Sign In

Remember Me

Dua Detik

Dua Detik

DUA DETIK

Intuisi adalah pemikiran yang menyertakan hati dalam garis terdepan, menerkakan pada apa yang akan terjadi di masa depan lewat dua detik tatapan yang terjadi di masa sekarang. Adalah indah yang engkau pancarkan, adalah tajam apa yang engkau tembakan. Matamu telah berhasil membuat semestaku terporak porandakan.

Waktu seperti sedang sengaja bekerja sama dengan gerombolan terdakwa para korban pandangan pertama. Satu hal klise yang sangat mudah terduga menjadi sebuah kelahiran yang aku lahirkan lewat proses tatapan.

Sebelumnya aku adalah salah satu bagian dari mereka, orang-orang yang meremehkan sebuah istilah First Sight, kataku orang-orang yang mudah jatuh cinta secara begitu adalah contoh orang yang tak konstan karena sering dibuat tak berdaya sedari pertemuan pertama. Tapi waktu berselang dan kamu kemudian datang memetakan aku ke dalam lubang yang oleh banyak orang sering disebut karma. Bumi mentertawakanku katanya aku terlalu sesumbar dengan yang namanya omongan, dan kini untuk sebuah hal yang akan membuatku malu aku telah siap untuk menelan sendiri ludahku.

–0—

“Namaku Rania” Katamu di moment perkenalan itu.

Aku tak pernah ragu mengatakan jika seketika itu, ketika aku mengetahui namamu, adalah sejarah yang menafsirkan arti dari jantung yang berdebar.

Kita berkenalan dibawah langit Bandung yang gelap, bersebelahan untuk sama-sama menikmati sebuah penampilan. Efek Rumah Kaca mengeluarkan jurus untuk membuat semua terpana pada penampilannya diatas panggung sana kecuali aku yang untuk pertama kalinya merasa bahwa ada yang lebih indah dibanding lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Ketahuilah, hanya kamu yang bisa melakukan itu, hanya kamu yang mampu mendistraksikanku untuk sejenak alih dari menyaksikan musisi yang sudah aku idolai semenjak pertama kali mereka berdiri.

Cinta melulu, Desember, Sebelah Mata, dan lagu-lagu lainnya satu per satu mereka tampilkan mengiringiku yang terpesona dengan sepasang matamu. Kau tidak pernah tidak terlihat bahagia ketika Efek Rumah Kaca pentas, sebuah peristiwa yang bisa membuatku berasumsi bahwa kau sangat menyukai grup band indie tersebut, Maka jika iya  telah ada arah yang mengacukanku untuk yakin menyukaimu.

Beberapa lampau yang lalu aku pernah berfikir mungkin akan sangat menyenangkan jika mengenal orang yang sama-sama suka musik indie ketika lingkunganku terlalu digebu oleh orang-orang yang terlalu melayu. Dan sekarang seolah sedang ada peluru dejavu yang mengobatiku dari sebuah pilu juga rasa yang mendayu dari ketidakenakan sendiri melulu.

Jadi kesini sama siapa ?” Kataku mencoba untuk terlibat obrolan denganmu.

Sendiri

Jawaban singkat yang langsung mempusatkanku pada tujuan yang diarahkan bahwa mungkin kau memang belum bertuan dan langit sedang menskenariokan awan agar kita bisa bertemu di satu perjumpaan.

Namun tercipta hal yang menjadi sayang ketika ku sadar tak banyak hal yang bisa aku lakukan. Aku menjelma menjadi manusia yang lupa bagaimana caranya bercengkrama dengan penyosialan pada gerik rasa yang menekan. Kamu tak kunjung memberiku pandang balik ketika berulang kali ku curi itu darimu. Dan dengan alasan baru pertama kali aku merasa tak cukup berani untuk menjadi terlalu dekat kepada wajah yang sudah membuatku terpikat.

Pada akhirnya aku hanya bisa menyesuaikan diri dengan angin, tertatar pada arus yang datar, memuai pada asap yang kasar. Waktu ini terlalu singkat untuk aku katakan aku sudah terpikat, juga terlalu singkat untukmu menghilang tanpa meninggalkan jejak. Hingga kemudian lampu panggung dimatikan dan sorai sudah dihentikan kamu hilang ketika aku lalai tak memperhatikan.

–0—

Semua masih mampu aku ingat walau aku berada di titik perputaran dengan jeda yang panjang. Mata cokelatmu masih bersemayam di ruang imaji, gerai rambut panjangmu masih mengusikku dalam pertenangan, dan sedikit suara lembutmu terdengar membisik manis di sela-sela telinga. Aku merasa tetap mendamba, singkatnya aku gagal move on dengan perjumpaan pertama.

Sayangnya waktu semakin berjalan jauh dan aku malah terlihat lusuh membawa hati yang terasa luluh memikirkanmu dengan penuh gaduh. Seperti memikirkan fana dalam satu gempa kau membuatku tak berdaya dengan efeknya.

Aku memang masih bernafas sebagaimana mestinya namun rasanya sekarang ada asupan yang berbeda, garis-garis wajahmu ikut serta ke dalam udara yang aku tengga. Kini rasanya memikirkanmu juga adalah sebuah kebutuhan bersandingan dengan sandang, pangan, papan.

Lantas,bagaimana ini ? aku memilih untuk tetap berharap pada kemungkinan yang mengacuh. Ketika waktu dengan sadar terus berputar aku justru hilang sadar di sebuah radar. Radar gelombang yang kehilangan sinyal untuk membantuku menemuimu.

Waktu menghilang akan wajahmu yang terkenang. Sesungguhnya aku tidak suka akan kondisi seperti ini dimana serta merta hanya wajahmu lah yang menggelora di perputaran semesta. Aku bahkan sempat lupa bahwasannya aku juga butuh menjalani hidup seperti biasanya, sarapan ketika pagi, beraktivitas ketika siang, dan beristirahat saat sudah malam. Bukan malah jadi berubah seperti ini dengan selalu mengharap malam dan meminta sebuah sudi agar kau berkenan mampir dalam mimpi.

Mungkin memang benar aku sudah dikalahkan dengan yang namanya kasmaran, jatuh di kloter pertama oleh jurus tatapan yang membercik hingga lubuk terdalam.

Memang adalah berlebihan yang sedang aku ungkapkan, akupun sempat mengakuinya, ketika bersandar menyudut di satu tembok aku mengeluarkan pertanyaan retoris untuk diri sendiri “Mengapa aku bisa sampai sebegininya ?”, Tapi seketika hatiku sendiri menjawabnya “Jangan tanyakan padaku tanyakan saja pada semesta yang sudah menskenariokan perjumpaanku dengannya”.

Kini dalam pertanyaan yang tak kunjung ku dapati jawaban, dirimu menjadi sebuah doa yang tak pernah aku lewatkan. Katanya orang yang tulus akan senantiasa mendapati apa yang layak ia dapatkan, maka itulah alasanku tak pernah malas menyantumimu dalam doa. Aku yakin Tuhan itu adil maka sebuah harapan akan perjumpaan kedua akan tetap mengembara hingga akhirnya menjadi nyata.

–0—

Aku seringkali berusaha membaca kode dunia, barangkali diantara pelangi setelah hujan, diantara layung setelah senja engkau bermuara membantuku yang masih saja menerka. Ketika aku tak kunjung menemukan efektivitas dari pencarian, lambat laun kesia-siaan mengeja lewat ruang yang mensuarakan hampa. Entah karena aku yang tak pandai mencari atau memang karena dirimu yang terlalu sulit dicari, dunia belum lagi memahami akan keinginan hati. Memang, aku belum menyerah karena fikirku mencarimu tak akan sesulit mencari sebutir padi diantara lima ribu kilo nasi, tapi aku sedang belajar agar bagaimana aku bisa jadi lebih efektif menyisir tiap ruang, waktu, dan kemungkinan agar dirimu bisa segera kutemukan.

Selalu, diantara bemacam kesibukan segala tentangmu adalah hal yang aku sempatkan, mencarimu tak akan menjadi sesuatu yang padam walau tak kunjung aku menemukan lampu benderang.

Lalu aku yang berdiri tiba-tiba disodorkan sebuah lembar yang menyuguhkan semacam keterangan, seperti sebuah undangan yang berkaitan dengan kemungkinan hadirnya kembali satu pertemuan. Bandung akan kembali menjadi tempat untuk diadakannya sebuah Gigs yang mengesankan, banyak musisi indie ikut andil dan satu diantaranya yang penting dan mengesankan, Efek Rumah Kaca. Kau tahu tepat setelah ku tahu Efek Rumah Kaca menjadi satu diantara banyak yang akan tampil, perasaanku tidak sekadar hanya antusias untuk ingin menonton mereka, melainkan ada perasaaan lain yang jauh lebih istimewa. Hatiku terombang-ambing, mengembang dalam putaran angin. Semua kemungkinan sudah aku semogakan dan sangat berharap bahwa ini memanglah jalan untukku kembali bersua denganmu. Semoga Efek Rumah Kaca kembali menjadi saksi aku kembali menatapmu seperti pertama kali.

Maka mari berandai-andai, anggaplah saja Gigs tersebut memanglah benar akan menjadi tempat kita kembali bersua, tak ada lagi mungkin melainkan adalah pasti yang membayangi. Dan lantas sebagai sesosok pengagum aku akan menguatkan niat untuk tidak lagi menyiakan kesempatan. Tak ada lagi canggung untuk memandang, tak ada lagi malu untuk menyapa, dirimu akan ku ajak ke lingkungan semesta bersenjagurau bersama banyaknya sukacita, aku akan mengungkapkan betapa tidak bisa tidurnya aku jika belum memikirkanmu, betapa kurangnya aku jika tidak ingat kamu, dan betapa kosongnya waktuku ketika kamu menghilang tak berjejak. Aku akan begitu ketika kembali bertemu dirimu, lebih membukakan jalan agar barangkali dirimu bisa aku miliki.

Biarlah ketidaksabaran ini menjadi gelora yang melupa bagaimana caranya terlupa.

–0—

            Dan langit menggelap diatas perasaan yang tersadap oleh kepastian yang masih terlelap. Dihadapan malam aku memandangi diri sendiri berusaha membuat pasti sudahkah aku menjadi seorang yang layak dipandangi. Dengan setelan bermayoritas abu aku berjalan melewati sersan batasan berharap semoga malam ini adalah yang tersyahdu jauh dari perasaan mendayu atau bahkan kelabu.

Lantas tepat ketika aku merasa tidak terlambat pijakan ini sampai di tempat memenuhi hasrat yang sudah sangat berniat tiba dengan waktu yang rapat. Jika ada pertanyaan mengapa aku bisa datang begitu cepat ku kira ini terlebih karena panggilan hati yang memberikan nitro bagi langkah di kaki.

Aku terjajar sendiri diantara banyaknya yang antri di pintu masuk ini, ketika yang lain sudah sangat tidak sabar untuk masuk aku masih ingin tidak keliru untuk memberi pandang kanan kiri agar barangkali dirimu bisa langsung mataku temui. Namun hingga tanganku di beri tanda di pintu masuk kamu tak tertangkap oleh tajamnya sepasang mataku, dan detikku yang ini bukan tentangmu bukan juga untuk risau karena ku paham waktuku untuk disini bukan untuk sesuatu yang singkat.

Dan ketika sudah masuk ke area dalam ketika gemerlap malam sudah mulai banyak orang ciptakan aku masih saja berpandang pada asa-asa wajahmu yang sangat inderaku kenal, aku tak ingin memperlama detik-detik hampa tanpa menemukanmu hingga suara kencang musik diatas panggung pun tak cukup mampu untuk memancingku agar melihatnya.

Kini aku seolah telah datang untuk tujuan yang berbeda, aku tidak datang untuk menonton pentas musik walau itulah nama acara ini, aku datang untuk sebuah harapan agar mata kita mampu kembali bertatapan.

Aku berjalan kesana kemari  masih dengan tujuan yang sama, mencari. Ketika jemari mulai tertatih oleh luapan angin yang mematri aku sama sekali tak memikirkan sia-sia karena asumsi ku sudah cukup yakin bahwa sebagai orang yang sama-sama suka musik indie kita akan kembali bersua disini.

–0—

Hingga kemudian ketika aku duduk bersandingan dengan kelelahan, seonggak tiba-tiba muncul mengemuka tatkala sang semesta berlewat begitu saja. Tentu aku yang sedang minum sontak kaget dan jadi lupa bagaimana cara mengenggak air putih dengan baik. Kau datang melintasi aku yang sedang beristirahat, dengan determinasi magnet yang tinggi kau menarikku memanggilmu yang tidak melirikku.

“Hey” Panggilku keras, sekeras hatiku yang antusias.

Lalu kau melirik bagai pesona bidadari yang menggelitik, mencibir penuh oksigen yang mencabik pada perasaan yang terik. Seiring itu bumiku kembali digoyang gempa dengan tekanan yang sama lewat penyebab yang sama, yaitu matamu yang sangat penuh makna.

Kau masih memandangku tanpa jemu seperti mencoba meraba fikiranmu agar bisa segera mengingatku, sedang aku yang menari dalam perasaan antusias berlari menghampiri untuk bisa lebih dekat dengan matamu.

Hey masih ingat, gak ?” Bilangku.

Bentar, Mugy kan ya ?”

Takjub aku padamu untuk sebuah nama kau masih mampu mengingatnya tatkala sebenarnya aku tak begitu yakin kau akan ingat mengingat kita hanya baru bersimpung di satu perjumpaan yang singkat.

Iya Rania, Aku Mugy, apa kabar ?”

Mendengar kembali suaramu semacam hadiah yang aku terima dari keberhasilan memuncakan keyakinan agar kembali menemukan sebuah temu. Bersampingan kembali denganmu adalah keberadaan terindah yang bisa aku dekat macamkan seperti di surga, diantara rindu dan kelabu kau sudah jadi abu yang menempel di ragaku tanpa ragu.

Alhamdulillah baik, kok bisa ada disini sih ?”

            “Nonton Efek Rumah Kaca, kamu juga kan ?”

            “Iya aku mau nonton ERK, kok tahu ?”

            “Hahaha…. btw kayaknya 15 menit lagi mereka bakal on stage mau kesana bareng?”

            “Ayokk… eh tapi bentar deh aku mau kesana dulu, kamu duluan saja”

            “Ya sudah deh aku tunggu disana ya” Jawabku menunjuk satu sudut yang akan disambangi untuk bisa memastikan bahwa kau tak akan lagi menghilang tak berjejak.

Aku berjalan ke selatan sedang engkau memutar arah ke utara, Efek Rumah Kaca akan segera tampil dan menjadi suatu penempatan waktu yang tepat untukku menikmati musiknya.

Seperti yang sudah aku niatkan akan ada yang berbeda denganku kini, aku akan memanjakan jantung yang berbedar serta hati yang menggetar. Sudah akan terbayang bagaimana indahnya kita bersebelahan ikut bersenandung bersama lagu “Desember” atau “Sebelah Mata”, menggeliatkan senyum-senyum manis untuk mengekpresikan hati yang ceria. Aku akan senantiasa senang untuk tersendat di detik seperti itu agar adalah kata lama yang mendefinisikan makna bahagia bersama sosok yang di puja. Hingga kemudian semua itu berkesudahan dengan rasa senang saat aku mendapatkan nomor ponselmu untuk menciptakan kontinuitas bagi komunikasi hati.

Begitulah cara imajiku bekerja penuh asa untuk terciptanya suatu bahagia, kau tahu engkaulah yang seolah mengatur di dalamnya aku hanya semacam pekerja yang sedikit punya rencana agar kita bisa sering bersua dalam waktu yang lama.

–0—

            Aku sudah siap untuk sebuah rasa yang mengunggah, siap untuk peristiwa yang akan jadi penjawab akan hebatnya penantian,nafasmu akan lebih sering ku hirup ketika kita bersebelahan, dan perasaanku akan semakin hidup pada sebuah keadaan.

Panggung gemuruh akan sendatnya orang yang menyaksikan tatkala Mas Cholil (Vokalis ERK) memimpin pasukannya untuk menabur kebahagiaan atau sepenggal luka lewat kata-kata dalam penggalan liriknya. Dalam kebisingan tanpa titik suaramu masih bisa ku petik yang terdengar memanggilku dengan sedikit pelik.

Mugy….”

            “Hey, disini”

            “Maaf ya lama“

            “Iya gak apa-apa kok”

Seharusnya kau tak perlu mengatakan lama jika saja kau tahu perbandinganku menunggumu sebelum ini.

Eh iya kenalin ini” Bilangmu, menunjukkan seseorang yang kini tengah bersamamu.

“Sendy” Bilangnya.

“Mugy” Jawabku.

“He He He, pacarku ini Mug”

Dan Dab, perkataanmu menembakku dengan tajam langsung mengiris ke sela-sela hati terdalam, merobek semua bagian yang menjadi penahan. Secara singkat aku langsung menerima rasa sakit yang sama sekali tak sempat aku fikir. Dengan mudahnya kau bicara begitu tanpa pernah tahu bagaimana harapanku.

“Oh iya hai” Jawabku dengan raut terpolos selama aku lahir.

Ini bukan semata kaget juga bukan tentang ketidak sukaan pada orang yang engkau kenalkan, aku lebih ingin mengusik kepada hal yang tak akal tampik. Mengapa aku harus mendapat informasi yang jauh dari harapan, Mengapa hanya butuh waktu dua detik untuk menghancurkan semua harapan yang membesit.

Lantas siapa yang berhak disalahkan dalam situasi rumit. Apakah engkau, apakah aku, atau apakah dunia yang terlalu membuat sulit skenario ini. Mengapa mata kita dipertemukan jika ujungnya hanya luka yang engkau bercikkan, mengapa kau jatuh di hatiku jika kemudian sudah ada dia yang selalu membangunkanmu, mengapa malah justru nyata yang menghancurkan semua asa-asa.

Semua imajinasi nampak harus siap menjadi buih yang mematri, dan sebuah elegi menjadi fakta yang hatiku rasa. Senyummu menjadi keindahan yang malah lambat laut membuat luka. Dan aku seakan tak percaya bahwa itu adalah nyata.

“Baru tampil kan mereka ?” Tanyamu

“Iya baru on stage kok” Jawabku dengan topeng kemunafikan untuk mencoba menutupi rusaknya hati.

“Sebelah sini, Mug. Kita nonton bareng bertiga”. Maksudmu mencoba membuat ramah, sedang yang ku tangkap adalah kau seperti mencoba untuk membuatku semakin terluka. Bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja melihatmu berdua dengannya. Walau diri ini ada di sebelahmu, di sebelah kananmu itu tak akan bisa untuk membuatku ikut menghirup nafasmu jika memang seseorang di sebelah kirimu telah mengambilnya lebih dulu.

Perasaan sulit untuk kembali cepat membaik walau terdengar Efek Rumah Kaca menyanyikan lagu terbaik dan dirimu tersenyum lebar dengan asik. Ku yakin kau tidak bersandiwara dengan senyummu, kau mengeluarkannya dengan betul untuk dia bukan untukku yang selama ini mengharapkannya.

–0—

Kini ku kira beberapa hal memang harus dijadikan biarlah, termasuk perasaan. Kau sudah memberikan jawaban ketika aku belum mengatakan, kau sudah terlihat bahagia ketika aku baru merencanakan, dan kau sudah menyatu tapi tidak denganku.

Ku pahami sedikit hal dari banyaknya yang terjadi, mungkin Tuhan memang akan selalu menciptakan perjumpaan kembali untuk seseorang yang mengharapkan itu terjadi, tapi bukan berarti hal itu membuat manusia berasumsi bahwa jodoh menjadi kata yang pas diarti.

Dunia pernah mempertemukan kita hingga aku melahirkan perasaan hebat sejak pertemuan pertama, kemudian waktu menjadi saksi teradil yang mengajariku yakin dalam penantian, hingga kemudian perjumpaan kembali menjadi arti yang paling menyimpulkan untuk kisah dan perasaanku yang ini.

Padamu yang memberikan suka sekaligus luka, padamu yang menciptakan rasa sekaligus lara, padamu yang membuat hati terakit kemudian tersakit, padamu yang membelit pada perasaan yang pelik. Aku tidak ingin menyesal untuk sebuah cinta di pandangan pertama, juga tidak ingin meratap pada imajinasi yang gagal menjadi nyata. Sebuah perasaan memang sepatutnya dewasa apalagi jika kau mampu terlihat bahagia.

Aku memang tetap masih sakit tapi sedang mencoba membuatnya efektif. Pada hati yang sakit ku jadikannya momentum untuk membuatnya dewasa.

Aku pulang duluan, ya”  Katamu untuk kemudian naik dan berboncengan dengan dia.

Ku jawab dengan senyum dan satu lambaian tangan.

Lalu saat angin mendorongmu pergi, di sebuah akhir dalam akhir ku ambil hikmah dari kisah yang terjadi. Satu perjumpaan kembali denganmu menjelaskanku sebuah asumsi yang lain daripada yang lain.

Kita telah kembali berjumpa untuk mendengarkan dunia berkata bahwa kita tidak bisa untuk bersama.


04.25 AM

Leave a Reply