Sign In

Remember Me

KAMU

KAMU

Entah akan selamanya seperti ini atau tidak. Tapi, yang kami tau kami saling menyayangi. Aku bertemu dengannya belum lama tapi aku merasa bahwa kami ini saling terhubung. Dia yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi sahabatku adalah seorang gadis yang manis, lugu dan senang menolongku. Dia selalu berusaha ada disampingku saat aku membutuhkannya begitu juga sebaliknya.

Kami menganggap diri kami adalah sahabat tapi apakah hanya sebuah persahabatan atau mungkin  ada unsur lain yang kami sendiri tidak tau apa.

Aku Levin, 18 tahun, baru lulus SMA, gemar olahraga, aku adalah sahabat dari Mario teman ku sejak SMP dan aku juga sahabat dari seorang gadis bernama Maura. Maura, aku menyayanginya. Maura, aku mengaguminya. Aku yang selalu berada di sampingnya akankah bisa memilikinya?

Aku ingin memilikinya tapi ketakutan selalu muncul dalam benak ku setiap kali aku menggantungkan semua pengharapanku tentangnya. Rasa ingin memiliki yang terkadang tak dapat aku kendalikan dan rasa takut kehilangan yang berdiri tegak bagaikan tembok besar yang membatasi harapku.

Dia seperti menyayangiku, tapi rasa sayang seperti apa aku tidak tau. Sebagai sahabat seperti apa yang selama ini kami bilang, atau rasa sayang lebih seperti apa yang aku rasa. Ingin rasanya aku meneritakan perasaan ku ini saat dia berdiri seakan merayuku di depan gubuk kecil dimana kami bertiga terbiasa menghabiskan waktu bersama. Jika gubuk itu bisa berbicara, aku yakin dia akan meneriakiku dan mengolok-olokku atas kebodohan dan ketidak beranianku.

Anggun parasnya menarik perhatianku setiap waktu, tak kuasa aku memalingkan pandanganku. Dia, dia adalah objek pengelihatanku yang paling indah selama hidupku. Apakah aku bisa memiliki objek tersebut seutuhnya?

Maura, betapa indahnya kamu. Maura betapa aku ingin memilikimu. Maura betapa aku takut kehilanganmu, sayang kata-kata itu hanya bisa terucap dari hati dan tidak dapat tersalur lewat mulut lalu masuk ketelingannya dan meresap dihatinya. Perhatian, hanya itu yang sanggup aku tunjukan kepadanya dengan harapan dia akan mengerti apa arti dari perhatian yang selama ini aku berikan. Jika aku boleh berharap lebih, aku ingin dia membalas semua perhatian dan perasaanku ini.

Kami bertiga telah melewati banyak hal bersama tapi ada satu hal yang paling indah yang tidak bisa aku lupakan saat bersamanya. Sore itu kami berada di sebuah bukit, berjalan mencari tempat untuk sekedar bercanda santai. Kami memang menyukai tempat yang tenang namun tidak sesunyi sebuah ruangan kosong.

Disana Maura terlihat bergitu cantik, senyumnya menghilangkan semua beban dalam hidupku. Dia duduk manis disampingku, diatas sebuah batang pohon tumbang selagi Mario asyik memainkan gitar kecil kesayangannya. Hari itu dia terlihat begitu manja padaku. Aku berusaha memberikan beberapa tebakan untuknya berharap dia akan tertawa saat tidak berhasil menebaknya. Namun, dia malah terlihat bingung dengan itu semua, muka polosnya membuatku geregetan dan menempel bagaikan stiker permanen dipikiranku. Terbayang selalu wajahnya saat tertawa sembari berkata, “Apa sih kamu, gak jelas”. Di tambah lagi tersengar sayup-sayup lagu romantis yang dinyanyikan Mario, membuatku semakin melayang dan terbuai suasana.

Sejak saat itu, aku merasakan hal yang berbeda, perasaan aneh, bahagia dan mulai takut kehilangannya.

Hari demi hari berganti dan kami pun seperti semakin dekat, entah hanya perasaanku saja ataukah memang demikian adanya. Sedikit demi sedikit perhatiannya mulai kurasakan, bukan perhatian yang biasa, dan berbeda dengan perhatian yang dia berikan kepada Mario. Sepertinya dia mulai merasakan apa yang aku rasakan padanya.

Pagi ini dia mengajaku kebukit itu lagi, hanya dia dan aku tanpa Mario. Ini pertama kalinya kami pergi hanya berdua, aku merasa sangat gerogi. Banyak sekali pertanyaan dalam benakku, apa yang akan terjadi di sana. Aku berencana untuk menyampaikan semua perasaanku padanya. Sepertinya ini moment yang pas Karena kapan lagi kami pergi hanya berdua.

Penuh harapan aku melangkah berdampingan dengannya, sepanjang jalan terlihat ada sesuatu yang ingin dia katakan. Apa itu? Apakah dia ingin mengatakan kalua dia menyukaiku? Mukanya memerah, senyuman kecil selalu Nampak jelas seakan dia berusaha untuk menahannya. Aku bingung apa yang membuatnya tampak sebahagia itu? Apa dia sudah tau kalau aku menyukainya?

“Vin, kita duduk di sini saja yah”. Dia duduk disampingku, di tempat yang sama seperti hari itu. “kamu keliatan seneng banget, kenapa sih?”. “sebenernya aku malu bilangnya, dan Mario melarangku untuk memberitahumu sekarang, tapi aku gak bisa nyembunyiin ini dari kamu”. Semakin penasaran. “sebenernya ada apa sih? Aku jadi penasaran. Mario? Kenapa dia melarangmu untuk memberitahuku?”. Tak habis-habis pertanyaan bermunculan dalam otakku.

“kamu pura-pura gak tau ajah yah, biar nanti pas Mario bilang sama kamu, kamu udah gak kaget. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku gak akan ninggalin kamu”

Dia diam beberapa saat.

“sebenernya …. Aku, aku udah jadian sama Mario dari dua minggu lalu”

JADIAN!!! Rasanya dunia ku yang indah berwarna warni langsung berubah menjadi gelap tanpa kehidupan.

“oh. Selamat yah. Kok kamu baru kasih tau aku?”

“sebenarnya malam sebelum kita bertiga kebukit ini dua minggu yang lalu, dia datang kerumahku dan bawa bunga dan coklat. Di sana dia jujur kalau dia suka sama aku saat pertama kali aku jadi sahabat kalian. Dan sejujurnya aku juga sama, aku suka sama dia. Aku mau bilang sama kamu, tapi aku malu. Aku takut kamu malah akan mengolok-olok aku”.

“oh gitu yah”. “iyah, aku seneng banget, dia bilang aku gak boleh bilang sama kamu dulu soalnya dia yang mau bilang, tapi sudah dua minggu kami berjalan di gak juga bilang sama kamu. Padahal inikan berita baik, dan kamu adalah sabahat kami yang sudah sepantasnya kami beri tahukan”.

“oh gitu yah”

“kamu tau, aku seneng banget punya sahabat kaya kamu. Aku gak sangka kamu baik banget dan maaf sebelumnya, awalnya aku deketin kamu untuk deket sama dia, Karena aku pikir dia itu orangnya dingin dan akan lebih mudah mendekatinya kalau aku deket sama kamu, tapi aku mulai nyaman deket sama kamu karena kamu orangnya baik. Sekarang aku punya dua orang yang berarti dalam hidupku. Mario pacaraku dan kamu SAHABAT aku”

SAHABAT. Sekedar sahabat. Harapku terasa mati. Jatuh dan terkubur. Aku hanya bisa tersenyum Karena aku gak tau lagi apa yang bisa aku lakukan. Aku gak mungkin menghancurkan kebahagianya. Perasaan ini memang tidak seharusnya terpelihara. Untuk apa, kalau hanya akan menjadi senjata yang melukaiku dan membunuh semangat hidupku.

“kamu senengkan ngedenger ini? Pastilah kamu kan sahabat kami”

“seneng ko, sekali lagi selamat yah”

“makasih, oiya Mario lagi jalan kesini nih, inget kamu pura-pura gak tau yah. Bilang ajah kita disini nunggu dia sambil main tebak-tebakan kaya biasa”

Yang lebih parah aku harus mendengarnya dua kali. Dari mulut orang yang aku sayang dan dari sahabat terbaikku.

Berakhir sudah cerita yang paling menyakitkan dalam hidupku. Tutup lembaran ini. Lupakan, anggap aku tak pernah punya hati untuknya walaupun rasa sakit tak bisa pergi begitu mudah dan tak aku tak bisa memungkiri semuanya.

Aku masih mencintainya walau sekarang dia sudah menjadi milik sahabatku, setiap hari aku harus menahan pedih melihat mereka berdua bercanda begitu mesra. Aku tidak bisa pergi dari keadaan ini Karena aku tak punya alasan untuk pergi. Ini kesalahanku yang terlalu berharap. Aku bagaikan berada di sebuah kotak dimana aku hanya bisa diam saat jarum-jarum kecil menusuk ku dengan kejamnya. Kaki tanganku terikat bahkan air mataku tidak di izinkan untuk menetes.

Sakit tapi inilah kenyataan yang harus di hadapi oleh seorang Levin bersama kedua SAHABATnya.

-TAMAT-

By Sri Maryani


Leave a Reply