdialog terhadap hatinya yang berkecomak-camuk, suasana menjadi dingin tidak ada yang berbicara baik dari keluarga Tora. Masih menunggu jawaban Safira. Semua berpusat dikeputusan Safira. Akhirnya Safira angkat bicara akan hal yang tak ia suka ini.

“Baik memang tidak akan mungkin menentang adat, tapi Safira mohon akan satu hal kepada Mamak Tora,” ungkap Safira.

“Apa itu Safira kau katakan saja,” jawab Mamak Tora.

“Safira akan terima pembayaran Pisuke, tapi Safira ingin uang ini dijadikan untuk pembuatan Yayasan belajar bagi mereka yang putus sekolah. Safira tak apa jika tidak diizinkan nanti untuk melanjutkan S2 ke Sidney, Safira rela,” tutur Safira pasrah.

“Baik Mamak setuju keputusan kau Safira,” ucap Mamak Tora.

Pembicaraan antar dua keluarga berakhir di jarum jam sepuluh malam. Tora dan keluarganya kembali pulang kerumah. Selepas kepergian mereka, Safira beranjak langsung kekamar. Menenangkan hati dan otak nya yang sedang bertentangan.

Dua minggu kemudian pernikahan Safira dan Tora digelar. Dan dengan persyaratan yang sudah diajukan Safira. Yayasan belajar untuk mereka yang putus sekolah pun telah didirikan oleh keluarga Tora yang diatasnamakan untuk Safira.

Safira memberi nama Yayasan belajar nya dengan ‘ REBORN KARTINI ‘. Tak hanya Safira mengajar disana, ada beberapa orang teman Safira yang membantu mengajar. Safira senang bisa membantu mereka yang masih butuh pendidikan. Meskipun Safira harus merelakan beasiswanya untuk kuliah di Sidney, Australia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply