Sign In

Remember Me

Lembaran Hitam Takdirku

Lembaran Hitam Takdirku

Lembaran Hitam Takdirku
“Rap”

Mengapa harus aku?ahh…tidak,bukankah aku sudah mengiklaskan semua yang terjadi pada hidup ku,bahkan pada lembaran hitam takdirku. Aku tak lagi bisa menatap birunya langit dan gumpalan putih awan itu. Aku tak lagi bisa membasahi sekujur tubuhku dengan tiap tetesan hujan yang jatuh. Aku terlalu banyak mengeluh. Dinding dan slalu dinding yang kulihat. Aku lelah,terkurung dalam istana megah ini. Tapi apalah arti semua ini,jika penyakit ku ini memasung diriku. Aku ingin menikmati semilir udara dipagi hari,senja di bibir pantai,dan bahkan menatap ribuan bintang di malam hari. Namun aku hanya mampu melihatnya dari balik kaca jendela. Hanya ada embun hujan semalam di kaca jendelaku,dan cahaya jingga senja seadanya yan kutatap dari balik jendela.
“Kau siapa?aku tak pernah melihatmu?”ucap mereka yang datang ke istana ku ini. Aku bagaikan princess yang tak dikenal rakyatnya. Mengapa? Karna hari-hari ku hanya terkurung disini. Tidak?aku tidak dikurung siapapun,hanya saja diriku dikurung oleh kejam nya hati ku yang enggan melihat dunia.
“Aku lelah ya allah”teriak ku. Namun siapa yang peduli jika diriku saja tiada mengerti.
“Lepaskan jerat besi dihati ku ya allah,biarkan aku terbang bebas dan hidup lepas. Lepaskan belenggu baja ini dari diriku. Jiwa ku tak lagi bisa berjalan tegap,hamparan kabut pekat itu menjebak ku dalam putaran waktu yang melelahkan. Engkau yang Maha bisa,bahkan sekedar membolak-balikan hatiku. “Rintih ku tiap doa disepertiga malam. Air mata tak lagi bisa tertahan,ia selalu ku sekah ,namun ia seakan menderita. Mimpi akan kesembuhan itu hanya di pelupuk mata.

Senja tak lagi jingga ku nikmati,derasnya hujan tak mampu memecah heningku. Panasnya mentari tak ku biarkan membakar kulitku. Aku tak lagi bisa nikmati pelangi. Semua ku lihat hitam. Semua ku rasa hampa dan sepi. Aku sendiri dalam kalut bayang sunyi. Aku tak lagi bisa mengeja kata. Langkah kaki ku tak lagi mampu berjalan. Bahkan hanya sekedar selangkah.
“Kau tiada lagi berguna”aku terhenyak dalam tiap kata hinaan itu. Aku sadar,aku bukan lagi siapa-siapa. Sekalipun aku tak lagi pantas menggenggam dunia.
“Mengapa? Lagi-lagi mengapa?”pertanyaan itu slalu menghantui benak ku. Namun aku tersesat dalam mencari jawabannya. Aku tak lagi dapat bergeming. Aku terperosot jauh dalam kubangan waktu yang mematikan.
“Mengapa harus aku?mengapa takdir buruk terlalu cepat menghampiriku?tak bisakah izinkan aku bahagia dulu? Tak bisakah izinkan aku dikenal dunia dahulu?takdir…memang datang tanpa menyapa,basa basi pun tidak. Inikah yang mengajarkan aku lebih cepat dewasa?bukankah ini waktu ku untuk nikmati masa muda?,mengapa harus aku?”keluh ku slalu ku layangkan dalam doa. Aku tak ingin menepisnya,aku pun acap kali mengeluh. Hanyut dalam luruhnya waktu. Aku tiada mengerti jawab nya. Ataukah aku terlalu banyak bicara dan menyerah.
“Mana usahamu?bukankah kau tak ingin dikatakan kalah?”tanya mereka. Dengan pongah nya mereka berkata demikian. Tertutupkah mata mereka akan perjuangan ku. Ya… slalu mereka temui aku berbaring malas. Itu bukan malas! Aku hanya lelah dan berhenti sejenak. Sebelum aku berhenti selamanya.

“Heiii kau!”teriak ku. Lihatlah aku hari ini. Aku sih penggenggam dunia. Yang dulu acap kali kau ejek bodoh. Aku dikenal dibelahan dunia manapun. Ya aku,si bodoh dan penyakitan. Tidakkah Tuhan itu adil? Inilah perjuangan ku. Aku telah menepis semua hinaan mu. Ini hidup ku yang sekarang,bak princess di agung-agungkan rakyat nya. Aku kembali nikmati rona jingga senja,menapaki tiapa embun pagi bahkan hujan aku susuri,aku telah menembus lautan andromega. Tak kan ku nikmati lagi ia dari balik kaca jendela dengan cahaya seadanya. Tapi itu tak menjadikan aku pongah bahkan angkuh. Takdir hitam mengajarkan ku slalu bersyukur dan ikhlas. Aku akan bersikap biasa saja. Sekali lagi,bukankah Tuhan itu cukup adil untuk menggariskan takdir untuk ku?.
TAMAT


Leave a Reply