Sign In

Remember Me

Kota Edinburgh

Kota Edinburgh

Namaku Peter, aku adalah seorang mahasiswa di kota Lugar. Setiap hari minggu, aku sering menggunakan waktu liburku untuk pergi ke Kota Edinburgh, ibu kota dari Scotlandia, kota ini dikenal keindahannya yang disuguhi pemandangan gedung-gedung tua yang menakjubkan di sekeliling St. Andrew Square. Di tengah alun-alun (square), berdiri gagah Melville Monument, yang dibangun pada tahun 1821. Di sekitar monumen, banyak bunga sakura berwarna merah muda yang tengah bermekaran. Perjalanan untuk pergi ke kota Edinburgh dari kota Lugar membutuhkan 2 jam perjalanan. Menggunakan kereta api, itu adalah perjalanan yang cukup melelahkan bagiku. 

Meskipun begitu aku cukup terhibur karena aku bisa menikmati pemandangan yang indah dari luar jendela kereta api, aku duduk di samping jendela sembari membaca buku biografi William Murdoch seorang penemu kereta api. Dia adalah seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris, lahir pada 21 Agustus 1754 di Lugar, Scotlandia.
 

Tiba-tiba saja ada seseorang  duduk di sampingku tanpa ku sadari, kemudian aku mencium wangi parfum yang tidak asing bagiku, aku mengenal wangi parfum ini, ketika ku menoleh ke samping aku terkejut ada seorang wanita duduk disampingku, ternyata dia adalah sahabatku sewaktu di sekolah dulu.

 

“Julie!”ucapku  dengan wajah terkejut.
“Iya, ini aku Peter, ku kira kau tak mengenaliku setelah kita tak jumpa selama tiga tahun” jawab Julie sambil tersenyum pada Peter.
“ya, itu karena aku tak asing lagi mencium Parfum yang sering kamu pakai?” ucapku membalas senyuman kepada julie.
“Jadi kamu langsung mengenaliku dari wangi parfum yang ku pakai Peter?” tanya Julie.

“Iya, karena parfum yang kamu sering pakai memiliki wangi yang unik.” jawabku.

“Benar yang kamu katakan Peter, itu karena ada kenangan yang berharga dari parfum yang ku pakai ini” ucapnya dalam hati Julie.

 

Kami pun berbicara banyak hal, membuat kami teringat semasa sekolah dulu. Aku  selalu melakukan hal-hal bodoh yang membuat ku di hukum oleh pak guru, membolos sekolah, berkelahi dengan anak murid lainnya yang mencoba menggangu Julie, bahkan aku sering disebut seorang berandal sewaktu di sekolah.

 

Tanpa kusadari sudah tiga tahun berlangsung, semua temanku telah sukses kariernya. Salah satunya Julie, dia sekarang menjadi salah seorang journalis di sebuah perusahaan di kota Edinburgh salah satu tempatku untuk berlibur. Aku tak pernah berkecil hati, karena Julie sahabat yang selalu mendukungku, karena itu aku selalu berlibur ketempat ini. Sambil melihat pemandangan perkotaan yang indah dari luar jendela. Selang beberapa menit kemudian kami telah sampai di stasiun kota Edinburgh. Kami pun turun  dari kereta tersebut.

 

“Akhirnnya sudah sampai juga” ucapku sambil menarik nafas lega.
“Sepertinya kamu terlihat senang sekali setelah tiba di kota ini ?” tanya Julie.
“Karena kota ini mengingatkan aku tentang seseorang dan aku ingin menemuinya kembali di tempat ini” jawabku.

“Seseorang apa dia kekasihnya, ketika dia mendapatkan hari libur dia selalu pergi ke kota ini” tanya Julie di benak hatinya.

“Hey, Julie kenapa kau terdiam apa yang kau pikirkan? Ayo kita pergi” ucapku sambil menggenggam tangan Julie.

“Kita akan pergi kemana Peter? Bukanya kau ingin menemui seseorang di tempat ini, kenapa kau masih mengajakku ikut bersamamu” tanya julie kepada Peter sambil melepaskan gengaman tangannya.

“Kita akan pergi ke Edinburgh Castle,  benar aku akan menemui seseorang di kota ini, aku akan menemuinya  di sore hari” jawabku tersenyum sembari menggenggam tangannya Julie kembali.

                                                   

Aku dan Julie pergi ke Edinburgh Castle, salah satu tempat bersejarah. berdiri megah di atas bukit Castle Rock yang memiliki ketinggian 130 meter di atas permukaan laut. Edinburgh Castle diketahui mulai dibangun pada abad 12 oleh King David I. Dia adalah putra termuda penguasa Skotlandia sebelumnya, yaitu King Malcolm III dengan putri dari kerajaan Inggris yang kemudian dikenal sebagai Queen Margareth. Kastil ini dibangun menggunakan batu-batu dari gunung berapi sehingga terlihat megah dan kokoh.

 

Kami pun berkeliling di sekitar Endinburgh Castle sambil memperlajari sejarahnya, untuk bahan skripsi yang akan ku buat, sedangkan Julie menulis beberapa catatan sebagai bahan berita tentang tempat wisata ataupun tempat bersejarah, setelah itu kami pergi ke tempat Melville Monument yang tak jauh dari tempat tersebut.

 

Ketika kami sampai di St. Andrew Square, Aku tak percaya apa yang ku lihat seseorang yang aku ingin ku temui ada tempat ini, ialah Sarah kekasihku tapi dia tampak mesra bersama seseorang aku pun mendekatinya ternyata seseorang itu adalah Jean salah satu rival ku semasa sekolahku  dulu. Aku pun bertanya kepada Sarah kenapa kau bisa berjalan dengan Jean, Sarah menjelaskan bahwa dia dan Jean sesungguhnya telah memiliki hubungan sejak lama, aku merasa shock setelah mendengarkan perkataan Sarah.

 

Aku pun bertanya kembali kepada Sarah kenapa bisa melakukan hal itu, dia mengatakan bahwa ia lakukannya atas perintah Jean, itu karena jean ingin membalas dendam rasa sakit hatinya kepada ku, karena seseorang yang ia sukai memilihnya yang tak lain dia adalah Julie sahabatnya sendiri aku semakin shock mendengarkan hal itu.

 

Jean kemudian memukul wajah ku hingga terjatuh aku pun bangkit dan membalas memukul kami pun saling berkelahi satu sama lain. Terdengar teriakan dari seorang wanita membuat kami berhenti berkelahi, ternyata itu suara teriakan Julie dia mencoba menghentikan perkelahian kami. “Peter, Jean hentikan kenapa kalian selalu saja berkelahi? Dengar! Kalian berdua adalah sahabat, tapi kenapa kalian menjadi seperti ini?” teriak Julie.

 

Aku  baru menyadari seseorang yang berharga di dalam diriku adalah Julie, sahabat yang selalu ada ketika aku membutuhkannya. Aku menatap wajah Julie, ia terlihat sedih dengan air mata yang membasahi pipinya. Aku merasakan hal yang aneh pada diriku, rasa sakit di dalam dadaku, rasa sakit seperti sebuah tikaman tepat di jantungku. Aku teringat kejadian lalu, ketika aku membuat Julie menangis. Aku mendekap tubuh kecil Julie, “Maafkan aku, aku tak kan mengulanginya lagi.” Kataku, Julie membalas pelukan ku dan berhenti menangis. Sementara itu ku lihat Jean berlalu diikuti dengan kepergian Sarah.


Leave a Reply