Sign In

Remember Me

Di Ujung Senja

Di Ujung Senja

“Sepertinya kamu harus segera menyudahi semua ini!”

“Tidak semudah itu, Key” tegas Nay.

Nay berlalu. Bergegas menyusuri lorong menuju beranda kamar, tempat ia kembali menyusun kepingan cerita-cerita silam.

***

“Nay, kamu gila, ya? Sudah  kubilang, hentikan, lupakan! Akhiri semua ini, Nay!”

Key terus berusaha agar Nay mengiyakan nasihatnya itu. Sayang, Nay sudah bulat dengan keputusannya. Sesaat setelah mendengar kabar dari karibnya di Yogya kemarin, Nay sudah memutuskan akan ke sana dalam waktu dekat. Tidak ada kata berhenti untuk Nay. Tidak ada kata melupakan sebagai akhir dari perjuangan  bagi Nay.

Sebab semakin kita ingin untuk melupakan, maka semakin kuat pula kenangan-kenangan itu mengikat dalam pikiran. Nyatanya melupakan bukan perkara mudah untuk dilakukan, bukan? Hingga pada akhirnya kita pun lupa tentang bagaimana caranya untuk melupakan itu sendiri.

Rey

Nay terus mengulang potongan kalimat yang masih tertulis jelas di atas kertas lusuh itu. Kertas lusuh yang bertuan atas nama: Rey. Ya, Rey! Nama yang entah memiliki kekuatan apa hingga membuat Nay kepalang keras dengan pendiriannya. Rey nama yang sering disebut-sebut oleh Nay sekalipun keberadaannya tak mudah lagi dijangkau.

***

Kita bersembunyi di bawah langit yang sama

Dan untuk kemudian, kita saling bertitip salam pada kemuning dan hujan

Meski tak terlisankan, kita sama-sama tahu dan paham

Tuhan adalah sebaik-baik perantara di antara kita

Sesederhana itulah, cara kita untuk saling menjaga dan menyapa

Rey, 2013

 

Kembali potongan kalimat Rey menjadi teman Nay saat perjalanan itu akan dimulai. Tidak ada kata berhenti untuk Nay. Selama ia masih punya upaya, ia tetap yakin bahwa semua itu akan berbuah nyata, entah itu manis atau pahit. Sebab baginya tidak ada perjuangan yang percuma. Pun dengan tekadnya pergi ke Yogya sana, menemui Rey. Boleh jadi ini adalah bagian dari rangkaian panjang  yang ia namakan perjuangan.

Waktu menunjuk pukul 17.00 WIB. Saatnya Nay bersiap diri untuk take off.  Nay duduk bersampingan dengan ibu-ibu paruh baya. Sesekali Nay melempar senyum kepadanya sembari membenarkan posisi seat belt. Syal abunya menutupi sebagian wajah. Sorot matanya jauh menukik ke luar, mencoba menemukan makna di balik cakrawala yang begitu manis di luar jendela sana.

Tring!

Pesan singkat diterimanya: Rey pulang!

Sesaat air mata itu jatuh tepat bersamaan dengan berpulangnya semburat kemuning di ujung senja.


Leave a Reply